
Mike menepuk satu pundak Aland, memberi semangat agar Aland kuat menghadapi masalah yang sedang menimpanya saat ini.
🥀🥀🥀
Sudah lebih dari sepekan Naiyra berada di tempat ini seorang diri. Persediaan makanan yang mungkin sengaja di sediakan para penculik itu sudah mulai menipis. Pakaian pun ia dapat dari salah satu kamar yang ada di villa ini. Entah milik siapa Naiyra tak mempedulikan itu. Ia hanya memakai mana yang menurutnya pantas dan muat untuk ia pakai.
Merasa bidan di dalam villa, Naiyra pergi ke teras dan duduk di sana, memandang laut lepas. Entak kapan ia bisa keluar dari pulau ini. Ia rindu mommy dan daddynya. Jika seperti ini keadaannya, ia benar-benar menjadi sebatang kara. Tanpa orang tua, saudara bahkan teman.
Jika di rasa rasa pulau ini cukup menarik jika di kelola dengan benar oleh pemiliknya. Hanya perlu di bangun beberapa penginapan sudah bisa menarik minat mata wisatawan.
Naiyra berlari mendekati bibir pantai begitu ia melihat ada perahu nelayan yang datang. Ia menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, Mencari ranting. Setelah menemukannya, ia merobek bagian dari pakaiannya lalu mengikatnya pada ranting dan mengayunkannya tinggi tinggi.
Naiyra terus berteriak meminta pertolongan. Berharap suaranya dapat didengar oleh nelayan yang cukup jauh dari jangkauannya.
Nelayan itu menoleh. Betapa senangnya Naiyra saat nelayan itu berdiri dari duduknya dan melambaikan tangannya pada Naiyra. Nelayan itu segera mengarahkan perahunya untuk menepi ke pesisir pantai.
"Apa yang kau lakukan disini, nak?" Tanya si nelayan yang sudah terlihat tua.
"Tolong aku pak, aku di culik oleh beberapa orang dan di tinggalkan seorang diri disini. Tolong bawa aku keluar dari sini" pinta Naiyra dengan mata yang sudah mulai berjatuhan.
"Dari mana asal mu?" Si nelayan bertanya kembali.
"Aku dari Bogor" jawab Naiyra.
"Itu jauh dari sini, nak" ujar pria tua tersebut
"Aku hanya bisa mengantarmu ke Batam. Itu yang paling jauh dari sini. Di sana sudah menjadi kota. Kau bisa meminta bantuan pada polisi setempat"
"Aku mau pak, antar aku ke sana. Yang penting aku bisa keluar dari tempat ini" Naiyra langsung menyambar ucapan si nelayan.
"Naiklah. Aku akan membawamu ke dermaga terdekat dan di sana kau bisa naik kapal laut yang akan membawamu menuju Batam" Naiyra mengangguk senang.
Akhirnya setelah lebih dari sepekan ia akhirnya bisa keluar dari tempat asing ini.
Dari kejauhan, ada sepasang mata yang memantau setiap pergerakan Naiyra di pulau tersebut. Ia sengaja di kirim untuk memantau setiap gerak gerik Naiyra. Seperti saat ini.
Saat gadis yang selalu diamatinya dari kejauhan tengah berbicara dengan seorang nelayan. Dapat ia pastikan bahwa Naiyra tengah meminta bantuan pada nelayan tersebut. Dengan sigap ia mengambil ponsel yang ada di saku celananya dan mulai melakukan panggilan dengan seseorang
"Tuan, nampaknya ia menemukan seorang nelayan dan meminta bantuan. Kemudian ia menaiki perahu nelayan itu, tuan"
"Sepertinya aku tahu kemana dia akan pergi" dan panggilan puj di matikan secara sepihak.
Benar saja, setelah menempuh perjalanan kurang lebih 45 menit, Naiyra dan nelayan tersebut tiba di sebuah pelabuhan. Ia kemudian di belikan satu buah tiket transportasi laut dan di bekali beberapa puluh rupiah untuk bekalnya sesampainya di sana.
Naiyra sangat berterima kasih pada nelayan tersebut. Betapa beruntungnya ia bertemu dengan pria tua yang sangat baik hati ini.
Perjalanan laut Naira berakhir setelah tiga jam lamanya. Kini ia tengah kebingungan dalam perjalanannya meninggalkan pelabuhan. Tak ada yang dia kenal di kota yang baru ini.
