
Setelah Pencarian Lusi, Indri dan Ve terkulai lemas di Warung. Mereka sudah mencari Lusi kemana-mana, namun hasil nya nihil. Samoai saat ini keberadaan Lusi belum di ketahui, dan ponsel nya masih belum bisa di hubungi.
Eza yang sempat di datangi oleh Indri dan Ve juga mengaku tidak mengetahui keberadaan Lusi dimana.
"Kemana lah anak ini" Gumam Indri.
"Tempat favorit dia lu tau ga?" Tanya Ve.
Ada satu tempat yang belum mereka datangi saat ini. Danau, tempat Ve dan Indri berfoto-foto saat malam minggu kemarin.
"Kita cari ke danau. Kalau disana juga ga ada, udah gue nyerah. Cuma tempat itu doang yang sering Lusi kunjungin. Dan kita perlu melihat kesana" Indri langsung naik ke motornya dan menuju ke danau.
Setelah sampai di parkiran danau, ternyata benar. Ada motor Lusi disana. Indri dan Ve langsung berlari kedalam, dan mencari keberadaan Lusi.
"Ternyata lu disini" Ucap Indri dengan Nafas yang naik turun tidak karuan karna telah berlari.
"Lu bikin kita hawatir" Timpal Ve.
"Gue kurang apa ya?" Gumam Lusi yang sedang berdiri di pinggir danau.
Indri dan Ve menghampiri Lusi. Wajahnya sangat berantakan, dan sangat terlihat sekali bahwa dia sudah menangis. Karna matanya terlihat sangat sembab.
"Apaan sih" Ucap Indri sambil mengusap sisa Air mata Lusi di pipi nya.
Setelah Lusi cukup tenang, ahirnya mereka memesan minum terlebih dahulu di Cafe kecil yang berada di dekat danau ini.
Hening, tidak ada yang membuka pembicaraan. Lusi hanya diam memandang minuman di depannya, sedangkan Indri dan Ve saling melempar tatapan satu sama lain.
"Ini bukan Lusi yang gue kenal!" Celetuk Indri.
"Lusi yang gue kanal tuh orang nya ceria, dan petakilan. Lu siapa sih?" Tanya Indri kesal sambil memandang Lusi.
Ve tidak angkat bicara, hanya melihat adegan ini saja. Karna dia tahu, Indri dapat memancing emosi Lusi untuk saling berdebat.
"Gue lagi males debat." Jawab Lusi singkat.
Karna waktu sudah sangat malam, Indri dan Ve memaksa Lusi untuk pulang. Dan dengan sedikit paksaan, ahirnya Lusi bersedia untuk pulang.
Dengan di ikuti oleh Indri dan Ve dari belakang, karna mereka takut, Lusi tidak sampai ke rumah.
Sampainya di rumah, Indri dan Ve memutuskan untuk menginap disini. Karna tidak tega jika membiarkan Lusi sendirian.
"Lu jangan pendem sendiri masalah lu, cerita sama kita-kita" Kata Ve.
__ADS_1
"Lu nganggep kita apa sih?" Timpal Indri.
Lusi tidak menjawab, dia langsung menangis dan berjatuhan kedalam pelukan Ve dan Indri.
Rabu, 8 Juni.
Ketiga sabahat ini tidak ada yang masuk sekolah hari ini, selain karna waktu yang sudah jam 8. Indri dan Ve juga tidak membawa seragam sekolah.
Indri menatap Lusi yang sedang duduk di depan meja riasnya.
Kali ini wajahnya terlihat berbeda, sedikit tenang. Dan tidak ada lagi air mata disana. Indri tersenyum melihat itu.
"Ini baru sahabat gue" Kata Indri sambil mendekati Lusi.
"Nanti gue mau cerita sama kalian" Kata Lusi.
Siang Hari, Ve pamit pulang terlebih dahulu. Karna memang ada beberapa obat yang harus dia minum secara teratur untuk saat ini. Jadi dia harus pulang untuk meminum obat tersebut.
Saat sampai di kosan, seperti biasa. Ve beres beres, dan tidak lama ponsel nya berdering. Nomor itu lagi, dokter Fauzi.
"Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya dokter Fauzi dari sebrang sana.
"Baik, dan semakin membaik."
"Tentu saja!" Jawab Ve.
Tidak lama sambungan telpon terputus, dan Ve kembali melanjutkan kegiatannya.
Sore Hari, Ve kembali ke rumah Lusi, karna Indri juga akan menginap untuk satu malam lagi disana. Tidak lupa, kali ini dia membawa seragam sekolahnya. supaya besok bisa langsung berangkat sekolah dari rumah Lusi.
"Kemarin tuh, gue ngeliat Gio bonceng cewe. Pas banget di samping gue" Kata Lusi secara Tiba-tiba.
"Dimana?" Tanya Indri.
"Di pertigaan depan"
"Gue ga ngerti, bisa-bisa nya dia langsung bawa cewe lain. Padahal baru putus dari gue" Lanjutnya.
"Itu artinya kalau dari sebelum putus sama lu, Gio emang udah punya yang lain" Sambung Ve.
"Udah sih relain aja, ngapain cowo kaya gitu lu tangisin. Lagian nih ya, kayanya dia tuh sengaja nyari-nyari masalah dengan nuduh lu selingkuh" Kata Indri.
"Buat apa dia ngelakuin hal kaya gitu?" Tanya Lusi.
__ADS_1
"Ya supaya lu berdua putus! dan putusnya hubungan lu sama dia tuh seolah-olah emang kesalahan dari lu" Jelas Indri.
Lusi terdiam mencerna setiap perkataan dari kedua temannya tersebut, "Tapi gue belum rela" Kata Lusi.
"Seiring berjalannya waktu, nanti lu bakal terbiasa" Jawab Ve cepat.
Malam hari, Ketiga sahabat ini menghabiskan sisa malam ini dengan menonton Film, selain menunggu rasa ngantuk datang. Ini juga salah satu cara untuk menghibur Lusi, karna dia memang suka menonton Film.
Pagi hari, kini semua nampak terlihat sudah seperti biasanya. Dan Lusi sudah terlihat dengan senyum nya lagi.
"Ada Vino ga sih di parkiran?" Ucap Ve saat akan sampai di sekolah.
"Tumben banget lu nanyain Vino" Jawab Indri.
Saat sampai di parkiran, ternyata tidak ada Vino disana. Ve merasa lega, dan dapat menunggu sabahatnya Indri di depan parkiran. Tidak harus menunggu terlalu jauh.
Jam pelajaran di mulai, Indri Ve dan Lusi tidak terlalu fokus untuk memperhatikan guru di depan yang sedang memberikan sebuah materi. Karna mereka bertiga semalam kekurangan jam tidurnya.
Sesekali Indri menutup matanya, begitupun dengan Lusi dan Ve. Mereka terlihat sama.
"Bu, Izin ke toilet" Ucap Ve.
Ve pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya, supaya sedikit merasa lebih segar.
Saat keluar dari toilet, dia tertahan dengan adanya Vino di depan nya.
"Minggir" Ucap Ve karna Vino menghalangi jalannya.
"minggir ga lu!" Ucap Ve sekali lagi, kali ini dengan nada yang sedikit naik.
Vino tidak menghiraukannya, dan tetap menghalangi jalan Ve.
"Mau lu apasih?" Bentak Ve.
Tidak lama, Ve kembali ke kelas dengan wajah yang terlihat penuh emosi, Indri yang melihat itu merasa heran dengan perubahan Mood temannya yang satu ini. Padahal sebelum ke toilet tadi Ve baik-baik saja.
Jam Istirahat, saat akan ke kantin. Ve kembali di hadang oleh Vino dengan cara yang sama, yaitu menghalangi jalannya.
"Lu bisa ga sih ga gangguin gue? padahal cewe banyak di sekolah ini. Kenapa harus gue yang lu ganggu?" Tanya Ve merasa Kesal.
Saat Vino akan angkat bicara, Ve menahan nya. Dan tidak membiarkan Vino mengeluarkan sepatah katapun.
"Apapun yang mau lu bilang. Gue ga perduli!"
__ADS_1