I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Hari terbahagia


__ADS_3

Setelah Alan membereskan semuanya, ia segera pergi ke rumah sakit dimana Naira di rawat. Aland juga tak akan meloloskan pria paruh baya yang sudah membuat Naiyra menjadi babak belur penuh luka seperti saat ini.





🥀🥀🥀





Alan memandang sendu Naiyra yang masih memejamkan matanya. Tangan yang di infus, perban yang melingkar di kepala dan beberapa bagian tubuh serta alat bantu pernapasan yang terpasang di hidungnya menjadi pemandangan yang menyayat hatinya begitu dalam.



Naiyra memang bukan anak kandungnya, tapi dia begitu menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri. Awalnya mungkin Aland hanya menganggapnya seorang penyelamat. Bagaimanapun, berkatnya Widya bisa sembuh dari depresinya. Harinya menjadi semakin berwarna dan penuh keceriaan. Ia tak pernah melihat Widya begitu bahagia pasca kehilangan anak-anaknya yang telah lalu.



Ingin rasanya Alan memberi tahu istrinya perihal Naiyra yang sudah ditemukan, namun melihat kondisi Naiyra yang masih memperihatinkan membuatnya mengurungkan niatnya. Itu hanya akan membuat Widya bertambah sedih.



Alan menaruh dua bodyguard paling handal dalam dunia mafia didepan pintu kamar inapnya. Tidak ada salahnya berjaga-jaga, bukan. Walaupun keadaan genting sudah Aland bereskan, tapi bahaya lain bisa saja datang tanpa di duga.



"Om,," Gavin datang dengan membawa seikat bunga mawar.



"Oh, hai..kebetulan kau datang, temani putriku di dalam. Aku akan mengurus kepindahannya dari rumah sakit ini"



"Om ingin memindahkan Naiyra?" Tanya Gavin.



"Akan lebih baik jika ia berada satu rumah sakit dengan istriku. Aku bisa memantau keduanya." Alan berlalu begitu saja. Dan Gavin memasuki kamar inap Naiyra.



Di pandangnya Naiyra yang masih memejamkan matanya. Gavin merasakan perih di hatinya. Ia menyesal tidak bisa menjaga Naiyra secara maksimal. Harusnya ia menyuruh seseorang mengawal Naiyra dari kejauhan.



"Haii Naiy,,,,bangunlah. Aku ingin memperkenalkan diriku" ucap Gavin. Ia duduk menghadap Naiyra yang terbaring.



"Aku Gavin Narendra, sepupu Errina, sahabatmu." Lanjutnya. "Sadarlah Naiyra ,,buka mata kamu"



Naira tak bergeming. Gavin mengharapkan Naiyra merespon ucapannya namun ia hanya diam membisu. Sebanyak apapun Gavin berbicara, Naiyra tidak meresponnya. Matanya masih saja terpejam.



Tak lama Aland masuk dengan wajahnya yang terlihat lusuh. Matanya yang sayu serta lingkar hitam disekitar matanya sudah bisa menjelaskan bahwa Ia dalam keadaan yang tidak vit.



"Om,,istirahatlah. Biar aku yang menjaga Naiyra. Wajah om terlihat pucat" ucap Gavin.



"Aku baik-baik saja. Hanya perlu minum vitamin atau suplemen makanan maka tubuhku akan segar kembali" Alan tak menghiraukan ucapan Gavin.



"Kita pindahkan Naiyra ke rumah sakit ku sekarang". Gavin mengangguk. Rasanya percuma saja memintanya untuk beristirahat.



Sore hari Naiyra sudah tiba di rumah sakit milik Aland. Alan segera menempatkannya pada kamar inap di sebelah kamar inap Widya.



"Aland,,,,"ucap Marlyn begitu ia melihat Alan tengah mendorong tandu Naiyra. Marlyn bernafas lega kala melihat Naiyra sudah di temukan. Dan jangan lupa, Ingatkan Ia untuk meminta maaf pada Naiyra nanti.



