Hurt Wife

Hurt Wife
Bab 55


__ADS_3

Ilham terbangun dari tidurnya ketika mendengar suara di kamar mandi. Sepertinya Sitha sedang di dalam. Segera saja pemuda itu masuk ke dalam kamar mandi dan mendapati Sitha sedang muntah muntah.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Ilham sambil memijit punggung Sitha pelan.


"Anak kamu mulai rewel." jawab Sitha pelan.


Setelah berkumur dsn membersihkan bekas muntahannya, Sitha bersandar lemah di dada Ilham. Pemuda itu langsung menggendong tubuh Sitha dan membawanya keluar dari kamar mandi.


Dengan hati hati, ilham merebahkan tubuh Sitha di atas kasur. Pemuda itu lalu bergegas mengambilkan air minum untuk kekasihnya itu.


"Sayang gak apa apa kan?'' tanya Ilham khawatir.


"Gak apa apa, Mas. Ini normal buat kehamilan muda seperti aku." sahut Sitha.


"Mas takut apa karena gara gara semalam kita ngelakuinnya?'' ucap Ilham yang tengah berbaring disamping Sitha sambil tangannya mengelus perut Sitha pelan.


"Bukan karena itu, Mas. Sitha gak apa apa."


"Sayang, kamu sekarang tengah hamil anak aku. Apa seharusnya aku bertemu dengan orang tua kamu?''


"Mau mau ketemu orang tua Sitha?''


"Iya, Sayang. Mas mau bertemu dengan orang tua kamu. Seharusnya Mas sudah berkenalan dengan mereka."


"Gimana kalo kita habis dari rumah sakit baru ke rumah orang tua kamu, Sayang?"


"Tapi, Mas gak ke kantor?''


"Nanti aku ke kantor setelah berkenalan dengan orang tua kamu."


"Sitha takut,"


"Takut kenapa, Sayang?''


"Papa orangnya keras. Sitha takut beliau tidak bisa menerima hubungan kita berdua."


"Jangan berpikir negatif dulu, Sayang. Berdoa saja semoga orang tua kamu mau menerima hubungan kita berdua, lagipula sekarang kamu mengandung anak aku dan cucu mereka."


Kedua pasangan kekasih itu hanya bisa saling menguatkan dan berharap agar hubungan mereka berjalan menuju ke arah kebahagiaan.


*******


Sitha dan Ilham telah berada di rumah sakit untuk bertemu dengan Reza. Tanpa membuang waktu lagi mereka langsung menuju ke kamar tempat Reza di rawat.

__ADS_1


"Mas, tunggu di luar dulu ya?'' ucap Sitha.


"Tapi, Sayang, Mas ingin bertemu dengan Reza,"


"Iya, tapi nanti. Biar Sitha masuk dulu ke kamar Reza," sahut Sitha memberikan pengertian kepada Ilham.


"Baiklah. Mas tunggu di luar lima menit habis itu Mas langsung masuk ke dalam!" sahut Ilham dengan nada yang tidak bisa dibantah.


Sitha mendengar perkataan Ilham hanya bisa menghela nafas panjang sembari menatapnya dengan tatapan melas. Wanita itu merasa terkadang sikap posesif Ilham berlebihan.


Akhirnya Sitha masuk ke dalam kamar rawat inap Reza. Wanita itu melihat Reza sedang berbaring di atas tempat tidur dengan keadaan baik walaupun terlihat agak kurus. Reza yang mengetahui kalo ada seseorang masuk ke dalam kamarnya langsung menoleh dan melihat istrinya Sitha berdiri di depan kamar rawat inapnya itu.


Reza melihat Sitha begitu cantik dan kelihatan lebih bahagia. Pria itu benar benar menyakiti hati Sitha. Tapi semuanya telah terlambat dan ia bisa merelakan Sitha berpisah darinya.


"Bagaimana dengan keadaan Mas Reza?'' tanya Sitha sambil berjalan mendekati Reza.


"Ya beginilah, seperti yang kamu lihat. Mas lumpuh, Tha." sahut Reza.


"Minggu depan Mas sudah diperbolehkan pulang ke rumah dan ada saudara Mas dari jauh yang akan datang merawat Mas. Kamu apa kabar, Tha?" kata Reza menatap Sitha dengan tatapan ada rasa kangen.


"Sitha baik, Mas. Sitha berharap semoga Mas cepat pulih kembali." jawab Sitha.


"Soal perceraian kita, Mas akan jual rumah kita itu dan akan membagi dua hasil penjualan rumah itu nanti." kata Reza.


Reza hanya menatap Sitha dengan tatapan penuh kelembutan. Pria itu merasa jalannya untuk kembali dengan Sitha sudah tertutup rapat. Rupanya wanita itu tetap pada keputusannya untuk bercerai dengan Reza.


