
"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanya Ilham yang bilang Sitha istrinya agar pihak hotel tidak berpikir macam macam terhadap mereka berdua.
Pemuda itu melihat Sitha sudah mulai siuman karena obat yang ditaruh dokter di depan hidung wanita itu.
"Mas, apa yang terjadi?" tanya Sitha bingung.
"Kamu tadi jatuh pingsan, Sayang. Ini dokter baru saja mau memeriksa kamu," jelas Ilham.
"Sebentar ya, Bu. Saya periksa dulu," kata Dokter itu.
 Setelah beberapa saat kemudian dokter tersebut selesai memeriksa.
"Bagaimana, Dok?'' tanya Ilham yang sudah tidak sabar lagi.
"Saya bukan ahlinya di bidang ini, tetapi sepertinya istri anda sedang hamil dan untuk lebih jelasnya silahkan memeriksakan diri ke dokter kandungan." sahut dokter tersebut kepada Ilham.
Ilham yang mendengar perkataan tersebut langsung tersenyum bahagia, akhirnya apa yang diinginkan pemuda itu akhirnya terjadi dan benar benar sesuai yang dia harapkan, sementara Sitha yang mendengar ucapan dokter malah kaget dan syok hingga membuat wajah wanita itu semakin pucat.
"Saya tidak bisa memberikan obat buat istri anda, jadi sebaiknya anda segera membawanya ke dokter kandungan langsung," kata dokter sambil membereskan peralatannya.
"Terima kasih, Dokter." ucap Ilham sambil mengantarkan dokter itu keluar dari kamar hotel mereka.
Setelah mengantarkan dokter keluar dari kamar mereka, Ilham langsung segera bergegas menuju ke kamar untuk menemui Sitha yang masih terbaring di atas kasur.
"Sayang, akhirnya kita akan punya anak." ucap Ilham senang dan bahagia.
"Kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Ilham ketika melihat Sitha hanya diam saja.
Wanita itu kemudian duduk di atas kasur. Memandangi wajah Ilham dengan galau dan semuanya bercampur aduk di pikirannya.
"Bagaimana ini, Mas? Sitha belum bercerai dan sekarang Sitha hamil. Kalau Reza tahu gimana?'' kata Sitha dengan begitu cemas.
Ilham segera duduk disamping Sitha dan memeluk tubuh wanita itu. Sitha merebahkan kepalanya di dada bidang Ilham.
"Tenang, Sayang. Jangan berpikir yang macam macam. Aku tidak mau kamu stress hingga menganggu kehamilan kamu. Sekarang sebaiknya kita ke rumah sakit dulu untuk memeriksa ke dokter kandungan agar lebih jelas hasilnya,"
Ilham langsung segera membantu Sitha berdiri dan merangkul pinggan Sitha. Sedangkan wanita itu hanya diam mengikuti langkah Ilham. Sitha masih cemas memikirkan kehamilannya karena kalo benar dia hamil bagaimana? Sedangkan saja proses perceraiannya baru masuk ke pengadilan. Apa yang akan terjadi nantinya.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Sotha hanya diam saja sibuk dengan pikirannya sendiri. Ilham sesekali melirik kekasihnya itu. Pemuda itu tahu kalo Sitha lagi risau tetapi Ilham justru senang dan bahagia sekali kalo Sitha beneran hamil anaknya karena dengan kehamilan ini membuat Sitha tidak akan pernah bisa lepas darinya lagi.
Pemuda itu menggenggam tangan Sitha yang berada di pangkuannya.
"Jangan cemas, Sayang. Semua pasti baik baik saja." ucap Ilham menenangkannya.
"Semoga saja." ucap Sitha pelan.
"Aku akan pastikan itu, Sayang."
Mereka sampai di rumah sakit. Ilham segera turun dari mobilnya dan membukakan pintu mobil penumpang lalu menggandeng lengan Sitha sambil melangkah perlahan. Sitha yang melihat kelakuan Ilham tanpa sadar tersenyum.
Mereka sudah mendaftar dan sedang menunggu antrian. Tidak lama kemudian nama Sitha dipanggil suster dan mereka segera masuk ke ruang dokter.
"Selamat malam," ucap Dokter itu.
"Ada keluhan apa?''
"Ini, Dok. Istri saya jatuh pingsan, dan sewaktu periksa ke dokter umum bilang kalo istri saya kemungkinan hamil jadi kami ingin memastikan apakah itu benar," jelas Ilham bersemangat.