Aland tak menghiraukan sang ibu yang mulai terisak. "Hukum mommy, Aland. Bukankah kau pernah mengatakan tidak akan melepaskan siapapun yang sudah membuat keluargamu hancur"



Alan menghentikan langkahnya. Memberi instruksi pada para perawatnya untuk lanjut membawa Naiyra ke kamar inapnya. Ia membalikkan tubuhnya menatap sang ibu.



Membungkuk di hadapan sang ibu "aku mewakili Naiyra meminta maaf kepada anda jika dia memiliki kesalahan" Marlyn menggeleng keras. Tidak menyangka anaknya akan melakukan hal demikian.



"Tidak Aland, jangan seperti itu" Alan kembali berbalik. Menuju kamar inap Naiyra. Tak menghiraukan lagi sang ibu. Sementara Gavin, hanya memandang lekat Marlyn yang kian terisak. Penuh penyesalan dan rasa bersalah.



Gavin berjalan melewati Marlyn. Masuk kedalam kamar inap Naiyra yang baru.



"Om,," sapa Gavin kala Aland membenarkan alat bantu pernapasan Naiyra. "Hmm" Alan hanya merespon dengan deheman.



"Om masih belum memaafkan ibu om?!"



Alan berbalik menghadap Gavin yang berdiri di balik gorden coklat. Ia membuang nafasnya perlahan.



"Aku sudah memaafkannya sejak Naiyra di temukan. Aku hanya ingin ia di selimuti rasa bersalah sebentar lagi. Aku rasa itu hukuman yang ringan untuknya"



Gavin memandang lekat pria paruh baya di hadapannya ini. Ia tetap memberikan hukuman walaupun Marlyn adalah ibu kandungnya. Jika Marlyn bukan ibunya, entah apa yang akan dia lakukan untuk membalas perbuatannya pada Naiyra.



"Aku akan menjenguk istriku di kamar inap sebelah". Gavin mengangguk. Membiarkan Aland pergi meninggalkannya bersama Naiyra.





🥀🥀🥀





Widya membuang wajahnya kala ia melihat Aland menghampirinya. "Untuk apa kau kemari" ketus Widya.



"Honey,,," ucap Aland lembut. "Aku merindukanmu".



"Tapi aku tidak".



Alan melihat Widya membuang nafasnya perlahan. Terlihat sekali bahwa ia tengah menahan rasa gugupnya. Nafas di dadanya terlihat jelas, menandakan ia tengah menormalkan degup jantungnya yang ia rasa tengah menggila akibat merindukannya selama beberapa hari ini.



Alan melihatkan senyum bahagianya. "Oh, ya !!!" Kini Aland semakin mendekat. Widya gusar dari duduknya. Berusaha Mencari posisi nyaman. Sedangkan Aland makin tersenyum sumringah melihat Widya nampak salah tingkah.



Menggemaskan sekali.



"Ja,,j,,jangan mendekat" Widya memberi aba-abanya. Aland acuh. Ia justru semakin melangkahkan kakinya mendekat.



"Aku hanya ingin memastikan sesuatu, honey" Alan memandang Widya intens. Dan itu berhasil membuat Widya semakin salah tingkah.



"Memastikan apa". Sungguh, ekspresi Widya begitu menggemaskan di mata Aland. Rasanya ia ingin menerkamnya saat ini juga.



"Bahwa kau tidak merindukannya"



"itu memang benar" sahut Widya dengan cepat begitu Alan bicara.

__ADS_1



"Akan ku pastikan sendiri" tanpa memberikan kesempatan untuk Widya menyahuti ucapannya, Aland sudah mendaratkan bibirnya pada bibir Widya. Melumatnya lembut dan penuh kehangatan. Widya terbuai, tanpa sadar ia membalas lumatan Aland pada bibirnya.



Alan tersenyum.



Widya mendorong dada Aland begitu ia tersadar. "Kau menyebalkan". Alan tertawa



"Tubuhmu tidak sejalan dengan pikiranmu, honey" Alan mendekap widya.



"Aku merindukan Naiyra, ," gumam Widya .



