
"Siapa yang nelon kamu, Sayang?'' tanya Ilham penasaran.
"Sepertinya Mas Reza karena dia yang kirim pesan ke Sitha." jawab Sitha.
"Memang kenapa Reza telpon dan kirim pesan ke kamu?''
"Mas Reza mengalami kecelakaan dan sekarang di rawat di rumah sakit yang sama dengan Mila." jawab Sitha melihat Ilham.
"Kenapa kamu tidak cerita kalo Mila kecelakaan sewaktu bersama dengan Reza?''
"Mas Reza kecelakaannya bukan sewaktu lagi bersama Mila," sahut Sitha pelan.
"Terus kenapa mereka sama sama bisa kecelakaan?"
Akhirnya Sitha menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dengan Mila dan Reza hingga bisa sama sama mendapatkan kecelakaan.
"Semoga saja Mila benar benar menyesal," ucap Ilham.
"Sayang, bisa gak kamu mengubah panggilan Reza, gak usah pakai Mas lagi karena kalian juga sudah akan bercerai." protes Ilham langsung. Sitha hanya bisa menghela nafas ketika mendengar permintaan Ilham yang kekanak kanakan itu.
"Sini coba aku lihat, Reza kirim pesan apa ke kamu?!''
Sitha pasrah menyerahkan ponselnya kepada Ilham dan pemuda itu langsung membacakan pesan yang dikirim oleh Reza.
"Sitha, maafkan Mas. Mas tahu kesalahan Mas besar kepada kamu tetapi apa kamu tega membiarkan Mas sendirian di rumah sakit tanpa ada yang menemani? Besok siang dokter akan datang untuk memberitahu hasil diagnosa tentang kaki Mas yang tidak bisa bergerak. Biarpun Mas bersalah kepada kamu dan kita akan bercerai tetapi buat sekarang status kita masih suami istri. Anggap saja ini permintaan terakhir Mas sebagai suami kamu sebelum kita berpisah. Mas menyerah untuk mempertahankan pernikahan kita. Mas akan mempermudah proses perceraian kita asal kamu mau merawat Mas sampai Mas bisa pulang ke rumah. Hanya itu saja permintaan Mas."
"Jangan turuti permintaan Reza, aku melarang kamu!" tegas Ilham.
"Emang apa yang Reza tulis?''
Sitha langsung mengambil ponselnya dari tangan Ilham dan membaca pesan yang dikirim oleh Reza.
"Aku harus menemani Reza di rumah sakit," kata Sitha pelan tanpa melihat Ilham.
"Aku melarang kamu pergi kesana. Di rumah sakit juga ada perawat yang akan membantu Reza, tidak perlu kamu kesana!" kata Ilham yang melarangnya pergi kesana.
__ADS_1
"Tapi Mas, Sitha tidak boleh seharusnya berbuat seperti ini karena bagaimanapun Reza masih berstatus suami Sitha sekarang ini,"
Sitha lalu bangkit dari duduknya dan melangkah menuju kamar. Belum juga wanita itu sampai di kamar, tubuhnya sudah langsung di peluk oleh Ilham dari belakang.
"Mau kemana kamu?!''
"Sitha mau ganti baju dan mau ke rumah sakit, lepasin Mas," sahut Sitha sambil berusaha melepaskan tangan Ilham yang memeluknya.
Bukannya melepaskan pelukannya, Ilham malah mendorong tubuh Sitha hingga wanita itu terjerembab di atas sofa.
Ilham langsung mengusap dedek dan setelah wet, pemuda itu langsung menghantamnya dengan olahraganya tanpa menunggu lama lagi.
"Ough.... Mas, hentikan! Ough...."
"Tidak Sayang.... Ough... Sempit sekali sayang..." erang Ilham parau sambil terus melakukan olahraga hingga sebentar saja Sitha sudah menemukan titiknya untuk yang kesekian kalinya malam ini.
Dan sesaat kemudian pun Ilham menyusulnya. Percintaannya begitu dirasakan oleh Sitha.
Ilham membawa jun keluar dari sarangnya itu dan membiarkan semuanya kemana mana. Sitha langsung berdiri dan merapihkan jubahnya akibat perbuatan Ilham.
"Aku akan tetap ke rumah sakit." kata Sitha pelan.
"Jadi kamu tidak mau menuruti permintaanku?!" tatap Ilham tajam.
