
Kampus seakan sepi tanpa adanya Errin. Pasca keluarnya ia dari rumah sakit, hingga saat ini belum juga muncul batang hidungnya. Ia tak memberikan keterangan perihal bolos kelasnya. Telpon dan pesanku pun bahkan tak di gubrisnya. Aku ingin sekali menemuinya, tapi ia tak pernah ada di rumahnya. Kepala pelayan Disana mengatakan jika Errin belum pulang sejak dua hari yang lalu.
Saat aku ingin pulang, ada sebuah mobil sedan biru berhenti tepat menghadang jalan ku. Mobil itu berhenti. Lalu menampakan dua pria berbaju hitam bergerak kearah ku. Aku mundur beberapa langkah. Merasakan sebuah ancaman dari aura mereka. Mereka semakin mempercepat langkahnya. Sadar menjadi incaran, segera aku berbalik hendak berlari. Tapi aku terlambat, mereka berhasil mencekal kedua tanganku.
"Siapa kalian?? mau apa kalian??" aku meronta. Dan sialnya tenagaku tidak cukup kuat untuk lepas dari Kungkungan mereka. Mereka bahkan mengunci pergerakan ku. Hingga salah satu dari mereka mengeluarkan sebuah sapu tangan dan membekapku. Seketika kesadaran ku pun hilang.
🥀🥀🥀
#penulis
**Narendra's House, 20.34
**----
"Baringkan Ia Disana"
"Baik, tuan."
"Pergilah, dan panggil dua pelayan wanita kesini"
kedua pria itupun pergi meninggalkan kamar megah nan klasik itu. Kamar dengan nuansa kecoklatan dengan segala perabot antiknya. Tak lama pintu di ketuk dan menampilkan dua pelayan wanita. "Buka semua bajunya dan tutupi dia dengan selimut".
orang itu lantas keluar dari dalam kamarnya sembari membawa ponsel Naiyra yang terus berdering karena panggilan dari Gavin.
"Sudah, tuan"
pria yang dipanggil dengan sebutan tuan itu menoleh. Tersenyum. Lalu menyuruh salah satu pelayannya pergi dan yang satu tetap tinggal. "Kau ikut denganku. Dan kau, bisa kembali bekerja". Pria itu berjalan masuk ke kamarnya diiringi dengan satu pelayan dibelakangnya.
Lagi, ponsel Naiyra berdering. Pria itu menyeringai licik. Ia melepas bajunya dan ikut berbaring disebelah Naiyra.
"terima panggilan video itu dan arahkan pada kami. Jangan katakan kejadian yang sebenarnya pada putraku" Dengan ragu pelayan itu mengangguk.
Adijaya tersenyum licik membayangkan rencananya akan berjalan mulus. tepat disaat Ibunda Gavin saat ini sedang berada di Paris, menghadiri acara fashoin weeks. Kali ini bisa ia pastikan sendiri bahwa hubungan anaknya dengan wanita jalang ini akan berakhir.
Adijaya memberikan ponsel Naiyra kala ponsel itu kembali berdering. Dengan tangan sedikit gemetar, pelayan itu menerima ponsel itu. Ditekannya tombol hijau dan muncul lah wajah Gavin dengan penuh kecemasan Disana.
"Ha--hal-halo den" ucap pelayan itu terbata.
Kening Gavin mengernyit melihat seorang pelayan yang dikenalinya. Merasa bingung dan heran. "Imas, Kok ponsel Naiyra ada di kamu".
"A-anu den...sas-saya mendengar p-p-ponsel ini berbunyi sedari tadi"
mendengar jawaban terbata dari pelayannya membuat Gavin dilanda curiga. Ia merasakan gal aneh dalam benaknya. "Ini ponsel Naiyra kan, Imas" tanya Gavin pada wanita muda yang menjadi pelayan dikediaman Narendra.
"Iya den"
"Berikan pada Naiyra, Imas."
"maaf den, Non Niayra belum bangun"
mendengar kata belum bangun membuat perasaan Gavin semakin tidak tenang.
'belum bangun'
Mematuhi perintah tuannya, pelayan itu mengarahkan panggilan videonya kearah Naiyra dan tuannya yang sedang dalam keadaan tertidur dengan tangan Naiyra yang memeluk tubuh Adijaya yang toples. Keduanya terlihat seakan tak berbusana walau tertutup dengan selimut tebal.
