I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Rindu


__ADS_3

Naiyra masih memiliki waktu sekitar enam Minggu untuk menyelesaikan masa cuti yang sudah Aland urus akibat insiden yang lalu. Pantas saja, tak ada satupun yang menanyakan kenapa ia tidak hadir dalam kelas.



Ia merasa bisa tidak memiliki kegiatan apapun di rumah ini. Semua pekerjaan sudah ada yang mengerjakan. Bahkan saat ia ingin membersihkan kamarnya sendiri, beberapa para maid segera mengambil alih apapun yang Naiyra kerjakan. Al hasil ia hanya melihat seperti seorang pengawas yang tengah memperhatikan anak buahnya.



Ia keluar dari kamar meninggalkan beberapa para maid yang sedang membersihkan kamarnya. Melewati kamar Aland dan Widya, lalu masuk ke kamar nenek Marlyn.



"Nek,,," panggil Naiyra sambil mengetuk pintu kamar Marlyn.



"Masuk saja" sahut Marlyn dari dalam yang tentu saja tidak di dengar oleh Naiyra. Karena semua kamar didesign kedap suara.



Merasa tak ada respon dari Marlyn, Naiyra berbalik. Wajahnya sudah ia tekuk akibat rasa bosan yang akut. Ia ingin menemui Widya, tapi ia tahu Widya perlu banyak istirahat. Entah ada angin apa ia berbelok mengetuk pintu kamar Marlyn.



"Naiyra,,," Marlyn berdiri diambang pintu kala Naiyra hendak menuruni anak tanggak.



"Nek,,,"Naira menghampiri Marlyn.



"Ada apa,hmm...??? Panggil saja Oma,yah!!"



"Aku hanya sedang bosan saja, Oma" Naiyra tersenyum canggung.



"Mau ke taman bersama Oma?" Tawar Marlyn. Naiyra mengangguk. Mereka beriringan berjalan menuju taman belakang rumah.



Sesampainya mereka di taman, Marlyn meminta Naiyra memetik beberapa bunga untuk di hias dalan vas bunga.



"Naiy,,," panggil Marlyn. Naiyra menoleh "ya, Oma!"



"Hmmm....keberatan tidak, jika kamu menceritakan orang tua kandung mu"  dengan hati-hati Marlyn meminta. Bukan maksudnya mengingatkan, ia hanya ingin mendengar kisahnya bersama keluarganya yang dulu.



Naiyra tersenyum sambil menggeleng keras "tidak Oma, tidak sama sekali"



"Naiyra anak tunggal. Ayah berasal dari Inggris, Oma. Dan ibu,,,dia besar di panti asuhan. Jadi ibu tidak memiliki keluarga selain penghuni panti. Naiyra tidak tahu apa ayah masih memiliki keluarga atau tidak. Ayah tidak pernah menceritakan keluarganya, ayah hanya mengatakan bahwa Ia besar di Inggris." Kata Naiyra.



"Besar di Inggris" Marlyn bertanya. Naiyra mengangguk



"Berarti ayahmu bukan lahir di sana, tetapi hanya dibesarkan di sana. Apa kau tahu dari negara mana ayahmu dilahirhan, mungkin kau masih memiliki kerabat disana" Marlyn bertanya kembali. Dan lagi, Naiyra hanya menggeleng tidak tahu. Hanya sebatas itu yang Naiyra tahu tentang kedua orang tua kandungnya.



"Jangan terlalu di pikirkan,yah. Maafkan Oma yang mengorek ingatanmu" kata Marlyn.



Naiyra menggeleng "tidak Oma, justru karena Oma telah mengingatkan ku pada mereka. Ku rasa aku akan pulang ke rumah lamaku. Aku ingin menghabiskan masa cuti kuliahku disana, Oma. Aku merindukan momet saat bersama mereka"



"Katakan saja pada Daddy mu, dia pasti memberikan mu ijin pergi kesana" Naiyra mengangguk, setuju. Mereka masuk menemui Aland untuk membicarakan niat rencananya.



"Dad" Naiyra dan Marlyn memasuki ruang kerja Aland. Mereka duduk di hadapan Aland yang sedang membereskan berkasnya "ada apa,hmm??" Tanya Aland.



"Aku ingin tinggal beberapa hari di rumah lama ku" ucap Naiyra.



