I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Klan Napoli


__ADS_3

Errina tertidur setelah apa yang dilakukan Justin terhadapnya. Merasa sudah tidak ada yang perlu dilakukan, Justin meninggalkan apartemennya. Ia berniat membeli beberapa cemilan dan juga makanan untuk tamu tak diundangnya yang kini tengah tertidur cantik di atas ranjangnya. Baru saja Justin akan menaiki mobilnya, matanya menangkap beberapa pria asing sepertinya sedang menyebrangi jalan raya. Namun yang jadi pusat perhatian Justin, di tengkuk dua orang itu terdapat dua jenis tatto yang sama. Tatto itu seperti tidak asing Dimata Justin. Justin tampak berpikir dan mengingat.


Raut wajahnya berubah saat ia berhasil mengingat tatto yang seperti lambang tersebut. Justin membuka galeri foto dalan ponselnya. Ia terus mencari foto seorang teman lama yang tak sengaja mati di tangannya saat kedua klan sedang terlibat dalam pertarungan sengit memperebutkan wilayah. Ia ingat, temannya ini memiliki tatto yang sama. Dan itu dari kelompok mafia lain di Italia.


Benar saja, tatto yang Justin lihat sama persis seperti tatto yang dimiliki teman lamanya ini. Ia segera menghubungi Mark dan melaporkannya.


"Tuan, saya melihat dua orang anggota dari kelompok di Napoli" lapor Justin begitu tersambung dengan Mark.


"Sebar anak buah mu. Tak hanya mereka yang dikirim. Dan jaga Naiyra. Lakukan itu selama 24jam jika perlu." Titah Mark di sambungan telepon.


"Baik. Saya akan kembali bertugas saat ini juga" Justin mematikan sambungan teleponnya. Ia berjalan kembali memasuki gedung apartemennya. sesampainya ia di dalam kamar, ia tidak menemukan Errina. Justin memeriksa kedalam kamar mandi, juga tidak ada di sana. Justin berkeliling apartemennya, tidak juga menemukan Errina. Saat Justin akan membuka walk in closetnya, ia dikejutkan Errina yang keluar dari dalamnya.


Melihat Errina memakai kemejanya yang sangat longgar, membuatnya tertawa saat itu juga.


Hugh !!!


"Aaauuu....what are you doing??"(apa yang kamu lakukan). Erang Justin.


"Heh. Bule import. Mana baju gue???" Bukannya meminta maaf atau berterima kasih, Errina justru menendang tulang keringnya. Sungguh...kelakuan Errina jauh dari kata elegan seperti penampilannya.


"Kau, gadis bar-bar" umpat Justin. Ia rupanya sudah tidak bisa lagi bersikap hangat mulai detik itu juga.


"Apa lu bilang !!!" Errina berkecak pinggang dengan matanya yang membulat lebar. Tidak terima dirinya di sebut sebagai gadis bar-bar..itu terkesan urakan dipikirannya.


"Dengar gadis bar-bar. Kau harusnya berterima kasih kepadaku. Bukan menyakitiku. Jika kau seperti ini, sepertinya aku harus segera mengantarmu pulang" ucap Justin.


Mendengar kata pulang membuatnya teringat akan rumahnya sendiri. Bukan karena tidak ingin pulang, hanya saja Errin enggan membahas masalah Fino dengan kedua orang tuanya. Ia yakin jika Fino akan memberikan cerita yang berbeda kepada kedua orang tuanya.


"Eh, jangan. Maaf deh....maaf..." Pasrah Errina mengakui kesalahannya. "Tapi gue gak mau pulang sekarang, Justin..." Melasnya.


"Maaf, tapi saya harus bekerja saat ini"


"Katanya lu libur....kok kerja." Tanya Errin.


Justin tidak menjawab. Ia masuk begitu saja kedalam wolk in closet pribadinya. Mengambil satu setel pakaian kerjanya. Jas hitam dengan kemeja putih panjang. Tak lupa sepatu pantofel hitam yang menjadi paduannya. Errina mengikuti pergerakan Justin. Juatin mengabaikan hingga ia keluar.


"Aaaaakkkk..." Errina menjerit sembari buru-buru menutup matanya kala Justin melepas kaos yang dipakainya. Ia toples di hadapan Errin. "Heh. Sana, ganti baju di kamar mandi"


"Ada apa?? Mengapa menutup mata. Bukankah kau sudah melihat tubuhku, kau bahkan sulit sekali disingkirkan saat memeluk tubuhku, apa kau lupa nona" ucap Justin, usai memakai bajunya ia memakai jam tangannya lalu duduk di tepian tempat tidur dan memakai sepatunya.


Errin tampak terbengong. Tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Segera saja otaknya berpikir keras, mengingat kejadian yang mungkin saja terlewat oleh ingatannya.


"Sudah ingat??" Tanya Justin. Wajah Errina merona. "I--itu kan...di luar kendali" nada rendahnya terlihat sekali kalau Errina sedang menahan malunya sendiri.


