I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Kemungkinan buruk


__ADS_3

Naiyra langsung saja berjongkok dengan memegangi kedua telinganya, berteriak saat Mike menembakan sebagian pelurunya. Justin yang terkejut dengan sambutan Mike segera menyadari situasi yang telah terjadi. Ia berbalik dan langsung mengeluarkan senjatanya. Berlari kearah dimana Naiyra berada. Namun sayang, penyusup itu berhasil menyandera Naiyra.


🥀🥀🥀


Regina mengeluarkan pisau yang ada di laci meja dapur dengan sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ia juga mengambil pemantik yang ada di dalamnya lalu melemparkan pemantik itu kearah dimana penyusup itu berada. Saat pemantik itu tepat berada diatas kepala orang itu, Regina menembaknya tepat sasaran hingga pemantik itu mengeluarkan ledakannya. Ledakan kecil akibat Gas yang menjadi isi pemantik itu berhasil membuat penutup kepala penyusup itu terbakar. Penyusup itu di serang kepanikan mendadak. ia berdiri, dengan cepat membuang penutup kepalanya. Regina tersenyum devil. Tanpa membuang kesempatan, Regina melempar pisau yang ia pegang pada lengan kanan orang itu yang masih memegang pistolnya. Serangan susulan ia lakukan dengan sangat cepat. Ia segera menembakkan pelurunya pada tengkorak kepala sang penyusup. "Dasar bodoh" ucap Regina merasa menang. musuhnya terkapar tak bernyawa.


Regina bergegas keluar melalui pintu belakang yang langsung terhubung dengan taman. Ia melihat Naiyra yang sudah berada dalam cengkeraman pria berpostur tinggi dan gagah. Regina menoleh kearah Mike yang sudah sangat tersulut emosinya lantaran melihat Naiyra tersakiti.


"Jatuhkan senjata kalian. Atau aku tembak kepala wanita ini" Titahnya pada Mike dan Justin.


demi keselamatan Naiyra, Mike dan Justin terpaksa melemparkan senjata mereka ke tanah. Orang itu mundur beberapa langkah sambil menyeret Naiyra. Ia juga menyadari akan keberadaan Regina dan memberi perintah yang sama kepadanya.


"Minggir" Titahnya meminta di beri jalan keluar. Naiyra menggeleng "Jangan pedulikan aku, uncle Mike"


"Wauw...Rupanya aku menangkap mangsa yang besar" pria itu menyeringai mengetahui Naiyra memanggil Mike dengan sebutan paman.


Kilat amarah Mike dan Justin kian membara. Namun itu tidak berlangsung lama. Setenang mungkin Mike menunjukan wajah datarnya kembali "Kau yakin bisa membawanya dari sini??" ucap Mike. pria itu mempererat dekapannya di leher Naiyra hingga ia terbatuk akibat merasakan sesak. Regina mengepalkan kedua tangannya melihat itu.


"Aku tidak Yakin. Tapi aku yakin bisa membunuhnya saat ini juga" Pancing orang itu. "Walaupun sayang sekali jika wanita secantik ini berakhir dengan sia-sia. Dia bisa jadi Primadona diantara Jalang yang kami punya" sambungnya.


mendengar umpatan jalang di telinganya, Naiyra menjadi sangat muak dan emosi. Dia bukan jalang. Tapi mengapa ia selalu saja dianggap demikian. Naiyra sangat benci mendengarnya. Naiyra melirik kearah Justin yang tak jauh dari pistolnya yang ada di atas rumput. Ia memberi kode kepada Justin dengan menggerakkan bola matanya mengarak kearah pistol. Awalnya Justin tidak mengerti. Tapi setelah beberapa kali Naiyra memberikan kodenya, akhirnya ia paham. Justin mengangguk dengan sangat pelan. Membalas Naiyra kode yang sangat jelas.