"Kenapa mendadak sekali. Kau sudah bicara pada mommy mu?" Sahut Aland.



"Belum, kami baru membicarakannya pada mu" Marlyn menjawab.



"Bicarakan saja dengan mommy mu, jika dia mengijinkan, dad akan mengijinkan"



Naiyra tersenyum senang, wajahnya audah menjadi ceria "oke"



Cup



Naiyra mencium pipi Aland. Aland mengacak-acak rambut Naiyra. Tersenyum senang atas perlakuan Naiyra padanya.



'dia mania sekali'.....



"Mom,,,aku...aku..." Naiyra tampak ragi ketika sudah berada di hadapan Widya.



"Ada apa, hmm...? Widya menaikkan dagu Naiyra agar pandangan mereka bertemu.



"Aku ingin menghabiskan masa cuti kuliahku dengan menginap beberapa hari di rumah lama. Apa boleh"? Ucap Naiyra.


Matanya menatap Widya penuh harap. Ia berharap Widya mengijinkannya pergi, namun jika tidak di ijinkan, Naiyra tentu tak akan pergi. Apapun Dewi Widya, mommynya



"Mom,,,aku janji tidak akan lama. Hanya sampai masa liburku habis. Setelah itu aku akan secepatnya kembali. Aku janji" ucap Naiyra saat Widya tak bicara. Hanya diam. Dengan raut wajahnya yang tampak lesu. Sedangkan Naiyra masih menatap Widya penuh harap.



Huft..."baiklah. Janji !! kau harus secepatnya kembali" Naiyra tersenyum bahagia. Ia memeluk Widya sayang "thanks mom...aku akan kembali secepatnya". Widya mengusap punggung Naiyra naik turun. "Janji mom".


__ADS_1


Naiyra kembali ke kamarnya dan mulai berkemas. Tak banyak barang yang akan ia bawa. Sebab semua kebutuhannya masih tersimpan rapi di sana. Hingga ia tak perlu khawatir jika membutuhkan sesuatu. Tidak ada yang berubah di sana. Semua tertata rapi di tempatnya.



"Biarkan Justin ikut bersamamu" Aland masuk dengan Justin di belakangnya mengekori.



"Dad,,," "atau tidak sama sekali". Sebelum Naiyra kembali berucap, Aland menyela ucapan Naiyra.



Naiyra membuang nafas beratnya "baiklah" Tidak ada gunanya ia membantah keinginan Aland. Karena percuma saja. Aland bukan orang yang begitu saja menerima penolakan.



Selesai berkemas, Naiyra berpamitan pada Widya dan Marlyn.



Saat Aland hendak mengantar Naiyra hingga ke depan pintu, notifikasi dari ponselnya berbunyi. Aland membuka dua notifikasi.



From bocah Mentri:


Om..mengapa Naiyra tidak bisa di hubungi, dia baik-baik saja kan?



Lalu Alan membuka satu notifikasi yang lain.



From Dude 'Mark:


Uncle, what happened with Naiy...? The number is not active. (Paman, apa yang terjadi dengan Naiyra? Nomernya tidak aktif)



Aland menggeleng membaca dua pesan yang dikirim dalam waktu bersamaan. Apa mereka sengaja membuat janji mengirim pesan? "Naiy,,Mengapa tidak mengaktifkan nomer?" Tanya Aland saat menemani Justin mengeluarkan mobil dari bagasi.



"Oh, baterai ponselku habis, dad. Aku akan mengisinya nanti setibanya di sana" jawab Naiyra



"Kau di cari kedua penggemar setia mu" Naiyra memicingkan matanya. "Siapa?" Jawab Naiyra polos. Aland terbahak dan menggeleng. Tidak kah Naiyra tahu jika kedua pria yang sedang berusaha mendekatkan dirinya memiliki ketertarikan padanya.



Putrinya ini benar-benar....



Naiyra tambak mengingat. Dan ekspresi wajahnya memerah saat ia tahu siapa yang disebut penggemar oleh Aland. "Aku bukan seorang artis, dad" elak Naiyra.



"Memiliki penggemar tidak harus menjadi artis, bukan. Dan Daddy juga tahu, dikampus kau juga cukup populer" Naiyra tersipu malu.