"Aku akan membawamu menemuinya jika kondisimu sudah membaik". Widya menjauh dari dekapan Aland. Matanya berbinar mendengar apa yang Aland ucapkan "kau sudah menemukannya? Dimana dia? Aku ingin menemuinya, Aland. Antar aku sekarang juga"



"Tidak sebelum kondisimu membaik"



"Aku ingin menemuinya sekarang, Aland. Aku sudah baik-baik saja." Widya merengek manja. Memaksa turun dari ranjangnya dan seketika itu pula ia kembali lunglai di atas ranjang tidurnya. Pusing.



"Lihat..kau bahkan belum sepenuhnya pulih" kata Aland.



"Aku sangat merindukannya"



"Aku berjanji akan mempertemukan kalian. Tapi sebelum itu, aku ingin meminta hadiah darimu".



Widya menaikkan kedua alisnya "hadiah??"



"Ya, sebuah imbalan. Karena aku sudah bekerja keras mencari Naiyra selama satu bulan ini" ucap Alan. "Dan aku juga harus menghukum mu karena telah berani meminta cerai dariku" Aland tersenyum penuh makna.



"payah sekali. Kurasa eksistensi mu sudah tidak sesempurna dulu, sayang." Widya meledek walau rasa pusing masih ia rasakan. lagi-lagi Aland hanya memberikan senyum liciknya.



Widya tahu betul makna dibalik senyum licik suaminya ini. Sepertinya ia memang memerlukan pemulihan ekstra untuk berjaga-jaga.



"Alan,,," Marlyn berdiri diambang pintu.



"Masuklah, mom" Widya mempersilahkan mertuanya masuk.



Marlyn nampak menimbang. Ia menatap Alan seolah meminta ijinnya untuk melangkah masuk.



Widya mencubit pinggang suaminya. "Aauuww" ringis Aland. "Kau ini"



"Masuklah, mom" Marlyn melangkah mendekat begitu Aland memintanya masuk.



"Mommy minta maaf. Mommy berjanji, mommy akan lebih menyayangi Naiyra mulai saat ini, dan menerimanya sebagai cucu mommy". Widya dan Alan tersenyum saling memandang.



Mereka merangkul Marlyn kedalam pelukan mereka.



"Huek,,," Widya menutup mulutnya.



"Kau kenapa, honey?" Panik Aland.




Alan mengendus bau tubuhnya. Tidak ada bau badan yang tercium, ia bahkan memakai minyak wangi untuk menunjang penampilannya.



"Heeiii...aku begitu wangi hari ini. Bahkan kita tadi berciuman" Alan tak terima.



"Sekarang aku mual berdekatan dengan mu. Mundur lagi lima langkah dariku." Widya masih menutupi hidungnya dengan kelima jarinya.



"Alan,,,panggil dokter kandungan untuk memeriksa istrimu" titah Marlyn. Aland mematung mendengarnya, begitu juga dengan Widya.



"Dokter kandungan" ucap Alan dan Widya bersamaan. Mereka saling memandang.



"Kenapa bengong. Tunggu apa lagi. Cepatlah panggul dokter kandungan kemari." Dengan cepat Aland keluar menemui dokter kandungan.



"Ya Tuhan...akhirnya aku akan memiliki cucu...cucu kandung ku,," Marlyn terlihat berbinar, bahagia. widya mengelus perutnya yang masih datar.



'semoga saja' doanya dalam batin.



Tak lama Aland datang dengan membawa seorang wanita mengenakan jas putih.


Ia mempersilahkan dokter kandungan itu untuk memeriksa kondisi Widya



"Kapan terakhir kali Anda datang bulan, nyonya" tanya dokter bernam tag Anitasari.



Widya nampang berpikir. Mencoba mengingat. "Lebih dari satu bulan yang lalu, dok"



"Gunakan ini, nyonya. Kita akan mengetahuinya setelah melihat hasilnya, alat ini hanya untuk lebih meyakinkan anda. Karena sebagai dokter kandungan aku yakin jika anda saat ini sedang hamil."