Naiyra menyikut perut penyusup itu sekuat tenaga yang ia miliki. Saat orang itu meringis, Naiyra langsung berbalik dan menendang selangkangannya. orang itu meringis menahan rasa yang teramat sakit. Mike dan Justin memanfaatkan kesempatan itu dengan segera mengambil senjata mereka masing-masing. Dan Regina berlari memberikan perlindungan pada Naiyra.


Tanpa ampun dan membabi buta, Mike dan Justin terus menembaki tubuh orang itu walau sudah tidak bernyawa lagi. Mereka seolah tengah melampiaskan kekesalan dan emosi yang sedari tadi mereka tahan.


"apa ada bagian tubuh yang kau rasa sakit, Naiyra??" tanya Regina cemas. Ia memeriksa bagian-bagian tubuh Naiyra yang masih terlihat begitu gemetar. memastikan.


Naiyra menggeleng "Aku baik-baik saja, aunty Regi". Regina lalu memeluknya erat "Kau pasti sangat terkejut dan ketakutan"


"Maafkan saya, nona. maafkan saya..." ucap Justin kala sudah berada ditengah mereka.


"bukan salah mu Justin" ucap Naiyra menenangkan.


Mike segera menghubungi anak buahnya untuk membawa semua mayat yang berserakan didalam rumahnya. "cincang mereka dan berikan sebagai makanan singa-singa di bawah tanah" titah Mike memanggil anak buahnya melalui telepon.


kurang dari 30 menit, pasukan pembersih tiba di rumah singgah Mike dan Regina bersama dengan Mark. Mark terkejut melihat keadaan Naiyra yang sangat berantakan. Ia juga melihat raut wajah Naiyra yang terlihat sangat pucat. Mark cemas. Ia memeluk Naiyra begitu saja. Naiyra hanya diam membatu dengan perbuatan Mark yang spontan.


"apa terjadi sesuatu padamu, heum?? kau terlihat sangat mengenaskan" tanya Mark. Naiyra memberikan senyumnya lalu menggeleng. Mark menoleh pada ayahnya saat Naiyra tak mengeluarkan satu patah katapun, mike juga tidak menjawab. Namun dengan tatapannya yang intens, ia seolah mendapatkan semua jawabannya.


"Ayo sayang, kita masuk kedalam" Ajak Regina. Ia menggandeng bahu Naiyra dan membawanya melangkah masuk.


Mata Naiyra menangkap satu orang tergeletak di lantai. 'apa orang itu sudah mati?' tanya Naiyra dalam hati. Pasalnya ia tidak melihat sedikitpun ada darah yang keluar atau mengotori lantai. orang itu seperti sedang tergeletak pingsan begitu saja, tanpa ada yang menolong.

__ADS_1


"Jangan dilihat jika itu membuatmu takut" Suara Regina berhasil membuat Naiyra menoleh. Hanya mendengar kata itu, Naiyra bisa pastikan bahwa orang itu sudah mati.


"minumlah" Regina memberikan satu gelas air mineral pada Naiyra. Naiyra menerimnya, lalu meminum air itu hingga menyisakan setengahnya."terimakasih aunti..."


"Maaf, kau jadi harus menyaksikan semua ini"


Naiyra menggeleng keras "Tidak, aunti....aku datang tanpa memberitahu mu."


"mereka datang dari wilayah Napoli, Italia. Anggota mafia, juga musuh kami". Naiyra hanya diam menyimak. Menunggu kelanjutan cerita Regina. "penyebaran mereka dibeberapa titik wilayah kerajaan bisnis Daddy mu sudah kami bersihkan" jelas Regina.


"bisnis Daddy?? mereka ingin menghancurkannya...tapi kenapa?" tanya Naiyra. Tubuhnya sudah maju, tidak lagi bersandar pada punggung kursi


"ya,,mereka ingin menghancurkan semuanya. Namun yang mereka ketahui bahwa Mike adalah ketuanya. Identitas ayah mu sebagai God father tidak diketahui oleh sembarang orang."