Dengan penuh emosi Gavin mematikan ponselnya. Ia bahkan sudah melemparkan ponselnya ke tembok hingga ponsel itu bercecaran tak beraturan. Hancur. Sementara Adijaya seakan pus dengan hasil rencananya kali ini. Ia meraih ponsel itu dari pelayan itu dan menyuruhnya pergi "Tunggu" ucap Adijaya Narendra pada pelayan yang bernama Imas. "Ya, tuan"
"Ingat, jangan katakan yang sebenarnya pada putraku. Jika sampai kejadian yang sebenarnya diketahui putraku, Akan ku buat keluargamu menderita, apa kau paham??" ancam Adijaya. Pelayan itu dilanda ketakutan kala ancaman itu dilayangkan kepadany. Ia menganggu penuh rasa takut "paham, tuan"
__ADS_1
"Bagus..pergilah, sambut anakku di depan pintu. Aku tidak ingin ia mendobrak dan merusak pintu rumah ku"
Benar saja. Hanya dalam waktu sepuluh menit. Mobil Gavin sudah terparkir tepat di depan pintu masuk kediaman Narendra. Dengan langkah yang memburu, ia memasuki rumah yang ternyata tidak dikunci. Buru-buri Gavin mempercepat langkahnya menuju kamar utama orang tuanya. Gavin membuka kasar pintu bercat putih gading itu dan membantingnya sangat keras.
Adijaya menoleh, dalam hati ia bersorak gembira saat melihat kilat amarah di wajah Gavin yang membara.
"Gak...Ini gak mungkin...gak mungkin"
Adijaya menyingkirkan tangan Naiyra lalu duduk di atas kasurnya. Ia menatap Gavin. "Kenapa?? aahh..." Adi jaya menoleh melihat Naiyra sekilas lalu kembali menatap Gavin. Menyeringai lalu berkata "Dia yang kamu sebut kekasih, nyatanya seorang jalang yang bisa papah bayar. Cukup mahal, tapi sepadan dengan pelayanannya"
Tanpa Adijaya duga, Gavin menerjang dan meninju wajahnya. Tak hanya satu kali. Ia bahkan memukuli ayahnya sendiri bertubi tubi. "Dasar brengsek. Ini pukulan untuk mamah, ini pukulan atas kesakitan ku dan ini pukulan untuk kelakuan kalian berdua". Gavin terus melayangkan pukulannya dengan berlinang air mata. Baginya teramat menyakitkan melihat orang yang paling dicintainya tidur dengan ayahnya sendiri.
Naiyra menggeliat. Lalu mengerang kemudian perlahan kesadarannya pun mulai terkumpul. Menjadi kaget kala melihat Gavin sudah duduk diatas tubuh ayahnya sambil terus memukulinya. "Gavin. Apa yang kamu lakukan. Berhenti Gavin" Naiyra yang masih belum menyadari keadaan dirinya saat ini, terus menghalau tangan dan tubuh Gavin.
Gavin berontak. "JANGAN SENTUH AKU" teriaknya dihadapan wajah Naiyra. Naiyra yang terkejut mendapat bentakan hanya diam dengan wajah herannya. "Aku jijik di sentuh jalang sepertimu. Kamu bahkan tega, Naiy. TIDUR DENGAN PAPAH AKU SENDIRI." teriak Gavin diakhir kalimatnya.
Naiyra tersadar dari kondisinya saat ini. Ia bahkan sudah menyingkapkan selimut agar kembali menutupi dadanya yang sempat terekspos. "Enggak,Vin. kamu salah paham. Ini gak seperti yang kamu lihat" Naiyra sudah menangis memberi penjelasan kepada Gavin. Ia sendiri tak tahu mengapa ia berakhir seperti ini. Memori otaknya mengingat kejadian terakhir saat dua pria membekapnya dengan obat bius.
"Aku di jebak, Vin. Ak--aku gak mungkin ngelakuin ini sama kamu, Vin..hiks..percaya sama aku"
"Bullshit !??Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, Naiyra. Kamu meluk papah aku. Kalian tidur berpelukan"
"Kamu bener-bener tega ngelakuin ini sama aku, Naiyra. tega, kamu, Naiy." Gavin bangkit. Berlari. Bergegas meninggalkan rumah yang mendadak menjadi neraka jahanam baginya. Dalam hati bahkan ia bersumpah, tak akan pernah menginjakkan kakinya di rumah ini lagi.
'*aku jijik disentuh jalang sepertimu'
'aku jijik disentuh jalang sepertimu*'
Naiyra menangis sambil terus mengingat perkataan Gavin yang menyakiti hatinya. Lebih menyakitkan lagi, Saat Gavin tak mempercayai penjelasannya. Sementara Adijaya tersenyum puas menatap Naiyra yang masih terduduk menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kenapa om tega ngelakuin ini semua" tanya Naiyra. Matanya menatap penuh kebencian pada Adijaya.
