
Gavin memasuki arena kampus dengan perasaan aneh yang mengerubungi hatinya. Sepanjang mata ia melihat banyak sekali mahasiswa bergerombol tampak mendiskusikan sesuatu. Gavin mendekat pada salah satu kerumunan yang sedang membahas sesuatu dari ponsel mereka masing-masing. Ia bahkan mendengar beberapa obrolan yang diyakininya bukan sedang mendiskusikan masalah materi kampus. Tapi lebih seperti sedang membicarakan gosip. Semakin ia mendekat semakin jelas juga pembicaraan mereka.
"Ih..gak nyangka ya..."
"Wuihh...bisa niih gue icip-icip"
"Do'i aduhaii maaan...siapa sih yang gak tergiur sama dia"
"Gue kira perempuan baik-baik, nyatanya...jalang" mereka tertawa
"Jalang berkelas kuyy,,,,secara yang booking bukan orang sembarangan guys.."
Gavin micingkan matanya. semakin penasaran dibuatnya. Terlebih mendengar kata 'perempuan'. Gavin sendiri sebenarnya orang yang tidak pernah perduli dengan keadaan sekitar. Ia tak pernah mencampuri atau memperdulikan masalah orang lain. Namun sejauh ia melangkah banyak hal yang membuatnya merasa janggal.
"Kok pada banyak yang berkumpul sih??? Apa kalian sedang ada tugas kelompok dari dosen??" Tanya Gavin begitu sampai pada orang yang berkerumun.
"Bro..sini geh, gue yakin lu Bakalan illfeel sama bebeb lu setelah lu liat berita ini" Dico, salah satu teman satu semester Gavin memperlihatkan sebuah situs yang memperlihatkan foto-foto Naiyra yang super sexy.
Mata Gavin melotot sempurna. Diraihnya dengan kasar handphone milik Dico. Ia membuka situs itu, dan matanya tak berhenti melotot setelah ia melihat banyak sekali foto Naiyra dalam keadaan hanya memakai bikini. Itu tentu saja editan. Gavin tahu itu jika dilihat dari tanggal foto itu diupload. Satu hari setelah Naiyra di rawat di rumah sakit.
"Darimana kalian dapet situs seperti ini???" Tanya Gavin pada semua yang berdiri di sekitarnya. Namun tak ada yang mampu menjawab Gavin saat mereka melihat sorot matanya yang memancarkan aura membunuh. Sungguh pemandangan yang baru mereka lihat dari sosok Gavin yang terkenal dengan sikap ramahnya.
"JAWAB !!!" Bentak Gavin. Ia tak rela Naiyra menjadi bahan tontonan seperti ini.
"Jelas sekali ini adalah foto editan" sambung Gavin. Mereka yang berada di sekitar Gavin hanya terdiam beberapa saat.
"Dico". Gavin meminta penjelasan pada temannya ini.
"Situs itu menyebar gitu aja. Banyak yang meneruskannya ke grup, bahkan di mading juga ada." Jawab Dico. Gavin segera berlari menuju papan dinding kampus.
Tangannya terkepal saat dilihatnya banyak sekali foto-foto Naiyra beserta link yang tertulis di setiap fotonya. Amarahnya meledak saat banyak sekali pasang mata lelaki yang mengerubungi foto tersebut dan segera memainkan ponselnya. Membuka situs tersebut di mana sebelumnya situs itu bersifat private.
Gavin membelah kerumunan itu dan segera merobek paksa semua foto yang tertempel di dinding. Ia lalu berbalik melihat semua orang yang melakukan aksinya.
"Jika kalian berani membuka situs itu, kalian akan berhadapan dengan ku" ucap Gavin.
"Lu kenapa, man. Banyak kali yang buka situs itu dan lihat. Kalau lu mau, lu juga bisa buka itu" salah satu mahasiswa bicara.
"Itu. Tidak. Seperti. Yang kalian pikirkan." Tekan Gavin di setiap kata-katanya. Aura marah jelas ditunjukan Gavin pada semua yang ada di hadapannya.
"Berita itu gak mungkin ada kalau dia emang gak seperti itu, Vin." Kania muncul di belakang kerumunan. Langkah gemulai yang di buat-buat membuat Gavin jijik melihatnya.
"Gak mungkin ada asap kalau gak ada api, kan" sambung Kania.
