I Love U. DOCTOR!

I Love U. DOCTOR!
MENCARI UNIVERSITAS.


__ADS_3

"ve kita pulang ya, lu jaga kesehatan disini, jangan lupain kita." ka Indri.


Indri dan Lusi memeluk ku, mereka berdua pulang lebih cepat dari yang di rencakan.


karna secara kebetulan mereka berdua mempunyai acara yang sama sama mendadak..


Indri dan Lusi pulang di antarkan oleh salah satu keluarga ku. jadi aku tidak terlalu hawatir dengan mereka..


sepulangnya Indri dan Lusi aku memutuskan untuk mulai mencari tahu tentang Universitas yang ada di Jakarta.


aku melihat lihat satu per satu, dan semua yang aku lihat membuatku bingung. karna semua nampak bagus.


"ve, ada tamu.." ucap Ibu masuk ke kamar ku.


tamu.? siapa, padahal aku tidak mempunyai teman disini dan jika ada pun apa mereka tahu tentang kepulangan ku ke Jakarta.?


"siapa bu.?" tanyaku.


"katanya temen kamu." Ibu hanya menjawab begitu saja dan kembali keluar.


siapa yang datang..


aku mengecek Ponsel ku, sama sekali tidak ada Notifikasi masuk atau kabar bahwa ada yang datang kesini.


lalu siapa yang datang mencari ku itu..


aku turun ke ruang tamu, dan melihat siapa yang datang ke rumah ku. Fauzi.. ternyata itu dia.


dia tersenyum saat melihat aku turun..


ternyata dia benar benar datang kesini.


"susah ngga nyari rumah aku.?" tanyaku.


kini aku membawa Fauzi untuk mengobrol di taman belakang rumah ku.


"em, lumayan lah." jawabnya.


"kamu nekat ya orangnya." kataku.


iya, aku pikir dia hanya bergurau saja untuk datang ke Jakarta menemui ku. ternyata dia tidak bercanda dan datang secepat ini.


aku dan Fauzi mengobrol dan membahas apa yang akan aku lakukan selanjutnya.


"ve, ayo ajak teman mu makan." ucap Ibu.


Fauzi menatap ku, seolah memberi isyarat bahwa dia malu untuk makan bersama keluarga ku.


aku tersenyum sambil mendekatinya dan menarik tangannya.


"ayo gapapa.." ucapku sedikit menarik tangan Fauzi agar mau ikut makan bersama.


di meja makan, Fauzi mengobrol bersama Ayah dan Ibu. mereka menanyakan tentang kehidupan Fauzi..


sebenarnya ini membuat diriku sedikit tidak enak, karna pasti rasanya Fauzi seperti sedang di Introgasi saat ini karna pertanyaan demi pertanyaan terus di lontarkan oleh Ayah dan Ibu.

__ADS_1


selesai makan aku mengobrol kembali dengan Fauzi, namun kali ini di ruang TV.


"boleh aku tanya sesuatu?" ucapku melihatnya.


"boleh, kamu mau tanya soal apa?" jawabnya.


mungkin ini akan terdengar aneh, tapi menyadari semua yang telah dia lakukan kepadaku selama ini rasanya tidak mungkin jika dia tidak menginginkan sesuatu dari ku.


"tentang.." aku berfikir sejenak.


"ngga jadi." kataku.


dia tiba tiba memaksa ku untuk mengeluarkan kalimat apa tadi yang ingin aku ucapkan, namun aku menolak nya.


"kamu sampai kapan disini?" tanya Fauzi.


"aku akan tetap disini, di jakarta." jawabku.


"kenapa memangnya?" tanyaku balik.


dia tidak menjawab pertanyaanku..


hari semakin sore, dan Fauzi harus pamit untuk pulang kembali ke Bandung.


setelah berpamitan dengan kedua orangtua ku aku mengantarkan Fauzi sampai depan mobil nya.


"boleh lain kali aku kesini lagi.?" tanya Fauzi.


