
Sitha dan Ilham sedang dalam perjalanan ke ruko orang tua Sitha. Sepanjang perjalanan kesana Sitha merasa deg deg an karena takut akan respon kedua orang tuanya. Sedangkan Ilham malah tampak bersemangat seakan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan orang tua Sitha.
"Mas, nanti kalo papa mengatakan sesuatu yang kasar tolong di mengerti ya." ucap Sitha mengingatkan.
"Iya, Sayang. Mas paham kok. Jangan khawatir semua pasti akan baik baik saja." sahut Ilham sambil menggenggam lembut tangan Sitha.
Sesampainya mereka di depan ruko, Sitha dan Ilham langsung turun dari mobil dan masuk ke dalam. Saat sudah masuk ke dalam, Sitha tidak melihat orang tuanya di sana hanya ada Mila yang sibuk melayani pembeli.
"Mila...." panggil Sitha.
"Eh, ada kak Sitha." sahut Mila kaget.
"Sama siapa, Kak?'' tanya Mila sambil melirik dengan rasa penasaran ke arah Ilham yang berdiri gagah dibelakang Sitha. Gadis itu menyadari kalo pria yang dibelakang kakaknya adalah pria yang sama sewaktu di rumah sakit. Berarti benar dugaannya kalo kakaknya Sitha ada hubungan spesial dengan pria tampan itu.
Mila terpesona melihat ketampanan dan kegagahan pria itu. Tetapi gadis itu sedikit kesal karena pria tersebut tidak mempedulikan dirinya.
"Papa sama Mama ada gak, Mil?'' tanya Sitha tanpa mempedulikan pertanyaan Mila adiknya.
"Ada kak diatas, naik aja." jawab Mila.
"Kakak ke atas dulu ya." sahut Sitha lalu mengajak Ilham ke lantai dua untuk menemui orang tuanya. Sedangkan Mila masih memandangi Sitha dan Ilham sampai mereka berdua menghilang.
Sitha melihat papanya sedang menonton tv tetapi mamanya tidak ada di san.
"Pa...." panggil Sitha pelan. Membuat papanya menoleh ke arah sumber suara dan melihat anak sulungnya datang bersama dengan seorang lelaki. Papanya memandangi keduanya dengan bingung.
"Kamu datang, Nak?''
"Iya, Pa." jawab Sitha senyum.
"Sama siapa itu?'' tanya papanya begitu penasaran.
"Kenalkan saya Ilham, Om." sahut Ilham memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
"Saya Papanya Sitha." jawabnya. Pria itu mulai curiga ada hubungan anaknya dengan pria itu.
"Mama mana, Pa?'' tanya Sitha. Wanita itu ingin mamanya juga ada ketika nanti dirinya dan Ilham mengatakan tentang hubungan mereka berdua.
__ADS_1
"Mama ada di dapur, panggil aja. Nak Ilham silahkan duduk." sahut papanya Sitha.
Baru saja Sitha hendak mau ke dapur untuk memanggil mamanya ternyata beliau sudah datang dari arah dapur. Dan wanita itu terkejut melihat anaknya Sitha datang bersama seorang pria.
"Sitha, kamu datang Nak?"
"Iya, Ma." sahut Sitha sambil menghampiri mamanya dan merangkul lengannya.
"Sitha datang kesini ada yang mau dibicarakan sama Mama dan Papa." ucap Sitha setelah semua telah duduk bersama.
"Ada apa ini, Tha?'' tanya Mamanya penasaran.
"Pa... Ma... Sitha baru kemarin mendapatkan surat perceraian resmi dari pengadilan jadi sitha sudah resmi bercerai dengan Mas Reza. Kami berdua bukan suami istri lagi." kata Sitha menjelaskan.
"Papa sebenarnya tidak menginginkan hal ini, tetapi ini yang terbaik buat kalian berdua." sahut papanya setelah mereka cukup diam lumayan lama.
"Iya, mama akhirnya lega kamu dan Mila akhirnya terbebas dari lelaki seperti itu." ucap mamanya sambil penasaran.
"Selain memberi tahu tentang perceraian Sitha, Sitha kesini juga mau memperkenalkan Mas Ilham kepada Mama dan Papa." ucap Sitha pelan.