"Jangan menyimpulkan sesuatu yang kalian gak tau kebenarannya seperti apa" jawab Gavin pada semua, tatapan mata Gavin mengedar pada mereka yang hanya menyimak.
"Cih, apa lu udah nikmatin tubuhnya sampai lu belain jalang itu Samapi segininya, Gavin!!" Kania masih saja menjadi kompor disini.
Perlu kalian ketahui, Kania ini sangat menginginkan Gavin menjadi miliknya, dan saat ia tahu Gavin lebih mencintai Naiyra, sejak itu ia membenci Naiyra sepenuh hatinya.
"Jaga bicara lu, Kania. Justru yang gue lihat sebagai jalang disini itu, Lo.". Kania menghirup dalam nafasnya. Wajahnya menunjukan emosi yang terpendam.
"Gue bukan jalang, Gavin. Gue gak tidur dengan banyak pria seperti Naiyra" Belanya.
"Tutup mulut lu. Jangan bicara sembarangan tentang Naiyra. Naiyra bukan seorang jalang." Gavin meninggikan suaranya "Kalian dengar. Naiyra bukan seorang jalang. Jika gue denger ada yang berani bilang dia seperti itu, kalian akan berhadapan sama gue" ucap Gavin.
"Dan kalian" Gavin menatap semua yang ada di hadapannya "jika kalian gak tahu jalan cerita yang sebenarnya. Lebih baik kalian diam. Dan hanya orang bodoh yang gak bisa membedakan itu foto asli atau editan. Karena jika di lihat dari tanggal foto-foto itu di upload, Naiyra sedang di rawat di rumah sakit" jelas Gavin meninggalkan kerumunan itu dengan tangan mengepal erat foto-foto Naiyra yang dirobeknya dari mading.
Masih menahan rasa kesalnya, Gavin menghubungi orang kepercayaannya. Seorang ahli di bidang IT yang juga seorang hecker yang sangat handal di Indonesia. Ia juga sudah mengirim link yang tersebar pada orang kepercayaannya itu
"Cari tahu siapa yang udah menyebar berita hoax tentang situs prostitusi itu" ucap Gavin pada seseorang di sebrang telepon begitu tersambung.
"Baik tuan" jawabnya.
__ADS_1
"Kirimkan datanya secepatnya kepadaku dan langsung tangkap orang itu begitu diketahui identitasnya. Biar aku sendiri yang mengurus orang itu." Titah Gavin kemudian.
'Sial. Sial. Sial.' maki Gavin pada dirinya sendiri. Ini adalah kelalaiannya. Bagaimana bisa ia lupa memusnahkan situs itu disaat dirinyalah yang paling awal menelusuri semua situs prostitusi yang ada. Dan bisa ia lihat saat ini hasil dari kelalaiannya. Gavin tak menyangka akan menjadi kacau seperti ini. Bagaimana dengan Naiyra nanti saat ia mengetahui berita besar seperti ini.
'aku harus menghubungi om Aland secepatnya' batin Gavin. Ia merogoh kembali ponsel dalan saku celananya. Mendial nomer Aland, melakukan panggilan. Tak ada jawaban dari Aland. Gavin mencoba kembali menghubungi Aland. Namun lagi-lagi panggilannya tidak mendapat jawaban. Berapa kali pun Gavin mencoba, tetap tidak ada jawaban.
Gavin menyudahi usahanya mengubungi Aland dan bergerak cepat menuju parkiran dimana mobilnya berada, Ia menghidupkan mesin mobilnya dan melaju cepat menuju kantor Aland.
Setelah menempuh 40 menit perjalanan, ia Samapi di kantor Aland. Tanpa menanyakan resepsionis, Gavin menaiki lift khusus yang langsung menuju pada ruangan Aland. Gavin melewati ruang sekretarisnya dan langsung mengetuk pintu kantor Aland.
"Maaf tuan, apa tuan Sudah membuat janji dengan Mr. Aland" sang sekretaris yang menghampiri Gavin langsung melayangkan pertanyaannya.
"Kemana om Aland" tanya Gavin.
Mendengar kata 'om' sekretaris itu menyimpulkan bahwa Gavin adalah keluarganya. "Mr. Aland sedang ada meeting, saya rasa 20 menit lagi beliau selesai dari meetingnya" sahut Ramah sekretaris itu.
