
"Katakan dengan jujur, apa kamu masih ada perasaan dengan Reza?!" tanya Ilham langsung menatapnya tajam.
"Mas Ilham kenapa bisa bilang seperti itu?" tanya Sitha menatap pria itu dengan bingung dan heran.
"Mas lihat tadi sepertinya kamu tidak rela berpisah dengan Reza sampai bilang segala, sudah bahagia selama tiga tahun!" ketus Ilham.
"Ya ampun, Mas. Begitu aja udah cemburu?!" sahut Sitha menghela nafas panjang.
"Dulu memang aku bahagia bersama dengan Reza tapi sekarang ini hanya Mas Ilham yang ada di hati Sitha. Mas Ilham lah kebahagiaan Sitha." kata Sitha sambil menatap Ilham dengan mesra.
"Lagian Mas ini lupa apa, kan sekarang Sitha hamil anak Mas jadi bagaimana mungkin Sitha akan melirik laki laki lain." ucap Ilham cemberut.
Mendengar perkataan Sitha membuat Ilham tersenyum lebar.
"Mas tidak mungkin lupa dengan anak kita, bagaimana kalo kita periksa kehamilan kamu lagi mumpung kita di rumah sakit, Sayang.... Tapi kita cari dokter wanita saja!'' ucap Ilham.
"Tidak usah Mas lagian baru kemarin juga periksa. Kenapa harus ganti dokter sih, Mas? Dokter kemarin sudah bagus kok."
"Mas tidak suka kamu di pegang pria lain selain Mas." sahut Ilham ketus.
"Ya ampun Mas sampai segitunya," kata Sitha sambil geleng geleng kepala dan melangkah meninggalkan Ilham.
"Eh, Sayang... Tunggu Mas..." sahut Ilham sambil melangkah mengejar Sitha.
Sitha terus melangkah keluar dari rumah sakit tanpa menghiraukan panggilan Ilham. Wanita itu tersenyum bahagia sambil mengelus perutnya.
***********
Hari ini Ditha berada di butik. Hatinya dari pagi menunggu dengan cemas. Bayu berjanji untuk memberikan kabar tentang proses perceraiannya. Sudah hampir satu bulan wanita itu menunggu. Setiap sidang, dirinya dan Reza tidak pernah datang ke pengadilan hanya di wakilkan oleh pengacara mereka masing masing.
Hubungannya dengan Ilham semakin hari semakin mesra apalagi kedua orang tua Ilham sudah merestui hubungan mereka walaupun Sitha belum bertemu dengan kedua orang tua Ilham karena wanita itu tidak ingin bertemu dengan mereka sebelum resmi bercerai dengan Reza. Dan rencana mereka untuk bertemu kedua orang tua Sitha juga tidak jadi karena sewaktu kemarin hendak bertemu, Ilham harus ke kantor buru buru karena karena ada urusan yang sangat penting.
Usia kehamilan Sitha sudah memasuki usia lima minggu, tetapi untungnya kehamilannya tidak rewel dan sulit hanya terkadang di pagi hari saja wanita itu mengalami mual dan muntah. Ilham sudah tidak sabar ingin segera menikah dengan Sitha setelah surat perceraiannya keluar tetapi wanita itu masih harus menunggu masa iddah sebelum menikah dengan Ilham.
__ADS_1
Saat sedang sibuk sibuknya mengurusi pesanan, tiba tiba terdengar ponselnya bunyi. Wanita itu langsung mengangkat teleponnya.
"Halo?'' kata Sitha setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, Sitha. Ada kabar baik, perceraian kamu dengan Reza sudah resmi dan sudah keluar suratnya. Mulai hari ini kalian sudah resmi cerai dan bukan lagi suami istri." kata Bayu.
"Alhamdulillah.... Terima kasih Mas Bayu sudah membantu Sitha sampai sekarang."
"Sama sama, Tha. Mas doakan kamu semoga kamu bahagia dengan pilihan kamu yang sekarang."
"Terima kasih, Mas. Sitha juga berharap semoga Mas Bayu bertemu dengan wanita yang lebih baik dari Sitha."
"Amin.... Nanti setelah berkas perceraian sudah di tanda tangani oleh Reza, Mas akan kirimkan ke kamu."
