Hurt Wife

Hurt Wife
Bab 27


__ADS_3

Sitha baru saja menutup butiknya dan bersiap untuk pulang ke apartemen Ilham, untuk sementara waktu ia akan tinggal di sana bersama Ilham. Ketika mendengar ada suara yang aneh yang terdengar dari arah kamarnya tempat dia biasa tidur kali menginap di butik, wanita itu langsung was was dan sedikit ketakutan juga, dia takut kalo ada pencuri yang masuk sedangkan dia seorang diri di sana. Semua karyawannya sudah pulang dan Ilham yang sudah janji untuk menjemputnya belum juga datang.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, belum terlalu malam, tapi pencuri tidak melihat jam dan mempedulikan itu mau jam berapa kalo sudah mau niat mencuri. Apa mungkin pencuri itu menyangka kalo sudah tidak ada orang di sana sehingga ia berani mencuri di saat malam belum terlalu larut?


Dengan perasaan ketakutan dan sedikit gemetaran Sitha memberanikan diri untuk memeriksa kamar tersebut. Sesampainya di depan pintu ruang kerjanya, wanita itu melihat ada sapu yang tergeletak di sudur ruangan. Dengan sigap, Sitha langsung mengambilnya.


Sitha berpikir, paling tidak dia masih ada senjata untuk membela diri walau memang itu tidak seberapa. Dengan perlahan, Sitha membuka pintu dan keluar dari ruang kerjanya. Masih terdengar jelas suara suara yang berasal dari kamarnya itu yang semakin membuat Sitha ketakutan. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.


Setelah hampir setengah jalan menuju ke kamarnya, Sitha baru teringat akan hape nya yang tertinggal di atas meja kerjanya. Wanita itu mengutuk dirinya dalam hati kenapa sampai bisa kelupaan untuk membawa hapenya, padahal dengan itu, ia bisa menelpon seseorang. Wanita itu juga menyesali kenapa dia tidak langsung saja menelpon Ilham dan malah sok berani untuk memeriksanya sendiri seperti sekarang ini. Sitha jadi ragu ragu antara mau kembali ke ruang kerjanya untuk mengambil hapenya atau meneruskan langkahnya menuju ke kamar.


Setelah beberapa saat, wanita itu akhirnya memutuskan untuk memberanikan diri melangkah menuju kamar. Dengan perlahan wanita itu melangkah. Telapak tangannya yang menggenggam gagang sapu terasa berkeringat.


Semakin mendekati kamar, jantungnya semakin berdetak kencang, keringat sudah membasahi seluruh tubuhnya. Dengan memasang daun telinga yang baik, Sitha berusaha mendengar suara yang berasal dari dalam kamar tetapi tiba tiba terasa sunyi dan tidak ada ada lagi suara yang terdengar dari dalam sana.


Wanita itu jadi ragu, apa tadi dia salah dengar atau memang ada suara dari dalam sana. Masih dalam kebingungan, tiba tiba terdengar lagi suara dari dalam sana membuat Sitha semakin takut tapi dia bersikeras untuk langsung memeriksanya.


Dengan berdebar dan takut, Sitha membuka pintu kamarnya dengan perlahan. Sapu yang dia pegang sudah bersiap untuk memukul siapa saja yang ada di dalam sanam.


Setelah menarik helaan nafas, Sitha langsung mendorong pintu hingga terbuka lebar dan betapa terkejutnya dia ketika melihat yang di dalam kamarnya itu adalah Ilham.


Pemuda itu sedang berbaring di atas kasur hanya ditutupi dengan selimut sedang memandangi Sitha.


Sitha yang melihat Ilham yang ada di sana, perlahan menghela nafas lega. Wanita itu sampai terduduk di depan pintu karena kakinya terasa lemas.


"Sayang, kenapa?'' tanya Ilham yang langsung bangkit dari kasur dan menghampiri Sitha yang terduduk di lantai.

__ADS_1


Sitha kesal sekali. Jantungnya masih berdetak dengan kencang. Karena masih kesal, Wanita itu memukul Ilham dengan sapu yang masih dipegangnya.


"Aduh.... Sayang...." rintihnya.


"Kamu bikin aku takut saja," ucap Sitha masih kesal.


"Maaf, Sayang. Aku tidak bermaksud begitu." sahut Ilham yang mengambil sapu dari genggaman Sitha dan melemparkannya ke sudut kamar.


