
Sitha akhirnya berada di dalam mobil Indah. Wanita itu sadar kalo sebentar lagi mungkin dirinya akan ditanya berbagai macam banyak hal oleh Indah.
"Sitha mau kemana sekarang?" tanya Indah.
"Saya mau ke butik saya, Tan. Di jalan kenanga." sahut Sitha.
Setelah memberitahukan kepada supir untuk tujuan tersebut untuk mengantarkan Sitha kesana, Indah memperhatikan wanita yang dicintai anaknya itu.
"Sudah berapa bulan kehamilan kamu, Nak?'' tanya Indah langsung.
Sitha menoleh begitu terkejut melihat Indah. Wanita itu tidak tau bagaimana bisa Indah tahu tentang kehamilannya.
"Bagaimana Tante bisa tau?" tanya Sitha kebingungan.
"Saya melihat kotak susu ibu hamil di meja dapur tadi," kata Indah. Wanita itu tahu kalo kekasih anaknya telah hamil, semoga saja itu bukan jebakan untuk menjerat anaknya Ilham agar bertanggung jawab atas kehamilan Sitha.
"Maafkan kami, Tan. Saya tahu, saya bersalah tetapi saya benar benar mencintai Ilham anak Tante. Dan bayi yang sedang saya kandung ini beneran anak Ilham. Saya tidak bermaksud untuk menjebak Mas Ilham agar mau bertanggung jawab atas kehamilan saya."
Sitha berusaha menjelaskan semuanya karena wanita itu tau kalo mamanya Ilham pasti berpikir negatif tentang kehamilannya sekarang ini.
Setelah ucapan Sitha suasana di mobil jadi hening. Kedua wanita yang sama sama menyayangi Ilham itu sibuk terdiam dalam pikiran masing masing.
"Sitha tadi bilang kalo mencintai Ilham anak saya, bagaimana kalo saya menyuruh Sitha untuk meninggalkan anak saya karena saya sebagai seorang ibu merasa Ilham lebih pantas menikah dengan seorang gadis bukannya janda! Kamu tau juga kan kalo Ilham adalah pewaris perusahaan papanya? Akan menjadi omongan orang kalo Ilham menikah dengan seorang janda, apalagi umur Ilham lebih muda daripada kamu,"
Sitha menoleh terkejut mendengar perkataan Indah. Wanita itu begitu terluka mendengar ucapan Indah. Inilah dari awal yang ditakutkan oleh Sitha kalo orangtuanya Ilham tidak setuju dengan hubungan mereka berdua.
Mana ada orang tua yang menginginkan anaknya menikah dengan seorang janda. Apalagi Ilham merupakan seorang putra dari pengusaha sukses, untung saja orang tua Ilham belum tahu kalo Sitha sebenarnya masih berstatus istri orang.
Dengan lembut Sitha mengelus perutnya yang telah berisi benih cinta Ilham. Sitha berpikir apakah nanti anaknya ini harus kehilangan ayahnya. Wanita itu sangat sedih memikirkan kalo hal itu benar benar terjadi.
__ADS_1
"Saya akan menerima semua keputusan yang Ilham berikan kalo memang kami harus berpisah, saya akan menerimanya tapi tolong jangan menyuruh saya untuk menggugurkan kandungan saya." ucap Sitha pelan.
"Tolong jangan hubungi anak saya dulu dan kalo Ilham mencari Sitha tolong menghindar dari Ilham dulu," ujar Indah.
"Baik, Tan. Saya tidak akan menghubungi Mas Ilham atau pun menemuinya."
Tidak lama kemudian Sitha sudah sampai di butiknya dan sebelum wanita itu turun dia melihat Indah dan berkata, "Terima kasih, Tan. Senang berkenalan dengan Tante. Mungkin bagi Tante saya tidak pantas bagi Ilham tetapi perasaan saya kepada Ilham itu tulus bukan karena ada maksud lain. Saya mencintai anak tante," jelas wanita itu sebelum kemudian turun dari dalam mobil mamanya Ilham.
Sitha masih berdiri di parkiran butiknya walaupun mobilnya Indah sudah menghilang dari pandangannya. Tanpa wanita itu sadari, air matanya mengalir begitu saja di pipinya. Dengan langkah gontai Sitha masuk ke dalam butiknya dan bersandar lelah di pintu butik.