"cepat pakai bajumu dan segera tinggalkan rumah ini" sambungnya.
Adijaya pergi meninggalkan kamarnya.
Naiyra semakin terisak. Terus terisak bahkan disaat ia memakai kembali seluruh pakaiannya. Ia menyingkirkan selimut diatas kasurnya. Memastikan apakah ada noda darah diatas kasur itu. Dan dadanya sedikit bisa bernafas lega saat ia yakin bahwa mahkota harga dirinya masih terjaga utuh saat ini.
Dengan perasaan hancur Naiyra keluar dari kediaman Narendra. Ia bahkan terus menghubungi Justin berulang kali. Tidak perduli walau hati ini adalah hari libur Justin bertugas.
"Ya, nona." Dengan suara yang berat Justin menerima panggilan telepon dari Naiyra.
"hiks..Justin.. hiks..hiks...."
Justin yang sebelumnya setengah tersadar dari tidurnya mendadak terbelalak kala mendengar Isak tangis Naiyra. "Nona, apa yang terjadi"
"Jemput aku sekarang juga, Jus--" Tut..Tut..tut
Sambungan terputus kala baterai ponsel Naiyra kehabisan daya. Tanpa alas kaki, Naiyra terus melangkah sambil menunggu taksi yang lewat. Hari ini menjadi hari tersial bagi Naiyra. Ia tak menemukan satupun taksi yang melintas di area perumahan elit ini.
Selama tiga puluh menit lamanya Naiyra berjalan tanpa alas kaki menyusuri jalan aspal. Udara dingin sudah mulai terasa dibadan mungilnya. Masih dengan Isak tangis yang pilu, Naiyra terus menyusuri jalan hingga tanpa sadar beberapa pria tak di kenal menghadang jalannya.
"Hai, nona cantik...kenapa menangis"
"jangan menangis, cantik. Ikut saja bermain dengan kita"
"Iyah, benar. Kami bisa menghilangkan kesedihan kamu"
Ketiga pemuda itu terus memperkecil jaraknya dengan Naiyra.
__ADS_1
"Jangan mendekat. Kalau tidak. Aku akan berteriak" ucap Naiyra. getar tubuhnya saja belum sepenuhnya bisa tenang akibat kejadian tadi, ditambah dengan kejadian ini yang membuat tubuhnya semakin gemetar.
"udaahh...ikut kita aja" satu pria sudah menghentikan langkahnya. dan keduannya lagi sudah mengepung Naiyra di sisi kiri dan kanan. Naira menghentikan langkahnya. Memandang waspada kepada ketiga pemuda dihadapannya. Dan saat pria disebelah kanannya meraih tangannya, Naiyra berhasil menepisnya. Pria disisi kirinya menatap tak percaya, lalu ia juga mencoba meraih tangan Naiyra. Dan lagi-lagi Naiyra berhasil menampiknya.
"Rupanya Nona cantik ini suka sekali bermain kasar. Aku suka. Bergairah dan menggebu. Bawa dia" Titahnya pada kedua anak buahnya.
Naiyra berhasil meloloskan dirinya saat kedua pria itu hendak menangkap tubuhnya. Alhasil kedua pria itu saling menangkap diri mereka masing-masing. Dan disaat itulah kesempatan bagi Naiyra menendang keduanya hingga jatuh tersungkur.
Satu orang pria yang menyaksikan keadaan itu tampak geram. Ia bahkan tak segan melayangkan tangannya pada wajah Naiyra. Naiyra berhasil mengelak kembali. Ia bahkan berhasil memelintir tangan pria itu hingga kesakitan. "Jangan kalian pikir aku lemah menghadapi cecunguk seperti kalian. Pergi sebelum anak buah ku menghajar kalian lebih dari yang aku lakukan." Naiyra mendorong tubuh pria itu hingga bersatu dengan dua temannya yang lain.
"Hei, nona. Kau hanya seorang diri. Jangan berlagak sombong disini" Ketua orang itu belum juga menyerah terhadap Naiyra. Ketiganya bahkan kembali bangkit dan menghadang Naiyra kembali. Naiyra terkepung. Dua orang tadi kali ini dengan cepat bisa meraih pergelangan kedua tangan Naiyra.
plak !!!
Satu tamparan mendarat keras di pipi kiri Naiyra. Suduy bibirnya bahkan sedikit sobek hingga mengeluarkan darah segar. Pria yang berlagak seperti ketua ini juga menjambak rambut Naiyra hingga kepalanya menengadah.
