
Ve benar-benar terlihat emosi saat ini, dan ini semua di akibatkan oleh tingkah Vino yang selalu saja mengganggu nya.
"Benci banget! Benci banget!" Ve menggebrak meja di depannya.
Indri dan Lusi yang faham kenapa sahabatnya bisa sampai seperti ini hanya diam saja. Dan membiarkan Ve meluapkan kekesalannya itu.
Siang tiba, saat ini Ve sedang menunggu Indri yang sedang mengambil motor. Dari kejauhan, Ve melihat ada motor yang mendekatinya. Dan itu Vino.
Ve memutar bola matanya jengah, karna rasanya dia berdiri tidak di depan gerbang sekolah. Dan Vino tetap saja menghampirinya.
"Pulang bareng yu?" Ajak Vino.
"Mimpi!" Ketus Ve sambil berjalan kebelakang menghampiri Indri yang masih di parkiran.
Lusi sudah pulang duluan, karna dia ingin istirahat total hari ini. Mungkin ini efek dari kejadian kemarin saat dia tidak seharian di rumah. Dan dia merasa sedikit tidak enak badan.
Indri yang melihat Ve menghampirinya menatapnya dengan tatapan heran, Ve tau apa yang Indri pikirkan saat ini.
"Iya, gue tadi nunggu di depan. Tapi si Vino nyamperin! makanya gue kesini" Ve langsung menjelaskannya kepada Indri. Padahal Indri belum bertanya apapun padanya.
Pulang sekolah Indri tidak langsung pulang, karna di rumah tidak ada kegiatan. Indri memutuskan untuk main di Kosan Ve dulu.
"Lu kenapa sih manyun terus?" Tanya Indri melihat Ve yang hanya diam saja.
"Vino!" Jawabnya singkat.
Seolah tau apa yang di maksud oleh sahabatnya itu, Indri hanya menangguk saja. Tanpa bertanya lebih lanjut lagi.
Sore tiba, ponsel Indri berdering. Ada panggilan disana, dan itu dari orangtuanya.
"Ve gue pulang dulu ya" Ucap Indri sambil memakai kembali sepatunya.
Sepulangnya Indri Ve hanya sendirian di Kosan saat ini, dan itu membuatnya bosan. Karna ini masih sore untuk tidur pun Ve tidak berani. Takut terbangun di tengah malam.
Dia membuka ponsel nya, dan melihat-lihat sosmed nya. Seperti biasa, buka tutup sosmed karna dia juga tidak tahu, untuk apa membuka sosmed.
Belum lama, layar ponsel nya berubah. Dan menunjukan ada panggilan masuk. Fauzi, dia menelpon.
"Hallo?" Ucap Ve.
"Ganggu ga?" Tanya Fauzi.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, hanya beratanya saja." Lanjutnya.
"Oh" Jawab Ve singkat kemudian dia memutus sambungan telpon nya.
__ADS_1
Fauzi menatap ponsel nya dan terdiam, ketika telpon nya di tutup begitu saja oleh Ve.
"Dingin sekali, padahal waktu aku ngasih obat dia baik" Gumamnya.
Fauzi menyimpan ponselnya, dan kembali berjalan keluar dari ruangannya. Karna ada beberapa pasien lagi yang harus dia periksa sore ini.
"Gimana bu? apa masih pusing?" Tanya Fauzi pada salah satu pasien nya.
Selesai memeriksa semua pasiennya Fauzi kembali ke ruangannya dan bersandar di kursi sambil memainkan kembali ponsel nya.
Dia melihat pesan yang dia kirimkan pada Ve, di baca. Namun tidak di balas.
Malam tiba, Fauzi berjalan ke parkiran untuk mengambil mobil nya.
Sampai nya di apartemen dia menghebuskan nafasnya secara kasar.
"Sepi sekali" Gumam Fauzi sambil menyalakan lampu di apartemen nya.
Fauzi tinggal sendiri di apartemen ini, karna di bandung dia hanya menjalani tugas sebagai dokter saja, dan kedua orangtua nya tinggal di surabaya.
Fauzi membereskan baju-baju kotor yang berserakan di sofa ruang TV nya. "Andai punya istri" Gumamnya lagi.