🥀🥀🥀


Langkah Gavin tergesah-gesah memasuki kediaman Narendra yang sudah satu bulan ia tinggalkan karena memilih tinggal di Apartemen. Langkahnya semakin ia percepat kala pintu ruang kerja sang ayah sudah dapat terlihat oleh kedua matanya.


tanpa mengetuknya, Gavin membuka pintu itu secara kasar. Ia menghampiri sang ayah yang tengah berkutat dengan tumpukan dokumennya.


"Apa yang sudah papah lakukan??? bukan kah aku sudah bilang, untuk tidak mencampuri urusanku, pah." ucap Gavin tanpa basa basi.


Adijaya meletakan bolpoin yang ia gunakan tadi, menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan matanya langsung menatap intens mata Gavin yang memancarkan kekesalannya.


"Aku juga sudah katakan padamu untuk meninggalkan wanita itu. Jika kau tidak ingin meninggalkannya, maka akan aku buat dia yang meninggalkanmu" Wajah datar Adijaya penuh dengan tekanan dan keseriusan. Gavin mengepalkan tangannya.


Ia ingin sekali bertemu dengan Naiyra saat ini, namun ia tak tahu harus menemuinya dimana. Ia sudah pergi ke kediaman Stevano, namun tidak menemukan Naiyra. Lebih di kejutkan lagi dengan apa yang disampaikan oleh Aland. Bahwa ia mengutus anak buahnya untuk membawa Naiyra bertemu dengannya. Dan dari alat pendengar yang sengaja Aland pasang pada liontin dan cincin Naiyra. Gavin bisa mendengar rekaman percakapan antara Ayah dan kekasihnya.


harus dengan cara apa lagi Gavin meyakinkan ayahnya bahwa Naiyra adalah gadis baik, dan bukan seorang wanita jalang yang sebelumnya menjadi viral karena berita itu melibatkan dirinya. Gavin segera meraih ponselnya kala ia teringat akan sosok yang pernah menjadi saingannya, Mark.


ia mendial nomer Mike. Sambungan terhubung. "Dimana Naiyra?? Aku ingin menemuinya". Gavin langsung bicara pada intinya.


"heyy bung !! Harusnya aku yang bertanya itu kepadamu. Kau kan kekasihnya" ucap Mike menimpali dari seberang telepon. Dapat Gavin rasakan bahwa Mike tengah menyunggingkan senyum sinis kepadanya.


"Katakan saja, diamana dia? aku tahu dia ada bersama dengan mu saat ini" kata Gavin.


"ak---"


Naiyra meraih ponsel dalam genggaman Mark saat ia akan membalas ucapan Gavin. Naiyra mematikan sambungan itu begitu saja. "heii...heii...sopan sekali kau. Aku bahkan belum menyelesaikan ucapanku" ucap Mike pada Naiyra. Naiyra cemberut. Ia kembali duduk di dekat Regina. Lalu bersandar dibahunya. Melihat itu Regina angkat bicara "Apa kalian bertengkar??"


untuk sejenak Naiyra terdiam. Tak lama ia mengangkat kepalanya dan melihat pada semua yang berkumpul dalam ruang tamu. Memandangnya, menunggu jawaban.


Naiyra tergugup. Terlihat jelas saat ia memainkan jari tangannya sendiri. Regina memegang kedua tangan Naiyra. "Tidak apa jika kau tidak ingin berbagi masalahmu dengan kami. Jangan dipaksakan"

__ADS_1


"Ayahnya tidak setuju bila aku dan Gavin berhubungan" Akhirnya kata-kata itu keluar dari mulut Naiyra. Ucapan yang membuat Justin merasa penasaran sepanjang perjalanan tadi. Yang membuat wajah nona mudanya ini tampak murung dan menjadi tidak fokus akhirnya terjawab.


"Jangan dipikirkan. Okey. Orang itu akan menyadari kesalahannya" ucap Mike.