"Tapi lu gak apa-apain gue kan Justin?? Errina mendekat. Memastikan apa yang di khawatirkannya benar-benar tidak terjadi.


"Menurutmu??" Justin keluar begitu saja setelah mengucapkan satu kalimat itu. Badannya berbalik saat ia sudah berada di ambang pintu. "Kau bisa tinggal disini selama aku sedang bertugas. Gunakan 753910 untuk membuka pintu"


Errina hanya terbengong diambang pintu walk in closet. Justin bahkan melupakan jika ia butuh pakaian wanita.

__ADS_1


Errin menggeledah apartemen Justin. Mencari dimana keberadaan tas mungilnya berada. Dan setelah cukup lama mencari, tas mungil berwarna kuning itu pun akhirnya ditemukan. Ia mengambil benda pipih tersebut. Terlihat banyaknya panggilan masuk dan juga pesan saat ponselnya di nyalakan.


Ia mengabaikan semua panggilan dan pesan itu.encari nama Naiyra dalam kontaknya, lalu menghubunginya.


"Halo Naiy...." Kata Errin.


"Lu ngilang kemana sih dari kemarin?? Sosor Naiyra di sebrang telepon. "Kata Gavin Keluarga lu panik nyariin"


"Adduuhh...tar dulu deh ceritanya. Sekarang bawain gue baju ganti plus dalemannya sekalian. Please...." pinta Errin. "Eh..tapi jangan bilang siapaun dulu gue dimana, termasuk Gavin" sambungnya.


"Beli aja sendiri..lu dimana sekarang" tanya Naiyra. Di sampingnya ada Gavin yang masih memperhatikan Naiyra yang sedang bicara.


"Janji dulu lu mau bawain gue baju...tar gue kasih tau gue dimana" Errina nego.


"Oke, gue beliin lu baju baru. Kasih alamatnya ke gue sekarang"


"Apartemen Justin...." Ucap errina.


"WHAT !!!"


"Ssstttt...jangan bilang Gavin gue disini. Pokoknya lu sendirian kesini" pinta errin.


🥀🥀🥀


"Bagaimana???" Tanya Gavin pada Naiyra.


"Tapi dia baik-baik aja kan??" Naiyra mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu. Bungkamnya kabar dari Errin membuat keluarga besarnya khawatir.


"Yaudah kamu temui dia dulu" Naiyra mengangguk.


Saat Naiyra sudah akan bangkit dari duduknya, Justin menampakkan batang hidungnya. Naiyra menatapnya tajam. Ia menarik begitu saja tangan Justin. Mengabaikan Gavin yang masih terduduk di ruang tamu.


Naiyra mencengkeram kedua kerah jas yang Justin kenakan. Justin hanya diam. Tubuhnya Sedikit membungkuk, Tak berani melawan walau ia sangat ingin tahu penyebab ia diperlakukan demikian.


"Justin. Apa yang kau lakukan pada teman ku??" Tanya Naiyra. Fikirannya saat ini penuh dengan bayangan Justin yang melakukan pelecehan atau bahkan lebih parah dari itu kepada Errina.


"Saya hanya menolongnya, nona??" Jawab justin. Tubuhnya masih membungkuk akibat kerah jasnya yang di tarik Naiyra.


"Menolong ???" Naira melepaskan cengkeramannya secara kasar. "Omong kosong!!" Lanjutnya.


"Sampai kau harus melepas pakaiannya"


Justin terkejut. Kini ia paham mengapa nonanya dalam mode emosi yang tinggi.


"Maafkan saya. Semua tidak seperti yang anda pikir, nona"


"Sekarang antar aku ke apartemen mu untuk mengantarkan baju. Aku ingin mendengar penjelasan kalian berdua nantinya" ucap Naiyra. Ia kembali ke kamarnya untuk mengambil tas serta dompet dan mengisinya dengan sejumlah uang.


"Vin, kamu mau nunggu apa pulang?" Tanya Naiyra pada Gavin. "Aku tunggu kamu disini saja. Ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Daddy kamu" sahut Gavin.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu. Aku berangkat dulu. Akan aku pastikan dia dalam keadaan baik-baik saja." Ucap Naiyra. Gavin tersenyum lalu mengangguk.


Justin mengekori di belakang Naiyra. Membukakan pintu mobil, dan mengantarkan Naiyra berbelanja.


Sesampainya mereka di dalam sebuah Mall besar, mata Justin lagi-lagi menangkap tatto yang sama pada dua orang pria asing yang merangkap menjadi turis. Kali ini Justin melihatnya di lengan dan kaki mereka.


Justin menjaga jarak dengan Naiyra untuk menghubungi anak buahnya. Mengatakan keberadaan mereka dan menyuruh anak buahnya segera bertindak. Beruntung Naiyra tidak terlalu lama dalam berbelanja kali in. Hanya dalam waktu 30 menit, Naiyra sudah mendapatkan baju yang dirasa sangat cocok dengan Errina.


