Hurt Wife

Hurt Wife
Bab 61


__ADS_3

"Apa saya bisa bertemu dengan istri saya, Dok?'' tanya Ilham kepada dokter.


"Setelah istri bapak dipindahkan ke kamar inap, Bapak baru bisa menemui istri bapak." sahut sang dokter.


"Terima kasih, Dok." ucap Ilham.


"Sama sama, Pak. Sudah tugas kami untuk menolong pasien." jawab dokter itu ramah dan senyum dan kemudian pamit meninggalkan Ilham.


Papanya Sitha mendekati Ilham dan menepuk pundaknya dengan pelan. Ilham menatap ke arah papanya Sitha.


"Maafkan papa hampir saja membuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan." ujar Papanya Sitha pelan.


"Ilham sudah memaafkan Om. Saya maklum kalo Om marah sama saya." kata Ilham.


"Terima kasih, Nak. Jangan panggil Om karena sebentar lagi kamu akan menjadi menantu jadi panggil papa saja." kata pria paruh baya itu yang akhirnya menerima Ilham untuk menjadi menantunya karena pria itu sudah melihat pria yang berdiri dihadapannya kini begitu mencintai anaknya.


"Terima kasih, Pa." ucap Ilham begitu bahagia, akhirnya perjalanan cintanya dengan Sitha berakhir bahagia.


*******


Ilham masuk ke kamar rawat Sitha setelah menunggu hampir satu jam baru Sitha dipindahkan ke kamar inap. Pria itu mendekati Sitha yang masih tertidur karena pengaruh obat. Ditatapnya lekat lekat wajah wanita yang begitu dicintainya itu.


Ilham terduduk di kursi yang berada di samping ranjang dengan perasaan lega. Pria itu tanpa sadar malah menangis lega dan bahagia. Ilham pikir dia akan kehilangan Sitha dan juga anaknya. Ternyata Allah masih sayang dengannya karena masih melindungi wanita yang dicintainya itu.


 Ilham tersentak kaget ketika ada tangan yang memegang tangannya. Pria itu mengangkat kepalanya dan menatap Sitha yang juga sedang menatapnya.


"Sayang, kamu sudah bangun? Bagaimana keadaanmu? Ada yang sakit?" tanya Ilham langsung sembari mengelus pipi wanita itu dengan lembut.


Sitha menatap Ilham dan mengangkat tangannya mengusap air mata yang masih membasahi pipi Ilham.


"Mas menangis?'' tanya Sitha pelan.


Ilham menggenggam tangan Sitha yang sedang mengusap wajahnya. "Jangan pernah menakuti aku seperti yang tadi lagi, Sayang." ucap Ilham lembut sembari mencium tangan Sitha.


Sitha lalu terkejut mengingat apa yang terjadi. Wanita itu langsung meraba perutnya dengan panik.


"Mas, bayi kita?'' tanya Sitha panik.


"Bayi kita sehat sehat aja, dia kuat." kata Ilham mengelus perut Sitha.


Mendengar perkataan Ilham membuat Sitha langsung merasa lega dan menangis haru. Dia begitu bersyukur bayinya tidak kenapa kenapa. Sitha tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri kalo terjadi apa apa dengan bayinya.


"Ssst... Jangan menangis, semuanya sudah baik baik saja." ucap Ilham lembut sambil mengelus air mata yang membasahi pipi Sitha. Di ciumnya kedua mata Sitha dengan mesra. Ilham mengecup lembut bibir ranum Sitha. Ilham mencium Sitha seakan memastikan bahwa wanita itu benar benar masih berada disampingnya. Memastikan kalo wanita yang di cintainya masih bersamanya. Ciuman lembut lama kelamaan menjadi panas, terdengar suara rintihan Sitha lirih bahkan kedua lengan wanita itu sudah merangkul leher Ilham.


"Ekhem...." terdengar suara berdehem di belakang mereka berdua yang membuat Ilham menoleh dan mendapati mamanya sudah berdiri di belakang mereka.


"Mama...." ucap Ilham jengah ketika mamanya memergoki apa yang sedang mereka lakukan.


Indah mendekati anaknya Ilham dan memukulkan paper bag yang dibawanya ke tubuh anaknya itu.


"Aduh, Ma...." ucap Ilham terkejut mendapatkan pukulan dari mamanya.


"Kamu tuh ya, Ham? Menantu mama lagi sakit masih juga di mesumi!" ucap Indah dengan ketus.