"Kalau begitu, aku akan tunggu di dalam". Gavin berlalu memasuki kantor Aland, meninggalkan sekretaris Aland di depan pintu begitu saja.
Gavin terus saja memandangi jam di tangannya. '5 menit lagi...tapi kenapa lama sekali' batin Gavin. Ia sudah menunggu Aland selama 15 menit di dalam sejak memasuki ruang kantor yang besar ini.
15 menit berikutnya Aland memasuki kantornya. Gavin berdiri dari duduknya saat melihat pintu kantor terbuka dan melihat Aland dan Mike memasuki kantornya.
"Kau...sejak kapan di sini?? Bagaimana kau tahu aku di kantor?? Dan Ada apa hingga kau sampai datang di kantorku??" Tanya Alan bertubi-tubi.
Gavin diam saat ia tahu Aland tidak sendiri. Pengalaman Dirga membuatnya waspada terhadap Mike. Ia tak ingin Mike bertindak seperti waktu itu. Walau Gavin tak tahu apa yang Mike perbuat pada Dirga, tapi dengan mengulangnya Dirga sudah bisa di pastikan bahwa Mike sudah menghabisinya tanpa sisa.
"Aku..." Jeda Gavin.
"Apa kau terganggu jika ada aku disini". Ucap Mike Seakan mengerti keraguan Gavin.
"Santailah. Bicara saja" ucap Aland.
Tak ada pilihan lain bagi Gavin mendengar ucapan Aland selain menceritakan segala berita yang telah menyebar di dalam kampusnya pada Aland dan Gavin.
Alan mendesah berat. Ia sendiri saja bahkan tidak peka saat tahu kondisi yang dialami Naiyra. Hingga hal ini luput dari pengawasannya.
"Mike, kau urus masalah ini." Titah Aland. Mike mengangguk patuh "okay".
"Aku sudah menyuruh orang ku melacak pelakunya, om. Tinggal menunggu saja" ucap Gavin.
"Anak muda, bisa kau beri aku waktu yang pasti. Jika bisa saat ini juga aku ingin mendapatkan data pelaku itu" ucap Mike.
"Aku memberinya waktu, uncle" sahut Gavin.
"Baiklah. Kita lihat, siapa yang lebih dulu berhasil mendapatkan pelakunya, dia yang berhak bertindak" ucap Mike.
Gavin hanya diam. Ucapan Mike seakan memberikan taruhan sekaligus penawaran. Keadaan ini seakan Dejavu bagi Gavin. Dimana sebelumnya Mike memberikan kesempatan kepada Gavin yang berakhir dengan tindakan spontan dari Mike pada sahabatnya yang kini entah kemana, hilang bagai ditelan bumi.
"Kau pulanglah, anak muda. Terimakasih sudah memberikan kami informasi ini" ucap Mike. Gavin mengangguk.
"Baiklah, aku pergi. Tapi tidak akan pulang. Aku akan mengunjungi Naiyra" ucap Gavin.
"Jangan memberitahunya tentang berita besar itu, sampaikan juga pada Errina untuk tidak membuka mulutnya pada Naiyra." Titah Aland.
"Baik, om"
Mike dan Aland memperhatikan kepergian Gavin dari kantor mereka.
"Rupanya anak itu sangat mencintai Naiyra, aku akui dia selalu bergerak cepat tapi juga lambat" ucap Mike.
"Ya, dia lumayan handal untuk diandalkan" ucap Aland.
🥀🥀🥀
__ADS_1
Naiyra
Berada didalam rumah sepanjang waktu membuat ku bosan. Rasanya aku ingin berjalan-jalan keluar, tapi aku sendiri tak tahu ingin pergi kemana. Saat ini Errin sedang ada mata kuliah, jika dia ada disini itu bisa sedikit mengurangi rasa jemu ku.
Ah...aku rindu suasana kampus. Rasanya aku tidak sabar kembali ke kampus. Aku rindu pada semua teman ku di sana.
Trett...
bel pintu kamar ku yang kedap suara ini berbunyi. Aku berjalan kearah pintu dan membukany. Seorang maid menunduk hormat begitu melihatku.
"Non, ada den Gavin mencari nona" ucap main itu.
