
"aduh panas banget anjir." Lusi mengeluhkan cuaca yang memang di Jakarta ini lebih panas di bandingkan di Bandung.
"udah ah jangan ngeluh gitu. brisik." timpal Indri.
mulai lagi, mereka berdua kembali berdebat. padahal ini sedang di tempat umum, tapi selalu saja ketika mereka berdebat mereka tidak pernah peduli dengan sekitar.
"jangan debat dong. liat loh banyak yang ngeliatin." ucapku sambil memberi syarat bahwa orang orang di sekeliling sedang memperhatikan mereka berdua.
"elu sih." Indri menyenggol Lusi.
"apaan, elu yang duluan juga." Lusi tidak mau di salahkan.
yah, mulai lagi.. mereka berdua berdebat lagi padahal baru saja ku ingatkan.
aku berjalan meninggalkan mereka berdua..
"eh ve tunggu." Lusi dan Indri berlari.
hari ini kami hanya berjalan jalan saja di sekitar komplek perumahan ku, karna kebetulan disini memang ada tempat untuk nongkrong.
Ponsel ku berdering. ada panggilan Video masuk dari Fauzi.
aku menjawabnya..
terlihat disana sepertinya Fauzi sedang di ruangannya, di rumah sakit.
"kamu lagi kerja.?" tanyaku.
iya, Fauzi sedang bekerja dan dia menyempatkan untuk menelponku karna dia rindu padaku, itulah yang dia ucapkan.
"boleh sharelok dong. nanti aku main kesana." kata Fauzi.
tentu saja. dengan senang hati aku akan memberikan lokasi rumahku padanya..
"yaudah nanti aku kirimin lokasi nya, kerja aja dulu." kataku pada Fauzi.
"yaudah daaah." sambungan terputus, aku lanjut mengobrol dengan teman temanku.
"gimana ve, lu lanjut kuliah apa kerja.?" tanya Indri.
iya sepertinya aku harus segera memutuskan ini.
"gue lanjut kuliah sih." kata Lusi.
"ndri lu gimana.?" tanyaku.
"gue juga kuliah deh kayaknya.." jawab Indri.
iya mungkin aku akan kuliah juga, dan mencari pekerjaan part time lagi seperti saat di Bandung. supaya tidak terlalu bergantung kepada kedua orangtua ku.
waktu sudah sore, Indri dan Lusi mengajak ku untuk pulang ke rumah, karna mereka tidak tahan dengan panasnya.
jangankan Indri dan Lusi, sepertinya aku juga akan beradaptasi lagi dengan cuaca Jakarta.
sampai di rumah ada Ibu yang sedang menyiram tanaman di halaman depan, Ibu tersenyum kepadaku.
"udah pulanh sayang, makan dulu gih." ucap Ibu.
"gimana, lu udah laper belum.?" tanyaku pada Indri dan Lusi.
__ADS_1
"belum sih." jawab Indri.
"iya nanti aja ve." lanjut Lusi.
iya, aku sendiri juga belum terlalu lapar, dan mungkin nanti saja..
ahirnya kami langsung masuk ke kamar dan tidak makan terlebih dahulu. biarlah nanti saja..
Ponsel ku kembali berdering..
Fauzi menelponku lagi..
"oh iya, maaf aku lupa. aku baru pulang nih. sekarang aku kirim lokasi nya ya." ternyata Fauzi menunggu aku mengirimkan lokasi ku.
iya, aku lupa mengirimkan nya tadi saking asik nya mengobrol dan jalan dengan kedua sahabatku ini.
aku mengirimkan lokasi ku kepada Fauzi..
"fauzi mau kesini.?" tanya Indri.
entah lah, mungkin sepertinya Fauzi memang akan kesini.. karna melihatnya yang seperti itu mungkin dia memang bersungguh sungguh akan datang kesini.
"gue mau nyari lokasi liburan disini." kata Lusi membuka Ponsel nya.
"kemana.?" tanya Indri.
Lusi menatap Indri..
"ya menurut lu kemana.?" jawab Lusi sewot.
Indri berdiri dari duduknya dan mendekati Lusi..
"ko lu sewot sih." Indri menjatuhkan badannya di atas Lusi..
aku tertawa melihat pemandangan ini, Lusi sampai kesakitan karna di tindih oleh Indri. dan Indri tidak mau dari posisi nya.
