
Sitha baru saja sampai di butik dengan perasaan yang sangat lelah. Setelah dari rumahnya dan selesai mengantarkan orang tuanya pulang terus menenangkan mereka agar tidak terlalu memikirkan masalah dia, Mila dan Reza. Wanita itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke butik saja.
Butik sudah seperti rumahnya semenjak Sitha tahu kalo suaminya dan adiknya berselingkuh.
Besok merupakan hari yang baru buatnya. Segera mungkin Sitha akan mengajukan gugatan perceraian agar bisa terbebas dari pernikahannya yang begitu menyakitkan itu.
Tentang Ilham, Sitha hanya menjalaninya saja, karena wanita itu sadar sebentar lagi statusnya janda dan dia tahu dengan status seperti itu belum tentu membuat orang tua Ilham bisa menerimanya. Apalagi Ilham merupakan anak satu satunya dari keluarga yang berada.
Sitha tidak terlalu berharap dengan hubungannya dengan Ilham bisa berakhir bahagia, maka dari itu wanita itu tidak mengharapkan apa apa.
Rutinitas sehari hari Sitha jalanin di butik. Wanita itu tidak mau hanya karena masalah pernikahannya membuat butiknya terbengkalai hanya karena itu usaha satu satunya. Untung saja butik ini hasil jerih payahnya sendiri tanpa campur tangan Reza.
Sedang sibuk sibuknya Sitha mengurusi pesanan, terdengar suara ponsel berbunyi dari dalam saku celana yang ia kenakan. Wanita itu langsung mengangkatnya.
"Halo..." sapanya saat dia sudah menekan tombol hijau di ponselnya.
"Halo, Sayang. Gimana, kamu sudah bicara sama Reza? Pasti dia ada di rumah karena sampai sekarang dia belum ada di kantor."
"Iya, Ham. Tadi di rumah ada masalah besar dan benar benar kacau. Mila dan Reza ketahuan sama mama dan papa." katanya pelan menghela nafasnya.
"Baguslah kalo mereka sudah ketahuan. Jadi kamu gak perlu susah susah lagi memberikan alasan kepada orang tuamu."
"Tapi aku takut kalo kejadian tadi malah membuat orang tuaku kepikiran masalah kami. Papa sama mama pasti sedih sudah tahu kalo anak kesayangannya tega berbuat begitu."
"Aku ngerti, Sayang. Tapi semua kan sudah terjadi. Semua bukan kesalahan kamu," kata Ilham agar Sitha tak merasa bersalah.
"Iya aku tahu, tapi tetap saja kepikiran, Ham."
"Sudah jangan mikir yang aneh aneh. Nanti sore aku jemput kamu di butik. Aku kerja dulu ya."
"Iya, kerja yang benar. Jangan kecewakan papa kamu, Ham, bye..."
"Bye, Sayang...."
__ADS_1
Setelah mendapatkan telepon dari Ilham membuat Sitha sedikit lebih tenang. Ternyata pemuda itu bisa sedikit menenangkannya, Sitha merasa hatinya sudah dalam genggaman Ilham. Dia juga tidak menyangka dia bisa mencintainya secepat itu.
######
Ilham sudah tiba di kantor dan papanya ternyata memberikan jabatan yang cukup lumayan besar dan berisiko untuknya. Jabatan direktur. Walau sebenarnya Ilham sedikit takut karena dia berpikir apakah dia mampu. Tetapi ketika mengetahui kalo dia atasan langsung dari Reza membuatnya semakin bersemangat. Akan pemuda itu buat Reza menderita dalam kepemimpinannya.
Walaupun ia tahu itu tidak etis tapi ia tidak peduli yang penting ia akan membuatnya menderita di sana. Ilham tahu memang seharusnya dia berterima kasih kepada Reza karena dengan perselingkuhannya membuka jalan baginya untuk mendapatkan Sitha. Dengan Reza berkhianat itulah yang bisa membuat Sitha jatuh ke dalam pelukannya.
Baru saja sekretaris Rudi mengkonfirmasi bahwa Reza hendak datang menemuinya. Berarti pria itu sudah datang ke kantor.
"Enak benar Reza ini kerja baru datang jam segini," cetus Ilham.
"Sudah, nanti biar papa yang bicara." jawab Rudi.
Ilham akhirnya berdiri membelakangi pintu. Pemuda itu memandangi pemandangan yang terlihat jelas dari jendela besar yang terdapat di ruangan Rudi sang papanya. Terdengar suara pintu ada yang ketuk dan Rudi langsung menyuruhnya masuk.
"Selamat siang, Pak." ucap Reza.
"Siang pak Reza, Silahkan duduk." jawab Rudi mempersilahkan Reza untuk duduk di kursi yang di sana.
"Maaf Pak, saya datangnya siang karena tadi ada sedikit masalah di rumah," ucap Reza memberikan alasan kenapa dia bisa datang terlambat.
Ilham berbalik dan menatap Reza dengan tatapan tajam. Reza seperti kelihatan sedikit bingung ketika melihat Ilham ada di sana tetapi pria itu hanya diam saja dan masih berusaha menjelaskan kenapa ia bisa telat.
"Tidak apa apa, Pak Reza. Apakah sedang rumit masalah keluarga Anda?" tanya Rudi.
