I Love U. DOCTOR!

I Love U. DOCTOR!
VE 18.


__ADS_3

Sabtu ini aku Izin untuk tidak masuk kerja, karna badanku masih belum enakan.


semua makanan yang masuk rasanya pahit. entah kenapa lagi lah aku ini.


Indri dan Lusi sebenarnya sudah mempunyai rencana lain di hari Sabtu ini.


namun mereka berdua membatalkan rencananya itu, dan memilih untuk menemaniku saja disini katanya.


kenapa belakangan ini tubuhku lemah sekali, di minggu ini aku sudah 2 kali mengalami sakit.


padahal sebelumnya jarang sekali aku sakit seperti ini.


"padahal gapapa loh gue sendiri di kosan." ucapku.


aku merasa tidak enak, karna aku. rencana Indri dan Lusi di hari Sabtu jadi gagal.


"apasih ve.." ucap Indri.


Lusi juga bilang kepadaku untuk tidak memikirkan hal itu. karna pada dasarnya, memang mereka lah yang memilih untuk membatalkan acaranya.


tetap saja, acara itu gagal karna aku kan...


tiba tiba kami bertiga mendengar ada suara ketukan di pintu.


aku Indri dan Lusi saling melempar tatapan, dan bertanya siapa yang datang.


aku rasa.. itu Fauzi.


Indri kedepan untuk membuka pintu.


"eza.?" ucap Indri, terdengar olehku dan Lusi yang ada di kamar.


Eza.? yang datang itu Eza.. darimana dia tahu tempat kosanku..


"ve, maaf banget ini mah. gue kepaksa izinin dia masuk.." kata Indri.


mau apa dia sampai datang kesini..


aku berjalan ke ruang depan, di temani Indri dan Lusi tentunya.


aku melihatnya duduk di kursi. dan saat aku datang dia berdiri dan menyapaku.


"ada apa za.." tanyaku.


Eza bilang dia ingin menjenguk aku yang sedang sakit.


entah dia tau darimana dan siapa yang memberi tahu dia bahwa aku sedang sakit.


namun yang jelas, saat ini dia datang dan membawa Nucket Coklat.


"kamu mau ngasih coklat untuk orang yang sedang sakit.?" tanyaku.


Eza memberi tawaran kepadaku. dan bertanya, aku ingin apa.. dan sedang mau makan apa.


iya, Eza memang dari keluarga terpandang di Bandung ini. dan dia selalu mendapatkan apa yang dia mau. ketika dia minta kepada orangtuanya..


inilah yang tidak aku mengerti nya, dengan Fasilitas yang dia miliki saat ini.. apalagi yang di inginkan, sampai dia menjadi salah satu Badboy di sekolah.


aku tersenyum miris mendengar tawaran darinya..


"maksud kamu apa.?" tanyaku.

__ADS_1


jujur saja, saat ini aku merasa seperti di rendahkan oleh tawaran nya ini.


"gue kedepan dulu." kata Indri.


"aku ngga ada maksud apa apa ve, aku memang ingin mau nurutin kemauan kamu. itu saja. apa yang kamu mau aku beliin ve. saat ini juga." jelasnya.


"aku tidak mau apa apa eza." kataku.


"permisi.." ada suara laki laki lagi, dan dia membuka pintu.


Ivan.. dia masuk ditemani oleh Indri.


"loh, ada eza.." kata Ivan.


"kenapa emangnya kalo gue disini, ga suka lu.?" tiba tiba saja Eza nyolot kepada Ivan.


aku menatap Eza, dan berbicara kepadanya jangan seperti itu. Ivan hanya bicara seperti itu, kenapa Eza harus nyolot..


aku menyuruh Ivan untuk duduk, dan sama seperti Eza. Ivan datang membawa sebuah Bucket.


namun Bucket yang Ivan bawa adalah Bucket Bunga. bukan makanan..


aku mencium bunga yang Ivan berikan, dan mengucapkan terimakasih padanya.


kini kebingungan ku bertambah, selain Eza. Ivan sebelumnya juga belum pernah tau tempat tinggalku.


kenapa sekarang Ivan bisa sampai ada di sini.?


