
mommy menghentikan tawanya. lalu mengambil segelas air bening di sebelah kanannya dan meminumnya. "hati-hati sayang, sepertinya daddy mu punya hobi baru sekarang"
"hobi mengerjai ku, benar kan"
dan tawa kembali pecah. "tepat sekali"
🥀🥀🥀
Sudah satu tahun aku menjadi bagian dari keluarga Stevano. Selama satu tahun itu pula Nenek angkat ku tidak menyukaiku. Bahkan nenek secara terang terangan pernah meminta Daddy untuk mengusirku atau menempatkan ku di panti asuhan. Dengan alasan, tenagaku lebih di butuhkan di sana, di tambah lagi nenek mengetahui bahwa mendiang ibuku adalah penghuni tetap panti asuhan hingga ia dewasa.
Banyak sekali kata kata pedas yang sering kali terlontar dari mulutnya. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku saat segala makian tertuju padaku. Tanpa membalas, menyela, membela diri atau bahkan berani menatapnya. Aku tidak bisa melakukan itu. Yang bisa aku lakukan hanya menerima. Pasrah dengan segala perkataan menyakitkan yang selalu saja membuatku ingin menangis setiap kali mendengarnya.
Aku menahannya. Menahan semua rasa sakit itu. Nenek adalah Orang tua dari Daddy, mertua dari Mommy. Bagaimana pun perlakuannya terhadapku, aku tetap harus menghormatinya.
Rumah ini terasa sepi sekali jika tidak mommy dan daddy. Hari ini mereka melakukan penerbangan ke Amerika karena perusahaan keluarga mommy mengalami kebakaran yang cukup serius. Aku bahkan baru tahu, selain menjadi dokter di rumah sakit, ternyata Daddy juga seorang pengusaha. Bahkan rumah sakit tempatku di rawat tahun lalu adalah milik Daddy.
Orang lain bilang aku beruntung menjadi bagian dari Stevano. Ya, aku memang beruntung. sayangnya, aku belum sepenuhnya di terima, setidaknya oleh nenek.
Brak !!!!!!
aku terkejut mendengan suara pintu yang di banting keras ke dinding. Dengan raut terkejut aku menoleh. seketika itu pula Nenek menghampiriku. langkahnya bahkan sangat cepat untuk wanita baya seusia 76 tahun. sungguh umur yang panjang.
Nenek menggenggam erat rahang ku dengan tangannya yang penuh dengan keriput. sorot mata kebenciannya padaku terlihat jelas dari kedua bola matanya.
"kemasi semua barang barang kamu dan pergi dari sini" nenek menghempaskan wajahku dengan keras. "Tidak. pergi dan jangan membawa apapun juga dari rumah ini". sambungnya. Dan aku lagi lagi hanya terdiam, merunduk.
"Apa kau tuli, jalang kecil" begitulah nenek kerap memanggil ku.
"Tapi nek,,,," untuk pertama kalinya aku mengeluarkan suaraku saat nenek berbicara kepadaku.
"Tidak ada tapi tapian. Atau bodyguard ku yang akan menyeret mu keluar dari rumah putra ku". Aku masih diam di tempat. Enggan pergi dari rumah ini. Aku tidak ingin pergi meninggalkan mommy dan daddy. Aku sangat menyayangi mereka.
"Pergi sejauh yang kau bisa. Jangan lagi muncul di hadapan putraku".
"CEPAT" teriaknya di hadapan wajahku.
Aku berangsur turun dari kasur king size kesayanganku. berjalan pelan kearah pintu, lalu perlahan menuruni anak tangga satu persatu. Isak tangis sudah tidak bisa aku tahan.
Sebenci itukah nenek kepadaku. Padahal selama ini aku selalu berusaha melakukan yang terbaik. Menjaga nama baik Stevano. Dan membuat mommy atau Daddy menjadi bangga kepadaku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya membenciku.
Aku memandang sendu sebuah pintu yang ada di hadapanku. Enggan membukanya. Aku tidak ingin pintu ini terbuka untuk ku saat. Karena jika pintu ini terbuka lalu tertutup kembali. sudah dipastikan tidak akan ada kesempatan untuk ku bisa memasukinya kembali.
klek !!!!
Pintu pun terbuka. perlahan hingga akhirnya terbuka sangat lebar. Aku melihat Daddy dan mommy berdiri dibatas pintu. Lengkap dengan dua koper yang yang sama saat aku mengantar mereka ke bandara tadi.
