Hurt Wife

Hurt Wife
Bab 46


__ADS_3

"Siapa anda berada di apartemen anak saya?" terdengar suara dari belakang Sitha hingga membuat wanita itu terkejut dan segera berbalik badan untuk melihat siapa yang berbicara dengannya.


Sitha melihat seorang wanita paruh baya yang masih kelihatan cantik dan anggun berdiri di hadapannya.


"Siapa anda?! Kenapa bisa berada di apartemen anak saya?!" tanya wanita itu kepada Sitha yang masih terpaku diam.


Sitha bingung harus bagaimana. Wanita itu tahu kalo wanita yang berada di hadapannya ini adalah mamanya Ilham. Seharusnya tidak dalam kondisi begini mereka bertemu. Dengan Sitha yang hanya mengenakan kemeja Ilham juga. Bagaimana Sitha harus menjelaskan tentang dirinya. Lagi bingung harus bagaimana, tiba tiba Ilham keluar dari dalam kamarnya dengan hanya menggunakan boxer saja.


"Sayang, kamu masak apa sih? aromanya menggoda sekali, aku jadi lapar nih," ucap Ilham. Pemuda itu tampaknya belum menyadari kalo ada orang lain selain Sitha yang berada di dalam apartemennya.


"ILHAM....?!!!" teriak mamanya ketika melihat kelakuan anak semata wayangnya.


"Eh, Mama... Ngapain ada disini?'' tanya Ilham dengan terkejut ketika mendapati mamanya berada di apartemennya.


"Harusnya Mama yang menanyakan pertanyaan seperti itu, Apa yang kamu lakukan, Nak? Siapa wanita ini?'' tanya mamanya dengan terkejut.


"Ma.... Ilham bisa jelaskan semuanya," ucap Ilham. Pemuda itu kemudian mendekati Sitha dan berdiri disebelah wanita itu. Akhirnya Sitha bisa bertemu dengan mamanya dan semoga saja mamanya bisa mengerti perasaan mereka berdua.


"Ya, harus kalian jelaskan semuanya. Ilham kamu pakai baju yang benar dulu, Mama risih melihat kamu begitu!'' ketus Indah sang mamanya.


*******


Di sinilah mereka berdua duduk di ruang tamu dan Indah duduk di hadapan mereka berdua. Ilham telah mengenakan pakaiannya sedangkan Sitha masih hanya mengenakan kemeja Ilham, untung saja wanita itu memakai pakaian dalam sehingga membuatnya tidak terlalu malu di hadapan Indah mamanya Ilham.


"Saya Indah, Mamanya Ilham," ucapnya memperkenalkan diri.


"Halo Tante, Saya Sitha." ucapnya pelan.


"Sudah berapa lama kamu berhubungan dengan anak saya Ilham?" tanya Indah sambil menatap tajam ke arah wanita yang duduk disebelah anaknya itu.


"Ma, Ilham bisa jelasin semuanya," ucap Ilham memohon agar Indah mengerti tentang mereka.


"Diam kamu, Ham! Biar mama yang cari tahu sendiri."


"Saya sudah berhubungan dengan Ilham sudah hampir empat bulan, Tan." sahut Sitha. Wanita itu sudah mengira kalo hal ini akan terjadi kalo dirinya bertemu dengan keluarga Ilham.


"Berapa usia kamu, Nak?'' akhirnya Indah dengan bahasa yang lebih halus ketika melihat tatapan mata Ilham yang menatapnya dengan tajam.

__ADS_1


"27 tahun, Tan. Dan saya sudah pernah menikah," kata Sitha lugas. Wanita memutuskan untuk jujur dari awal tidak mau menutupi apapun.


"Sayang!'' sentak Ilham ketika mendengar perkataan Sitha.


"Lebih baik kita berterus terang saja dari awal, Mas. Tidak perlu ada yang di tutup tutupi,"


"Kamu memanggil anak saya, Mas?!'' pekik Indah terkejut.


"Iya, Ma. Tolonglah mengerti. Kami saling mencintai. Ilham tahu kalo umur Sitha lebih tua dari Ilham tapi itu bukan jadi penghalang untuk hubungan kami berdua, Ma." jelas Ilham berusaha membuat mamanya mengerti dan menerima.


"Ilham sama Sitha serius sama hubungan ini dan kami sudah berencana untuk segera menikah, apalagi----" ucap Ilham sambil menatap Sitha seakan ingin meminta persetujuan untuk memberitahu Indah soal kehamilan wanita itu.


"Jangan, Mas," ucap Sitha pelan menggelengkan kepalanya. Wanita itu melarang Ilham untuk mengatakan kehamilannya sekarang ini. Dia tidak mau membuat orang tuanya Ilham harus terpaksa menerima dirinya hanya karena bayi yang ada di dalam kandungannya sekarang ini.


"Mama tidak bisa bilang apa apa lagi, setelah melihat kalian berdua," kata Indah geleng geleng kepala.


"Saya yakin kalo anak saya Ilham dan kamu Sitha sudah melakukan hubungan lebih dari sekedar hanya berpegangan tangan saja!'' tatapnya kepada Sitha.