Ilham yang mendengar ucapan Indah hanya tersenyum simpul sementara wajah Sitha sudah merona malu. Setelah badai berlalu akhirnya mereka bisa tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Ini baju ganti buat kamu, Nak." ucap Indah sambil memberikan papar bag yang di bawanya tadi.


Sitha bisa melihat baju yang dikenakan Ilham terkena darah Sitha karena pria itu menggendongnya.


"Minggir, mama mau lihat menantu mama.'' kata Indah mendorong Ilham agar menyingkir.


"Bagaimana keadaan kamu, Nak?'' tanya Indah dengan lembut.


"Alhamdulillah baik, Tante." jawab Sitha pelan.


"Jangan panggil tante lagi, sebentar lagi Sitha akan jadi menantu mama. Jadi mulai sekarang, panggil mama aja ya, Sayang." sahut Indah.


"Iya, Ma...."


"Sitha istirahat aja, jangan mikir yang macam macam, agar lebih cepat pulih. Ingat ada cucu mama yang harus di jaga."


"Iya, Ma..." sahut Sitha lagi. Wanita itu melihat Ilham sudah keluar dari kamar mandi dan telah berganti pakaian.


"Mama bawa makanan buat kamu, Ham. Makan dulu." ujar Indah.


"Iya, Ma." jawab Ilham lalu bergegas menuju ke ruang kecil yang terdapat di ruang inap Sitha. Ilham sengaja memilih ruangan VIP agar Sitha lebih nyaman beristirahat selama di rumah sakit.


********


Indah baru saja pulang sebentar ketika orang tua Sitha masuk ke dalam kamar bersama dengan Mila.


Setelah kejadian itu, papa Ditha akhirnya menerima Ilham yang menjadi calon menantunya nanti. Pria paruh baya itu sadar kalo ternyata Ilham pria yang bertanggung jawab dan begitu mencintai putrinya Sitha. Pria itu bersyukur Sitha bisa bertemu dengan laki laki sebaik Ilham.


Sitha sedang mengobrol dengan mamanya ketika melihat ke arah Mila yang seperti mendekati Ilham. Adiknya itu duduk disebelah pria itu dan mengobrol dengan akrab. Perasaan wanita yang pernah kehilangan seseorang yang dulu dicintainya itu seketika langsung lemas dan gemetar. Sitha takut kalo Ilham tertarik dengan Mila yang lebih muda darinya apalagi Sitha melihat Mila hari ini memakai pakaian yang begitu seksi seakan ingin menggoda laki laki.


"Mas," panggil Sitha.


"Kenapa?'' tanya Ilham setelah berada di dekat Sitha. Pria itu mengelus lembut kepala wanita itu.


"Duduk di samping Sitha aja, Sitha gak mau jauh dari Mas Ilham." sahut Sitha dengan sedikit ketus.


Ilham akhirnya duduk disamping ranjang, tangannya menggenggam lembut tangan Sitha. Pria itu sedikit bingung melihat Sitha yang terlihat kesal tetapi Ilham tidak menanyakan dulu karena masih ada calon mertuanya di kamar ini.


"Ya udah, Mama sama Papa pamit pulang dulu ya, Nak. Kamu banyak istirahat ya," ucap Uti.


"Ya, Ma." jawab Sitha pelan.


"Mas antar mama sama papa dulu ya ke depan." ucap Ilham mengelus tangan Sitha.


"Iya, tapi jangan lama lama." jawab Sitha.


Setelah berpamitan akhirnya orang tua Sitha pulang dan Ilham mengantarkannya ke depan pintu.


"Nak Ilham, tolong yang sabar ya sama Sitha. Maklum kalo wanita hamil bawaannya sensitif." ucap Uti setelah mereka berada di luar kamar inap.


"Iya, Ma. Ilham ngerti kok." jawab Ilham.


"Kami pulang dulu ya, Ham. Tolong jaga sitha." ucap Papanya Sitha.


"Iya, Pa. Hati hati di jalan ya Pa, Ma. Mil, nyetir mobilnya hati hati." ucap Ilham.

__ADS_1


"Iya, Mas. Mila pulang dulu ya Mas." sahut Mila yang sengaja menyentuh dada bidang Ilham dan mengelus lembut sambil tersenyum nakal ke arah Ilham membuat Ilham yang merasakan sentuhan tangan Mila langsung otomatis mundur menjauhi gadis itu. Mila kesal karena sepertinya Ilham tidak tertarik sedikit pun dengannya padahal ia yakin dirinya lebih menarik dari kakaknya Sitha. Gadis itu akhirnya melangkah pergi dengan wajah kesal tanpa mempedulikan orang tuanya yang masih berbincang dengan Ilham.


