
"Kamu mau apa?!'' tanya Sitha curiga dan menjauhi Ilham.
Pemuda itu hanya tersenyum menggoda dan main mata dan terus mendekati Sitha membuat wanita itu akhirnya berlari keluar dari kamar. Terdengar suara Ilham memanggil namanya tapi tidak dipedulikan wanita itu karena dia tahu apa yang diinginkan oleh Ilham.
Ketika Sitha keluar dari kamar, terdengar suara ponsel miliknya berbunyi sehingga dia bergegas mengambil tasnya yang berada di lantai. Sitha mengambil ponselnya dan seketika wanita itu tertegun ketika melihat nomor baru yang menelpon dirinya.
Dengan ragu Sitha mengangkat telepon itu dan mendengarkan suara seseorang daru seberang tanpa Sitha berbicara terlebih dahulu. Wajah Sitha seketika berubah menjadi pucat ketika mendengar suara dan perkatan penelpon itu.
"Iya, saya akan segera kesana. Terima kasih atas infonya." ucap Sitha yang segera melangkah menuju ke kamar, tetapi belum juga sampai ke kamar ponselnya kembali bunyi.
Wanita itu mengerutkan keningnya ketika melihat nama Mila yang tertera di layar ponselnya. Adik yang telah menyakiti hatinya, tetapi sebagai seorang kakak Sitha tidak bisa menghindari Mila selamanya karena bagaimanapun juga wanita itu tetap menyayangi adiknya itu.
"Iya, Halo Mil..."
"APA?!"
"Dimana kamu sekarang? Kakak akan kesana," ucap Sitha dan bergegas masuk ke kamar.
"Ham, aku harus ke rumah sakit. Mila masuk rumah sakit," ucap Sitha yang bergegas ke kamar mandi untuk mengambil pakaiannya.
Ilham yang sibuk dengan laptopnya terkejut dan segera mengikuti Sitha masuk ke kamar mandi dan melihat wanita itu terburu buru mengenakan pakaiannya.
"Mila masuk rumah sakit?" tanya Ilham sedikit bingung.
"Iya, adik aku Mila tadi nelpon kalo dia masuk rumah sakit. Aku mau kesana," sahut Sitha yang sudah hampir kelar mengenakan pakaiannya yang masih sedikit lembab karena baru di cuci.
"Tunggu aku, biar aku temani kamu." sahut Ilham sambil melangkah ke bawah shower untuk segera mandi.
"Tapi, Ham. Biar aku sendiri aja, mobilku juga ada di bawah."
"Tunggu aku, lagian kalo Mila yang menelpon berarti kondisinya tidak parah," tegas ilham sambil melanjutkan mandinya.
__ADS_1
Sitha akhirnya mengikuti kemauan Ilham dan melangkah keluar dari sana untuk menunggu pemuda itu selesai mandi. Tidak lama kemudian Ilham sudah keluar dengan mengenakan handuk.
Sitha yang melihat pemandangan yang begitu jantan di depan matanya langsung merasa tenggorokannya mendadak kering padahal ini bukan yang pertama kali wanita itu melihat tubuh gagah Ilham secara sadar tapi tetap saja wanita itu terpesona.
Ilham dengan cueknya mengambil pakaiannya dan mengganti pakaian di depan Sitha yang sedang menatapnya dengan tatapan sayu.
"Sayang, kamu pakai kaos aku aja. Baju kamu itu masih basah nanti kamu malah masuk angin." ucap Ilham yang mengulurkan kaos oblongnya kepada Sitha.
Pemuda itu berbalik dan menemukan Sitha yang menatapnya dengan tatapan terpana dan kagum. Membuat pria itu tersenyum lebar. Sitha yang mengetahui jika Ilham memergokinya, langsung bersemu merah pipinya. Ilham merangkul pinggang Sitha dan menariknya masuk ke dalam pelukan pemuda itu.
"Mau kita tunda rencana kamu ke rumah sakit, hm?" goda Ilham sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Ilham..." sergah Sitha.
"Kenapa, hm?"
"Masih ngilu, Ham!" ucap Sitha dengan pipi yang semakin merona malu.
"Ya ampun, Sayang. Inilah yang membuat aku sangat sangat mencintaimu," ucap Ilham sambil melepaskan pelukannya dan menyodorkan kaos yang tadi dipilihnya.
Sitha mengambil kaos itu dan berniat untuk menggantinya di kamar mandi, tapi tangannya di tahan oleh Ilham.
"Gantinya disini aja," katanya mengedipkan matanya.
