
🌻🌻🌻🌻🌻🌻
...HAPPY READING......
.
.
Dua jam kemudian. Zayn dan Fira sudah kembali ke rumah mereka sejak satu jam lalu. Begitu tiba di rumah keduanya langsung bergiliran membersihkan tubuhnya masing-masing. Setelahnya mereka mengerjakan sholat Zuhur juga sendiri-sendiri. Tidak sholat berjamaah karena Zayn belum percaya.
Shafira pun tidak ada menuntut supaya suaminya menjadi imam sholat. Baginya semua itu membutuhkan proses dan melihat suaminya sudah mau sholat saja dia sudah bahagia.
Jadilah manusia yang selalu bersyukur. Agar hati bisa tenang dan tidak pernah merasa kekurangan dari segi apapun. Zayn berhijrah saja Fira sudah bahagia. Lalu bagaimana mungkin dia menuntut lebih dari itu lagi.
"Fira," ucap Zayn mendekati istrinya yang lagi di duduk di sofa dalam kamar mereka. Gadis itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya.
"Huem! Iya, Mas. Ada apa?" jawab gadis itu dengan suara merdunya.
"Mas mau bicara," jawab pemuda itu menaruh tas Fira keatas meja dihadapan mereka dan dia duduk disebelah istrinya.
"Mas mau bicara apa? Bicara saja,"
__ADS_1
"Mas mau bicara masalah tadi. Tentang Raisa,"
"Iya, bicara saja. Aku akan mendengarnya sampai Mas selesai," Fira tersenyum kecil karena tadi dia sempat terpikirkan juga tentang hal itu. Apakah suaminya benar akan menjelaskan sendiri ada hubungan apa dengan Raisa. Atau sudah lupa pada ucapannya dan ternyata Zayn tidak lupa. Hanya saja tadi dia juga ada pekerjaan jadi menyelesaikan kerjaannya lebih dulu.
"Fira... tolong maafkan aku karena tidak meminta izin kepada mu saat mau bertemu Raisa. Namun, semua itu karena Mas tidak ingin melukai hatimu lagi," ucap Zayn meminta maaf dan Fira hanya diam tidak menyela.
"Raisa adalah mantan kekasih ku beberapa tahun lalu. Tapi kami sudah tidak pernah berubah lagi semenjak dia mengkhianati hubungan kami dengan sahabatku sendiri,"
"Mengkhianati bagaimana? Maaf, aku hanya ingin tahu saja,"
"Tidak apa-apa. Kamu memang harus tahu semuanya. Karena aku tidak ingin merahasiakan apapun darimu," jawab Zayn menarik nafas dalam-dalam sebelum mulai bercerita.
"Kami berpacaran sudah hampir dua tahun kurang lebih. Namun, disaat aku datang ke Apartemennya dan ingin melamarnya. Aku melihat perselingkuhan dia dan sahabat baikku," Zayn mulai bercerita.
Shafira memang hanya diam. Namun, dia malah menangis dalam diam setelah mendengar suaminya bercerita.
"Fira, kamu kenapa menangis? Tolong maafkan aku. Aku tahu kamu pasti kecewa karena sudah menikah dengan laki-laki sep---"
"Maaf untuk apa? Bukannya Mas tidak bersalah?" sela Fira kembali menyeka air matanya degan tisu yang ada di atas meja. "Aku menangis karena tidak menyangka jika kisah percintaan Mas pernah dikhianati. Pasti rasanya sangat sakit sekali," lanjut Fira ikut merasa sakit dan terluka. Padahal hanya mendengar ceritanya saja. Lalu seperti apa Zayn yang sudah dikhianati. Pasti sangat hancur.
"Tapi aku sekarang aku benar-benar bersyukur karena sudah dikhianati. Sehingga tidak jadi menikah dengannya," jawab Zayn degan tanya menyapu lembut sisa air mata Fira.
__ADS_1
"Ma--maksudnya? Apakah Mas tidak merasa---"
"Mas benar-benar bersyukur karena pengkhianatan itu Mas bisa menikah denganmu," sela pemuda itu menatap Fira lekat.
"Tadi Mas menemuinya bukan ingin mendengar apa alasannya berbuat seperti itu. Tapi Mas ingin memperingati dia agar tidak menghubungi Mas lagi," Zayn kembali memberikan penjelasan.
"Iya, Mas. Aku percaya padamu dan... dari masalah yang sudah terjadi. Jadikan pelajaran agar lebih dekat lagi dengan Allah. Semua yang kita miliki di Dunia ini hanyalah titipan. Seberapa besar pun kita mencintai seseorang, bila Allah tidak mengizinkan maka semua itu akan hilang entah seperti apapun caranya. Sedangkan setiap kebaikan yang kita lakukan adalah satu-satunya yang akan menemani kita sampai kita mati," jawab Fira yang langsung dipeluk oleh Zayn.
Ini adalah pelukan mereka yang entah keberapa kalinya dalam Minggu ini. Meskipun Zayn tidak melakukan hal lebih dari sekedar memeluk saja.
"Tolong bantu aku untuk bisa menjadi lebih baik lagi, Fira. Aku benar-benar ingin hijrah agar bisa bersanding dengan mu. Aku adalah manusia yang penuh dengan dosa. Aku---"
"Shuuit!" Fira meregangkan pelukan mereka dan menutup bibir Zayn degan jari telunjuknya yang kecil.
"Mari kita sama-sama untuk bisa menjadi lebih baik lagi. Aku sangat bahagia akhirnya Mas bisa hijrah ke jalan yang benar. Untuk bisa bersanding denganku cukup Mas menjalankan segala perintah dari Allah dan jauhi semua larangannya. Jika soal dosa itu adalah urusan Allah. Hanya dia yang tahu seberapa besar dosa kita. Karena semua manusia memiliki dosa, begitu pula dengan diriku,"
"Baiklah! Kalau begitu kita akan sama-sama untuk menjadi lebih baik lagi. Tapi setiap aku melakukan kesalahan. Maka tolong ingatkan, karena aku benar-benar buta akan ilmu agama," Zayn akhirnya mengiyakan ucapan Fira agar mereka sama-sama belajar karena dia tahu bahwa Fira pasti lagi merendah.
"Ya Allah... terima kasih karena aku bisa menjadi suami dari malaikat mu ini. Tolong beri kemudahan padaku untuk bisa membawanya pergi ke tanah suci seperti impian Fira yang dia tuliskan pada buku diary nya." do'a Zayn yang telah memiliki niat untuk membawa Fira menjalankan ibadah umroh. Karena jika untuk ibadah haji harus mendaftarkan diri dari jauh-jauh hari.
Berbeda dengan niat baiknya. Sedangkan Raisa. Gadis itu lagi membuat rencana agar bisa merebut Zayn yang dia anggap masih mencintainya.
__ADS_1
... BERSAMBUNG... ...