
Aku adalah Naiyra William. Anak tunggal dari pasangan Anton William dan Nada Kiyara William. saat ini usiaku genap 20 tahun. dan dihari ini, hari ulang tahunku, aku beserta kedua orang tuaku pergi merayakan hari kelahiran ku dengan berlibur ke daerah puncak. tepatnya di puncak pas, Bogor, Indonesia.
di tengah perjalanan aku meminta ayah untuk menepikan mobil kami karena aku merasa haus. Ayah menghentikan mobil tepat di depan sebuah toko Mart yang menjual aneka jajanan.
"ingin di temani, sayang" ayah menawarkan diri mengantarku membeli minum.
ku buka pintu mobil bagian penumpang "aku sendiri saja, yah" sahut ku.
aku masuk kedalam toko Mart. menuju bagian lemari pendingin kemudian mengambil tiga botol air mineral dingin.
BRUGH....!!!!
sebuah mobil tersungkur masuk kedalam toko hingga setengah badan. kaca yang sudah pecah berserakan memenuhi bagian dalam toko. lekukan etalase kaca tampak melekuk menancap kaca bagian depan mobil sedan berwarna merah tersebut.
Aku berdiri kaku di tengah banyak orang yang berkumpul menyaksikan sebuah kecelakaan mobil di jalan raya. otak dan telingaku ku tak mampu mencerna kronologi kejadian yang di bicarakan warga yang melihat.
Aku terduduk dengan lutut dan kaki menjadi tumpuanku. Air mataku perlahan jatuh menetes di tengah keterkejutan ku atas apa yang baru saja aku lihat.
itu mobil Ayah....
sadar dari keterkejutan ku, aku segera bangkit dan melihat kondisi kedua orang tuaku.
aku menangis histeris saat aku menyaksikan kondisi kedua orang tua ku.
"tolong...tolong selamatkan orang tua saya....tolong!!!!" aku berteriak meminta bantuan pada orang-orang.
kedua orang tuaku berhasil di keluarkan dari dalam mobil setelah satu jam kejadian. ibu yang mengeluarkan banyak darah, dan kondisi ayah yang sudah tertancap balok etalase kaca terlihat sangat mengenaskan. keduanya segera di larikan ke rumah sakit terdekat.
Rasanya sungguh menyakitkan hingga ingin mati. melihat kondisi kedua orang tua ku dalam keadaan yang sangat mengenaskan.
Semoga ibu masih bisa di selamatkan.
Tidak seperti ayah yang sudah tiada, jantung ibu diketahui masih berdetak. aku mendampingi ibu yang sudah di bawa oleh ambulance. aku memegang tangannya selama dalam perjalanan dengan air mata yang masih berderai serta tubuh dan baju ku yang penuh dengan darah kedua orang tuaku.
Ibu menggerakkan satu jarinya. aku berangsur mendekat dan memeluk ibu. Ibu membuka kedua matanya dan aku melihat ibu tersenyum kearah ku.
"sssa..yang..." terbata. Ibu bicara dengan suaranya yang lemah
"Naiyra disini, Bu, ibu bertahan yah...kita ke rumah sakit sekarang" aku menghapus air mata yang terus menggenang di pipiku.
"j..j..jaa..ga..d.di..ri..kamu,nak" glek. tangan ibu terlepas dari genggamanku. mata ibu terpejam seketika dengan kepala yang menoleh lemah kearah kiri ku.
"Ibu......bangun Bu....jangan tinggalkan Naiyra Bu.....Bangun Bu.." aku terus mengguncangkan tubuh ibuku. berharap ia segera bangun dari tidur panjangnya yang baru saja dimulai.
aku terus menangis, meronta, meraung seorang diri. hingga aku tak sadarkan diri.
aku membuka kedua mataku. hal pertama yang aku lihat adalah pelapon putih dengan gorden coklat di sekeliling tempat tidur single yang aku tempati.
"ini dimana" tanyaku dalam hati.
Saat aku sadar akan kejadian beberapa waktu yang lalu, aku menghempaskan selimut yang menutupi tubuhku. aku mencopot paksa jarum infus di tangan kiri ku. "aauuw..." rasanya sakit sekali. namun tida aku pedulikan.
"Nona, jangan banyak bergerak dulu, kondisi anda masih lemah saat ini" kedatangan seorang suster mencegahku keluar dari rumah sakit.