Wanita Itu akhirnya menuruti kemauan Ilham dan langsung mengganti bajunya dengan kaos oblong yang diberikan Ilham padanya. Pemuda itu menatap Sitha yang begitu cantik. Dengan berpakaian seperti itu dipadu dengan rok hitam sederhana lalu rambutnya yang diikat ke atas menjadikan Sitha kelihatan seperti gadis remaja apalagi wanita sama sekali tidak mengenakan make up. Benar benar natural. Cantik.
Mereka langsung menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Mila. Ilham tidak tahu kalo di rumah sakit tempat Mila dirawat, Reza juga di rawat di sana.
Sitha langsung bergegas menuju kamar rawat inap Mila. Wanita itu belum memberitahu tentang Mila kepada orang tuanya karena ingin mengetahui keadaan adiknya itu terlebih dulu. Sitha takut kalo langsung menelpon orang tuanya malah membuat mereka semakin panik dan khawatir.
Setelah sampai di depan pintu kamar pasien, Sitha menoleh ke arah Ilham yang dari tadi berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Ham, kamu tunggu di luar aja ya," pinta Sitha.
"Iya, aku tunggu di luar aja," jawab Ilham lalu duduk di kursi ruang tunggu.
Sitha lalu masuk ke dalam kamar tempat Mila di rawat. Kamar rawat Mila terlihat mahal. Wanita itu melihat adiknya sepertinya kurang tidur. Dengan perlahan Sitha mendekati Mila, wanita itu lega melihat kondisi Mila yang terlihat baik baik saja.
MIla adalah adik yang begitu dia sayangi tetapi keadaan mereka sekarang sudah berubah. Jauh di dalam lubuk hati Sitha selalu ada rasa sakit akibat perbuatan adiknya itu. Walaupun sekarang Sitha sudah rela melepaskan Reza dan malah bersyukur bisa mengetahui kebusukan Reza tetapi tetap saja hatinya selalu menahan sakit setiap kali bertemu dengan Mila.
Wanita itu merasakan sampai kapanpun Mila dan dirinya tidak mungkin bisa seperti dulu lagi sebagai adik kakak yang sangat akrab dan saling menyayangi.
Mila yang merasa kalo ada orang yang masuk kamarnya langsung membuka matanya dan melihat kakaknya Sitha berdiri di depannya, langsung menangis mengingat kesalahan besar yang telah dirinya perbuat.
Sitha hanya diam menatap Mila dengan canggung. Wanita itu seakan bingung harus bagaimana. Seolah ada jarak yang memisahkan mereka berdua hingga membuat Sitha hanya berdiri diam memandangi Mila yang sedang menangis seolah ingin melepaskan beban yang ada di pikirannya.
"Maafkan Mila, Kak.... Mila benar benar berdosa sama kakak. Ternyata Mas Reza memang lelaki brengsek," ucap Mila di sela sela tangisannya.
"Mas Reza selingkuh dengan sahabat Mila sendiri dan Mila melihat dengan mata kepala Mila sendiri. Kakak benar, Mas Reza memang brengsek. Mila menyesal karena sudah menyakiti kakak,"
Sitha hanya berdiri dan diam cukup lama setelah mendengar perkataan Mila. Rupanya adiknya itu akhirnya mengetahui sendiri kalo Reza ternyata laki laki brengsek. Apakah ini karma balasan karena Sitha juga pernah di posisi Mila yang melihat sendiri perselingkuhan Reza di depan matanya?
"Sudahlah, Mila, kakak tidak menyalahkan kamu karena mungkin memang sudah sifat Mas Reza yang begitu biarpun bukan dengan kamu. Mas Reza tetap berselingkuh dengan wanita lain," kata Sitha akhirnya setelah terdiam cukup lama.
"Kakak cuma kecewa sama kamu yang semudah itu bisa percaya dengan ucapan Mas Reza dan malah menyerahkan segalanya kepada dia,"
Mila semakin menangis kencang ketika mendengar ucapan Sitha. Hatinya semakin merasa bersalah. Mila merasa, dia benar benar tidak tahu diri mempunyai kakak yang sebaik itu malah menyakitinya.
"Sudah, jangan menangis lagi. Semua sudah terjadi, cuma kakak berharap kamu bisa berubah menjadi lebih baik," ucap Sitha berusaha menenangkan Mila yang masih menangis.
"Pulanglah ke rumah dan minta maaf sama Papa dan Mama, Kakak sudah memaafkanmu tetapi kalo kita kembali seperti dulu, kakak belum bisa, Mil." kata Sitha menatap Mila.
"Bagaimana dengan Reza, apa dia baik baik saja?'' tanya Sitha memastikan.
__ADS_1
"Eh, emang Mas Reza kenapa, Kak?''