Inilah yang Naiyra khawatirkan. Kata-kata yang keluar dari mulut pamannya serat akan ancaman. Apa yang akan dilakukan pamannya untuk membuat Adijaya Narendra tersadar??


🥀🥀🥀


"sial" umpat Gavin saat tak bisa lagi menghubungi nomer telepon Mark yang sudah tidak aktif. Kekesalannya semakin memuncak saat Nomer Naiyra belum juga kembali aktif.


"Aku tahu..."ucapnya saat teringat akan Aland. Ia menghubungi Aland. menanyakan alamat Mike. setelah dapat, ia langsung mempercepat laju kendaraannya agar segera sampai di kediaman Mike dan keluarga.


----


Ting nong,, Ting nong,,,


Gavin menekan bel pintu beberapa kali. Tidak sabar ingin segera ada yang membukakan pintu berwarna putih gading dihadapannya ini. Tak lama seorang wanita muda dengan pakaian hitam putihnya membukakan pintu.


"Aku ingin menemui uncle Mike. apa beliau ada di rumah?" ucap Gavin sangat sopan.


"silakan masuk, tuan. dan silahkan duduk. Akan saya panggilkan Tuan besar" ucap pelayan itu tak kalah sopannya.


Gavin duduk di ruang tamu. Beberapa menit kemudian, Mike datang bersama dengan Regina. Gavin menyalami mereka. Mike yang tahu dengan maksud kedatangan Gavin langsung berucap "Naiyra belum ingin menemui mu. Baiknya kau selesaikan dulu masalahmu dengan ayahmu."


"Aku tidak ingin mengakhiri hubunganku dengan Naiyra, uncle" ucap Gavin.


"Kau harus segera mencari jalan keluar terbaik bagi ayah mu" ucap Mike. "pulanglah. Berikan waktu untuk Naiyra berfikir"


Gavin menghembuskan nafas pasrahnya. Apa yang dikatakan Mike memang benar adanya. Saat ini Naiyra sedang berada dalam Dilema yang belum menemui titik terangnya. Memberikannya waktu sendiri merupakan pilihan bijak untuknya maupun untuk Gavin dalam berfikir mencari jalan terbaik untuk hubungannya dengan sang ayah mupun Naiyra.


🥀🥀🥀


"kau yakin tidak ingin menemui Gavin??" tanya Regina yang melihat yang tengah melamun. Naiyra tampaknya tak mendengar ucapan Regina. Merasa tak mendapatkan respon, Regina memegang satu pundak Naiyra hingga ia tersadar akan keberadaan Regina yang mengajaknya bicara.


"Ya, aunti...ada apa??" benar saja. Naiyra tak mendengar apa yang di tanyakan Regina.


"Kau yakin tidak ingin menemui Gavin??" Regina mengulangi pertanyaannya. Naiyra kembali menolehkan wajahnya memandang kearah depan "tidak sekarang, Aunti". ucap Naiyra.


"baiknya kau istirahat saja dikamar tamu" Naiyra beranjak. Pergi ke kamar tamu, mengikuti apa yang diperintahkan Regina tanpa pikir panjang. Mungkin Ia harus mengistirahatkan tubuhnya. Karena mungkin esok ia akan menerima tekanan yang lebih berat dari hari ini. mungkin saja...


Regina memperhatikan punggung Naiyra yang semakin menjauh. Ada rasa iba kala membayangkan serentetan cobaan yang memilukan hati siapa saja yang tahu bagaimana Naiyra menerima dan menjalankan semuanya hingga saat ini. Tak bisa ia bayangkan jika Aland dan Widya tidak menjadikannya keluarga. Mungkin Naiyra akan berakhir lebih menyedihkan dari segala cobaannya saat ini. Andai ia tak memiliki keluarga Stevano yang merangkulnya, mungkin ia akan menjadi gelandangan yang terlunta, atau ia akan berakhir menjadi seorang jalang yang di perbudak seseorang.


Regina ngeri membayangkan semua kemungkinan buruk itu.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Bersambung,,,


__ADS_2