
Ilham baru saja sampai ke kantor. Hari hatinya saat ini sibuk dengan pekerjaan di kantor dan malam harinya sibuk dengan kuliah, bahkan waktu untuk bertemu dan bersama Sitha jadi berkurang. Mereka hanya bisa bertemu di hari weekend saja.
Ilham sadar sebagai seorang anak dari CEO perusahaan bukan berarti dirinya bisa seenaknya saja. Apalagi semua orang di perusahaan seakan ingin melihat sejauh mana kemampuan pemuda itu memikul beban yang diberikan kepadanya.
Pemuda itu tentu saja tidak mau dianggap remeh oleh bawahan. Malah sebagai seorang anak CEO beban yang dipikulnya lebih berat daripada hanya sekedar karyawan biasa.
Ilham akan membuktikan kalo ia bisa. Mampu dan pantas memegang jabatan sebagai seorang direktur di perusahaan papanya. Ilham tentu saja tidak akan membuat papanya malu.
Akan Ilham buat semua orang yang memandang sebelah mata kepadanya akhirnya malah hormat dan kagum.
Pemuda itu telah sampai di ruang kerjanya dan mulai sibuk dengan berkas berkas. Setelah hampir satu jam bergelut dengan berkas, pemuda itu menemukan hal yang janggal di transaksi penjualan dan pemasaran. Semakin diperiksa semakin kelihatan kejanggalannya.
Pemuda itu mengangkat telepon dan menyuruh sekretarisnya masuk ke ruangannya.
"Iya, Pak?"
"Siapa yang mengurusi jalur pemasaran?'' tanya Ilham langsung tanpa basa basi.
"Sepertinya Pak Reza karena beliau manager pemasaran, Pak."
"Tokong panggil Pak Reza kesini."
"Baik, Pak. Sebenar saya panggilkan dulu. Saya permisi dulu, Pak." jawab sekretarisnya sambil menundukkan kepala sembari berbalik dan keluar dari ruangan Ilham.
Tidak lama kemudian sekretarisnya masuk kembali setelah mengetuk pintu ruangannya dan memberi tahu bahwa Reza hati ini ternyata cuti. Dan itu membuat Ilham marah sekali. Seenaknya saja ia cuti dan ia baru mengetahui kalo ini bukan yang pertama bagi Reza. Sudah sering laki laki itu bolos kerja atau mengajukan cuti dengan alasan yang tidak jelas.
Ilham langsung menyuruh bagian HRD untuk ke ruangannya dan memerintahkan agar next kalo Reza mengajukan cuti lagi jangan disetujui dan harus melalui persetujuannya dulu.
Rupanya Reza bukan hanya suami brengsek tetapi juga karyawan yang berperilaku buruk dan sekarang Ilham juga sepertinya sudah menemukan bukti penyelewengan yang dilakukan oleh Reza.
Tampaknya riwayat lelaki itu akan segera tamat. Tinggal Ilham kumpulkan bukti bukti yang kuat dan jelas yang bahkan bisa membuat pria itu mendekam di dalam penjara kalo benar benar terbukti melakukan kesalahan.
**********
Sitha bergegas memasuki sebuah restoran tempat dimana dia berjanji untuk bertemu dengan Bayu untuk membahas tentang perceraiannya itu. Sitha sudah telat hampir setengah jam karena terjebak macet di jalanan.
Dari kejauhan Sitha melihat sosok Bayu yang duduk menunggunya, sedang sibuk dengan ponselnya. Wanita itu segera bergegas menghampirinya.
__ADS_1
"Duh, maaf ya. Aku telat soalnya macet parah," kata Sitha ketika sudah berdiri di depan Bayi dan wanita benar benar merasa tidak enak.
Pria itu mengangkat wajahnya dan melihat Sitha dengan tersenyum.
"Tidak apa apa, aku juga baru sampai. Silahkan duduk," sahut Bayu mempersilahkan Sitha untuk duduk.
Wanita itu langsung duduk di depan Bayu. Tidak sadar Bayu terpesona dengan kecantikan Sitha yang duduk di depannya.
"Mau minum apa? Atau mau sekalian pesan makanan?'' tanya Bayu.
"Gak usah, minum aja." jawab Sitha senyum, dan laki laki di depannya itu langsung memesan minuman yang Sitha mau.
"Jadi, bagaimana dengan berkas perceraiannya?" tanya Sitha langsung. Wanita itu tidak sabar lagi ingin mengetahui sudah sejauh mana prosesnya.
"Berkasnya sudah selesai dan besok aku akan ajukan ke pengadilan agama tapi tolong di baca dulu, mungkin ada yang ingin kamu ubah sebelum besok aku daftarkan." ucap Bayu sambil menyodorkan berkas perceraiannya.