'Gavin, ada apa ia kemari' tanya ku dalam hati. "Aku akan menghampirinya sebentar lagi. Buatkan saja minuman dan bawakan beberapa cemilan untuk kami" pinta ku pada maid tersebut.
"Baik nona". Sahut maid itu.
Aku kembali memasuki kamarku. Menghampiri meja riasku, meneliti wajahku dan memoleskan bedak tipis saat dirasa wajah ku terlihat sedikit kusam dari pantulan cermin.
''Tunggu dulu...mengapa aku berdandan?!. Untuk apa aku memperhatikan diriku hanya untuk menemuinya !!" ucap ku pada diriku sendiri. Aku meletakan bedak yang ada di tangan dan mengusap wajahku menggunakan kedua telapak tanganku, Menghapus sisa bedak yang aku pakai tadi dan keluar menemui Gavin.
"Ekhem.." ternyata dehemanku mampu membuat Gavin menoleh. Dia tersenyum kepadaku, bahkan senyumnya sangat manis sekali. Mataku seakan tak ingin lepas memandang senyum itu. Senyum yang menghipnotis seketika.
Eh!!! Apa tadi aku bilang, manis....apa aku tidak salah ucap pada diriku sendiri. Sejak kapan senyumnya menjadi manis di mataku. Dan lebih sialannya lagi, kenapa aku berdebar melihat itu...oh, ya ampun..rupanya ada yang salah pada diriku. Apa aku akan merasakan hal yang sama pada Mike nanti??
"Nayy...Naiyra..." Gavin menggerakkan telapak tangannya naik turun di hadapan ku. Yang dilakukan Gavin membuatku tersadar dari lamunanku.
"Eh, iya..sangat manis". Ya lord....apa yang aku ucapkan barusan. Aku malu sekali.
Gavin mengerutkan keningnya "apa yang manis sekali, Naiy??" Tanyanya pada ku.
"Eh,,ah..itu.." aku kenapa jadi bingung sendiri. Padahal aku tinggal mencari alasan yang masuk akal untuk menjawabnya. Kenapa jadi begini....
"Ya...apa??"
Duuh....kenapa dia masih saja bertanya. Tidak kah dia langsung saja mengutarakan niatnya datang kesini...
"Oh, ya. Ada apa kemari". Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan saja.
"Tidak ada. Cuma....kangen" intonasinya merendah. Namun masih bisa aku dengar kalimat terakhirnya.
"Cuma apa??" Tanya ku seolah tidak mendengar kalimat terakhirnya.
"Ingin lihat keadaan kamu saja. Apa kau baik-baik saja?? Kapan waktu liburmu berakhir??" Jawab Gavin.
Aku tidak mengerti kenapa ia tak mau mengakui kerinduannya padaku, apa karena aku pura-pura tidak mendengarnya hingga ia pun tak mengakuinya kembali. Dan kenapa pula aku sedikit kecewa mendengarnya.
"Seperti yang kau lihat, aku sangat baik. Dan lusa aku sudah masuk kuliah" jawabku.
Aku melihat matanya yang fokus pada lantai dan pandangannya berubah kosong. Kini Gavin yang terlihat sedang merenung.
"Vin.." aku memegang bahunya. Ia menoleh kearah ku dan kembali tersenyum. Refleks aku menurunkan tanganku dari bahunya dan segera menyuruhnya duduk kembali.
"Syukurlah bila kamu baik-baik saja"
Tak lama Seorang maid datang membawakan minuman dan beberapa camilan seperti yang aku minta tadi. Ia meletakan semua itu di atas meja dan kembali kedalam dapur.
"Naiy, apapun yang terjadi nantinya, aku tetep percaya sama kamu, disaat kamu merasa semua orang tidak mempercayaimu, ingatlah, masih ada aku dan keluargamu yang akan selalu percaya kepadamu. Kamu harus ingat itu, yah" ucap Gavin. Ia mengelus sayang kepalaku.
Aku tidak mengerti arah ucapan Gavin. Tapi aku juga tidak berani bertanya. Kata-katanya yang terasa seperti sebuah pernyataan itu mampu membuatku merasa tenang. Dan, lagi-lagi Aku hanya menganggukkan kepalaku Layaknya orang yang terkena hipnotis
🥀🥀🥀
Bersambung...
__ADS_1