"Baik, silahkan berbaring, Bum" jawab sang Dokter sambil mengarahkan Sitha ke arah bed yang tersedia.
"Nah Pak, kita lihat disini kantung untuk persiapan janinnya sudah berbentuk walau janinnya belum terlihat tapi bisa saya pastikan istri bapak memang sedang mengandung," jelas sang dokter sambil menunjuk gambar yang ada di depan layar mereka.
"Sudah berapa lama usianya, Dok?'' tanya Sitha.
"Kapan terakhir Ibu mendapatkan menstruasi?''
"Saya lupa Dok karena selama ini memang saya menstruasi tidak lancar." sahut Sitha.
"Kalo melihat dari pemeriksaan saya, berkisaran dua minggu dan masih terlalu rawan. Jadi saya harap bapak sama ibu bisa lebih berhati hati." jelas dokter itu.
Setelah selesai periksa, Ilham segera membantu Sitha turun dari atas ranjang dan kembali duduk di kursi depan dokter.
"Ya, sesuai dengan hasil pemeriksaan tadi, Ibu Sitha memang sedang hamil. Saya akan meresepkan vitamin buat ibu dan tolong lebih dijaga dan hati hati karena usia kandungan ibu masih muda." ucap dokter.
"Baik, Dok. Terima kasih," sahut Sitha.
__ADS_1
"Apakah hasilnya bagus? Tidak ada masalah, Dok?" tanya Ilham.
"Hasilnya bagus. Istri bapak juga sehat hanya harus di jaga saja karena usia kandungannya yang sekarang ini masih rawan." kata dokter menjelaskan.
"Apakah kami masih bisa berhubungan suami istri?" tanya Ilham memastikan karena memang dia masih belum tahu untuk hal hal seperti itu.
Sitha langsung mencubit perut Ilham yang membuat pemuda itu meringis kesakitan. Wanita itu kesal dengan pertanyaan Ilham kepada dokter. Bisa bisanya kekasihnya itu masih memikirkan hal itu.
Dokter kandungan tersebut melihat pasien dan suami yang ada di hadapannya itu sambil tersenyum, "Tidak apa apa, Bu. Hal itu sudah biasa ditanyakan oleh para suami." ucap sang dokter dengan tersenyum.
"Masih boleh berhubungan suami istri tetapi dilakukan lebih lembut dan diusahakan jangan terlalu banyak guncangan dikarenakan usia kandungan masih muda." jawab dokter itu.
"Terima kasih, Dok." sahut Ilham dengan senyum sumringah.
Setelah dokter menulis resep, Ilham dan Sitha segera ke apotik untuk menebus obat lalu pulang.
Sepanjang perjalanan pulang, Sitha hanya termenung dan diam. Wanita itu risau dengan kehamilannya, bukannya dirinya tidak senang hamil tapi situasinya belum tepat untuk dia hamil saat ini.
Perceraiannya dengan Reza saja belum ketuk palu dan sekarang dia hamil anak Ilham. Pikiran Sitha semakin kalut, sehingga wanita itu menangis meluapkan emosinya.
Ilham yang mendengar suara tangisan Sitha langsung segera menepikan mobilnya. Pemuda itu langsung menarik Sitha ke dalam pelukannya.
"Semua pasti baik baik saja. Aku janji, Sayang." ucap Ilham.
"Bagaimana bisa baik baik saja kalo Sitha saja belum bercerai dengan Reza dan sekarang Sitha hamil?!" ujar Sitha parau.
"Percepat proses perceraian kamu, Sayang. Suruh pengacara kamu melakukannya," sahut Ilham.
"Tetapi apa bisa begitu, Mas?''
"Harus bisa! Karena kamu sudah hamil anak aku. Kalo pengacara itu tidak bisa biar aku yang urus perceraian kamu,''
"Baiklah, aku yang akan bilang ke Mas Bayu." ucap Sitha pelan.
Ilham melepaskan pelukannya dan mengusap air mata yang membasahi pipi Sitha.
"Jangan memikirkan yang macam macam, kamu tidak boleh stress, Sayang. Ingat baby kita."
__ADS_1
Sitha mengangguk anggukkan kepalanya dan Ilham mengecup mesra bibir Sitha sebelum kembali menghidupkan mesin mobilnya dan melaju menuju apartemennya.
Malam ini Sitha dan Ilham memasuki babak baru dalam hubungan mereka berdua.