"sayang,,,kenapa berdiri saja di sutu? eh !! kamu nangis?? ada apa, hmm...?? mommy langsung menghambur memelukku.mengelus sayang rambutku kemudian menghapus air mataku.
"tidak...hanya rindu pada kalian" elak ku.
"ayo masuk" ajak daddy.
Rasanya melegakan melihat mereka saat ini. Lagi lagi mereka kembali menjadi malaikat penolongku. Aku melirik nenek yang masih berdiri di lantai tiga. masih dengan penuh amarah, nenek turun menghampiri kami
"kenapa kalian kembali lagi?" tanyanya dengan nada jengkel.
"semua sudah bisa diatasi, mom. jadi kami tidak perlu pergi ke sana. kak Billy sudah mengatasi segalanya." jelas mommy.
"lagipula, aku tidak bisa jauh dari Nay,,," Aku tersenyum Canggu dalam pelukan mommy.
"mommy pulang saja kalau begitu" Nenek berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan kediaman kami.
"Apa terjadi sesuatu?" nampaknya Daddy mulai mengintrogasi ku.
"ti..ti..tidaaak dad.." Dustaku.
"see....kau bahkan terbata bata" Daddy menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangannya di dada.
"aku ingin pergi dulu dad, mom.." dengan cepat aku berdiri. "mau kemana??" mommy meraih satu tanganku dan menahannya. "super market mom." jawabku.
Mommy melepaskan tangannya dari tanganku dan membiarkan ku pergi.
🥀🥀🥀
#penulis
"periksa CCTV, honey" Aland langsung mengeluarkan sebuah tablet saat widya bersuara.
__ADS_1
Semua kejadian yang beberapa waktu lalu terjadi, terputar jelas pada layar tablet yang sedang di genggam Aland. Mata mereka melebar kala menyaksikan kejadian yang terputar dalam sebuah rekaman CCTV.
tanpa sepengetahuan Naiyra, Aland memasang CCTV di bagian tersembunyi. Hanya di walk in closet dan kamar mandi saja yang tidak di pasang CCTV tersembunyi. CCTV ini di pasang atas permintaan Widya, sang istri. Ia begitu menyayangi putri angkatnya itu hingga tak ingin hal buruk apapun terjadi kepadanya.
Di sisi lain, Naiyra sedang membawa troli belanjaannya mengelilingi supermarket yang tak jauh dari kediaman Stevano. satu persatu ia mengambil barang yang menjadi kebutuhannya dan memasukannya kedalam troli belanjaan. Ia masih berjalan lambat membawa trolinya dengan matanya yang terus melihat jejeran produk kecantikan. hingga tak sengaja trolinya bertabrakan dengan troli pembeli lainnya.
"maaf. Saya tidak sengaja" ucap Naiyra pada seseorang di hadapannya.
"aku yang seharusnya minta maaf. Aku tidak sadar kalau ada orang di depanku. Karena mataku fokus pada.." sambil tersenyum orang itu menunjuk pada barisan parfum yang dia tunjuk.
"kenalkan, Aku Ferro Michael Wardana. panggil saja Ferro".
Ya, pemilik troli yang bertabrakan dengan Naiyra tadi ada seorang lelaki. Laki-laki dengan tinggi 185cm itu terlihat sangat tampan. Kemeja panjang hitam yang tangannya di gulung hingga sikut dengan jeans warna senada menjadi paduan apik hingga membuatnya jadi semakin mempesona.
Lelaki yang di ketahu bernama Ferro tersebut terus saja menggoyangkan kelima jari kanannya di hadapan wajah Naiyra yang tak bergeming. akhirnya Naiyra tersadarkan saat Ferro menjentikkan kedua jarinya hingga mengeluarkan bunyi.
"maaf...maaf..." kata Naiyra "Aku Naiyra William Stevano" jawab Naiyra dengan senyum canggungnya. terlihat jelas bahwa dia sedang menahan malu.
Ferro hanya mengangguk. " baiklah, Nay. sampai jumpa lagi. senang berkenalan dengan mu"
"ya, sampai jumpa. senang berkenalan dengan mu juga"
dan mereka pun pergi dengan arah yang berlawanan.
Dua kantong belanjaan penuh sudah Naiyra jinjing. tidak ada lagi yang di butuhkan Naiyra karena semua sudah ia dapatkan. Saat akan memasuki mobilnya, pundaknya di tepuk oleh seseorang. Naiyra menoleh. Rupanya itu adalah Ferro. mobilnya bersebelahan dengan mobil yang di kendarai Naiyra.
