
Ilham dan Sitha serta orang tua Ilham sedang bersantai di ruang keluarga setelah makan malam. Dengan santai Ilham duduk di samping Sitha dan merangkul bahu wanita itu.
"Ilham dan Sitha akan segera menikah setelah Sitha selesai masa iddah." ucap Ilham langsung to the point tanpa basa basi lagi di depan orang tuanya.
"Mas..." sahut Sitha pelan menatap Ilham.
"Kita harus segera menikah, Sayang. Kamu kan sekarang sedang hamil, Mas tidak mau anak kita menjadi anak haram karena lahir tidak dalam ikatan pernikahan." jelas Ilham.
"Apa yang dikatakan oleh Ilham itu benar, Nak. Lebih bagus kalian segera menikah. Om juga tidak mau cucu Om nanti dianggap anak haram." sahut Rudi yang menyetujui perkataan anaknya Ilham.
"Iya, Tha. Tante juga setuju. Segera saja kalian berdua bilang ke orang tua Sitha agar Om dan Tante bisa segera datang bersama Ilham untuk melamar kamu." ucap Indah dengan lembut kepada Sitha.
"Iya, Tante. Rencananya Sitha dan Mas Ilham akan ke rumah Orang tua Sitha." sahut Sitha kepada mamanya Ilham.
"Nanti Ilham kabarin kalo semuanya sudah beres dan keluarga Sitha sudah tahu tentang hubungan kami berdua." ujar Ilham.
"Sudah malam, Pa, Ma.... Kami pulang dulu." tambah Ilham dan berdiri serta menarik lengan Sitha dengan lembut membantu wanita itu bangkit berdiri dari sofa.
"Kalian sudah tinggal bersama?'' tanya Rudi tiba tiba. Sitha yang mendengar pertanyaan itu tiba tiba wajahnya langsung merah merona.
"Ilham tidak mau pisah lagi dengan Sitha, Pa. Cukup sudah satu bulan ini kami berpisah lagian Ilham khawatir kalo Sitha tinggal sendirian di butik." sahut Ilham santai tanpa malu mengakui kalo sekarang mereka sudah tinggal bersama.
__ADS_1
"Lagian sebentar lagi juga kami akan menikah." kata Ilham.
"Tapi, Ham, tidak baik kalo di lihat orang lain.'' ujar Indah yang tidak habis pikir dengan sikap anaknya itu.
"Sudahlah, Ma. Percuma saja kamu melarang mereka, lagian sudah terlambat kalo kita melarang mereka berdua." ucap Rudi sambil menatap ke arah Ilham.
Indah hanya diam mendengar ucapan suaminya itu. Apa yang di bilang suaminya memang benar karena nyatanya sekarang calon menantunya itu sudah hamil hingga membuat Indah tidak bisa protes lagi.
Rudi dan Indah mengantarkan Ilham dan Sitha menuju garasi mobil. Setelah anaknya itu pergi dan Rudi menutup pintu, Rudi segera merangkul pinggang istrinya dan mencium bibir istrinya dengan mesra.
"Tidak lama lagi kita berdua akan menjadi kakek dan nenek." ucap Rudi sambil melangkah bersama istrinya menuju kamar tidur dengan Indah yang berada di pelukannya.
"Iya, Pa. Mama masih tidak menyangka kalo anak kita Ilham sudah dewasa." sahut Indah lirih. Wanita itu masih mengingat bagaimana perjuangannya melahirkan Ilham dan hampir membuat suaminya gila karena takut kehilangannya.
"Papa benar benar sangat beruntung bertemu dan memiliki kamu, Ma." ucap Rudi lirih.
"Mama juga beruntung dan bersyukur bertemu dan memiliki papa." jawab Indah dengan mesra.
Rudi mengangkat kepalanya dan Indah menunduk. Ciuman mesra terjadi di antara suami istri itu. Perlahan ciuman itu berubah menjadi ciuman yang penuh hasrat dan nafsu. Indah sebisa mungkin membalas setiap ciuman suaminya yang persis mirip dengan kelakuan anaknya itu.
Tanpa menunggu lama, pasangan istri itu langsung melakukan cumbuan dan percintaan panas mereka yang tak kalah erotis dari Ilham dan Sitha. Umur mereka boleh saja sudah terbilang paruh baya, tapi kalo soal yang satu ini, jangan ditanya, merekalah suhunya makanya mungkin menurun ke Ilham sang putra tunggalnya.
__ADS_1
"Ough.... Mama..." erang Rudi.
Indah yang melakukan itu sendiri untuk Suaminya itu segera saja Rudi menariknya untuk out dari mouth Indah karena Rudi tidak mau melepaskan di sana hingga dia menariknya dan mundur.
"Kenapa, Pa?'' tanya Indah bingung ketika Rudi tidak ingin dia menyelesaikan permainannya di sana.
"Papa mau bertemu dengan sarang aslinya, Ma." goda Rudi.
Mendengar ucapan Rudi membuat Indah tersenyum nakal. Indah langsung bergerak cepat hingga tidak menunggu lama, pasangan suami istri itu langsung melakukan olahraga malam itu dengan penuh hasrat dan sensasi. Sesekali keduanya berusaha menyeimbangi hingga mendapatkan puncaknya.
Berkali kali kedua pasangan istrinya itu mencapai puncaknya. Mereka seakan lupa akan umur dan tidak pernah melewatkan hal itu. Karena menurut Rudi olahraga itu bisa menghilangkan penat dan rasa capek yang mengguncang di kepala. Karena bagi mereka, pasangan itu harus bisa sama sama merasa puas dan bisa menikmatinya dengan penuh sensasi. Melakukan hal itu bisa membuatnya kembali bersemangat.
"Selaku luar biasa bercinta dengan kamu, Ma." ucap Rudi sambil mencium kening istrinya yang basah karena keringat. Sedangkan Indah semakin bersandar manja pada suaminya.
Beberapa saat kemudian, Indah berusaha untuk berdiri tetapi Rudi menahannya. Hingga wanita itu sedikit meringis. Karena sang tuan masih bersarang di miliknya.
"Egg... Pa..." rengek Indah dengan manjanya.
"Papa belum puas, Ma. Lagian malam masih panjang." bisik Rudi menggodanya dengan nakal. Pria itu kemudian bangkit dan membopong istrinya ke kasur.
Rudi membaringkan tubuh istrinya di kasur dan berbisik dengan nakal. "Persiapkan dirimu, Ma. Malam ini akan panjang bagi kita berdua."
__ADS_1
Sesaat kemudian terdengar kembali suara rintihan dan erangan dari dalam kamar pasangan suami istri itu.