"Iya, Pak. Sedikit sulit karena itu saya datang telat."
"Tapi anda ada tanggung jawab di kantor ini yang harus kamu laksanakan bukan seenak anda saja," kata Ilham dengan ketus. Ilham akhirnya sudah tidak tahan lagi berdiam diri. Rasanya dia ingin menonjok muka Reza yang sombong itu. Seenaknya saja mempermainkan hati wanita dan seenaknya juga dia masuk siang ke kantor.
"Eh, maaf Pak Reza, kenalkan ini anak saya Ilham yang mulai hari ini akan menjadi Direktur Operasional menggantikan Pak Iwan yang akan pensiun bulan depan." jelas Rudi memperkenalkan Ilham.
"Makanya saya sekalian suruh Pak Reza kesini, Agar Pak Reza bisa membantu Ilham dalam pekerjaannya yang baru ini. Sekalian saya perkenalkan putra saya ke bapak." ucap Rudi.
__ADS_1
"Iya, Pak. Saya pasti akan membantu Pak Ilham." jawabnya.
"Bagus kalo begitu. Terima kasih Pak Reza. Silahkan melanjutkan pekerjaannya." ujar Rudi mempersilahkan Reza untuk keluar dari ruangannya.
"Baik, Pak. Saya permisi dulu." jawab Reza lalu berdiri dan meninggalkan ruangan Rudi.
Setelah Reza keluar, Ilham melangkah menuju sofa yang ada di ruangan papanya lalu duduk di sana.
"Sepertinya kamu tidak menyukai Pak Reza, kenapa?'' tanya Rudi menatap Ilham.
"Tidak apa apa, Pa. Ilham cuma tidak suka aja sama Pak Reza. Seenaknya saja masuk jam segini, emang dia pikir ini perusahaan nenek moyangnya!'' ucap Ilham dengan ketus.
"Lihat aja Pa, nanti kalo Ilham lihat Pak Reza itu tidak bekerja dengan baik, Ilham akan langsung pecat aja tuh dia!'' tambahnya.
"Ilham, kamu tidak bisa sembarangan memecat orang hanya karena kamu tidak menyukai orang itu." jawab Rudi menjelaskan kepada Ilham.
"Ilham kan tidak sembarangan nanti, Pa. Ilham akan lihat dulu sejauh mana pekerjaan Pak Reza. Ya udah Pa, Ilham ke ruangan Ilham dulu," ucap Ilham yang berdiri dari sofa dan mulai berjalan ke arah pintu.
"Nak, kerja yang benar. Jangan buat papa malu sama karyawan yang lain." ucap Rudi mengingatkan Ilham.
"Siap, Pa. Ilham janji tidak akan mengecewakan papa." jawabnya senyum lalu keluar dari ruangan itu.
Setelah dari ruangan Rudi, Ilham segera menuju ke ruang kerja Reza. Tadinya pemuda itu hendak melangkah langsung ke ruangannya tapi dia memutar balik menuju ruangan Reza. Tanpa mengetuk pintu lagi, Ilham langsung masuk ke ruangan Reza. Ilham melihat pria itu sedang sibuk menelpon seseorang dan kelihatannya cukup mesra. "Apa mungkin menelepon selingkuhannya yang lain?'' batin Ilham.
"Saya belum berkenalan secara langsung dengan Pak Reza." ucap Ilham sudah berdiri dihadapan Reza sambil mengulurkan tangannya. Reza langsung menyambut uluran tangan itu dan mereka berjabat tangan.
"Silahkan duduk, Pak Ilham." kata Reza mempersilahkannya untuk duduk.
"Terima kasih." jawab Ilham yang tidak mengindahkan ucapannya dan tetap berdiri di hadapan pria itu.
"Pak Reza, kita langsung saja dan tidak perlu bertele tele. Saya tahu kalo Pak Reza sudah bekerja cukup lumayan lama di perusahaan ini dan saya tahu kalo saya masih baru disini. Tetapi saya tegaskan, saya tidak bisa mentolerir kalo ada kesalahan yang terjadi selama saya memimpin di divisi ini," ucap Ilham dengan tegas tanpa basa basi.
"Tadi sebelum Pak Reza datang, saya sempat memeriksa beberapa laporan dan saya melihat ada kesalahan yang semestinya itu tidak perlu terjadi, saya juga baru tahu kalo Pak Reza sering datang telat ke kantor dan juga sering cuti. Cuti memang hak semua karyawan tapi kalo telat, saya pikir itu bukan sikap dari pemimpin yang baik. Jadi saya tegaskan disini kalo Pak Reza sudah tidak mampu menangani pekerjaan di sini, saya persilahkan Pak Reza mengundurkan diri," ucap Ilham dan mulai melangkah ke arah pintu dengan kedua tangannya yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
__ADS_1
"Saya harap Pak Reza bisa lebih fokus dengan pekerjaan di kantor," setelah mengatakan itu, Ilham melangkah keluar dari sana.
Rasanya, pemuda itu puas sekali telah mengatakan hal itu langsung. Mulai hari ini, Pemuda itu akan mengawasi Reza. Sedikit saja ia melakukan kesalahan, ia akan membuatnya menjadi pangangguran.