"ck..ck..ck..Siapa yang bisa menolong mu, nona. Bahkan jika kau berteriak. Nikmati saja malam ini. Kami akan memuaskan mu."
"cuih !!! Jangan harap kalian bisa berbuat macam-macam terhadapku" pria itu tersulut emosi saat Naiyra meludah tepat di wajahnya.
Satu tamparan lagi melayang tapat di pipi kanan Naiyra. Naiyra meringis, menahan rasa pedih di kedua sudut bibirnya yang telah robek dan berdarah.
Lalu ketiga pemuda tersebut membawa Naiyra kesebuah gedung kosong. Tak banyak barang Disana. Hanya ada serpihan kayu-kayu yang lapuk dan usang, Satu meja reot disudut ruangan dan satu bingkai kosong yang tertempel di dinding.
Ketiga pria tersebut mendorong tubuh Naiyra hingga nyaris terjatuh. Lalu mengunci pintu tersebut. Kemudian ketiganya mulai melepaskan baju mereka satu persatu.
"Tenanglah, cantik. Kami akan memuaskan mu."
"Jangan mendekat"
Ketiga pria tersebut tak menghiraukan peringatan dari Naiyra. Naiyra terus memundurkan langkahnya. Menghindar saat satu dari ketiganya hendak menerkam tubuhnya.
"Rupanya kau ingin bermain pemanasan dulu dengan kami, heum.." Dua dari mereka tertawa garing mendengar temannya berbicara seperti itu.
🥀🥀🥀
"aaaaaaaaaaaaaaakkkkk" Teriak Gavin. Saat ini ia tengah menyalurkan segala emosi dan rasa kecewanya atas peristiwa yang baru saja ia lihat.
Bayangan Naiyra dengan papahnya berada di satu ranjang yang sama tanpa mengenakan pakaian terus saja memenuhi pikirannya. Gavin merasa telah ditipu selama ini. Tertipu dengan kepolosan, keluguan dan kesucian Naiyra yang nyatanya tak jauh berbeda dengan jalang kelas rendahan.
apa kurangnya ia selama ini hingga Naiyra tega berbuat hal demikian, parahnya ia melakukan hal menjijikan itu dengan ayahnya sendiri. Di saat ia bersusah payah menahan diri agar tidak merusak Naira, Menahan hasratnya sebagai lelaki sebelum bisa melewati ikatan janji suci pernikahan, tapi kini yang dilihatnya menunjukan hal sebaliknya.
Hilang sudah rencananya menjadikan Naiyra miliknya seutuhnya. Hilang sudah semua kepercayaannya kini. Semua telah hancur. Dalam sekejap semua berubah menjadi amarah dan kemuakan.
"aaaaaaaaaaaaaaakkkkk" Gavin terus menjambak rambutnya sendiri. Meratapi peristiwa yang ia lihat beberapa saat yang lalu. Kemudian berjalan tanpa arah. meninggalkan mobilnya di tepi jalan raya. Hingga tiba di sebuah club malam. Memesan private room. Membeli banyak minuman keras dan membayar beberapa wanita penghibur. Ia merasa butuh menghibur dirinya saat ini. Menikmati hingar bingar dentuman musik yang bersuara keras. Menari dibawah cahaya gemerlapnya lampu disco. Bersama dengan beberapa wanita bayarannya. Berharap mabuk bisa menghilangkan segala rasa sakit di hatinya. Berharap musik keras bisa mengusir rasa kecewanya dan berharap hingar bingar di tempat ini mampu membuatnya hilang ingatan dalam sekejap.
Ya. Gavin benar-benar berharap malam ini ia bisa melupakan segala rasa di hatinya. Tak ada lagi Naiyra. Persetan dengan ayahnya. Persetan dengan keduanya.
🥀🥀🥀
Justin terus melakukan pelacakan melalui CCTV jalan raya. Dari GPS yang terakhir terdeteksi, Naiyra berada di komplek elit sekitar kediaman Narendra. Dan benar saja. Dalam monitor komputernya Naiyra terlihat tengah berjalan menyusuri jalan raya hingga ia di hadang oleh tiga orang pemuda.
Justin segera menghubungi anak buahnya di sekitar tempat Naiyra di bawa. Lalu ia bergegas memakai bajunya dan meninggalkan seorang wanita yang saat ini tertidur pulas diatas ranjang apartemennya.
Tanpa membuang waktunya, Justin melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Telinganya terus terhubung dengan beberapa anak buahnya. Ia menyesali dirinya, mengapa disaat ia sedang tidak bertugas justru bahasa selalu saja mengintai.
🥀🥀🥀
Bersambung...
__ADS_1
jangan lupa like dan komennya yah...