"jangan halangi jalanku, sus. saya mau melihat orang tua saya" aku memaksa keluar dari kamar inap ku.
"ada apa ini, sus? lelaki paruh baya dengan jas putihnya menghampiri.
"Nona ini memaksa keluar, dok" jawab suster.
"biarkan saya melihat orang tua saya, dokter" tangis ku memenuhi ruang kamar.
Sang dokter menghembuskan nafasnya dan berkata "orang tuamu satu jam lagi akan dimakamkan, sampai saat itu tiba, pulihkan dulu kondisimu sebentar, saya janji akan mengantar kamu keperistirahatan terakhir orang tua kamu"
Jarum infus kembali di pasang. kali ini berpindah ke tangan kanan ku. posisiku yang sebelumnya terduduk dilantai, mulai di bantu suster untuk pundak keatas kasur single yang aku tempati sebelumnya.
aku melirik dokter yang menyuntikan cairan dalam botol infus ku. mungkin itu suplemen atau vitamin untuk memulihkan kondisiku. Ku lihat nam tag yang terpasang di dada kanannya, Dr Aland Stevano.
"berapa lama saya pingsan, dok?" dokter Alan melirik ku.
"Dua jam. Orang tuamu sudah di urus pihak rumah sakit termasuk tanah makan yang akan di gunakan untuk mengubur jenazah mereka" Dokter Alan sudah selesai dengan kegiatannya dan sedang menghadap ku kearahku saat ini.
"biayanya, dok....bagaimana"? tanya ku lagi.
Sejenak dokter Aland terdiam. ia memandang lekat raut wajah ku yang mungkin saja nampak kecemasan disana.
"Sudah saya tanggung semuanya, tidak usah khawatir" Dokter Alan tersenyum dan mengelus pucuk kepalaku.
__ADS_1
tanpa menunggu aku bicara lagi, dokter Alan meninggalkan kamar inap ku beserta suster.
aku memejamkan kedua mataku seraya menelan saliva ku.
sungguh.
hari ini adalah hari terburu ku. andai saja kami tidak pergi berlibur untuk merayakan hari ulang tahunku. Andai saja waktu bisa di putar atau di ulang kembali. aku hanya ingin kami berkumpul saja di rumah agar kejadian ini tidak terjadi.
andai saja.....
semua ini hanya mimpi....
andai saja.....
🥀🥀🥀
seperti yang di janjikan dokter Aland. ia menjadi satu-satunya orang yang berperan sebagai keluarga dan mendampingiku di pemakaman kedua orang tuaku saat ini.
hanya beberapa warga lokal yang sebelumnya mengurus persiapan pemakaman yang hadir di pemakaman saat ini. dengan masih menggunakan baju rumah sakit dan selang infus yang masih menancap di tanganku, aku belum ingin beranjak dari makan.
"sudah, nak. kita kembali ke rumah sakit, ayo.." ajak dokter Alan saat hanya tinggal kami yang masih di makam.
"saya sudah tidak punya siapa-siapa dok.." lirih. aku menangis pilu
"apa ada saudara dari kedua orang tua kamu? dimana mereka?" tanya dokter Aland.
"Ayah berasal dari Inggris dok, saya tidak tahu apakah ayah masih memiliki keluarga atau tidak. Ayah tidak pernah menceritakannya dan ibu besar di panti Asuhan,,," mataku terpejam mengingat cerita orang tua ku dulu.
Dokter Aland terdiam. Mungkin ia merasa simpati terhadapku saat ini. Aku memaklumi itu. Bahkan aku pun merasa simpati dan miris secara bersamaan terhadap diriku saat ini.
aku bangun dari duduk ku dan berjalan perlahan meninggalkan makam kedua orang tuaku. Aku harus ikhlas dan tabah. Bagaimanapun saat ini hanya tinggal aku seorang diri. Aku sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini.
keluarga yang aku punya sudah pergi selamanya dari hidupku.
'Tuhan...
Tolong kuatkan aku.
beri aku kekuatan dalam menjalani kerasnya hidup ini.
bangkitkan semangatku disaat aku mulai terpuruk.
dan tempatkan kedua orang tuaku di salah satu surga mu, Tuhan...
aku mohon..'
semoga Tuhan mengabulkan doa yang aku panjatkan saat ini. Karena hanya engkau yang ku punya saat ini.
aku hanya diam dalam mobil dokter Alan. diam ku bukan tanpa alasan. aku terus mendoakan kedua orang tuaku dalam hati.
sesekali dokter Alan melirik ke arahku. Tanpa banyak berkata, ia hanya mengelus kepala ku saat air mata terus saja menetes di pipiku.
