I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Latihan awal


__ADS_3

#Naiyra_pof


Aku tiba di kediaman ku sendiri saat ini. Sejak menapakkan kaki di rumah megah ini, ada perasaan berat menyelubungi hati ku. Tidak seperti biasanya. Selalu ada perasaan senang kala aku pulang kesini. Tapi kali ini..Kenapa rasanya berat sekali. Serasa enggan melangkah untuk masuk. Tapi aku harus. Aku tidak mungkin membiarkan orang-orang yang sudah menungguku semakin kesal karena keterlambatan ku.


"I'm Home,,,," Aku menginterupsi semuanya yang berada di ruang tamu agar menyadari kehadiranku. Aku melihat semuanya menoleh, mataku melihat raut wajah mommy yang murung. "momm, ada apa?? kenapa mommy murung begini??" Aku duduk begitu saja di samping mommy.


"Naiyra.." panggil Mike.


"Aunty Regi dan uncle Mike akan pergi ke Argentina selama dua Minggu. Kami menunggumu untuk berpamitan pada kalian semua secara langsung" ucap Aunty Regi.


Kabar mendadak yang baru saja aku dengar ini cukup membuat ku terkejut. "Apa Mark juga ikut, uncle??"


Mike meminum sedikit kopi di cangkirnya. Lalu meletakan kembali di meja. "Mark aku tugaskan di Roma. Ada beberapa masalah Disana. Dan maaf, Mark tidak sempat berpamitan pada kalian semua"


"itu berarti, Mark sudah pergi, uncle"


"Ya, dia sudah pergi dua hari yang lalu. Dia menitipkan salamnya padamu"


Aku sedikit miring mendengar Mark sudah pergi tanpa menyempatkan waktu untuk berpamitan kepadaku. Bagaimanapun dia adalah kakak, teman dan pelindung ku yang terbaik. "Naiyra pasti akan rindukan Uncle dan Aunty" Aku sudah memasang mimik sedih diraut wajah ku. Aku bahkan sudah tidak memiliki rasa malu lagi dengan ringikkan ku yang seperti saat ini.


"Dan...Dadd akan perkenalkan seseorang kepadamu." ucap Daddy.


"masuklah" titah Daddy yang entah pada siapa.


suara langkah ketukan sepatu terdengar nyaring di telingaku. Aku menoleh pada arah pintu masuk kediaman ini. Seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang di ikat tinggi, sedang melangkah mendekat kepada kami. Ia memakai kemeja putih yang di balut blazer hitam dengan celana bahan warna senada. Ia membungkukkan sedikit badannya. Menunjukan rasa hormatnya sebelum daddy memperkenalkan dirinya.


"Kenalkan Dia Hirazuka-san. Mulai saat ini Dia adalah pelatih bela dirimu"


"bela diri..." Aku tahu dadd akan membuatku menjadi wanita tangguh, tapi aku tidak menyangka akan secepat ini harus segera melatih diri. Tapi aku tidak bisa menolak keinginan dadd yang mana semua itu semata-mata untuk kebaikan diriku.


"Hira adalah wanita emas dalam klan kita" ucap Aunty Regi.

__ADS_1


Uncle Mike memajukan tubuhnya, kedua tangannya dia sandarkan diatas lutut lalu menimpali "Selain sebagai Sniper handal nomer satu di Jepang, ilmu bela dirinya setara dengan seorang master".


"Kau bisa berlatih besok dengannya" Kali ini mommy yang angkat bicara. Aku bisa menolak bagaimana jika semua sudah berharap yang terbaik dariku. Nampaknya memang aku harus melakukan latihan ini. Semangat yang mereka berikan padaku membuatku jadi ingin secepatnya melakukan latihan.


"Aku siap jika harus latihan saat ini juga. Kalian membuat semangatku timbul menggebu" Aku melihat semua yang ada dihadapan ku tampak menatapku dengan tatapan serius mereka.


Bahkan Daddy dan uncle sudah saling melirik satu sama lain. Lalu mereka tersenyum renyah menatapku. Daddy memberikan isyaratnya pada pelatih baru ku.


"Mari nona, ikuti saya" Miss Hira berbalik dan meninggalkan ruang keluarga. berbelok kearah kiri yang aku tahu bahwa itu adalah sebuah ruang latihan yang di buat mendadak oleh Daddy. Miss Hira membuka dua pintu sekaligus. Mataku langsung bisa melihat luasnya ruangan ini. Berbagai alat latihan tersedia dengan lengkap.


