
hari ini adalah hari pertama aku ujian, dan aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah.
tinggal menunggu Indri datang saja.
"ve.." teriak Indri dari depan..
"hai, sebentar. gue ngunci pintu dulu.." kataku.
aku sampai di parkiran sekolah.
karna sedang ujian hari ini sekolah tidak akan lama. mungkin hanya dua mata pelajaran saja.
di parkiran terlihat sangat ramai. dan ada yang menarik perhatianku disana..
Vino. dia dan semua teman temannya ada disana.
bukankah dia sedang menjalani hukuman, dan tidak bisa mengikuti ujian.?
"ve.." teriak Vino.
"hai.." ucapnya.
aku melihat Vino dan jujur saja aku sedikit bingung kenapa Vino bisa ikut ujian saat ini..
"bukanya lu lagi kena skors ya.." tanyaku.
Vino menjelaskan bahwa dia mendapat keringanan, dan setelah di rundingkan dengan pihak sekolah ahirnya Vino dan teman temannya yang sempat terkena hukuman saat itu di bebaskan..
dengan syarat, Vino tidak boleh berulah lagi di sekolah.
jadi, itu sebabnya dia bisa mengikuti ujian..
"ve ayo." ucap Indri setelah selesai memarkir kan motornya.
aku berjalan mendekati Indri dan mengacuhkan Vino.
sampai di kelas kami di pindahkan oleh guru. sementara selama kami menjalani ujian, kelas 10 dan sebelas di liburkan.
dan di setiap kelas kami di acak. bahkan di kelasku saat ini tidak ada yang terlalu aku kenal..
begitupun Indri dan Lusi, mereka juga berbeda kelas..
ujian hari pertama selesai. seperti biasa, aku Indri dan Lusi saling bertemu di parkiran..
Jam masih pukul 11.00. dan Indri mengajak aku dan Lusi untuk tidak langsung pulang.
"jajan dulu gimana.." ajak Indri.
"boleh." kata Lusi.
"ve, lu gimana..?" tanya Indri.
tentu saja aku akan ikut..
kami berkumpul di warung tempat biasa. sambil jajan tidak lupa kami juga mengobrol, dan obrolan hari ini ya.. mengenai ujian ini.
kami bertiga saling membahas jawaban yang tadi kami tulis.
hanya untuk sekedar mengetahui, apakah di antara kami bertiga terdapat jawaban yang sama atau tidak.
"eh nanti selesai ujian, kita liburan sama sama gimana.?" ajak Lusi.
"wah setuju banget gue." jawab Indri.
entah lah, apa aku bisa atau tidak..
__ADS_1
yang aku takutkan ketika aku menerima ajakan mereka, aku malah tidak bisa menepati nya.
"gue kayak nya pulang dulu ke jakarta deh." ucapku.
Indri dan Lusi hanya diam mendengar jawaban ku, dan sepertinya mereka bedua merasa sedih.
sangat terlihat dari raut wajah mereka yang tiba tiba saja berubah.
"kalo gitu gue ikut!" kata Indri.
aku sontak kaget mendengar perkataan Indri. apa, dia ingin ikut bersama ku ke Jakarta..
"gue juga." sambung Lusi.
aku menatap mereka berdua bergatian..
"ga mungkin kita biarin lu sendiri di jakarta ve." jelas Indri.
ucapan Indri di benarkan oleh Lusi. mereka bilang, tidak mungkin membiarkan ku sendirian..
jadi mereka akan ikut ke Jakarta bersamaku..
"kalian beneran.?" tanyaku.
Indri dan Lusi mengangguk..
baiklah sepertinya selesai ujian nanti aku akan pulang ke Jakarta dengan Indri dan Lusi.
hari belum terlalu sore, namun kami semua memutuskan untuk pulang dan beristirahat.
jangan sampai sisa 5 hari ini kami mengalami gangguan tidak enak badan.
di kosan aku hanya berdiam diri saja di kamar. tentunya sambil memainkan Ponsel ku.
Fauzi.. dia melakukan panggilan Video Call kepadaku.
"hai.." sapaku.
setelah panggilan di tutup, aku kini sedang bersiap siap untuk ke rumah sakit.