Ia terus berjalan meninggalkan pelabuhan hingga menuju terminal. Namun belum sempat ia menaiki sebuah bus, terdengar seseorang memanggil namanya dari kejauhan.
"Ferro,,," sungguh tidak di sangka oleh Naiyra. Ia dapat bertemu dengannya disini.
"Sedang apa kau disini ??" Tanya Ferro ketika sudah berada tepat di hadapan Naiyra.
"Ceritanya sangat panjang" jawab Naiyra.
"Bisa kau antar aku ke kantor polisi terdekat" Ferro berubah ekspresi saat mendengar kata polisi.
"Untuk apa??" Tanya Ferro seolah tidak mengerti.
"Untuk melapor, tentu saja." Naiyra masih menunggu respon dari Ferro.
"Ikutlah dengan ku" Naira menaikkan satu alisnya seakan bertanya 'kenapa'.
Seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Naiyra, ferro langsung berucap "aku akan membawa mu ke suatu tempat"
Merasa tak mengenal satupun di kota ini, Naiyra akhirnya mengikuti perkataan Ferro. Ferro membukakan pintu mobilnya, mempersilahkan Naiyra masuk lalu memutar ke depan untuk masuk ke kursi kemudi. Merasa lelah selama dalam perjalanan, naiyra pun tertidur.
"Kehidupan barumu akan segera di mulai, Naiyra. Semoga kau bisa menerimanya. Dan,,,maafkan aku." Ucap Ferro sembari menyentuh pipi Naiyra.
Satu jam perjalanan akhirnya mereka tiba di sebuah tempat dengan gemerlap lampu menghiasi di setiap dinding rumah tersebut. Naiyra masih tertidur pulas saat mereka tiba di rumah tersebut.
Ferro lalu meninggalkan Naira yang masih terlelap dalam mobil untuk masuk kedalam rumah tersebut. Ia memasuki satu ruangan yang di depan pintunya terdapat dua orang berbadan tinggi dan kekar tengah berjaga dengan siaga.
__ADS_1
Tok..rok..
Ferro mengetuk pintu tersebut dan di sahuti "masuk" dari arah dalam.
"Bagaimana??" Tanya seorang wanita yang biasa di sapa 'mami' ini. Yang tak lain dan tak bukan adalah Merlyn.
"Dia di mobil. Sedang tidur, siapkan saja kamar khusus untuknya. Aku akan pindahkan dia ke sana" kata Ferro.
"Edy,,," Merlyn memanggil salah satu pengawalnya. Dan masuklah seseorang yang bernama Edy.
"Antar dia ke kamar khusus" titah Merlyn.
Ferro berlalu kembali dimana Naiyra berada. Dia lantas membawa Naiyra dan membaringkannya sebuah kamar khusus yang telah ditunjuk oleh pengawal yang mengantarnya tadi. Kemudian kembali masuk kedalam ruangan Merlyn.
Merlyn memberi bonus sesuai janjinya saat berada di Bogor. Ia juga menganggap lunas semua hutang keluarga Ferro. Ferro menyeringai dengan hasil kesepakatannya bersama Merlyn hari ini.
Ia berlalu keluar meninggalkan tempat yang sudah dia benci sedari dulu ini. Berkat Naiyra masalahnya dengan mucikari ternama di kota ini telah usai.
🥀🥀🥀
Mata Naiyra perlahan terbuka. Karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul, ia hanya menggeliat dalam tidurnya. Menarik selimutnya kembali sebatas dada lantas kembali bergelung dalam kenyamanan kasur empuknya saat ini.
Sadar ia berada dalam suasana yang berbeda, dengan penuh keterkejutan, ia bangkit dari tidurnya. Pandangannya ia edarkan kesegala penjuru. Dan dengan langkah cepat ia berjalan kearah pintu.
'mengapa pintunya tidak terbuka' gumam naiyra sambil terus menggoyangkan gagang pintu yang dia pegang.
Terdengar suara kunci yang membuka pintu tersebut. Naiyra terus menggedor pintu tersebut saat dirasa ada seseorang di balik pintu tersebut. Naira melangkah mundur saat ia melihat seorang perempuan yang pernah ia temui sebelumnya. "Tante Merlyn"
Orang yang nyaris memiliki kesamaan nama dengan nenek angkatnya ini nampak tersenyum sambil terus mengayunkan kipas kayu yang dibawanya.
"Hallo cantik, kita bertemu lagi" sapa Merlyn
"Kenapa aku ada di sini?? Dimana ini???" Tanya Naiyra.