"jangan menangis lagi, orang tuamu tidak akan tenang bila melihat mu masih saja menangis, saya tahu perasaan kamu saat ini. Tapi kamu harus kuat. Demi orang tua kamu". Dokter Alan menyemangati ku.
mendengarnya menyebut kata orang tua, membuatku semakin tidak bisa menghentikan air mataku. air mata ini masih saja keluar tanpa bisa aku cegah.
"bagaimana caranya menghentikan air mata ini untuk tidak keluar, dokter? tolong beri tahu !! aku pun ingin menghentikannya. Rasanya lelah sekali. Tapi air mata ini selalu saja keluar tanpa bisa aku tahan" bahkan air mata ku masih saja menetes walau aku memejamkan kedua mataku.
hening.
tak ada sahutan dari dokter Aland.
mungkin ia sendiri tak memiliki jawaban atas kata yang aku ucapkan tadi.
Aku terus saja memejamkan kedua mataku selama dalam perjalanan. awalnya aku menolak menaiki kendaraan roda empat ini. menaiki sebuah mobil hanya akan mengingatkan ku pada kejadian beberapa jam yang lalu. Aku bahkan meminta kendaraan lain untuk di gunakan, namun sayangnya dokter Alan tidak mengijinkan dan mengancam tidak akan mengantar ku ke pemakaman. Al hasil, mau tidak mau aku akhirnya menaiki mobil ini.
Setibanya di rumah sakit, sudah ada dua orang lelaki berseragam polisi duduk di samping pintu kamar inap ku. Aku tahu Mereka sedang menungguku.
"selamat sore" sapa seorang polisi bernam tag Andi wirawan.
"sore" jawab ku dan dokter Alan bersamaan.
dua orang polisi menyalami kami bergantian.
"Kami kesini ingin memberi keterangan pada anda atas kejadian beberapa waktu yang lalu." lanjutnya.
tes...
Air mataku kembali keluar. Menerima keterangan sama halnya mengingatkan aku akan orang tuaku yang telah tiada. Namun aku harus tegar. Setidaknya di mata mereka aku harus terlihat tabah.
__ADS_1
"sebaiknya kita bicara di dalam, pak. Kondisi,,,," Dokter Alan menjeda kalimatnya dan melirik ku seolah bertanya 'siapa nama mu?'.
aku yang paham pun akhirnya menyebutkan namaku "Naiyra William"
"kondisi Naiyra belum sepenuhnya pulih. Ia masih syok dan lemah karena tekanan yang ia alami pasca kecelakaan itu terjadi" dokter Alan membuka pintu kamar dan mempersilahkan kami memasuki kamar inap ku.
"nak Naiyra, setelah kami selidiki, mobil yang di gunakan orang tua anda di tabrak oleh sebuah truk yang membawa bahan-bahan bangunan. Diduga sang supir mengantuk dan kehilangan keseimbangan kemudi dan akhirnya berbelok kearah mobil sedan merah dan menabraknya." polisi bernam tag Yoga S yang kali ini memberi penjelasan.
"dan ini adalah barang dari almarhum yang kami dapatkan." pak Andi memberikan bungkusan transparan berisi dompet, handphone, tas perhiasan dan kotak pipih persegi yang sudah di bungkus cantik dengan kertas kado disertai hiasan pita warna biru kesukaan ku.
aku melihat dompet ayah, tas putih milik ibu, perhiasan yang ibu pakai saat itu, dan sebuah kado yang belum aku lihat sebelumnya.
aku mengambil kotak tersebut dan membaca tulisan yang tertera di atasnya "Untuk kesayangan kami, Naiyra"
aku kembali menangis sejadinya sambil memeluk kado terakhir yang berikan orang tua ku. Dokter Aland menenangkan ku dengan mengelus punggung ku dan sesekali menepuk bahuku.
"kami undur diri dulu" pamit pak Andi pada ku dan dokter Aland.