"Apa tidak ada lagi kesempatan buat, Mas?" tanya Reza masih mencoba.


"Sitha tidak bisa karena----"


"Sayang, belum selesai ya bicaranya?" ucap Ilham yang tiba tiba masuk dan langsung memeluk pinggang Sitha dengan mesra.


Reza terkejut ketika direkturnya berada di dalam kamarnya dan memeluk pinggang Sitha dengan mesra dihadapannya.


"Pak Ilham?'' kata Reza singkat dan terkejut.


"Selamat pagi, Pak Reza. Akhirnya kita bertemu lagi, mungkin Pak Reza bingung kenapa saya bisa bersama dengan Sitha." ucap Ilham dengan santai. Pemuda itu sengaja masuk dan memperlihatkan kemesraan dengan Sitha karena Ilham mau Reza tau kalo dirinya mempunyai hubungan dengan Sitha.


"Mas Ilham, jangan...." cegah Sitha.


"Saya dan Sitha mempunyai hubungan, lebih tepatnya Sitha adalah kekasih saya." ucap Ilham dengan lugas.


Sitha langsung menghela nafas berat ketika mendengar ucapan Ilham. Akhirnya Reza mengetahui juga hubungan mereka.

__ADS_1


Reza terdiam tidak tahu harus berkata apa. Ternyata istrinya Sitha juga sudah melakukan hal yang sama dengannya berselingkuh dibelakangnya.


"Sitha apa benar semua ini?'' tanya Reza yang masih tidak percaya walau bukti sudah terlihat di depannya.


"Iya benar, Mas. Sitha juga berselingkuh dari Mas Reza. Maafkan Sitha...."


Sitha tak mau membela dirinya karena dirinya juga melakukan hal yang sama seperti Reza makanya Sitha mengatakan yang sebenarnya.


Reza tertawa pelan. Tawa yang terdengar getir dan terpaksa.


Rupanya Sitha tidak lebih baik darinya. Wanita itu juga berselingkuh dibelakangnya. Untuk apa Reza berusaha mempertahankan pernikahan mereka kalo Sitha juga tidak lebih dari wanita penghianat.


"Baguslah kalo begitu aku tidak perlu lagi merasa bersalah kepada kamu karena ternyata kamu juga tidak lebih baik dari Mas." sahut Reza datar.


"Mas... Sitha..."


"Cukup, Sayang! Tidak perlu menjelaskan apa apa kepada Reza." potong Ilham tegas.


"Saya mau proses perceraian Sitha dengan anda bisa selesai secepatnya karena setelah Sitha bercerai, saya akan menikahinya." kata Ilham menatap Reza.


"Dan satu lagi Pak Reza, karena saya melihat keadaan pak Reza yang sekarang ini maka saya putuskan untuk tidak melaporkan pak Reza ke polisi karena melakukan tindakan penyelewengan dana di perusahaan, tetapi Pak Reza akan saya PHK. Mulai detik ini Pak Reza bukan lagi karyawan dari perusahaan saya!'' tegas Ilham.


"Mas..." seru Sitha kaget mendengar perkataan Ilham.


"Itu yang sebenarnya terjadi, Sayang. Aku tidak pernah cerita karena tidak ingin menambah masalah baru tetapi itulah yang sebenarnya terjadi." ucap Ilham.


Reza yang mendengar perkataan Ilham akhirnya hanya bisa pasrah menerima semuanya. Karena disini memang dirinya bersalah.


"Baiklah, Pak Ilham. Saya menerima semua keputusan yang dibuat oleh perusahaan. Saya juga tidak akan mempersulit proses perceraian saya dengan Sitha." ucap Reza pelan.


"Mas harap kamu bisa lebih bahagia sekarang. Maafkan semua kesalahan Mas kepada kamu, Sitha."


"Maafkan kesalahan Sitha juga, Mas. Terima kasih untuk selama tiga tahun sudah menjadi suami yang baik buat Sitha." sahut Sitha pelan.


Ilham yang mendengar ucapan Sitha langsung meremas pinggang wanita itu sedikit lebih keras. Pemuda itu tidak suka mendengar ucapan Sitha seakan masih tidak rela berpisah dengan Reza.


"Sitha permisi dulu Mas, semoga Mas Reza cepat pulih kembali." ujar Sitha berpamitan dengan Reza, mungkin ini untuk terkahir kalinya mereka bisa bertemu.


"Semoga kamu berbahagia, Tha." sahut Reza yang dengan tulus mendoakan yang tebaik buat mantan istrinya itu.


Sitha dan Ilham keluar dari kamar rawat Reza.


Setelah sudah berada di luar kamar Reza, Ilham menarik lengan Sitha menuju sudut rumah sakit yang terlihat sepi.

__ADS_1


"Katakan dengan jujur, apa kamu masih ada perasaan dengan Reza?!"


__ADS_2