"Kau ada di tempatku. Ferro yang menjualmu kepadaku." Terang Merlyn.
Merlyn tersenyum sinis "Jika kau tidak percaya, itu terserah padamu. Yang pasti kau miliki saat ini"
"Siapkan dirimu, malam ini kau akan aku lelang" sambung Merlyn.
Tunggu!!!!
Di lelang.
Oh, ayolah. Naiyra bukan barang yang harus di lelang. Dan mengapa ia harus di lelang.
"AKU BUKAN BARANG" teriak naiyra. Dan seketika satu tamparan mendarat mulus di wajah cantiknya. Naiyra mengusap bekas tamparan yang masih terasa nyeri.
Merlyn lantas menggenggam rahang Naiyra dan berkata "Jangan berteriak di depan ku. Kau sudah menjadi budak ku saat ini. Lakukan apa yang aku perintahkan dan ingat, aku tidak menerima bantahan apalagi penolakan. Kau mengerti" Marlyn menghempaskan wajah Naiyra dan menguncinya kembali dalam kamar khususnya.
Naiyra terus saja menggedor pintu kamar tersebut dan meminta untuk di keluarkan. Namun sayang, teriakannya sama sekali tidak didengar. Ia lirih bersandar dalam pintu itu dan terduduk dengan air mata yang mengerang.
Dalam hati ia terus saja mencaci tindakan Ferro yang sudah menjualnya, ia juga menyesali pertemuannya dengan Merlyn.
🥀🥀🥀
Semakin hari kondisi kesehatan Widya kian menurun. Marlyn sangat prihatin dengan keadaan menantunya dan juga anaknya yang nampak mulai frustasi mencari keberadaan Naiyra.
Ia kini menyesali perbuatannya yang sudah membuang Naiyra dari keluarga Stevano. Namun ia enggan untuk mengakui perbuatannya pada putra semata wayangnya. Ia sudah mencoba menghubungi kedua orang suruhannya untuk meminta mereka membawa Naiyra kembali. Tapi tak ada satupun nomer yang bisa di hubungin. Semua berada di luar jangkauan.
Ia bahkan belum membayar sisa upah yang sudah seharusnya mereka terima dari hasil kerja mereka.
Marlyn masih mencoba menghubungi orang suruhannya sambil menjaga Widya yang kini terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Ia berjalan mondar mandir dengan handphon yang ditempelkan di telinga kanannya.
Lagi lagi di luar jangkauan. Marlyn bahkan tidak menyadari kedatangan Aland dengan membawa satu kantong makanan.
Marlyn terkejut. Ia memegangi dadanya "kau mengagetkan mommy, Aland"
__ADS_1
Alan membuang nafasnya. "Mommy saja yang terlalu serius mondar mandir. Ada apa, mom??" Tanya Aland.
"Tidak ada. Hanya saja teman mommy susah sekali di hubungi" jawab Marlyn.
Ia sudah akan mengatakan hal yang sebenarnya terjadi, namun ia kalah cepat dengan Alan yang sudah lebih dulu bicara "aku sudah mengerahkan seluruh anak buah ku untuk mencari Naiyra, mom"
"Ke..ke..mana kau a a akan mencarinya" Marlyn tergagap. Hal yang paling di takutinya adalah ia kembali pada dunia gelap yang dulu pernah ia geluti.
Alan adalah ketua mafia sebelum ia bertemu dengan Widya di Amerika. Ia jatuh cinta pada wanita Asia yang mengubah jalan hidupnya menjadi lebih baik seperti saat ini. Itu sebabnya walaupun Widya saat ini belum mampu memberikannya cucu, Marlyn tetap menyayanginya seperti anaknya sendiri.
"Jika Italia saja mampu aku kuasai, mengapa tidak dengan Indonesia. Dan aku berjanji, aku tidak akan memberikan ampun pada siapa saja yang sudah mengusik keluargaku" Alan meremukkan kaleng minuman yang sebelumnya ia genggam.
Marlyn menelan salivanya. Ia tahu tabiat anaknya yang tidak pernah main main dengan perkataannya. 'apakah riwayatku akan tamat kali ini' keluh Marlyn dalam hati. Marlyn semakin gugup dibuatnya. Bahkan tubuhnya bergetar walau sudah ia coba untuk menenangkan dirinya.
"Naiyra,,," ucap Widya dalam tidurnya. Alan dengan sigap menggenggam satu tangan Widya. "Honey,,bangun sayang. Ini aku, Aland." Satu tangan Aland mengusap pucuk kepala Widya. Namun Widya hanya terus bergumam memanggil nama Naiyra dalam tidurnya.