Lusi datang dari belakang membawa 2 gelas kopi. dan memberikannya kepada Eza dan Ivan..


datangnya Ivan membuat Eza diam. dan bukan hanya Eza saja yang diam.


tapi kami semua terdiam. dan mungkin sibuk dengan pikiran masing masing.


aku menatap Lusi. iya aku harus apa saat ini.. sedangkan aku sendiri tidak tahu akan kedangan mereka berdua.


"ivan, tangan kamu udah sembuh.?" tanyaku.


"udah ko ve.. makasih ya." kata Ivan.


aku mengangguk, dan kami kembali terdiam.


"emm ve.." kata Ivan.


"iya, kenapa.?" tanyaku.


Ivan berkata kalau Mama nya menanyakan ku. dan Mama nya juga berharap aku bisa main lagi kerumah Ivan.


mendengar itu aku terkejut, bukan hanya itu. Eza yang sedari tadi sudah diam kini aku melihat dia menggepalkan tangannya.


Eza cemburu..


Eza menatap Ivan, dan tatapannya itu bisa aku artikan. kalau perkataan Ivan terhadap ku barusan membuat Eza marah.


"zaa.." ucapku.


Eza menatapku, dan kemudian tertunduk. dia juga melepaskan kepalan tangannya.


tidak lama, Eza berdiri dan pamit untuk pulang.


kini hanya tinggal ada Ivan disini..

__ADS_1


"si, anter gue kedepan yu." Indri menarik tangan Lusi.


iya, aku tau. Indri memang sengaja melakukan itu. karna dia ingin membuatku danIivan berdua saja.


Ivan masih diam dan tidak berbicara apa apa..


aku sendiri juga bingung harus berbuat apa dan berkata apa.


kami berdua sama sama terdiam, dan tidak ada satu patah katapun yang keluar.


"emm van." kataku.


Ivan menantapku dan bertanya, ada apa.


entahlah, tidak ada apa apa. aku hanya bosan saja berdiam seperti ini. rasanya canggung sekali.


"kamu, cepet sembuh ya." ahirnya Ivan mengeluarkan kata kata juga.


"iyah, terimakasih." aku menatap Ivan.


"makasih juga udah mau jenguk aku kesini." lanjutku.


ahirnya setelah itu, kami berdua saling mengobrol. dan suasana menjadi nyaman.


aku juga bertanya kepada Ivan, dia tau darimana tempat kosanku. dan kenapa dia bisa sampai ada disini.


ternyata Indri tadi saat di depan, bertemu dengan Ivan yang memang sedang mencari kosanku.


ahirnya Indri membawa Ivan kesini. dan ya tidak apa apa, karna menurutku Ivan orang yang baik.


lama mengobrol, Ivan ahirnya pamit untuk pulang. padahal ini masih siang..


namun katanya dia harus pulang karna ada keperluan keluarga yang tidak bisa dia lewatkan.


sekali lagi aku berterimakasih kepada Ivan karna sudah datang menjenguk ku.


sepulangnya Ivan Indri dan Lusi datang.


"ko pulang.?" tanya Indri.


aku menjelasan kan alasan Ivan pulang..


"lu suka sama dia.?" tanya Indri lagi.


aku menatapnya.. dan bertanya kepada Indri kenapa dia sampai berpikir seperti itu.


dan Indri hanya menjawab bahwa aku cocok dengan Ivan.


"ve, coklatnya gue makan ya." ucap Lusi.


Bucket yang Eza bawa ukurannya cukup besar. dan memang banyak sekali berbagai olahan dari coklat yang tertata rapi di Bucket itu.


karna Lusi membukanya, ahirnya Indri juga ikut memakannya.


sedangkan aku kembali ke kamar terlebih dahulu. karna aku ingin rebahan. dan badanku masih terasa lemas.


biarlah, kalau Indri dan Lusi suka. biar mereka habiskan saja semua coklatnya.


saat ke kamar, tidak lupa aku juga membawa Bucket Bunga yang Ivan berikan.


"si, liat deh.. masa nyampe mau di bawa tidur itu bunga.." ucap Indri kepada Lusi.

__ADS_1


Lusi datang..


"wah iya, fix sih ini mah lagi jatuh cinta.."


__ADS_2