
Ckrek..ckrek..
Beberapa gambar telah di ambil melalui kamera digital oleh seorang reporter dari jarak yang cukup jauh dengan posisi Naiyra dan Gavin. Reporter itu merupakan pegawai di salah satu televisi swasta tanah air yang sudah lama memantau pergerakan Gavin sebagai pewaris aset kekayaan dari seorang Menteri luar Negeri. Tak hanya itu, selain di kenal sebagai putra tunggal dan mahasiswa, Gavin terbilang sukses dalam bisnis properti yang ia bangun dengan jerih payahnya sendiri, tanpa bantuan orang tuanya.
Seseorang itu tersenyum puas mendapatkan hasil yang ia peroleh hari ini. Tak ingin aksinya tertangkap, ia segera pergi meninggalkan muda mudi yang ia potret tadi.
Sementara Naiyra..ia masih terus memandang lekat Gavin. Terkejut dengan pernyataan cinta yang terlontar dari mulut pria dihadapannya.
"Kamu tidak harus menjawabnya, Naiyra. Aku hanya ingin kamu tahu atas perasaan aku selama ini" ucap Gavin.
Naiyra menoleh kembali ke sisi kirinya. Tersadar. Ia berdehem, menormalkan nada bicaranya "oke..." Lalu tersenyum.
Satu kata yang hanya mampu dikeluarkan Naiyra. Untung saja Gavin tidak meminta jawabannya. Setidaknya Naiyra bisa bernafas lega untuk itu
🥀🥀🥀
Prak!!!
Sebuah koran di lempar keatas meja di hadapan Gavin. Saat ini ia tengah berhadapan dengan sang ayah di ruang kerjanya. Dilihatnya foto dirinya bersama Naiyra diatas bukit. Gavin membaca tulisan dalam surat kabar tersebut.
PUTRA TUNGGAL MENLU BERKENCAN DENGAN SEORANG WANITA KOMERSIL
"Bisa kamu jelaskan ke papah bagaimana berita itu bisa muncul, Gavin." Ucap Adijaya Narendra. Mentri Luar negeri yang baru dua tahun menjabat dalam pemerintahan, harus mendapatkan berita tentang skandal anak semata wayangnya.
"Naiyra bukan seorang pelacur pah"
"Oh,,jadi nama perempuan itu Naiyra" ucap Adijaya. Ia bersandar pada punggung kursi dan melipat kedua tangannya di dada.
"Gavin akan membereskan kekacauan ini, pah"
"Sebaiknya kamu jauhi perempuan itu. Papah tidak akan tinggal diam jika kamu tidak segera menjauhinya" ultimatum Adijaya keluar.
Adijaya meninggalkan Gavin tanpa mau mendengar apapun lagi dari Gavin. Ia berlalu begitu saja meninggalkan Gavin seorang diri di ruang kerjanya. Gavin mengepalkan kedua lengannya yang ia letakan di atas kedua lututnya. Tak lama ia merogoh ponsel pipihnya dari dalam saku celana. Menekan tombol cepat dan menghubungi orang kepercayaannya.
"Dalam waktu satu jam gue mau lu udah harus dapet reporter yang nulis berita gue di koran" ucap Gavin di sambungan telepon. Masih dengan emosi yang membeludak, Gavin begitu saja memutus sambungan telepon.
#kediaman Stevano.
Seorang pelayan datang membawa koran pagi lalu menaruhnya dekat Tuannya kala Aland dan Naiyra sedang menikmati sarapannya.
Seperti kebiasaan banyak orang, Aland juga selalu membaca koran selepas sarapan pagi hari. Begitu ia membuka lipatan koran, tangannya langsung saja menggenggam erat surat kabar yang ada di tangannya. "Brengsek" umpatnya. Naiyra mengernyit, matanya beralih melihat koran yang sudah di remas Aland sedemikian rupa.
"Kenapa dadd??"
Tanpa sungkan Aland menyerahkan koran tersebut pada Naiyra. Naiyra menerima. Membukanya perlahan. Aland terus memperhatikan mimik wajah Naiyra setelah ia membaca kabar berita yang sudah pasti viral tersebut.
Seperti dugaannya. Naiyra amat sangat terkejut dirinya jadi bahan berita. Jika kabar yang beredar di kampus bisa Naiyra abaikan, tapi tidak dengan ini. Disaat seluruh negeri menganggapnya sebagai tokoh yang sangat hina. Air mata Naiyra jatuh. Ia memandang Alan dengan tangan yang terlihat jelas bergetar. "Dad---i.i.inii..."
