
"Suka gak Tha sama apartemen Mas?'' tanya Bayu ketika melihat Sitha seakan sedang mengamati apartemennya.
"Iya, Mas. Simpel tapi elegan." jawab Sitha singkat.
"Mas memang tidak terlalu suka sama ruangan yang banyak barang kesannya malah menjadi sempit."
"Iya, Mas."
"Duduk Tha, Mas ambilkan dulu minum atau kita langsung ke dalam saja,"
"Langsung ke dalam saja Mas," kata Sitha yang ingin segera makan malam terus pulang.
Bayu dan Sitha akhirnya langsung menuju ruangan yang seperti ruang makan. Sitha terperangah ketika melihat suasana di dalam ruangan tersebut. Di tengah ruangan ada meja makan yang telah di hias sedemikian rupa. Begitu cantik, suasana juga begitu romantis seperti rasanya Bayu dan Sitha sedang berkencan.
"Mas, ini terlalu---"
"Duduk, Tha." kata Bayu memotong ucapan Sitha dan sedikit mendorong wanita itu agar duduk di kursi.
Sitha menjadi semakin canggung ketika Bayu melayaninya seakan wanita itu kekasih pria itu.
"Ini terlalu berlebihan, Mas." ucap Sitha pelan.
"Bagi Mas ini tidak berlebihan karena Mas mengundang seorang wanita yang istimewa bagi Mas makanya Mas merasa ini pantas dilakukan." sahut Bayu pelan sambil menatap Sitha dengan mesra.
"Mas...."
"Kita makan dulu, Tha. Nanti kita bicara lagi. Mas pesan makanan ini dari resto favorit Mas semoga kamu juga suka ya."
Akhirnya Sitha dan Bayu makan malam dalam diam. Sitha merasa kalo dirinya telah salah menerima undangan dinner dari Bayu, ternyata apa yang dibilang oleh Ilham benar kalo Bayu rupanya ada perasaan untuknya.
__ADS_1
Seharusnya dari awal memang Sitha mengganti pengacara, kalo sudah begini malah membuat wanita itu jadi bingung dan serba salah harus bagaimana.
Sitha hanya berharap Bayu tetap profesional dalam bekerja walaupun mungkin nantinya dia harus menolak perasaan pria itu.
*********
Ilham pulang ke rumah orang tuanya dengan perasaan tidak menentu. Pemuda itu berharap agar orang tuanya bisa mengerti akan perasaan cintanya kepada Sitha.
Pemuda itu tadi di kantor tidak sempat bertemu dengan papanya karena kesibukannya dan malam ini ia juga pulang lembur karena pekerjaannya baru selesai. Rasanya Ilham ingin bertemu dengan Sitha tetapi pemuda itu harus menahan diri dulu, ini semua untuk kebaikan mereka berdua.
"Malam, Pa... Ma..." ucap Ilham ketika sudah masuk ke dalam rumahnya dan duduk di depan meja makan.
"Buruan mandi, Nak. Papa sama Mama akan tunggu kamu biar kita bisa makan malam sama sama." ucap Indah lembut.
"Iya, Ma. Sebentar...." Ilham segera berlalu ke kamarnya untuk mandi.
Beberapa saat kemudian pemuda itu muncul di ruang makan dengan tubuh yang sudah segar habis mandi. Ilham melihat orang tuanya masih berada di ruang makan, rupanya meraka masih menunggu dirinya.
"Makan yang banyak, Nak. Mama tadi masakin kamu makanan kesukaanmu." ucap Indah sambil menyendokkan sayur ke atas piring Ilham. Sedangkan papanya dari tadi hanya diam saja.
"Mama kamu sudah cerita semua." ucap Rudi sambil menatap putranya itu.
"Papa tidak menyangka dari sekian banyak perempuan kenapa kamu mencari seorang janda untuk kamu jadikan istrimu!''
"Pa!'' sentak Ilham keras.
"Bagaimana nama baik keluarga yang harus kamu jaga? Nak, kamu itu anak kami satu satunya, pewaris perusahaan satu satunya. Papa tidak percaya kalo wanita itu tulus mencintai kamu, mungkin dia hanya ingin harta kamu aja." kata Rudi yang terus saja mengeluarkan pendapatnya. Sebenarnya pria paruh baya itu hanya saja khawatir bahwa anaknya itu hanya dimanfaatkan saja.