9, Juni.
Indri dengan sedikit terburu-buru mengambil kunci motornya. Dan pergi ke Kosan. Padahal ini masih sangat pagi, namun dia terlihat tergesa-gesa.
"Astaga Ve lu kenapa?" Gumamnya sambil membawa motor.
Saat sampai di depan kosan nya, Indri langsung masuk tanpa melepas helm dan sepatunya terlebih dahulu.
"Aduh! baru juga gue pel!" Omel Ve pada Indri yang main masuk saja tanpa melepas alas kaki nya.
"Ve?" Indri menatap Ve yang baru saja selesai mandi dan masih memakai handuk.
"Ini masih pagi banget buat berangkat sekolah" Ucap Ve sambil berjalan ke kamarnya.
"Kenapa lu tadi teriak anjir?" Tanya Indri.
Sebelum sambungan telpon terputus tadi, Indri sempat mendengar teriakan dari sahabatnya itu. Dan itulah yang menyebabkan dia terburu-buru datang kesini.
"Oh iya, tadi ada kecoa" Jawab Ve singkat sambil mengancingkan seragamnya.
"Gue kira lu kenapa-napa. Gue udah buru-buru aja datang kesini"
"Kenapa ponsel lu mati?" Tanya Indri.
"Ya itu tadi, pas liat kecoa gue kaget. Kebanting deh ponsel nya" Jawab Ve enteng.
__ADS_1
Sementara Itu, Lusi meremas jaketnya. Saat pagi ini dia harus kembali melihat Gio memboceng cewe lain, dan kali ini tepat di sebelahnya.
"Gue bisa!" Batin Lusi.
Saat sampai di sekolah, Lusi melihat Ve sedang berdiri di pinggir Lapangan Sekolah. Lusi tau, dia sedang menunggu Indri.
"Ve.." Panggil Lusi.
"Hai" Sapa Ve.
"Indri masih di parkiran?" Tanya Lusi.
"Lah, memangnya kalian tidak bertemu di parkiran barusan?" Tanya Ve.
Lusi kemudian menjelaskan bahwa dia tidak ke parkiran barusan, karna ban motornya pecah. Dan harus di ganti, karna takut kesiangan masuk sekolah. Jadi dia menitipkan motornya terlebih dahulu di bengkel itu.
"Lah? motor lu mana?" Tanya Indri yang baru saja datang.
"Di bengkel" Jawab Lusi.
Di kelas, ketika guru sedang memberikan pembahasan materi di depan. Lusi tidak terlalu menanggapi dan memahami apa yang sedang guru terangkan. Ini semua karna dia kurang fokus karna mengingat kejadian tadi pagi, saat di pertigaan.
"Gue harus kuat. Ini demi kebaikan gue" Batin nya.
"Lusi?" Panggil guru.
"Iya bu?"
"Kamu tidak apa-apa?" Tanya guru yang menyadari Lusi sedang melamun.
Di kantin, saat jam istirahat. Lusi hanya memainkan saja makanan yang ada di depan nya itu.
Tidak ada satu suapan pun yang masuk dalam mulut nya. Dia menganduk-aduk makanan itu sambil melamun.
"Move on sayang." Ucap Ve sambil memegang tangan Lusi.
Ve tahu, sahabatnya ini sedang dalam masa-masa sulit untuk menyembuhkan luka hati nya. Karna telah di tinggalkan oleh orang yang dia sayangi.
"Udah, cowo banyak. Mau gue cariin?" Goda Indri.
"Kalo perlu, gue teriak nih. Mumpung kantin lagi rame!" Lanjutnya.
Setelah makan, ketiga sahabat ini duduk di bangku yang ada di taman sekolah. Karna di kantin suasana terlalu riuh. Menurut Lusi.
Jadi dia mengajak kedua temannya untuk pindah ke taman saja.
"Vino nih. Vino nih!" Bisik Indri pada Ve.
__ADS_1
Ia, sudah terlihat dari kejauhan bahwa Vino sedang berjalan ke arah taman, dan sepertinya Lusi Indri dan Ve sudah tau tujuan dia akan kemana..