Wanita itu menerimanya dan langsung membacanya dengan hati hati. Saat lagi fokus membaca berkas itu tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Maaf," ucap Sitha lirih melihat Bayu.
"Gak apa apa, angkat saja. Mungkin penting," jawab Bayu santai.
"Halo?'' sapanya saat panggilan sudah terhubung.
"Lagi dimana, Sayang?'' tanya Ilham.
"Lagi di restoran angke, ketemu sama pengacara." jawabnya sembari melirik Bayu.
"Oh.... Kenapa kamu tidak bilang kalo pengacara yang menangani perceraian kamu itu adalah seorang pria dan masih muda?"
"Eh, apa? Kok kamu tahu?''
Sitha terkejut ketika mendengar ucapan Ilham itu di telepon. Pemuda itu seakan akan tahu dengan siapa dia bertemu. Berarti Ilham ada disekitar sini. Sitha langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling restoran dan matanya berhenti ketika melihat Ilham yang sedang duduk bersama rekan kerjanya, tidak jauh dari meja dia dan Bayu.
Wanita itu melirik sekilas ke arah Bayu dan merasa lega ketika melihatnya ternyata pria yang didepannya itu sedang sibuk dengan ponselnya. Sehingga tidak begitu memperhatikan dirinya.
Sitha kembali melihat ke arah Ilham dan mendapati tatapan mata yang begitu tajam seperti ingin menerkam mangsa dari mata pemuda itu.
__ADS_1
"Kamu harus menjelaskan semuanya nanti, Sayang!'' kata Ilham dengan tatapan tajam dan tidak ada senyuman yang terlihat di sana.
"Iya." jawab Sitha pelan.
"Iya udah, nanti hati hati pulangnya ya,"
"Iya. Kamu juga."
Sitha menutup teleponnya sambil melihat ke arah Ilham. Wanita itu jadi teringat akan apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu ketika lagi marah dan cemburu. Antara rasa takut dan berdebar dirasakan oleh wanita itu. Entah kenapa Sitha malah seakan tak sabar menunggu apa yang akan dilakukan oleh Ilham. Memikirkan hal itu membuatnya jadi gelisah dan menjadi terangsang. Bagian bawahnya terasa wet, membuatnya sedikit gelisah.
"Jadi bagaimana dengan berkasnya?'' tanya Bayu yang mengetahui kalo wanita itu sudah selesai menerima telepon.
"Eh, iya apa, Mas?'' Sitha terkejut dan gugup, wanita itu tidak fokus dengan pertanyaan dari Bayu karena pikiran nakal yang merasuki kepalanya.
"Kamu kenapa, Tha? Muka kamu memerah seperti itu?'' tanya Bayu yang melihat Sitha seakan kepergok melakukan kesalahan. Tanpa sadar pria itu meraih tangan Sitha dan mengelusnya.
Sedangkan Ilham yang masih memperhatikan dari tempatnya duduk, wajahnya langsung tegang ketika melihat tangan kekasihnya dipegang oleh pria yang Sitha bilang itu pengacaranya.
Kenapa pengacara itu seperti akrab dengan Sitha? Apa mungkin Sitha sudah kenal lama dengan pria itu. Semua pikiran negatif hinggap di kepala Ilham. Membuat pria itu dirasuki oleh rasa cemburu.
Sitha yang baru sadar kalo sedari tadi tangannya di elus oleh Bayu langsung dengan sigap menarik pelan tangannya.
"Ak....aku gak apa apa," jawab Sitha terbata.
"Beneran kamu gak apa apa, Tha?" tanya Bayu yang masih penasaran.
"Iya gak apa apa. Berkas ini sudah boleh di daftarkan. Aku tidak ingin merubah apapun," kata Sitha berusaha untuk mengalihkan perhatian Bayu.
"Oke kalo sudah semua kamu setujui besok akan aku daftarkan ke pengadilan agama dan Reza tinggal nunggu surat panggilan. Mungkin agak sedikit lama karena antrian buat sidang perceraian cukup lumayan panjang," jelas Bayu.
"Apa tidak bisa dipercepat, Mas?'' tanya Sitha.
"Kamu mau lebih cepat ya?''
"Iya, Mas. Sitha gak mau lama lama lagi."
"Kalo gitu Mas akan usahakan biar prosesnya makin cepat ya,"
__ADS_1
"Terima kasih ya, Mas." kata Sitha menatap Bayu dengan seulas senyum di wajahnya.
"Sama sama, Tha. Oh ya, nanti malam kamu ada acara gak?'' tanya Bayu yang langsung mengalihkan ke pertanyaan yang bersifat pribadi.