
"ve, lusi pasti bakal kaget kalo dia tau lu ada di bandung." ucap Indri.
setelah pertemuan dengan Indri di taman kemarin, aku tinggal di rumahnya untuk sementara waktu ini.
dan sampai saat ini Lusi belum mengetahui kedatanganku.
"nanti siang kita kejutin dia." lanjut Indri.
Siang ini aku pergi ke rumah Lusi dengan Indri, ah rasanya kangen sekali motor motoran seperti ini dengan Indri.
"ga nyangka bisa motoran bareng lagi." ucapku.
"apa ve?" tanya Indri yang sedang mengendarai motor.
"udah lu fokus nyetir aja." Indri hanya mengangguk.
entah dia mendengar perkataanku atau tidak.
saat sampai depan rumah Lusi aku turun, dan membiarkan Indri masuk sendiri kedalam halaman rumahnya.
tidak lama, setelah pintu di ketuk Lusi keluar, dan berbicang dengan Indri.
saat Lusi berjalan ke dalam dengan Indri aku mengikutinya dari belakang.
"lu mau minu..." Lusi terdiam melihatku ada di belakangnya.
"ve.." ucapnya sambil memeluk ku.
kami bertiga saling berpelukan, dan inilah kerinduan yang aku rasakan kemarin saat tidak ada mereka, ahirnya terobati.
kami bertiga memutuskan untuk nongkrong di warung tempat kami jajan sepulang sekolah.
karna kami memang merindukan tempat itu.
"ve lu kapan ke bandung ko ngga ngabarin?" tanya Lusi.
aku menjelaskan bahwa aku berangkat ke Bandung memang mendadak, dan tadinya aku ingin memberi kejutan pada Lusi dan Indri namun gagal.
karna aku bertemu Indri terlebih dahulu di tempat makan, di taman.
"wah jahat lu ngga ngasih tau gue." Lusi menyenggol tangan Indri.
"yee, ini permitaan ve. buat bikin kejutan sama lu." jelas Indri.
namun tetap saja Lusi sepertinya tidak mau menerima alasan dari Indri, dan mulai lah.
salah satu pemandangan yang sering aku saksikan saat aku sekolah kini ku saksikan kembali.
mereka berdua berdebat.
aku sama sekali tidak mempunyai niat untuk menghentikan perdebatan mereka berdua. biarlah, aku saksikan saja.
"ve gimana, udah dapet kampus di jakarta?" tanya Lusi.
"udah" jawabku.
iya, aku sudah mendapatkan kampus saat di temani oleh Fauzi, namun entah kenapa. tiba tiba saja aku merasa tidak betah di Jakarta.
__ADS_1
Lusi sendiri bilang, bahwa dia sepertinya tidak akan jadi untuk kuliah dan akan bekerja pada bibinya.
di toko kue.
"wah enak makan kue tiap hari." kata Indri.
"matamu! itu buat di jual." jawab Lusi.
mendengar pernyataan Lusi sepertinya aku bisa menebak, Indri juga akan mengambil pekerjaannya dan tidak meneruskan rencana kuliah nya.
"terus gimana?" tanya Lusi.
Indri dan Lusi menatapku..
"apanya?" tanyaku yang memang aku merasa heran dengan pertanyaan dari Lusi yang tiba tiba seperti itu.
"kuliah lu lah." jelasnya.
aku tersenyum melihat Lusi seperti itu..
iya, entahlah. bagaimana aku merasa bimbang dan kembali mempertimbangkan semua yang tadinya sudah aku pikirkan di awal.
entah aku akan kuliah, atau kembali bekerja ke Restoran lama ku.
hari sudah sore, ketika bersama mereka berdua rasanya memang waktu berasa berjalan lebih cepat dari biasanya.
kami bertiga tidak lansung pulang. saat ini kami bertiga menuju ke rumah sakit.
selain aku yang akan memberikan kejutan dengan kedatanganku pada Fauzi.
aku Indri dan Lusi juga ingin melihat bagaimana perkembangan kesehatan Gania.
tidak lupa aku mengenakan hoodie yang menutupi kepalaku, dan di tambah dengan masker juga.