Rupanya anggota yang dikirim dari Napoli jumlahnya tidaklah sedikit. Justin semakin meningkatkan kewaspadaannya terhadap Naiyra. Walau identitas Naiyra belum mereka ketahui, namun tidak menutup kemungkinan dalam waktu kurang dari satu jam mereka bisa mengorek segala informasi tentang kedekatan Naiyra dan Mike.


"Menyebar". Justin langsung mematikan sambungan teleponnya dengan anak buahnya kala Naiyra sudah tepat berada dihadapannya.


"Kau bicara dengan siapa??"tanya Naiyra.


"Anak buah saya" jawabnya. Naiyra hanya ber-oh ria menjawabnya. Dan mereka segera meluncur keapartemen Justin.


Justin menekan sandi pintu apartemennya. Disana sudah ada Errina yang sedang duduk menonton siaran televisi dengan beberapa cemilan ringan. Naiyra mendekat. Mulutnya ternganga melihat Errin hanya menggunakan bethrob panjang. Naiyra membalikkan badannya menghadap Justin. Menatap tajam mata hijaunya. Dan tatapan Naiyra serat akan kemarahan.


Justin yang paham akan tatapan Naiyra langsung menggeleng keras. Memberikan isyarat kepada nona mudanya bahwa apa yang ada dalam pikirannya adalah salah.


"Lama banget. Gue serasa mau bukukan tau disini" ucap Errina begitu melihat kedatangan orang yang di tunggunya.


"Kalian...." Tunjuk Naiyra pada keduanya


"Enggak Naiy,,,ya ampuuun...." Ucap Errin.


Usai Naiyra memakai pakaiannya. Ia menceritakan segalanya pada Naiyra. Justin juga mendengarkan. Ia berkaca pada dirinya sendiri mendengar cerita Errin yang kembali menangis menceritakan apa yang sudah ia lihat dan alami. Justin mengakui bahwa dirinya termasuk orang yang bisa dikatakan brengsek. Tapi dia tidak pernah mengikat seorang wanita dengan suatu hubungan. Yang ada hanyalah suatu hubungan cinta satu malam. Itu pun dengan seorang jalang tentunya. Dan ia akan memberikan sejumlah uang untuk kebutuhan batinnya itu kepada teman one night stand'nya.


"Justin...beri Fino pelajaran" titah Naiyra. Matanya tersirat kobaran amarah. Errin menggeleng. Ia tidak ingin Naiyra berbuat apapun untuk membalaskannya. Baginya tidak pernah melihat Fino di hidupnya sudah merupakan keuntungan saat ini.


"Jangan Naiy...cukup ancam dia saja. Kalu gue tau dia babak belur yang ada gue malah simpati dan takutnya gue jadi luluh" ucap Errina dengan suara yang rendah. Naiyra tak bisa berbuat apapun jika sudah begitu yang Errin inginkan. Naiyra dan Errin berpelukan. Naiyra juga mengusap air mata yang masih mengalir di pipi Errin.


Naiyra begitu menyayangi Errin. Erin adalah satu-satunya sahabat sejatinya. Yang sedari awal tak pernah membedakannya dengan hanya karena status mereka yang berbeda.


Melihat keakraban dua wanita di hadapannya, Justin tersenyum. Kini ia tahu apa yang membuat tuan besarnya begitu tergila-gila pada wanita Indonesia. Mereka tak hanya tangguh, ramah, baik hati tapi juga berjiwa besar. Akankah ia juga menjadi sahabat Errina...


tunggu dulu...


sahabat???


🥀🥀🥀


"katakan, dimana saja kalian menyebar??" ucap Mike pada salah satu tangkapannya.


pria yang menjadi tawanan Mike hanya bungkam. Bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. melihat itu, Mike tampak geram. Ia meninju perut pria itu hingga mengeluarkan darah segar. Namun lagi-lqgi pria itu enggan untuk bicara. Tak ada pilihan lain selain menggunakan cara yang dirasa paling ampuh bagi Mike


"baiklah jika kau tidak mau mengatakan pergerakan dari kelompok kalian. Kau lihat lah video ini." Mike memperlihatkan sebuah video melalui ponselnya. Dalam video tersebut, terdapat seorang wanita dengan dua anak kecil tengah menghabiskan waktunya dengan bermain di taman rumah tersebut. pria itu melotot lebar. Mike tersenyum sinis.


"jika kau masih tidak mau mengatakan, aku akan menyuruh anak buah ku untuk meleburkan tempat itu dengan Bom paling spektakuler". ucap Mike. pria itu menggeleng keras "jangan...." Mike tersenyum puas kala pria itu dengan begitu lancarnya mengatakan titik dimana saja pergerakan kelompok mereka dan apa saja tujuannya.

__ADS_1


__ADS_2