Fauzi meminta ku untuk menemani nya sore ini.. baiklah, sebentar mungkin tidak apa apa.
aku berjalan keluar sambil mengunci pintu, karna Fauzi mengirimkan pesan bahwa dia sudah ada di depan..
"hai, lama ya.." ucapku masuk ke mobil.
"maaf ya aku ganggu jam istirahat kamu.." katanya.
tidak, aku tidak merasa terganggu, justru aku senang bisa menemaninya bertugas.
"kamu mau beli makanan di taman atau nanti aja.?" tanya Fauzi.
aku bilang bahwa aku sudah makan, biar nanti saja aku beli camilan di luar rumah sakit.
Fauzi bilang kepadaku bahwa hari ini dia akan menemani salah satu pasien nya untuk Kemoterapi.
"kalo gitu aku ikut ya." kataku.
Fauzi bilang kepadaku untuk menunggu saja, karna ini tidak akan lama. dan selesai Kemo nanti dia juga akan mengajak pasien tersebut untuk berjalan jalan di taman.
"ini.." Fauzi memberikan sejumlah uang kepadaku.
"buat apa.." tanyaku.
Fauzi bilang uang ini untuk aku membeli camilan selama aku menunggu dia selesai menemani pasien nya.
__ADS_1
baiklah, aku tidak langsung masuk ke Area rumah sakit. aku berjalan sebentar ke luar, menuju Minimarket.
selesai dengan camilan aku lanjut ke Lantai dua untuk menunggu di ruangan Fauzi.
sebelum dia pergi tadi, dia sempat memberikan kunci ruangan nya kepada ku.
aku duduk di kursi sambil memutar Film di salah satu Aplikasi. tidak lupa aku juga memakan camilan yang tadi aku beli..
hampir 1 Jam berlalu, tiba tiba terdengar suara pintu di buka.. Fauzi masuk ke dalam.
"udah.?" tanyaku.
"udah, ayo mau ikut ga.." ajak Fauzi.
tentu saja, aku akan ikut dengannya.
kami menuju salah satu ruangan pasien, saat aku masuk terdapat satu anak perempuan yang bisa aku perkiran umurnya sekitar 11 sampai 12 tahun.
Fauzi membawa kursi roda yang ada di ruangan tersebut. dan menggendong anak perempuan tadi.
aku jongkok di depan anak perempuan itu..
"hai.." sapaku.
anak ini, mukanya terlihat pucat sekali..
Fauzi memberitahu bahwa anak inilah yang sedang menjalani pengobatan Kemoterapi itu.
tiba tiba hatiku rasanya nyeri. anak sekecil ini harus bertarung dengan penyakit seganas itu..
"aku aja yang dorong." kataku sambil menggantikan Fauzi mendorong kursi roda.
aku membawa anak ini berjalan jalan di sekitar taman, tidak lupa aku juga mengajak nya mengobrol.
"kakak namanya siapa.." tanya anak itu.
"nama kakak ve. ade namanya siapa.?" kataku.
saat dia mendengar namaku tiba tiba saja sebuah senyum terukir di pipinya. senyum yang begitu indah, dan seperti tidak ada rasa sakit disana.
"nama aku gania.." jawabnya.
aku menyodorkan tanganku untuk bersalaman dengannya.
sampai sore tiba, aku mengajak Gania untuk kembali ke ruangannya.
Gania anaknya baik sekali, selama aku menemaninya sore ini..
rasanya aku memiliki sesuatu yang baru dalam hidupku.
setelah mengantarkan Gania ke ruangan nya, aku meminta Fauzi untuk mengantarku pulang karna hari sudah malam..
di mobil, Fauzi bercerita bahwa Gania sendiri di rumah sakit ini. anggota keluarga dan orangtua nya jarang sekali menjenguk dan menemani Gania.
mendengar semua itu aku merasa kasian kepada Gania, tiba tiba saja air mata ku keluar. aku mengusapnya..
"kamu nangis.?" tanya Fauzi.
"engga, kelilipan." elak ku.
"kelilipan gimana ini kita kan di mobil." ucap Fauzi.
iya, aku menangis. aku merasa kasian dengan Gania. dan andai saja aku tahu tentang ini lebih awal..
aku rela menemani nya setiap sore di rumah sakit.
__ADS_1