Alan menyatukan keningnya pada kening Widya. Ia merindukan sosok istrinya yang dulu.
Derrrttt...derrrttt....
Ponsel Alan bergetar. Ia meraih benda pipih tersebut. Salah satu anak buahnya menghubunginya.
"Apa sudah ada kabar??" Tanya Alan begitu panggilan itu ia terima.
"Kami mendapat kabar dari seorang pria tua, tuan" Alan berdiri tegap saat ia mendapatkan informasi itu dari sebrang telepon.
"Katakan. CEPAT" bentak Alan dengan tidak sabar. Marlyn mendadak menjadi sangat pucat.
"Seorang nelayan mengaku ia mengantar nona Naiyra kesebuah pelabuhan dan membelikannya tiket kapal laut menuju Batam, tuan"
Tut..Tut..
Aland mematikan panggilan itu secara sepihak dan menghubungi anak buahnya yang lain untuk berpencar mencari keberadaan Naiyra yang di informasikan berada di Batam.
Tanpa menghiraukan sang ibu, Alan mengambil jas yang ia letakkan di atas sofa dan berjalan keluar. "Mau kemana kau?" Tanya Marlyn.
"Mom, tolong jaga istriku. Aku akan pergi selama beberapa hari ke Batam mencari Naiyra"
Marlyn mematung di tempatnya. Jika Naiyra sudah di temukan, maka orang suruhannya sudah pasti tertangkap. Dan ia bisa saja membeberkan kejahatannya pada putra semata wayangnya.
Wajahnya bertambah pucat saat mengingat perkataan putranya beberapa waktu yang lalu "Dan aku berjanji, aku tidak akan memberikan ampun pada siapa saja yang sudah mengusik keluargaku". Kata kata itu kini terus saja bersarang dalam benaknya. Ia tidak akan di maafkan.
Aland terbang menuju Batam dengan Jet pribadinya. Kali ini ia sendiri yang akan memimpin pencarian.
Sementara itu,,,,
Ferro melihat Aland Stevano yang sudah akan keluar dari bandara saat hendak check in meninggalkan Batam dengan penerbangan first class nya. Buru-buru ia menghubungi Merlyn. Memberitahu bahwa Stevano sudah berada di Batam.
Merlyn langsung menyelidiki latar belakang keluarga Stevano terutama Aland Stevano. Ia meminta seorang informan menyelidiki secara detail hingga yang paling private sekalipun. Tak tanggung tanggung. Ia berani membayar mahal untuk mendapatkan semua informasinya dalam waktu satu jam.
"Mami, ini gaun yang mami pinta" salah satu wanita komersilnya membawakan sebuah gaun malam yang sangat terbuka dan sexy.
"Simpan gaun itu untuk sementara, jangan biarkan orang lain memakainya" titahnya.
Tak lama satu pria memasuki ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Bagaimana??" Tanya Merlyn pada seseorang yang sudah membawa map coklat di tangannya. Pria itu menaruh map coklat itu di hadapan Merlyn.
Merlyn tersenyum puas saat apa yang inginkan dengan mudah ia dapatkan sekalipun harus mengeluarkan uang dalan jumlah yang tidak sedikit. Ia lalu memberi segepok uang pada pria tersebut.
Dibacanya berkas tentang keluarga Stevano dengan sangat terperinci.
"Aland Stevano,,,putra tunggal dari Javier Stevano dan Marlyn Stevano. Seorang ahli bedah dan juga Pemilik dari Stevano Corp." gumamnya saat membaca berkas di tangannya.
Merlyn bahkan tidak menyangka jika ibunya bernama hampir mirip dengannya, Marlyn. hanya berbeda satu huruf saja. Bukan kah ini suatu kebetulan.
Merlyn menyuruh satu anak buahnya untuk tetap menahan Naiyra di kamarnya saat ini. Ia tidak ingin gegabah jika berurusan dengan keluarga Stevano yang diketahuinya cukup terpandang. setidaknya sampai suasana sudah kembali kondusif.
beruntung ia cepat mengambil tindakan dengan mengorek informasi sebanyak mungkin. Hingga ia tahu langkah apa yang harus ia jalankan. Dengan yakin Merlyn memastikan bahwa keluarga Stevano tidak akan dengan mudah menemukan primadonanya saat ini, Naiyra
🥀🥀🥀
Bersambung,,,,
__ADS_1