"tunggu pak" dokter Alan nampak mencegah mereka pergi
"bagai mana dengan tersangka yang sudah menabrak tadi". Aku menoleh pada dokter Alan. Dokter Alan menanyakan hal yang seharusnya aku tanyakan. Aku terlalu fokus memikirkan orang tua ku hingga melupakan perihal lainnya.
langkah kedua polisi itu berhenti dan membalikkan badannya kembali. "Dia dihukum pidana dan denda 30juta atas penggunaan minuman keras saat berkendara dan mengakibatkan tewasnya seseorang"
"permisi" lanjutnya melangkah pergi.
Dokter Alan kembali menghampiriku. memberikan senyum dan memintaku untuk beristirahat dan meninggalkanku sendiri
"tunggu dokter,," ucapku menghentikan langhahnya dan menoleh.
"terima kasih atas segalanya, dokter Aland" sekali lagi dokter Alan tersenyum dan menganggukkan kepala tanda ia menerima ucapan terima kasihku.
Pintu tertutup. Dokter Aland sudah benar-benar pergi. Hanya tinggal aku seorang diri disini. Hanya sendiri. Rasanya sepi sekali. Seperti tidak ada kehidupan di tempat ini, tempat dimana orang lain banyak menggantungkan hidupnya disini.
Bukankah ini yang saat ini aku butuhkan. Waktu untuk Sendiri. Mencoba melupakan kejadian hari ini yang ternyata malah membuat ku semakin teringat. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya. kehilangan mereka nyatanya membuatku lumpuh dan hilang arah tujuan.
bagaimana aku harus memulainya dari awal?
sendirian,,,,
rasanya ingin menyusul mereka saja. Aku merasa, tidak sanggup hidup tanpa mereka. Selama ini aku selalu bergantung pada orang tua ku. Karena sejujurnya aku adalah anak yang Manja dan di manjakan. Walau kami bukan keluarga yang sangat kaya, tapi ayah selalu bisa memenuhi keinginanku dan kebutuhan keluarga.
hah...aku menghela nafasku. Tidak seharusnya aku mengeluh. Saat ini aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk bisa bertahan hidup.
tok,,,tok,,tok,,!!!
aku melirik pintu yang diketuk dari luar. Tak lama aku melihat wanita cantik mendekat kearah ku. wajah cantiknya tersenyum dengan buat dalam parcel yang dia taruh di atas nakas. Aku tidak tahu siapa Wanita ini. mungkin kah dia salah masuk kamar inap?
"Naiyra, perkenalkan nama Tante, Widya. Tante Isti dari dokter Aland. Maaf sebelumnya tante lancang mengunjungi kamu." katanya dengan senyum manisnya. mendekatiku.
"jangan bilang dokter Alan juga yah kalau Tante kesini" Tante Widya mengedipkan satu matanya dan lagi-lagi tersenyum.
"iya Tante"
Tante Widya duduk disebelah ku, tangan kanannya memegang pipi kiri ku. "sayang,,,kamu pasti bosan yah, sendirian disini. Makanya Tante kesini."
"Dokter Alan banyak bercerita tentang kamu, loh.." Lanjutnya.
"cerita apa, Tante?" tanyaku penasaran.
"Dia bilang ada pasien yang manis dan cantik di kamar inap Dahlia ini." lagi, Tante Widya tersenyum ramah. aku membalas senyumnya.
"waahh...kamu jadi tambah manis kalau tersenyum"
"terima kasih, Tante" ucapku tulus.
sepintas aku kembali merasakan kehangatan seorang ibu melalui Tante Widya. Hingga tanpa ku sadari, bibirku melengkungkan senyumnya kembali. Aku jadi rindu pada Ibu. pada Ayah. Benar-benar rindu.
Tante Widya meraih badanku dan memeluk sayang. Dapat aku rasakan ketulusan dalam pelukannya. Yang mampu membuatku merasa nyaman dan hangat. Aku semakin terisak dalam pekukan Tante Widya dan Tante Widya berusaha menenangkan ku.
"sudah..kamu sudah terlalu banyak menangis hari ini. Matamu jadi sipit seperti orang jepang" masih dalam pelukan Tante Widya aku tertawa mendengar ucapannya. Tidak aku pungkiri, bahwa Tante Widya mampu dengan mudah menghiburku. Membuatku nyaman. Seperti ibu.
Rasanya aku ingin lebih lama berada di pelukan Tante Widya. tidak ingin ia pergi dan ingin selalu bersamanya.
🥀🥀🥀
bersambung,,,
__ADS_1