Dokter Anita memberikan sebuah alat untuk mengetes kehamilan. Widya menerimanya dan saat itu juga ia beranjak ke toilet untuk mencoba alat yang diberikan oleh dokter Anita.



Dokter Anita tampak tenang menunggu Widya keluar dari dalam toilet. Berbanding terbalik dengan Aland dan Marlyn yang secara bergantian berjalan satu arah berlawanan. Mondar mandir membentuk satu garis lurus.



Rasanya mendebarkan hanya menunggu waktu tiga menit untuk mengetahui hasil yang akan di tunjukan alat tersebut.



Tiga menit telah berlalu. Widya keluar dari toilet dengan wajah tertunduk. Ia lalu menegakkan kepalanya hingga pandangannya bertemu dengan pandangan Aland dan Marlyn yang menunggu dengan penuh harapan.



"Hiks,,hiks,,," Widya mulai terisak. Dengan penuh kecemasan Aland menghampirinya.



"Sudahlah honey...tidak apa-apa" Alan menenangkan Widya. Pikirannya menyimpulkan bahwa hasil yang di tunjukan alat testpack itu adalah negatif.



"Huaaa,,,," tangis Widya kian menjadi. Alan semakin panik di buatnya.



"Honey,,,tidak apa jika hasilnya negatif. Kita akan terus berupaya".



"Huaaa....kau ini bicara apa,,hiks...jus..justru a a aku sangat bhagiaaaaa" Widya menyodorkan hasil yang di tunjukan alat tersebut. Dan ternyata hasilnya positif.



Ya lord....

__ADS_1



Alan memeluk Widya erat. Matanya mulai berkaca. Ia lalu bertubi-tubi memberikan ciuman di seluruh wajah Widya.



"Hoek... Hoek..." Widya kembali masuk dalam toilet. Memuntahkan cairan bening yang sedari tadi membuatnya mual.



"Ish'' Widya mengusap air matanya kala Aland menghampirinya. "Sudah ku bilang, menjauh dariku.



"Aku hanya khawatir padamu, honey" segera saja Aland menjaga jarak saat Widya akan mengeluarkan muntahannya lagi.



Marlyn tersenyum senang. "Nampaknya kau harus berpuasa, son".



"Berpuasa..."



"Tuan Aland, ada baiknya kita memeriksa kandungan istri anda melalui USG, jika benar perkiraan saya, kandungan istri anda menginjak usia 6 Minggu dan nampaknya kandungan istri anda juga lemah. Hingga ia harus istirahat total kurang lebih selama tiga bulan" jelas dokter Anita.



"Hah !!!" Penjelasan dokter Alan mbuatnya tercengang. Baru saja ia akan meminta hadiah dan memberikan hukuman pada istrinya,,tapi apa katanya....ia harus berpuasa !!!. Berpuasa dari olahraga ranjang maksudnya. Kasihan sekali juniornya.



"Hahahahaaa" setelah menangis Widya tertawa terpingkal pingkal kala melihat ekspresi wajah Alan yang menggemaskan.



"Kasihaaannn...." Alan tersenyum bahagia, begitupun dengan Marlyn.



"Saya permisi dulu, tuan Aland. Saya akan secepatnya mengabari jadwal pemeriksaan rutin istri anda" donter Anita pamit undur diri.



"Terima kasih dokter" ucap Alan dan Widya serta Marlyn. Dokter Anita mengangguk.



Aland merasa ini adalah hari terbahagiannya.





🥀🥀🥀





Naiyra tersadar dari tidur panjangnya. Dengan perlahan ia membuka matanya. Matanya menjalar pada seisi ruangan. Semua didominasi dengan warna putih. Ia menoleh ke arah kirinya dan melihat kepala Gavin yang tertidur di atas lengan kanannya yang ia lipat di tepi ranjang inap Naiyra.



Tangan kiri Gavin masih menggenggam erat jemari Naiyra. Naiyra mencoba melepaskan pegangan tangan Gavin. Namun itu malah membuat Gavin terbangun.