"Hai, ketemu lagi" sapanya.
"oh, hai juga" balas Naiyra.
"well....setelah ini apa kita akan bertemu lagi?" kata Ferro.
"maybe yes, maybe no" Naiyra menaikkan kedua bahunya.
"Aku pilih 'yes'. tidak ada yang tidak mungkin, bukan"
"ya,,,"
"kau harus memberiku nomer kontak mu jika kita bertemu lagi nantinya" tawarnya pada Naiyra.
"ya,,kita lihat saja nanti"
Sesampainya Naiyra di rumah, tanpa sungkan ia menceritakan kejadian yang ia alami saat di supermarket. Naiyra selama ini memang selalu menceritakan apa saja yang dialaminya pada kedua orang tua angkatnya. Tanpa ada rasa canggung atau risih ia ceritakan segalanya. kecuali perlakuan neneknya yang kerap kali mengusirnya dari rumah saat mommy dan daddy nya sedang tidak ada di rumah.
"siapa tadi namanya, sayang" tanya Aland
"Ferro Michael Wardana, dad" jawab Naiyra.
Aland nampak mengingat ingat nama itu dalam pikirannya "Wardana...Daddy seperti familiar dengan nama itu, sayang"
"apa ada yang daddy ingat?"
"entahlah. nama itu seperti tidak asing bagi Daddy."
"mungkin hanya perasaan mu saja, honey." Widya memberikan asumsinya.
"bagaimana kuliah mu, sayang?" Aland bertanya pada Naiyra.
"lancar, dad."
"Good girl"
"Naiyra pamit ke kamar dulu, mom, dad,,"
Naiyra berlalu ke kamarnya meninggalkan Alan dan Widya yang masih duduk di ruang tamu.
"honey, kenapa nama Wardana terus saja menempel di ingatanku" keluh Aland.
"jangan memaksakan memori otakmu jika tidak mengingat sesuatu" kata Widya. "aku tidak ingin kau terkena penyakit pikun nantinya" saat itu juga suara tawa Widya menggema.
Aland hanya diam dengan perasaan tidak tenangnya setelah mendengar nama lengkap Ferro di sebutkan oleh Naiyra. Merasa tak mendapat respon apapun dari ekspresi wajah suaminya, Widya mendekat. merangkul kedua pundak suaminya dan berkata "sudah. jangan terlalu dipikirkan."
Aland menurut. Dan tak lama ia berdiri sambil menarik tangan Widya lalu menyeretnya ke kamar utama mereka.
"ish...kau ini. Tidak romantis sekaki" Widya berdecak. Tanpa aba aba Aland menggendong Widya ala bridle style. Widya tersenyum senang.
Ia paham dengan apa yang diinginkan suaminya saat ini. Lelak yang masih terlihat tampan di usianya yang sudah hampir menginjak 50 tahun ini tengah meminta jatah wajibnya.
Di cumbunya bibir sang istri yang sudah menjadi candunya setiap hari. Tak lepas selama mereka berjalan. Bahkan Aland sengaja menaiki tangga agar bisa lebih lama mencumbu bibir sang istri.
Widya membuka pintu kamar mereka. Lalu Alan menutupnya dengan mendorong menggunakan satu kakinya. di baringkannya sang istri di atas kasur berukuran king size tanpa melepaskan ciuman mereka. perlahan ciuman itu berangsur turun leher Widya. Tangan Alan tak ingin tinggal diam. Keduanya bahkan sudah menelusup di atas bukit kembar sang istri.
__ADS_1
"owh.."
Widya melenguh. Menikmati setiap sentuhan yang suaminya berikan. Yang selalu mampu membuatnya terhanyut dalam sensasi penuh nikmat. Alan membuka satu persatu kancing baju Widya. Setelah berhasil, ia melemparnya asal ke sembarang tempat. begitu pun sebaliknya. Hingga keduanya kini benar benar naked tanpa sehelai benang menutupi tubuh keduanya.
Dan malampun di lalui dengan pergulatan panas mereka.
🥀🥀🥀
Naiyra terbangun dalam kepanikan luar biasa. Terkejut bukan main saat ia melirik jam dinding yang menunjukan pukul 10.45 menit.
Ia sudah sangat terlambat untuk pergi ke kampusnya.
Ia hanya sempat mencuci wajahnya dan menggosok gigi. Karena jika ia mandi, itu akan memakan waktu kurang lebih satu jam. Belum lagi jika sudah berhadapan dengan alat alat kecantikan. Sudah dipastikan waktunya akan bertambah semakin lama.