"Jangan menangis Naiyra. Hapus air mata kamu untuk sesuatu yang tidak benar. Tulikan telingamu mulai saat ini mengenai berita yang ada. Tutup mata kamu dari pandangan mereka. Jangan biarkan cemo'ohan mereka menjadikan mentalmu lemah." Ucap Aland memberikan motivasi agar putrinya tidak kembali terpuruk.
__ADS_1
Entahlah...
Faktanya, berbicara itu lebih mudah bukan, dari pada berusaha. Semua tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak juga sirna hanya dengan sekali kedipan mata atau jentrikan jari.
Naiyra tidak bisa berfikir jernih saat ini. Fokusnya saat ini ada pada dirinya dalam lingkungan masyarakat. Membayangkan dirinya jadi perbincangan seluruh negeri membuatnya tak tahu harus berbuat apa untuk membela dirinya dari tuduhannya saat ini. Bukan hal yang mustahil jika berita itu juga tersebar sampai pada seluruh dunia. Orang-orang sudah pasti mencap dirinya sebagai seorang jalang. Tak perduli sekuat apa Naiyra membantah, orang-orang tidak akan begitu saja mempercayai ucapannya. Naiyra juga memikirkan Gavin, merasa bersalah. Biar bagaimanapun semua terjadi karena dirinya.
"Ada apa ini" Widya yang baru saja keluar dari kamarnya menghampiri keduanya di meja makan.
"Honey, kenapa kau keluar dari kamarmu??" Tanya Aland. Ia bangkit dari duduknya menyusul Widya.
Naiyra memalingkan wajahnya, menghapus air matanya sekilat mungkin, lalu kembali menoleh pada Widya dengan senyum termanisnya. berusaha menutupi kesakitan hatinya saat ini. Aland Merangkul widya hingga mencapai kursi lalu menggeser kursi untuk Widya tempati.
"Kenapa??? Apa aku tidak boleh keluar kamar, heum??? Apa kau ingin mengurungku terus di dalam kamar, Iyah???" Ketus Widya dengan segala ocehannya. Alan menggeleng.
"No, honey..kau bebas melakukan apapun jika saja kondisimu sudah membaik" jawab Aland.
Widya meraih koran pagi ini dari hadapan naiyra. Aland kecolongan. Kalah cepat dengan Widya yang sudah meraih surat kabar di hadapan Naiyra. Mata Aland dan Naiyra membulat sempurna kala koran tersebut sudah ada di tangan Widya.
"Sudah lama aku tidak membaca koran"
"Honey..." Tangan Aland terulur meraih koran itu. Widya segera menepis tangan Alan sekali pukulan. Tangan Aland terhempas. Raut keduanya kini berada dalam kepanikan.
"Ish.. kau ini. Apa aku juga tidak boleh membaca koran ini, iyah???" Ucap Widya. Ia sudah membuka lipatan koran, dan ....
"Eh, sayang. Ada fotomu disini" ucap Widya pada Naiyra sambil tersenyum. Namun begitu ia membaca judul dari artikel itu, seketika senyumnya luntur begitu saja.
"Apa ini??" Wajah Naiyra menegang dengan pertanyaan Widya yang masih berlanjut membaca isi dari berita tersebut. Widya menutup mulutnya dengan satu tangannya. Tak percaya atas berita yang baru saja ia baca.
"Kenapa kalian tidak menjawabku" bentak Widya. Ia memegangi perutnya yang melilit sakit akibat emosinya yang meluap.
"Mom..."
Widya mengangkat tangannya di hadapan Naiyra. Ia hanya ingin mendengar penjelasan dari suaminya. Bisa-bisanya ia lalai menjaga putri angkat mereka hingga terjadi berita seperti ini. Bagai mana nantinya ia akan bisa menjaga anak kandungnya.
"Justiiiiinnnnn....." Teriak Widya.
Sang empunya nama berlari menghampiri.
"Ya, nyonya" jawab Justin.
"Honey, semua tidak seperti yang kau bayangkan. Berita itu sama sekali tidak benar" jelas Aland.
"Mom..." mata Naiyra sudah berkaca. Ia bukan khawatir pada dirinya saat ini. Ia lebih mengkhawatirkan kondisi Widya yang saat ini masih memegangi perutnya menahan rasa sakit.
Ini adalah sarapan pertamanya setelah sekian lama ia tak pernah keluar dari kamarnya karena harus bed rest total.
"Kemana Sajau kau Justin. Bukankah kau adalah pengawalnya?? Kenapa ini bisa terjadi??" Justin yang beberapa waktu lalu di tugaskan sebagai assassin tersembunyi, tak bisa menjawab pertanyaan Widya.
