
Sitha dan Ilham sedang berpelukan dan berciuman mesra. Mereka berdua telah berbaring di kasur. Satu ciuman mendarat di leher panjang wanita itu dan meninggalkan bekas cinta di sana.
Pemuda itu sedikit mengangkat body Sitha sehingga gun berada di depannya. Ilham mengelus si kecil itu dan memainkannya di sana. Pemuda itu layaknya seperti bayi yang lagi kehausan dan minya minum ke ibunya, sementara Sitha membiarkan Ilham untuk melampiaskan nafsunya bahkan wanita itu semakin membusungkan si gun yang terlihat semakin aduhai. Secara bergantian, isapan dan cecapan dilakukan pemuda itu di sana. Pemuda itu seakan tak pernah puas menikmatinya.
Pemuda itu kembali melakukan permainannya tapi kali ini bersama dedek donat. Sitha yang merasa posisi Ilham terlalu nakal bermaksud untuk turun, tetapi pemuda itu langsung denhan sigap mencengkeram dan menahan Sitha dengan posisi seperti itu di sana.
"Il...Ilham, jangan...." ucap Ilham yang mencegah pemuda itu. Wanita itu malu dengan keadaannya sekarang. Straddle wide in front of Ilham's face.
Tapi pemuda itu tidak peduli dengan protes yang dilakukan oleh Sitha dan malah Ilham sudah menyeruak in ke crotch Sitha dan toungenya langsung bekerja di sana memberikan sensasi untuk Sitha yang sudah wet. Tangan Ilham memegang kendali untuk melakukan permainan itu, sedangkan Sitha yang mendapatkan serangan dari Ilham hampir tersungkur ke depan dan untung saja wanita itu dengan cepat berpegangan pada kepala ranjang.
"Argh.... Ilham, apa yang kamu lakukan? Aaaahh...." desah Sitha ketika merasakan kenikmatan yang luar biasa dari mouth dan tounge Ilham yang begitu nakal dan liar.
Sementara Ilham semakin liar menikmati dedek dan bermain olahraga mouth dan hand di sana membuat Sitha melonjak nikmat. Sitha yang pertama tadi menolak karena malu dengan apa yang dilakukan oleh Ilham sekarang malah begitu menikmatinya bahkan hips nya tanpa sadar ikut bergerak mencari kenikmatan yang lebih lagi.
"Ough! Ilham... Ak---Aku mau.... Aaahhh," ucap Sitha parau ketika merasakan puncaknya akan segera datang.
"Out kan, Sayang. Aku mau menikmati honey kamu." ucap Ilham yang semakin cepat out in mengobrak abrik di sana. Suara wet terdengar begitu erotis di telinga mereka berdua.
"Ough...." desah Sitha ketika sudah tiba puncaknya. Tangannya mencengkeram ranjang dengan kuat, bodynya seakan melayang sementara Ilham masih sibuk di sana menikmati semuanya sampai clean.
Sitha terjerembab ke depan hingga membuat wanita itu seakan menduduki Ilham face, tetapi laki laki itu tidak peduli walaupun facenya sudah wet karena hasil cinta dari Sitha.
Sesaat kemudian Ilham membalikkan kendali, dilumatnya bibir wanita itu dengan kuat dan hand pemuda itu lifts sitha leg and puts it on her shoulder. Dengan tenaga kuat, Ilham melakukan olahraganya hingga in ke dalam membuat wanita itu mengerang keras. Tanpa menunggu lagi Ilham melakukan olahraga itu dengan cepat. The flare of body impact sounded so erotic. Erangan dan rintihan keduanya terdengar begitu terus menerus.
Kenikmatan telah berkumpul di si dedek. Ilham semakin cepat dan menaikkan tempo olahraganya di sana, mengguncang body wanita itu yang sudah tidak karuan dan beberapa saat lagi wanita itu meneriakkan nama Ilham. Tangannya mencengkeram hips Ilham hingga meninggalkan tanda bekas kuku jemari wanita itu sedangkan Ilham tak memberikan jeda buat Sitha untuk merasakan puncak kenikmatannya, malah gerakan pemuda itu semakin cepat. Laki laki itu mengerang keras ketika merasakan sudah berada di titik puncak.
__ADS_1
"Jangan di sana, Ham!! Ough.... Ham...." jerit Sitha saat sudah berada di puncak kenikmatan.
Ilham yang mendengar jeritan Sitha langsung menuruti perkataan Sitha hingga buah percintaan mereka out di luar. Ilham masih beberapa kali merasakan buah dari puncaknya yang begitu dashyat dan luar biasa.