Entah apa yang akan terjadi nantinya, baru saja Sitha merasa bahagia karena bertemu dan mendapatkan laki laki yang begitu mencintainya tetapi dirinya harus merasakan penolakan dari orang tua laki laki yang dicintainya. Tangisan Sitha terdengar begitu pilu.
Sitha mendengar suara ponselnya yang berdering. Wanita itu segera mengambilnya dari dalam tasnya dan yang menelponnya adalah Ilham.
"Halo?'' sapanya setelah menekan tombol hijau di layar ponselnya.
"Halo, Sayang, kamu udah sampai di butik?'' tanya Ilham langsung.
"Kamu kenapa, Sayang? Suara kamu begitu? Kamu nangis ya? Apa yang mama bilang sama kamu, Sayang? Bilang, Sayang? Aku kesana aja ya?" tanya Ilham panjang lebar.
"Gak usah, Mas. Sitha gak kenapa napa. Mad, Sitha mau ngomong," kata Sitha setelah menghela nafasnya.
"Iya, Sayang, Mau ngomong apa?"
"Sitha mau untuk sementara waktu kita jangan ketemuan dulu ya. Tolong Mas jangan telepon atau datang maupun temui Sitha."
"Sial! Mama pasti bilang sesuatu ke kamu kan sayang samapi kamu bilang begini? Aku kesana kita bicarakan tentang ini!''
"Tolonglah Mas ngertiin Sitha. Ini hanya untuk sementara saja mungkin sampai Sitha resmi bercerai dari Reza."
__ADS_1
"Tapi Sayang aku tidak bisa kalo begini, ini pasti karena mama bilang sesuatu ke kamu kan?!" cecar Ilham.
"Tante Indah tau kalo aku hamil." jawab Sitha pelan.
"Bagaimana mama bisa tau?" tanya Ilham yang kebingungan.
"Beliau lihat kotak susu ibu hamil di meja dapur tadi."
"Baguslah kalo begitu, mama sudah tau jadi kita bisa bersama. Karena papa sama mama harus bisa menerima kita bersama."
"Tidak semudah itu, Mas. Tolonglah Mas bicara dulu sama orang tua Mas. Disini Sitha dan calon bayi kita akan setia menunggu kok."
"Baiklah kalo itu kemauan kamu, Sayang. Aku akan turuti untuk tidak bertemu dulu dengan kamu tapi jangan larang aku untuk tidak menelpon kamu! Aku janji akan secepatnya membereskan masalah kita dan membicarakannya dengan orang tuaku. Kamu jaga diri ya, Sayang. Tolong jaga baby kita.'' tegas Ilham.
"Iya, Mas. Sitha pasti akan jaga kesehatan."
"Aku mencintaimu, Sitha."
"Aku juga mencintaimu, Mas Ilham."
Setelah telepon tertutup, Ilham langsung mengusap wajahnya dengan gusar dan putus asa. Pemuda itu tidak menyangka ternyata masalah yang ia hadapi dengan Sitha tidak mudah. Ilham tau pasti mamanya melarang Sitha untuk berhubungan dengannya atau mungkin mamanya malah menyuruh Sitha meninggalkannya.
Pemuda itu segera berganti pakaian dan bermaksud untuk ke kantor biar nanti sore sekalian ia ke rumah orang tuanya.
Sementara Sitha setelah selesai menerima telepon dari Ilham berusaha untuk merima keadaan yang sekarang ini. Wanita itu hanya berharap agar masalah dirinya dan Ilham segera ada jalan keluar.
Sitha lalu melangkah menuju ke kamar tidurnya yang berada di butik. Untung saja butik ditutup oleh Sitha untuk sementara waktu sehingga membuat wanita itu tidak pusing harus memikirkan pekerjaannya yang ada di butik.
Setelah selesai mandi dan berpakaian, Sitha merebahkan tubuhnya di atas kasur berusaha untuk beristirahat sejenak untuk sejenak menenangkan pikiran dan tubuhnya.
__ADS_1
Baru saja Sitha hendak memejamkan matanya kembali terdengar bunyi ponselnya yang berada di atas nakas. Wanita itu langsung mengambil dan melihat siapa yang menelponnya.
"Halo?"