"tentu, tentu saja." aku mengangguk tersenyum.


masih sama, aku masih tetap kebingungan dengan semua Universitas ini.


aku menghela nafas panjang dan membuangnya secara kasar..


aku menjatuhkan badan di atas tempat tidur dan memijat kening ku, mungkin sebaik nya aku melihat rekomendasi dulu saja.


hari berganti, siang ini aku sudah melihat lihat ke tiga Universitas. tidak benar benar melihat kedalam, hanya melihat sekilas saja.


untuk memastikan tempatnya enak, dan tidak susah untuk mencari tempat tinggal ku nanti.


iya seperti nya aku akan tinggal di kosan lagi, dan bekerja di waktu luang ku seperti saat sekolah dulu.


"gimana sayang?" tanya Ibu setelah aku pulang kerumah.


aku bilang kepada Ibu jika aku masih bingung, dan tidak tau harus ke Universitas yang mana.


"sabar aja dulu, jangan terburu buru." kata Ibu.


iya, benar. aku harus bersabar dan jangan sampai terburu buru.


aku memilih tempat bukan karna nilai yang bagus, atau predikat kampus itu sendiri.


namun karna aku nyaman, dan itu lah yang aku cari. dimana aku merasa nyaman disitu nanti aku akan memulai masa pendidikan ku.


Ponsel ku berdering, Fauzi menelpon ku.

__ADS_1


"gimana, masih di luar apa udah pulang?" tanya Fauzi dari telpon.


iya hari ini aku banyak berkomunikasi dengan nya, karna katanya dia sedang tidak terlalu sibuk.


"belum nemu yang nyaman." jawabku.


"kalo gitu nanti saja aku kesana, nanti aku bantu kamu nyari tempat yang cocok." ucapnya.


dia akan kesini lagi, dan membantu ku mencari Universitas untuk ku?


"bagaimana dengan kerjaan kamu?" tanyaku.


"iya, nanti aku atur waktu yang pas buat kesana." kata Fauzi.


sambungan telpon tertutup, aku kembali menaruh Ponsel ku.


aku baru menyadari, hari ini rasanya ada yang berbeda.


aku menatap ruangan kamarku, sepi sekali.


aku sadar, aku merindukan kedua temanku. Indri dan Lusi.


bagaimana keadaan mereka di Bandung, dan apakah mereka sudah menemukan Universitas yang cocok?


atau mereka kuliah di tempat yang sama, ah. aku rindu kedua teman ku itu.


padahal baru saja kemarin mereka pulang dari sini. aku sudah merasakan ada yang berbeda di kamar ini.


aku keluar dari kamar dan menuju taman belakang rumah. tidak lupa aku juga membawa segelas susu hangat.


padahal cuaca sore ini panas, tapi aku sudah terbiasa minum susu hangat saat masih di Bandung.


"kamu kenapa sayang?" tanya Ayah yang tiba tiba saja di belakang ku.


"eh, ayah udah pulang kerja." ucapku sambil menggeser duduk ku.


"kenapa?" ucap Ayah mengusap punggung ku.


aku menggelengkan kepala ku dan bilang kepada Ayah bahwa aku tidak apa apa.


selain itu aku juga memberitahu Ayah jika diam di taman sore seperti ini sudah sering aku lakukan sejak saat aku masih di Bandung.


"oh iya, ayah mau denger cerita kamu saat di bandung.." ucap Ayah tiba tiba.


aku tersenyum, dan mulai menceritakan apa apa saja yang aku lakukan dia bandung selain dari kegiatan utama ku. yaitu bersekolah.


"kamu bekerja?" tanya Ayah.


"iya, ve kerja di restoran tapi cuma sabtu minggu aja sih." jelasku.


Ayah kembali mengusap usap punggungku, dan tersenyum seraya berkata..


"anak ayah benar benar sudah dewasa dan ayah tidak menyadari itu."


aku memeluk Ayah, dan menenggelamkan kepalaku pada dada ayah, dada yang selalu bisa memberi ku rasa nyaman dan sebuah ketenang.

__ADS_1


dada yang kuat, dari orang yang kuat.


__ADS_2