Mata Gavin membulat lebar. "Kau sudah sadar,Naiy.." Gavin langsung memencet bel yang ada di sisi ranjang Naiyra. "Apa ini rumah sakit?" Tanya Naiyra dengan suaranya yang serak.



Gavin mengangguk. "benar, dan kau sudah koma selama tiga hari" jelas Gavin.



Naiyra panik seketika. "tolong...jangan biarkan aku kembali ketempat itu. aku tidak mau" Naiyra menghindar dari Gavin. Ia menyatukan telapak tangannya, memohon dengan sangat.



"heyy,,,tenanglah. kau aman kali ini" Gavin mengelus punggung tangan Naiyra yang ia genggam. menenangkannya.



Tak lama dokter dan beberapa perawat memasuki kamar inap Naiyra. mengecek kondisinya lalu tersenyum "puji Tuhan nona, anda sudah melewati masa kritis." kata dokter.



Naiyra menoleh saat pintu terbuka. Ia melihat Aland masuk mendekat. 'daddy,,,' ucap Naiyra dalam hati. Air mata Naiyra berderai seketika saat Naiyra melihat Aland mengelus pucuk kepala dan mencium keningnya.



"Naiyra, syukurlah kau sudah melewati masa kritis mu" Ucap Aland.



"mereka jahat dad....hiks..hiks..." adu Naiyra.



"sudah..jangan takut. Daddy sudah membereskan mereka semua". Naira mengangguk.



"Aku takut dadd....." posisi tidur Naiyra yang semula terlentang, kini berubah miring kearah Aland. Naiyra meringkuk dari tidurnya. seluruh badannya bergetar, ia terus menyuarakan rasa takutnya sambil terus memegangi lengan Aland dengan erat. Hal itu terus saja dilakukannya hingga ia tertidur kembali.



"nampaknya ia mengalami trauma yang berat, dokter Aland" ucap dokter yang semula memeriksa Naiyra.



"Apa yang harus aku lakukan, Ken?" tanya Aland



"Untuk sementara kita harus selalu membuatnya bahagia. Jangan membicarakan hal yang akan membuatnya mengingat kejadian yang lalu" terang dokter tersebut.



Alan membuang nafas beratnya.



"Bagaimana Naiyra" Marlyn menghampiri.



"mom, untuk sementara jangan membicarakan tentang kejadian naas itu, karena kejadian itu, Naiyra menjadi trauma" ucap Aland pada sang ibu.



"semua salah ibu,," ucap Marlyn penuh penyesalan.



"mom, yang lalu biarlah berlalu. sekarang yang terpenting bagaimana cara kita menyembuhkan trauma Naiyra." Marlyn mengangguk. Apapun itu, selama baik untuk Naiyra, akan ia lakukan.



"Dan untuk nak Gavin" Aland menepuk satu pundak Gavin "Mungkin ia akan merasa takut bila melihatmu. Itu hal yang wajar mengingat ia tidak mengenal mu sebelumnya"



Gavin paham. Ia bisa merasakan sewaktu Naiyra sadar dan langsung menjauh menghindarinya. Gavin juga bisa melihat tubuh Naiyra yang bergetar. Ia tahu, Naiyra merasa takut padanya. Sebab dimana Naiyra Ia adalah orang asing yang tiba-tiba muncul disaat kondisinya tidak memungkinkan.



mendadak ia menyesali dirinya sendiri yang baru memberanikan menampakan diri di hadapan Naiyra.



Andai waktu bisa di ulang kembali.....





🥀🥀🥀


Bersambung,,,




-----



haii para readers....


mungkin aku akan telat up nantinya. jujur aja aku lagi ikut kompetisi di lapak sebelah dan itu terbengkalai akibat kondisi fisik yang kurang diajak kompromi dan batas waktunya berakhir sebentar lagi.. aku mau kejar tayang dulu menyelesaikan itu.



gak bakal lebih dari dua hari kok aku up'nya...suerrr deehh...✌🏼✌🏼

__ADS_1



gak papa kaaaannn......


__ADS_2