Alhasil. Ia mengambil baju seadanya dan bergegas pergi tanpa menggunakan riasan apapun.
"mom,,,,dad,,,aku berangkat" sambil berlari Naiyra berpamitan.
Tentu saja suara Naiyra tidak akan terdengar dari dalam kamar orang tuanya. Karena kamar itu di design kedap suara.
Widya dan Aland masih terlelap dalam tidur mereka. setelah pergulatan mereka yang usai ketika waktu menunjukan jam empat pagi membuat mereka belum juga terbangun hingga saat ini.
Alan mulai membuka matanya perlahan. di lihatnya jam yang berada di atas nakas. Merasa kabur dengan penglihatannya, ia mengucek kedua matanya. seketika matanya terbuka lebar. terkejut.
masih dalam keadaan naked, ia berlari menuju kamar mandinya. rupanya ia juga kesiangan. Salahkan dirinya karena sudah pasti terlambat menghadiri meeting penting pagi ini.
ceklek!!!
pintu kamar mandi terbuka, dilihatnya Widya yang juga dalam keadaan naked memasuki bathub. air dingin sudah ia alirkan. sabun cair juga sudah ia larutkan dalam bathub. mengabaikan suaminya dan terus melakukan apa yang ingin ia lakukan.
semua pergerakan sang istri tak luput dari pandangannya. Jika tidak mengingat rapat penting di perusahaan sudah pasti ia akan menerkam istrinya kembali yang saat ini sengaja menggodanya. Memancing kembali gairahnya dengan semua bahasa tubuhnya yang menggoda.
Merasa tak tahan berada lebih lama di dalam kamar mandi, Alan segera keluar dengan wajah frustasinya.
Widya yang sedari tadi menahan tawa karena berhasil menggoda suaminya, akhirnya bisa tertawa lepas. Menggoda suaminya yang tak bisa berkutik sudah menjadi kesenangan tersendiri baginya. Ia merasa puas. Walau setelah ini ia harus lebih waspada akan hukuman yang sudah pasti menantinya.
Aland tidak akan tinggal diam.
Keusilan Widya tidak hanya sampai disitu. setelah ritual mandinya selesai, ia melanjutkan aksinya dengan menyamar menjadi orang lain. Tujuannya tak lain dan tak bukan adalah untuk mengerjakan sang suami.
ia berdandan menor dengan menggunakan wig pendek lengkap dengan sebuah kacamata yang sudah dipakainya. Cukup lama ia menunggu suaminya menyelesaikan meeting yang sempat tertunda karena keterlambatannya.
Alan terkejut melihat seorang wanita tengah duduk di kursi kebesarannya. Ia masih belum menyadari jika wanita yang saat ini ada di hadapannya adalah istrinya sendiri.
"maaf. Bisa anda keluar dari ruangan saya. Saya tidak merasa memiliki janji dengan siapapun saat ini" usir Aland secara halus.
'ish...aku tidak percaya aku memiliki suami sekaku dan sedingin dia' batin Widya bermonolog.
"Mungkin kau lupa. kau sendiri yang memintaku hadir disini, di kantor mu" suaranya di ubah sebisa mungkin.
Aland menaikkan satu alisnya. "kemarin aku bahkan tidak kekantor"
"rumah sakit, kita bertemu di rumah sakit" Widya tersenyum puas.
"oh ya, kapan? bisa menyingkir dari kursi ku. Anda sangat tidak sopan." Alan memandangnya dingin. Matanya kini beralih pada cincin yang tersemat di jari manis wanita di hadapannya. Ia mengenali cincin itu. Itu adalah Cincin pernikahan.
Alan tersenyum. Penyamaran istrinya sudah terbongkar. Kini ia akan membalikkan keadaan. Jika istrinya bisa mengerjainya, maka ia bisa membalasnya lebih.
'rupanya kau ingin bermain dengan ku, honey' batin Alan berbicara. 'baiklah. kita mulai permainannya' sambungnya.
"ah..ya,,.aku ingat" sela Aland. "bukankah kita berjanji akan bertemu di hotel"
Widya melebarkan matanya mendengar kata 'hotel'
"ada apa? bukankah kau sudah setuju. Kita pergi sekarang, atau,,,," Aland menggantungkan kalimatnya. dan,,,,,
"ALAND STEVANO" teriak Widya sekencang kencangnya hingga memekikkan terlinga Alan yang mendengarnya
🥀🥀🥀
Bersambung,,,
__ADS_1