"Iya, Mas. Terima kasih sekali lagi."
Sitha menutup teleponnya dengan perasaan senang dan bahagia. Akhirnya setelah lumayan menunggu lama, dia sudah resmi bercerai dengan Reza. Dan statusnya sekarang adalah sudah seorang janda. Di balik perasaan bahagia sedikit terselip perasaan sedih karena pernikahannya dengan Reza harus berakhir seperti ini, walaupun dirinya dengan Reza bukan lagi suami istri tapi Sitha berharap Reza akan menemukan kebahagiaannya juga.
Sambil mengusap pelan perutnya Sitha menelpon Ilham untuk memberi kabar bahwa dia sudah resmi bercerai dengan Reza.
Sekarang Ilham sudah lebih sibuk di kantor karena setelah mengetahui kalo dirinya akan menjadi seorang ayah membuat pria itu lebih bertanggung jawab dan itu membuat Sitha semakin cinta dengan pria itu dan dia juga begitu bersyukur karena Ilham begitu mencintainya.
"Enggak terlalu sibuk, Sayang. Ada apa? Kamu baik baik saja kan?''
"Sitha baik baik saja, Mas. Sitha cuma mau kasih tau kalo proses perceraian Sitha dengan Reza sudah resmi bercerai per hari ini. Jadi status Sitha sudah janda."
"Alhamdulillah kalo begitu, Sayang. Sebentar lagi Sayang bisa menjadi istri Mas..."
"Tapi harus nunggu masa iddah dulu,"
"Iya, Mas tau. Tapi jalan kita untuk bersama sudah semakin dekat. Malam ini mau ya ketemuan sama orang tua Mas?'' tanya Ilham.
"Iya, Mas. Sitha mau."
__ADS_1
"Nanti sore Mas jemput ya, Sayang. Jangan capek capek ya ingat ada calon bayi kita yang harus kamu jaga, Sayang."
"Iya, Mas."
"Aku mencintaimu."
"Sitha juga mencintai Mas Ilham."
Setelah menutup teleponnya, Sitha kembali menyibukkan dirinya dengan mengurus butiknya hingga tidak terasa sudah sore hari dan karyawan Sitha sudah pulang semua dan meninggalkan wanita itu sendiri di butik. Sambil menunggu Ilham, wanita itu membereskan pekerjaannya.
Tiba tiba pintu di ketuk dan Ilham langsung masuk ke ruang kerja Sitha sambil membawakan teh hangat untuk wanita kesayangannya itu.
"Saya buatkan ibu teh hangat." ucap Ilham sambil tersenyum genit. Pria itu hanya menggunakan kemeja hitam yang dua kancing atasnya sudah terbuka.
Sitha tersenyum nakal ketika melihat pria yang dicintainya itu sudah berada di ruang kerjanya.
"Taruh saja di atas meja." jawab Sitha yang mengikuti permainan Ilham.
"Kamu bisa tolong saya?'' ucap Sitha lirih.
"Tolongin apa, Bu?''
"Kamu pernah bilang kalo kamu pintar memijit. Saya mau dong di pijit sama kamu?''
"Pijit apa dulu nih, Bu? Pijit biasa atau pijit plus plus?''
"Terserah kamu aja deh, yang penting nantinya enak." ucap Sitha dengan suara manja. Wanita itu keluar dari balik meja lalu duduk di atas meja kerjanya.
Ilham mendekati Sitha dan setelah berdiri di depan wanita itu, tangan pemuda itu mengusap kedua lutut Sitha dengan lembut dan memijitnya perlahan.
"Apa ini perlu di pijit, Bu?" tanya Ilham sambil tersenyum sembari meremas paha Sitha lembut.
"Iya." desah Sitha. Semenjak kehamilannya wanita itu semakin cepat terangsang dan Ilham yang mengetahui hasrat Sitha selalu menggebu tentu saja dirinya senang sekali. Walaupun sekarang mereka harus lebih berhati hati setiap kali bercinta karena sudah ada si kecil.
__ADS_1
"Gimana, Bu? Enak?'' tanya Ilham yang fingernya sudah nakal memijit dedek.
"Aahh.... Enak, Mas..." desah Sitha. Wanita itu sudah tidak karuan di sana.