"Bukan Sitha tidak mau, Mas. Tapi Mas tidak berhak untuk melarang Sitha bertemu dengan Reza. Sitha memang akan bercerai dengan Reza tapi bukan berarti Sitha harus berbuat kejam dengan membiarkan Reza yang sedang sakit sendirian di rumah sakit,"
"Sial! Kamu tidak mengerti perasaan aku," ucap Ilham dengan keras.
"Bukannya sitha tidak mengerti perasaan Mas tetapi Mas tidak percaya dengan Sitha!" sahut Sitha sambil melangkah menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Aku percaya dengan kamu, Sayang. Tetapi aku tidak percaya dengan Reza!'' kata Ilham yang mengikuti langkah Sitha hingga ikutan masuk ke kamar mandi juga.
Sitha berbalik dan langsung memeluk serta merebahkan kepalanya di dada bidang pemuda itu.
"Sitha mencintaimu, Mas. Tidak mungkin Sitha akan kembali dengan Reza. Jadi tolong percaya sama aku."
__ADS_1
"Baiklah kamu boleh pergi ke rumah sakit tetapi aku tidak mau kamu sampai menginap di rumah sakit hanya untuk menemani Reza,"
"Iya, Sitha janji." ucap Sitha sambil menjinjitkan kakinya untuk mengecup bibir Ilham.
Ciuman yang kemudian menjadi kemana mana dan akhirnya olahraga panas itu terjadi lagi. Ilham memang benar benar tidak bisa mendapatkan sentuhan sedikitpun dari Sitha karena dia langsung bergairah bukan main. Lebih baik memang tidak melakukannya. Tapi apalah daya Sitha yang ingin menunjukkan rasa cintanya kepada pemuda itu.
Kembali terdengar suara rintihan dan erangan nikmat Ilham yang memenuhi seluruh isi kamar mandi tersebut. Beberapa saat kemudian terdengar ******* Sitha memanggil nama Ilham dan begitu juga Sitha yang menandakan mereka berdua sudah mendapatkan puncaknya.
********
Sitha baru saja selesai berpakaian dan dia melihat Ilham juga melakukan hal yang sama sepertinya. Sebenarnya tubuh Sitha merasa lemas dan kelelahan akibat pergumulannya dengan Ilham tetapi karena sudah terlanjur bilang ke pemuda itu kalo dirinya ingin melihat keadaan Reza membuat wanita itu menahan lelah di tubuhnya.
"Kamu tidak apa apa, Sayang? Are you oke?" tanya Ilham yang melihat wajah pucat Sitha.
"Aku gak apa apa, Mas. Cuma kecapean aja. Habisnya Mas seakan tidak pernah puas!" gerutu Sitha.
Ilham tersenyum lembut dan menarik Sitha ke dalam pelukannya. Dia mencium kepala wanita itu dengan begitu lembut.
"Kalo dengan kamu, aku tidak akan pernah puas,"
Tiba tiba Sitha langsung mendorong tubuh Ilham, "Kamu mesum mulu sih, Mas!" ucap Sitha sambil menatap jun yang sudah kelihatan tak karuan di sana.
"Maaf, Sayang. Itu bukan kemauan aku tapi kemauan kesayangan kamu ini yang selalu ingin merasakan sarang kenikmatannya," ucap Ilham sambil tertawa menggoda.
Sitha akhirnya membiarkan Ilham tertawa, wanita itu mengambil tasnya dan berniat untuk segera keluar dari kamar hotel.
"Tunggu, Sayang," ucap Ilham yang langsung buru buru mengambil dompet dan ponselnya.
Tetapi baru saja Sitha melangkah menuju ke arah pintu, wanita itu tiba tiba merasa pandangannya matanya perlahan lahan gelap dan seakan dirinya sedang berjalan di atas air dengan suasana gelap. Tubuh wanita itu oleng dan akan jatuh ke lantai. Sebelum kesadaran Sitha hilang, wanita itu masih bisa mendengar suara teriakan Ilham.
********
Ilham cemas melihat keadaan Sitha yang masih sedang terbaring masih tidak sadarkan diri dan sedang diperiksa oleh Dokter yang disediakan oleh pihak hotel. Sewaktu wanita itu tadi pingsan hingga membuat Ilham begitu panik makanya langsung segera meminta bantuan pihak hotel.
Pemuda itu berdiam diri di belakang dokter yang baru saja tiba dan sedang memeriksa kondisi Sitha.
__ADS_1
"Bagaimana Dok keadaan istri saya?''