"Honey,,"
__ADS_1
"Aku tidak percaya ini..." Widya menggeleng. Ia terduduk lemas menikmati sarapan pertamanya setelah dua bulan lebih.
Naiyra menghampiri, merangkul Widya dalam pelukannya dan mengucapkan kata "im not a bitch, mom...." Ucap Naiyra. Ia meregangkan pelukannya pada Widya. Kedua tangannya memegangi pipi mulus Widya, menghapus air mata yang jatuh dengan ibu jarinya dan kembali menekankan ucapannya "i'm. Not. A bitch. Trust me, mom...please...don't cry"
Widya mengangguk. Masih terisak. Ia kembali memeluk Naiyra lebih erat. "Momm percaya pada mu, sayang...mom percaya"
Ada rasa lega di balik kesesakan yang Naiyra rasakan. Hatinya saat ini telah kukuh hanya karena kepercayaan dari Widya. Tak ada yang lebih penting dari Widya bagi Naiyra saat ini. Ia akan berusaha melakukan apa yang sudah Aland katakan kepadanya. Kepercayaan keluarganya saat ini, sudah lebih dari cukup untuk menutupi lubang sesak yang kian menganga.
Aland memanggil dokter kandungan pribadi Widya untuk datang kerumahnya saat ini. Keadaan Widya sudah lebih tenang dari sebelumnya. Aland bersyukur, kondisi Widya tidak lebih parah dari sebelumnya.
Ting nong...Ting nong...
Seorang maid membukakan pintu. Tampak seorang dokter perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik. Tak hanya seorang dokter, di belakang dokter tersebut ada Gavin yang baru saja tiba di muka pintu.
"Silahkan masuk, dokter Anita. Den Gavin"
Dokter Anita menoleh, ia tak sadar jika bukan hanya dirinya yang baru saja tiba di kediaman Stevano. Sang dokter bergegas masuk, melangkah menuju kamar utama Aland dan Widya dengan diantar oleh seorang maid. Di belakangnya, Gavin mengikuti.
"Tunggu, bi. Siapa yang akan di periksa dokter" tanya Aland menghentikan langkah maid tersebut.
"Saya akan memeriksa nyonya Widya" jawab dokter Anita menimpali.
Dokter Anita kembali melangkah pasti. Gavin tak ingin lagi menghambat dokter Anita dengan pertanyaannya.
"Selamat pagi..." Dokter Anita menyapa. Aland dan Naiyra menoleh. Kemudian Memberi ruang untuk dokter Anita memeriksa keadaan Widya. Naiyra dan Alan juga melihat kedatangan Gavin.
"Tidak ada yang perlu di khawatirkan, dokter Aland. Kondisi kandungan nyonya Widya dalam keadaan baik dan sehat. Reaksi yang dialami oleh nyonya Widya disebabkan karena rasa terkejut atas suatu peristiwa. Saya akan memberikan resep vitamin dan juga beberapa butir obat penguat kandungan. Lepas dari bulan ketiga kehamilan, kondisi nyonya Widya akan semakin membaik." Jelas dokter Anita.
"Terima kasih, dokter" ucap mereka serempak. Aland mengantar dokter Anita meninggalkan kediamannya.
"Tante.....maaf" Gavin tertunduk di hadapan Widya. Ia tahu, kondisi Widya saat ini pasti berkaitan dengan berita yang beredar.
Naiyra menggeleng, "enggak, Vin. Aku yang seharusnya meminta maaf. Lagi-lagi kamu mengalami masalah karena aku"
Widya hanya diam menyimak keduanya. Bagaimana pun, ia belum tahu pasti detil cerita yang ada.
"Bagaimana dengan Adijaya Narendra??" Tanya Widya memotong percakapan mereka.
"Saya janji akan membereskan kekacauan ini, dan mengembalikan nama baik Naiyra, Tante" Widya tersenyum sinis tak mendapat jawaban atas pertanyaannya.
"Bagaimana dengan Ayahmu??" Lagi. Widya menanyakan pertanyaan yang sama.
Gavin diam. Matanya menatap mata Widya dengan nanar menuntut jawaban.
"Papah...meminta aku untuk menjauhi Naiyra, Tante" ucap Gavin dengan suara pelan.
Naiyra memejamkan matanya mendengar penuturan Gavin. Ia sudah menduga, bahwa ia hanya akan membuat masalah untuk Gavin.
"Maka lakukanlah, Vin." Sambar Naiyra. Gavin menggeleng keras. Bersamaan dengan itu, pintu kamar Widya terbuka. Menampakan Mike, Mark dan Justin yang masuk lebih dalam.
__ADS_1
🥀🥀🥀
Bersambung,,,