"Ya sudah, kami pulang dulu ya," ucap Papanya sitha setelah melihat anaknya Mila telah melangkah meninggalkan mereka.


"Iya, Pa. Hati hati di jalan."


Ilham masih menatap calon mertuanya dan Mila yang telah duluan keluar dari rumah sakit. Pria itu sadar ternyata Mila masih belum berubah. Ilham tadi tahu kalo Mila seakan menggodanya itu yang membuat Sitha kesal. Apa mungkin Sitha tahu kalo Mila tadi menggodanya sewaktu mereka mengobrol di dalam.


Ilham langsung kembali ke kamar inap dan melihat Sitha yang masih terlihat cemberut. Pria itu mengelus lembut rambut Sitha sambil tersenyum lebar.


"Sayang, kenapa tuh muka kamu sudah seperti sebulan gak dapat jatah enak dari suami kamu?!" gurau Ilham menggodanya.


"Sitha gak suka Mas dekat dekat sama Mila!'' ketus Sitha.


"Sitha takut," ucap Sitha lirih yang mengingat perselingkuhan adiknya itu dengan Reza. Masih ada rasa trauma mendalam bagi wanita itu.


"Hei, Sayang.... Jangan memikirkan hal buruk seperti itu. Kamu tidak boleh stress ingat bayi kita." sahut Ilham sambil menggenggam lembut tangan Sitha.


"Aku sangat mencintaimu, kamu tahu kan perjuangan Mas untuk mendapatkan kamu, Tha. Alangkah bodohnya Mas kalo berkhianat hanya demi nafsu sesaat saja." kata Ilham dengan lembut.


"Percayalah sama Mas, hanya kamu yang akan menemani Mas sekarang, besok dan masa yang akan datang, sampai kita menua bersama." ucap Ilham sambil mencium bibir Sitha dengan mesra.


Sitha menangis mendengar ucapan Ilham. Wanita itu mengelus pipi pria itu dengan tatapan penuh cinta.


"Sitha juga mencintai Mas Ilham. Sitha sampai sekarang rasanya masih tidak percaya kalo bisa bertemu dengan seorang yang bisa membuat Sitha jatuh cinta lagi."


"Mas Ilham dan bayi kita adalah segalanya buat Sitha sekarang dan nanti." kata Sitha sambil menarik kepala Ilham agar turun dan menciumi bibir pria itu dengan mesra.


Sepasang insan yang awalnya melakukan jalan yang salah untuk bersama akhirnya ditakdirkan untuk bersama. Selamanya. Sitha dan Ilham sadar jalan mereka masih panjang. Ini hanya langkah awal sebelum menuju ke arah kebahagiaan.


Sitha yang awalnya hanya wanita yang tersakiti oleh penghianatan suaminya akhirnya malah menemukan belahan jiwanya yang sesungguhnya.


Ilham yang awalnya hanya seorang pemuda yang hanya menjalani hidup tanpa tujuan akhirnya malah jatuh cinta kepada seseorang wanita cantik yang sudah ada yang memiliki tetapi demi cintanya Ilham rela melakukan segala cara agar bisa bersama dengan wanita yang ia cintai itu. Hingga akhirnya usaha Ilham membuahkan hasil. Pria itu sekarang bisa bersama dengan Sitha, wanita yang akan menemaninya mengarungi kehidupan.


THE END


Haloooo othor mau promote nih....


Mampir di Novel baru Othor ya nanti....


"Saya terima nikahnya, Elsa Rahayu binti Rahardian Muhammad Nuril almarhum dengan maskawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Sah, saksi bagaimana?''


"Sah "


"Sah."


"Sah."


"Alhamdulillah, silahkan pengantin perempuan keluar kamar!''


Wanita itu terdiam sejenak lalu berjalan perlahan begitu anggun dengan gaun putihnya.


"Silahkan cium tangan istri kamu."

__ADS_1


wanita itu terdiam menatap pria itu lalu mencium tangannya perlahan. Pria itu menatap tanpa henti, lalu saat hendak mencium kening wanita itu, tiba tiba saja ada yang memanggilnya.


"Papa?''


__ADS_2