"Pa, cukup. Sitha tidak mungkin seperti itu. Papa belum mengenalnya. Kami saling mencintai dan Ilham percaya bahwa Sitha bukan penggila harta." jawab Ilham membelanya.
__ADS_1
"Kamu itu lagi di mabuk cinta makanya makanya percaya saja dengan kata kata wanita itu," ujar Rudi lagi.
"Papa tidak bisa seenaknya mengatakan begitu menghakimi Sitha padahal Papa belum mengenal Sitha." sahut Ilham keras.
"Pa, sudah.... Kita lagi makan. Biarkan Ilham selesai makan dulu baru kita bicarakan semuanya," ucap Indah menengahi.
"Papa tunggu kamu di ruang kerja." ucap Rudi kemudian berlalu dari ruang makan. Rudi akhirnya mengikuti kemauan Indah sang istri untuk membiarkan pembicaraan mereka tertunda sampai anaknya menyelesaikan makannya.
"Nak, apa kamu benar benar mencintai Sitha?" tanya Indah kepada Ilham ketika anaknya itu telah selesai makan. Wanita itu masih tidak hanis pikir bagaimana bisa Ilham jatuh cinta dengan wanita yang sudah menjanda. Indah juga penasaran bagaimana Ilham bisa bertemu dengan Sitha. Walau dilihat dari penampilan Sitha memang terlihat masih seperti wanita yang belum pernah menikah dan terbilang masih cantik layaknya wanita remaja.
"Iya, Ma. Ilham benar benar mencintai Sitha. Mama pasti sudah tahu tentang kehamilan Sitha. Ilham yang bersikeras agar Sitha hamil karena Sitha selalu saja merasa tidak pantas untuk Ilham makanya Ilham memakai cara itu agar bisa bersama dengannya. Tolonglah Ma, restui kami berdua."
"Nak, mama bukannya tidak merestui hubungan kalian berdua tapi mama hanya takut kalo Sitha hanya menginginkan harta kita. Kamu anak kami satu satunya, yang pasti akan mewarisi perusahaan dan semua harta orang tuamu. Papa dan mama hanya ingin yang terbaik buat kamu karena kami menyayangi kamu, Nak." jelas Indah kepada anaknya itu.
"Mama saja tidak berani menceritakan kehamilan Sitha kepada papamu karena papa pasti akan semakin marah besar."
"Ilham tau mama khawatir tentang Sitha tetapi Ilham yakin kalo dia tidak seperti itu. Sitha juga mencintai Ilham seperti Ilham mencintainya, mama hany belum mengenalnya saja kalo mama sudah mengenalnya pasti mama juga menyayanginya."
"Baiklah, Mama percaya dengan ucapan kamu, Nak. Mama hanya berdoa semoga apa yang kamu bilang tentang Sitha adalah yang sebenarnya." Indah akhirnya luluh dan menyerahkan semua keputusan kepada anaknya Ilham, wanita itu percaya bahwa Ilham sudah dewasa dan sudah pasti bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk bagi dirinya.
"Temui papamu, tolong jangan membantah ucapannya, bicarakan semuanya baik baik." ucap Indah menasihati Ilham agar bisa sedikit mengurangi emosinya terhadap papanya.
"Baiklah, Ma. Ilham ke ruang kerja papa dulu," sahut Ilham kemudian meninggalkan ruang meja makan menuju ruang kerja papanya.
Indah menatap anaknya Ilham sambil menghela nafasnya berat. Wanita itu hanya bisa berdoa dan berharap semoga Sitha merupakan wanita yang terbaik bagi anak tunggalnya itu.
Sesampainya di depan ruang kerja papanya, Ilham mengetuk pintu dan melangkah masuk ke dalam ketika mendengar suara papanya yang menyuruhnya masuk.
Ilham melihat Rudi sedang duduk membelakangi meja kerjanya.
__ADS_1
"Siapa wanita itu? Jelaskan kepada papa semuanya," kata Rudi langsung tanpa basa basi lagi.