"Aku pikir tadi ada maling masuk ke butik,"


"Maaf, tadi aku mau memberikan kehutan sama kamu, eh gak taunya malah membuat kamu ketakutan," jelas Ilham. Pemuda itu menarik lengan Sitha menuntunnya agar berdiri dan memeluk tubuh wanita itu.


"Ilham!'' sentak Sitha dengan wajah yang bersemu malu.


"Sayang, kan aku udah minta maaf. Aku tidak berniat menakuti kamu." ujar Ilham.


Dengan senyum nakal Ilham sengaja malah berdiri dengan provokatif di hadapan Sitha. Pemuda itu bertolak pinggang seperti layaknya sedang menggoda.


Perlahan tapi pasti Sitha bisa melihat jun yang tadinya biasa biasa saja kini sudah tidak karuan. Sitha sampai terbelalak melihat sizenya. Walaupun sudah seringkali melihatnya bahkan merasakan kenikmatan yang diberikan oleh pemuda itu tetap saja Sitha selalu takjub melihat jun yabg benar benar jantan.


"Suka sama yang kamu see, Sayang? Mau menikmatinya lagi?" tawar Ilham kepada Sitha sambil mengelus elus si jun.


Wanita itu semakin diam dengan wajah yang merah merona. Ilham terkadang takjub dengan Sitha yang masih bisa merona malu padahal wanita itu sudah menikah dan usianya lebih dewasa daripada dirinya tetapi terkadang sikap dan perilaku Sitha seperti gadis remaja yang baru mengenal laki laki.


Pemuda itu perlahan mundur dan duduk di atas sofa tunggal yang berada di kamar Sitha.

__ADS_1


Dengan mengatur gaya agar jun terlihat menggoda. Sitha merasa tenggorokannya kering melihat betapa gagahnya Ilham. Wanita itu melangkah perlahan mendekati Ilham.


"Tunggu, Sayang. Aku mau kamu juga tidak mengenakan apapun." ucap Ilham.


"Apa?!''


"Lepaskan semuanya, Sayang. Biar adil dong sama seperti aku, masa cuma aku doang sih?!'' perintah Ilham sambil tersenyum menggoda.


Sitha terdiam sejenak di tempatnya berdiri dan langsung melakukan apa yang dikatakan oleh Ilham. Dengan perlahan semuanya terlepas dan memperlihatkan indahnya tubuh putih mulus nan seksinya.


Entah kenapa malah Sitha ingin menggoda Ilham dengan gerakan sensual wanita itu yang dia lakukan saat melepaskan yang dikenakannya. Kemudian dengan perlahan juga Sitha melakukan itu sembari sesekali melirik ke arah Ilham dengan lirikan yang begitu menggairahkan.


Sambil menatap Ilham dengan mesra, Sitha mengelus si gun yang masih tertutup. Ilham yang melihat tindakan provokatif Sitha semakin nafsu. Jun sudah tegak tak karuan, seakan tidak mau sabar untuk bertemu dengan sarang kenikmatannya.


"Sayang.... Buruan lepas semuanya," desah Ilham yang sudah tidak kuat.


Sitha yang mengetahui kalo Ilham sudah tidak tahan menahan hasratnya malah semakin ingin menggoda pemuda itu.


"Mau aku lepas ini, Ham?'' tanya Sitha sambil mempermainkannya.


"Iya, Sayang. Buruan aku mau lihat itu," ucap Ilham yang sudah tidak tahan lagi. Pemuda itu bermaksud untuk menghampiri Sitha.


"Jangan! Duduk disitu aja, Ham," ujar Sitha mencegah Ilham untuk datang menghampirinya.


Wanita itu langsung melepaskannya dan melemparnya ke arah Ilham, dengan sigap pemuda itu menangkapnya dan mencium aroma wanitanya itu yang masih tertinggal di sana.

__ADS_1


"Wangi, Sayang." ucap Ilham menatapnya dengan penuh nafsu, melihat wanita itu yang sedang bermain si gun dengan sendirinya.


"Aaahh, Ayo, Sayang... Aku sudah tidak tahan lagi," desis Ilham yang melihat Sitha seolah sengaja menggodanya. Pemuda itu sudah tidak tahan lagi untuk menahan gairahnya yang sudah menggebu.


__ADS_2