jadi hanya mataku saja yang terlihat, ini aku lakukan supaya aku tidak ketahuan oleh Fauzi.
saat sampai di depan ruangannya aku mengetuk pintu, dan terdengar suara dari dalam menyuruh masuk.
aku sedikit merasa deg degan, padahal baru saja kemarin aku bertemu dengannya di Jakarta namun entah kenapa saat ini jantung ku berdetak tidak karuan.
aku masuk sendiri ke ruangan Fauzi, sedangkan Indri dan Lusi menunggu sebentsr di luar.
karna jika aku masuk bertiga, Fauzi pasti akan mengenali Indri dan Lusi.
aku masuk perlahan lahan sambil menundukan kepalaku,
terlihat Fauzi sedang menulis di sebuah kertas kosong.
aku rasa dia sedang menuliskan resep obat.
"ini, resepnya tinggal di tebus saja." Fauzi memberikan kertas tadi padaku.
dugaan ku benar, ini resep obat. aku mengambil kertas ith dari tangan Fauzi. dan diam melihatnya.
"apa ada yang mau anda tanyakan?" ucap Fauzi menyadari aku hanya diam saja setelah mendapat resep itu. dan tidak kunjung keluar dari ruangan nya.
aku mengangguk..
__ADS_1
"baiklah, silahkan." ucapnya sambil menyimpan pulpen dan kertas di sampungnya.
Fauzi terlihat sangat serius sekali, dia melipat kedua tangan nya di atas meja sambil menunggu aku memberikan pertanyaan padanya.
"bu?" ucap Fauzi sambil mengangkat sebelah alisnya.
aku tau, saat ini dia pasti merasa heran karna aku tidak kunjung bertanya juga.
aku kembali mengangguk..
"saya mau tahu, bagaimana kabar pasien atas nama gania" ucapku.
Fauzi terdiam, dia memperhatikan ku.
"saya selalu menemaninya saat saya masih tinggal di bandung, saya selalu meluangkan waktu untuk datang kesini." lanjutku.
Fauzi berdiri dari duduknya, dan mendekatiku.
aku kembali menundukan kepalaku, aku tidak ingin dia melihatnya, biarlah dia menyadarinya sendiri.
hening..
namun tiba tiba ponsel berdering.
aku merasa kaget dan mengambil ponsel dari saku celana ku.
di layar terlihat nama Fauzi.
aku menatap Fauzi yang sedang berdiri di sampingku, ternyata dia menelpon ku untuk memastikan apakah aku atau bukan yang sedang bersamanya saat ini.
"yah ketahuan" ucapku sambil membuka penutup kepala dan masker ku.
Fauzi tersenyum dan langsung memeluk ku, jujur saja aku kaget dengan tindakannya ini.
apalagi kondisi saat ini pintu ruangan nya terbuka, bagaimana jika ada yang masuk dan melihat prmandangan ini?
"aku kangen banget sama kamu" ucapnya sambil terus memeluk ku.
"lepasin dih, itu pintu kebuka, gimana kalo ada yang liat kan ngga pantes." bukannya melepas pelukannya Fauzi malah membuatku berdiri.
dengan posisi masih memeluk ku, dia menutup pintu dengan kaki nya.
"itu ada indri sama lusi di luar." kataku pelan.
"sebentar aja." jawabnya sambil tetap memeluk ku.
setelah acara berpelukan tadi kini aku Lusi dan Indri menuju ke ruangan Gania. tentu saja dengan di temani oleh Fauzi.
Fauzi masuk duluan untuk memastikan keadaan Gania terlebih dahulu di dalam.
"ayo masuk." ucapnya.
kami bertiga masuk, saat Gania melihat kedatangan kami bertiga Gania langsung tersenyum.
"kakak..." ucapnya sambil berusaha untuk memeluk kami.
kami bertiga memeluk Gania bersama sama.
__ADS_1
bisa aku rasakan Gania saat ini sedang menangis, dan air matanya membasahi baju ku.
"gania kangen sama kakak." ucapnya menangis tesedu sedu.