"Apa hubungan Nak Ilham dengan anak saya Sitha?" tanya papanya tanpa basa basi.
"Apa? Menikah?!'' sentak Uti begitu terkejut mendengar perkataan Ilham.
"Iya, Ma. Sitha dan Ilham saling mencintai makanya setelah masa iddah Sitha selesai, kami berencana intuk menikah." jawab Sitha dengan mantap.
"Bagaimana mungkin kalian mau secepatnya menikah padahal kamu juga baru menjanda, Tha?'' kata papanya menatap anaknya itu.
"Papa tidak setuju. Apa kata orang kalo tahu baru saja anak papa menjanda tapi sudah langsung menikah lagi! Mereka pasti berpikir bahwa kamu lah yang salah hingga bercerai dengan Reza." tambah papanya geleng kepala.
"Pa, tolonglah restui kami berdua." mohon Sitha. Wanita itu berusaha meminta papanya untuk menyetujui hubungan mereka berdua.
"Papa masih bisa kalo untuk merestui hubungan kalian, tetapi kalo kalian akan menikah, tidak akan papa setujui!'' ucapnya dengan tegas.
"Maafkan kami sebelumnya, Om. Kami tidak bisa menunda pernikahan kami karena---'' ucap Ilham terputus. Pria itu menatap Sitha yang lagi menatapnya balik. Sitha lalu menganggukkan kepalanya.
"Karena apa?'' tanya Uti penasaran.
__ADS_1
"Om... Tante... Maafkan kami. Saya dan Sitha tidak bisa menunda pernikahan kami karena Sitha sedang hamil anak saya." ucap Ilham penuh tanggung jawab dan dengan tenang.
"APA?!!"
Papa Sitha begitu emosi mendengar perkataan Ilham. Pria itu lalu berdiri dan menarik kerah baju Ilham. Ilham tidak memberontak terhadap perlakuan papanya Sitha karena ia tahu pasti orang tuanya Sitha begitu terkejut mendengar kabar tentang kehamilan putrinya itu.
"Ulangi lagi, apa kamu bilang?!" sentak papanya Sitha penuh emosi.
"Maafkan saya, Pak.... Sitha sekarang memang sedang hamil anak saya." jawab Ilham. Pria itu sudah siap menerima konsekuensi dari apa yang terjadi.
"Beraninya kamu menghamili anak saya?!'' sentaknya penuh emosi.
PLAK!!
Tamparan keras mendarat di wajah Ilham.
Sitha dan Uti menjerit ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh papanya itu.
"Pa.... Jangan, Pa.... Tolong maafkan kami, Pa..." sahut Sitha berusaha meminta papanya untuk bisa memaafkan mereka. Wanita itu berusaha melepaskan pegangan tangan papanya di leher Ilham.
"Minggir kamu, Tha! Papa harus memberi pelajaran kepada pria ini!'' sentak papanya mendorong Sitha agar menjauh.
Dorongan yang dilakukan papanya lumayan kuat karena terbawa emosi hingga Sitha menabrak meja hias yang ada di ruang tamu itu. Suara erangan sakit terdengar dari mulut wanita itu. Wanita itu merintih sambil memegang perutnya.
"Mas Ilham," rintih Sitha kesakitan. Wanita itu sudah jatuh terduduk sambil memegangi perutnya.
Ilham yang mendengar suara kesakitan Sitha langsung menoleh dan melihat kekasihnya itu sedang terduduk lemas menahan sakit. Tampak terlihat ada darah yang mengalir di sela paha wanita itu.
"Astagfirullah, Nak..." jerit Uti langsung berlari menghampiri Sitha.
Papanya tertegun melihat kejadian itu. Pria paruh baya itu melepaskan pegangan tangannya dari leher Ilham. Sedangkan Ilham langsung bergegas berlari menghampiri Sitha dan memeluk tubuh wanita itu.
"Sakit, Mas...." rintih Sitha pelan.
"Bertahan ya, Sayang... Kita ke rumah sakit sekarang." kata Ilham yang begitu panik. Pria itu segera menggendong tubuh Sitha dan bergegas menuju ke mobilnya. Uti dan suaminya mengikuti mereka dari belakang.
Mila begitu terkejut melihat mereka semua yang turun dari lantai dua dengan keadaan panik.
__ADS_1
"Ada apa ini?"