"sakit anjir." keluh Lusi.
"bodo!" kata Indri.
"anjir sadar diri dong elu tuh gendut." kata Lusi.
perkataan Lusi sepertinya benar benar memancing emosi Indri.. sampai Indri berdiri dan menjatuhkan lagi badannya di atas Lusi..
sedang asik melihat pemandangan Indri dan Lusi yang seperti ini, tiba tiba Ibu ku masuk ke kamar.
suara pintu yang terbuka membuat Indri dan Lusi langsung membenarkan posisi mereka.
"eh tante.." ucap Indri.
Ibu keheranan melihat tingkah kedua teman ku ini..
"udah biasa seperti ini bu.." aku memberi penjelasan kepada Ibu.
"ini nih indri yang mulai." kata Lusi sambil menjatuhkan badan Indri.
Ibu yang melihat ini hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum..
"makan dulu, ibu sama ayah tunggu di bawah ya." ucap Ibu sambil kembali menutup pintu.
__ADS_1
"elu sih." kata Lusi.
"ko gue. elu apaan tadi bilang gue gendut hah.?" ucap Indri.
ah, mereka berdua ini.. selalu saja tidak ada yang mau mengalah.
di meja makan kami ber enam makan tanpa ada pembicaraan sepatah kata pun.
namun tadi Ayah sempat bilang, bahwa ada yang ingin Ayah bicarakan denganku nanti seusai makan.
dan sepertinya aku tahu, apa yang akan Ayah bicarakan denganku..
acara makan selesai, aku menyuruh Indri dan Lusi untuk naik duluan ke kamar, karna ada yang harus aku bicarakan dengan Ayah dan Ibu.
"yaudah gue duluan ya, ayo si." ajak Indri kepada Lusi.
aku berjalan ke ruang keluarga, disana sudah ada Ayah dan Ibu yang sedang menunggu ku.
"malam ayah, bu.." sapa ku.
"malam juga sayang." ucap Ayah dan Ibu.
aku duduk di sebrang Ayah dan Ibu..
"ini mengenai masa depan kamu. ada yang mau ayah bicarakan dengan kamu." ucap Ayah.
aku mengangguk dan menunggu apa yang akan Ayah katakan selanjutnya.
"ve, ayah tau.. kamu sudah dewasa. dan mungkin kamu juga sudah punya pilihan sendiri tentang apa yang akan kamu jalani di masa depan kamu." lanjut Ayah.
"ayah dan ibu. kami berdua ingin mendengar apa yang kamu mau lakukan saat ini." sambung Ibu.
"iya sayang. katakan apa yang kamu mau, ayah dan ibu akan mendukung keputusan kamu dan tidak akan melarangnya. selama itu baik." kata Ayah.
setelah mendengar penjelasan dari Ayah dan Ibu, ahirnya aku buka suara.. aku bilang pada Ayah dan Ibu bahwa aku ingin melanjutkan pendidikan ku di Jakarta.
dan mungkin nanti setelah Indri dan Lusi pulang aku akan mulai mencari Universitas disini.
"itu yang ve mau ayah, ibu. ve ingin kuliah." kataku.
Ayah dan Ibu tersenyum mendengar keputusanku, dan seperti yang Ayah dan Ibu bicarakan sebelumnya tadi.
mereka tidak akan melarangku, dan membiarkan aku memilih sendiri jalan untuk masa depanku.
"jika itu memang kemauan kamu, ayah sama ibu hanya bisa menyetujui nya saja. silahkan kamu cari universitas mana yang kamu mau." pinta Ayah.
setelah berbicara dengan Ayah dan Ibu aku kembali ke kamar. saat aku membuka pintu ternyata Lusi dan Indri sedang berdebat.
ah, apalagi yang mereka debatkan sekarang..
"hallo.. berantem terus." ucapku sambil masuk.
Indri dan Lusi berehenti..
"eh ve, ini biasa ni anak ngajak ribut mulu." kata Lusi.
Indri memegang bantal dan membenturkan nya kepada Lusi.
"aduh sakit..." kata Lusi.
__ADS_1
astaga, mereka berdua mulai lagi...