"karena ini yang pertama bagi nona, saya hanya akan mengajari anda gerakan dasar bela diri. Harap nona mengganti pakaian anda dengan ini" Miss Hira memberikan ku sepasang baju training. Aku segera mengganti bajuku dan bergabung dengan Miss Hira.


🥀🥀🥀


RS. Sari Insani, 22.17


Errina diam memandang langit ruang inapnya. Sejak sore tadi dirinya di larikan kerumah sakit ini Hanya ada Gavin, Naiyra dan Justin yang baru menjenguknya. Orang tua yang bahkan sudah dikabari Gavin pun, nyatanya tidak menampakkan batang hidung mereka hingga detik ini. Ia menoleh pada sofa yang tak jauh dari hadapannya. Disana Sudah ada Gavin yang nyatanya sudah terlelap. Selama ini memang hanya Gavin yang terlihat sangat peduli, bukan, dia memang satu-satunya keluarga yang paling perduli terhadapnya.


'Apa mereka sangat sibuk'


seperti itulah kiranya yang Errin keluhkan dalam hati.


Gavin menggeliat. Errina segera memejamkan matanya. Berpura-pura tidur. Sementara Gavin terbangun karena ingin membuang air kecil. Sekembalinya Gavin dari toilet, ia berusaha menghubungi Naiyra. Namun tak ada jawaban. Saat ia akan berusaha menghubungi Naiyra kembali, ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari seseorang yang ia namai 'Om Aslan' tertera di layar ponselnya. Segera Gavin mengangkat panggilan itu.


"Ya, om..." sahut Gavin.


"bagaimana Errina? kami tidak bisa menjenguknya saat ini" ucap seorang lelaki yang ternyata itu adalah ayah Errin, Aslan Narendra.


"Dia tidur, om. Besok pagi sudah bisa pulang"


"Baguslah. Tidak terjadi hal yang serius, bukan?? Om akan kirimkan paket sebagai permintaan maaf. Tolong berikan pada Errina" ucap Aslan dari seberang telepon.

__ADS_1


Gavin menghembuskan nafas beratnya. Ingin sekali ia memprotes sikap Pamannya itu terhadap Errin. Namun itu hanya akan dianggap tidak sopan. Tapi jika tak ada seseorang yang menyadarkan mereka tentang keinginan Errin yang sebenarnya, sampai kapanpun mereka tidak akan menyadari bahwa yang Errina butuhkan selama ini bukanlah paket mewah atau limpahan materi, tapi yang Errina butuhkan adalah perhatian dari kedua orang tuanya.


"Om..."


"Sampaikan salam sayang om pada Errina. Om sibuk Gavin. Om tutup dulu teleponnya. Tolong jaga Errina yah.." Tut...Tut...Tut..


Belum selesai Gavin berbicara, Aslan sudah dulu menyela dengan serentetan kalimatnya. Errina yang sedari tadi menyimak, bisa ia pastikan sendiri, bahwa perkiraannya benar. Gavin menoleh pada Errina yang masih terpejam.


"Rin..." Panggil Gavin saat ia menoleh, ia melihat ada air mata yang jatuh diatas telinga Errin. Rupanya Errina menangis dalam mata tertutup.


"Mereka gak sayang sama gue, Vin. Mereka gak sayang....hiks..." Tangis Errina semakin deras. Gavin bangkit. Menghampiri Errina yang sudah mulai terisak pilu sambil menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Gavin sudah mengusap-usap kening Errina. Berusaha menenangkannya. "ssstt...siapa bilang mereka gak sayang sama lu. Mereka cuma lagi sibuk aja."


"Iyah. Saking sibuknya walaupun gue mati, mereka gak akan Dateng nemuin gue" Nada Errin meninggi.


"ERRIN !!!" refleks, Gavin membentak Errin kala mendengar kata yang keluar dari mulut sepupunya itu. "Sudah cukup. Baiknya lu tidur sekarang. Jangan punya pikirin yang enggak-enggak". Errin diam. Tidak membalas ucapan Gavin. Percuma saja ia mengeluh, apapun yang terjadi pada dirinya, orang tuanya tidak akan pernah menemuinya.


🥀🥀🥀


Bersambung...


**jangan lupa like yah....👍🏻👍🏻


yang punya pertanyaan seputar tentang saya..


bisa kalian cantumin di kolom komentar.


aku buka Q&A di chapter ini..


Sebisa mungkin aku akan jawab semua pertanyaan kalian disini.

__ADS_1


😉**


__ADS_2