Mendengar perkataan Indah membuat Sitha merona malu sedangkan Ilham jadi gelisah duduknya. Mereka juga sudah tidak mungkin mengelak lagi karena Indah telah melihat bagaimana mereka berdua tadi apalagi Sitha hanya mengenakan kemeja Ilham saja. Sekali lihat saja orang pasti sudah tahu apa yang telah mereka berdua lakukan.


"Dan kamu Sitha gantilah pakaianmu dan ikut dengan Tante." perintah Indah.


"Ma...." protes Ilham.


"Mama tidak mau meninggalkan kalian berduaan di apartemen ini, yang ada nanti kalian malah berbuat dosa lagi!" ketua Indah dengan tegas.


"Iya, Tan. Saya ganti baju dulu." sahut Sitha.


"Tapi, Sayang....'' Ilham kembali protes ketika Sitha menuruti kemauan mamanya.


"Gak apa apa, Mas. Sitha juga mau ke butik," kata Sitha.


"Ya sudah kalo gitu, kamu hati hati ya," jawab Ilham akhirnya.


Sitha lalu permisi kepada Indah dan masuk ke dalam kamar Ilham untuk mengganti pakaiannya. Dan Ilham malah mengikuti langkah kaki wanita itu menuju ke kamar juga. Indah yang melihat kelakuan anaknya dengan kekasihnya itu hanya geleng geleng kepala.


Indah tidak menyangka ternyata anak satu satunya Ilham telah menjadi pria dewasa bahkan tadi ketika mendengar ucapan Ilham yang serius dengan hubungan mereka berdua membuat Indah kagum akan sikap anaknya yang penuh tanggung jawab. Sebenarnya wanita itu tidak melarang hubungan mereka tetapi Indah ingin melihat bagaimana sosok Sitha, memang kalo dilihat dari perilaku dan tutur katanya, Sitha menurutnya wanita yang baik tetapi mungkin saja itu hanya kedok untuk menjerat anaknya Ilham. Secara Ilham adalah anak pewaris perusahaan. Indah cuma takut kalo Ilham di dekati hanya karena harta dan wanita yang mendekati anaknya adalah wanita yang haus harta.

__ADS_1


Sedangkan di dalam kamar, Sitha dan Ilham lagi berdebat.


"Sayang, kita harus bilang kalo kamu hamil anak aku biar orang tuaku merestui hubungan kita!" kata Ilham bersikeras.


"Sitha tidak mau begitu, Mas. Kesannya Sitha menjebak Mas kalo kita menceritakan kehamilan aku ini."


"Tapi, Sayang---"


"Tolonglah mengerti, Mas." kata Sitha memotong perkataan Ilham, menatap pemuda itu dengan tatapan memohon.


"Baiklah. Aku ikuti kemauan kamu. Tapi kalo papa sama mama tidak memberi restu untuk kita, aku akan bilang semuanya!'' sahut Ilham.


"Iya, kalo itu yang terjadi Sitha akan ikut kemauan, Mas."


"Kamu gak apa apa ikut sama mama? Nanti pasti kamu diinterogasi?" kata Ilham sangat khawatir.


"Tidak apa apa, Sitha sekalian mau ke butik juga." sahut Sitha.


"Hati hati ya, jangan kecapean, kasihan baby kita kalo kamu kecapean." ucap Ilham lembut sambil mengelus lembut perut Sitha.


"Iya," jawab Sitha pelan sambil mengecup sekilas bibir Ilham lalu wanita itu segera keluar dari dalam kamar dan Ilham mengikuti Sitha dari belakang.


Indah melihat Sitha dan Ilham keluar dari dalam kamar. Wanita itu tahu hubungan Ilham dengan Sitha sudah terlalu jauh bahkan Indah mengira sudah hal yang biasa mereka berdua bersama di apartemen ini, malah mungkin mereka sudah tinggal bersama kalo dilihat dari kelakuan mereka yang sudah seperti suami istri.


Indah harus segera memastikan kalo Sitha adalah benar benar wanita yang baik. Sebagai seorang ibu sebenarnya Indah menginginkan anaknya menikah dengan seorang yang berasal dari keluarga baik baik dan tentu saja masih seorang gadis, tetapi Ilham malah mempunyai pacar seorang janda. Tetapi semua sudah terjadi, dia hanya bisa berharap semoga saja pilihan Ilham tidak salah.


"Sudah siap Sitha?'' tanya Indah.


"Mama pulang dulu, Ham. Nanti malam kamu ke rumah. Kita harus membicarakan masalah ini sama papa." ucap Indah menatap anaknya itu.


"Iya, Ma." jawab Ilham.


"Sitha pergi dulu ya, Mas. Nanti malam Sitha nginap si butik." ucap Sitha pelan.


"Iya. Kamu hati hati ya,"


Ilham memandangi punggung kekasihnya itu hingga menghilang dari balik pintu. Mulai sekarang pemuda itu harus lebih keras lagi untuk menyakinkan orang tuanya agar bisa menerima Sitha, semoga saja urusan perceraian Sitha cepat selesai. Dan mereka pun segera bisa selalu bersama.

__ADS_1


__ADS_2