Sitha yang mendapatkan dua kali puncak kenikmatannya tergeletak lemas tak berdaya. Nafas wanita itu masih tersengal sengal. Sementara Ilham langsung roboh di sampingnya.
"Sayang, kami benar benar luar biasa nikmatnya," desah Ilham parau. Deru nafas pemuda itu masih terdengar masih kencang dan cepat.
Beberapa saat kemudian Sitha baru memperoleh tenaganya. Wanita itu bangkit dan mengambil tissue yang berada di atas nakas samping ranjang. Dia membersihkan semua yang terlihat kotor di sana, Ilham hanya tersenyum mesum melihat hasil karyanya. Setelah merasa bersih Sitha lalu berbaring di dada bidang Ilham. Pemuda itu memeluk tubuh Sitha dan mengelus punggungnya yang masih berkeringat.
"Aku merasa sekarang aku jadi liar dan nakal sekali, Ham." ucap Sitha lirih. Jemari wanita itu mengelus pelan dada bidang pemuda itu.
Ilham menyentuh dagu wanita itu dan mendongakkannya ke atas.
"Aku suka sama kenakalanmu, Sayang. Bersamaku jangan merasa malu." sahut pemuda itu lalu menundukkan kepalanya dan mencium bibir Sitha dengan lembut.
Sitha lalu menceritakan tentang Reza dan Mila yang kepergok oleh orang tuanya sehingga membuat papanya marah besar.
"Besok aku akan segera mencari pengacara untuk mempercepat memproses perceraianku dengan Mas Reza." kata Sitha.
"Kamu tahu, Sayang.... Rasanya aku harus berterima kasih dengan si brengsek Reza," sahut Reza.
Sitha melepaskan pelukannya dan duduk bersandar di kepala ranjang. Menatap Ilham dengan bingung.
"Kenapa kamu mau berterima kasih kepada Reza?" tanya Sitha bingung.
__ADS_1
"Ya, karena si Reza itu brengsek, jadi aku bisa memiliki kamu dan karena kecerobohannya juga, jalan buat kamu bercerai jadi lebih muda." ucap Ilham.
"Apa perlu aku suruh pengacara yang ada di kantor buat mengurus perceraian kamu?" tanya Ilham yang akhirnya ikutan bersandar di samping Sitha.
"Gak usah, Ham. Biar aku urus sendiri aja."
"Kamu tau gak, Sayang. Rasanya aku sudah tidak sabar lagi untuk melihat kamu bercerai dengan Reza. Karena kalo itu sudah kelar berarti hubungan kita bisa selangkah lagi menuju ke pernikahan," ucap Ilham menggebu gebu.
"Ham, kita jalani saja dulu seperti yang sekarang. Setelah perceraianku selesai baru kita omongin lagi selanjutnya." kata Sitha. Wanita itu tidak mau terlalu menaruh harapan yang tinggi soal hubungan mereka berdua.
"Sayang, kok kamu ngomongnya seperti itu? Kamu gak percaya kalo aku serius sama hubungan kita ini?" kata Ilham menatap Sitha dan memegang tangannya.
"Aku percaya kok kalo kamu serius sama aku, Ham. Tapi dalam hubungan ini bukan hanya kita yang menjalaninya berdua tapi ada orang tua dan orang tuamu," wanita itu merebahkan kepalanya di bahu tegap Ilham.
"Aku juga mau hubungan yang direstui oleh orang tua kita masing masing." ucap Sitha lirih.
Ilham terdiam mendengar perkataan Sitha. Pemuda itu sadar hubungan mereka masih banyak penghalang biarpun Sitha nanti telah bercerai, masih ada masalah lain yang harus mereka berdua hadapi. Apalagi papanya pernah mengatakan kalo ia harus fokus sama kuliah dan kerjaan dulu baru memikirkan pernikahan.
Ilham mengelus pipi Sitha dengan mesra dan mengecup rambut wanita itu.
"Aku janji akan menghalau semua rintangan yang mungkin kita hadapi, tapi tolong tetap bersamaku dan percaya samaku." ucap Ilham.
"Iya, aku janji akan selalu bersama kami." jawab Sitha.
"Aku mencintaimu, Sitha." kata Ilham menatap wanita itu dengan penuh senyuman dan tatapan mesra.
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu, Ham." jawab Sitha senyum.
Malam itu menjadi saksi kedua insan yang sama sama saling mencintai dan berusaha untuk bisa bersama.