Mobil sedan dengan warna putih sudah berhenti tepat di hadapan Naiyra dan Aland. Justin mematikan mesin mobil lalu keluar. Ia membungkuk pada Aland Naiyra "mobil sudah siap tuan, nona"



"Kau sudah harus pergi, rupanya" Aland bicara dengan nada berat hati.




"Sudahlah. Daddy harus menemani mommy mu. Kau tahu bukan, mommy mu semakin manja saat dia sedang hamil."



Naiyra tertawa ringan. Terbayang jelas dalam ingatannya, seperti apa sang mommy bila sudah dalam mode 'manja'. Lebih parahnya lagi, ia akan langsung mengeluarkan jurus andalannya saat semua permintaan dan keinginannya tidak segera di laksanakan saat itu juga, menangis bagai anak kecil.



"Naiy pergi dad." Naiyra masuk kedalam mobil begitu Justin membukakan pintu mobil. Aland melambaikan tangannya yang di balas Naiyra. Dan mobil melaju pergi meninggalkan kediaman Stevano.



"Justin, kau bukan berasal dari Indonesia. Tapi bahasa Indonesia mu fasih sekali" Naiyra mengajak Justin bicara. Ia merasa bosan sekali selama perjalanan. Maka dari itu ia mencoba membuka obrolan dengan Justin.



"Semua anak buah tuan diwajibkan bisa bahasa Indonesia, nona" Naiyra mengangguk paham.



"Kenapa begitu" Naiyra bertanya lagi.



"Karena Tuan kini tinggal di Indonesia. Juga untuk memudahkan kami bicara dengan warga Indonesia jika berada disini. Karena banyak orang Indonesia yang tidak bisa bahasa Inggris" jelas Justin.



"Sudah berapa lama kau bekerja pada Daddy" Naiyra masih melayangkan pertanyaannya.



"Sudah sepuluh tahun, nona" Naiyra terkejut. Tidak menyangka akan selama itu hanya untuk pekerjaan sebagai pengawal.



"Waahh...lama sekali." Justin menyunggingkan senyumnya.



"Kita sampai, nona" ucap Justin.



Naiyra tidak menyadari jika mereka sudah berada di kediaman William. Naiyra bertambah terkejut saat ia melihat sekeliling rumah lamanya. Ternyata benar, mereka sudah sampai. "Darimana kau tahu rumah lamaku, Justin. Aku bahkan lupa memberi tahu arah selama perjalanan"



"Aku menyimpan alamat rumah anda dari tuan, dan aku gunakan Google map untuk melihat rute jalan, nona" jelas Justin.



Justin membukakan pintu mobil untuk Naiyra, lalu ia membawakan barang milik Naiyra hingga Naiyra membukakan pintu rumahnya untuk mereka masuki.



"Selamat datang di rumah ku, Justin. Maaf terlihat sangat kotor dan berantakn. Sudah lama aku tidak datang kesini. Aku akan menunjukan kamarmu" Naiyra berjalan mendahulukan Justin. Justin mengekori ya dari belakang. Dan mereka tiba di sebuah pintu berwarna putih gading.



"Ini kamar mu, Justin. Kamarku ada di atas jika kau butuh sesuatu" Justin menggeleng "tidak, nona. Justru nona bisa mengandalkan ku jika nona membutuhkan sesuatu"



"Kau ini...istirahatlah. aku tahu kali lelah"


__ADS_1


Naiyra menjauh dari kamar Justin. Mengabaikan kamar pribadinya di lantai atas, ia mendatangi kamar orang tuanya yang tak jauh dari kamar Justin. Dibukanya pintu berwarna coklat pekat.



Semua nampak sama di mata Naiyra. Tak ada satupun yang berubah dari kamar orang tua kandungnya. Perlahan ia melangkah lebih dalam memasuki kamar. Meraba Ranjang ukuran king size saat mengitarinya. Mengusap seprai itu penuh kerinduan. Seolah ranjang itu baru saja di gunakan orang tuanya. Tak puas hanya dengan mengelusnya penuh kerinduan, Naiyra membaringkan tubuhnya di atas kasur tersebut. Ia meringkuk, memeluk seprai yang terasa dingin. Meresapi kerinduan yang membuncah. Sangat rindu hingga rasanya amat sesak.



Lagi. Air matanya menetas membasahi kain halus yang ia peluk. Menangis. Tak bisa lagi mengobati kerinduan lebih dari yang ia lakukan saat ini. Hingga perlahan ia menutup matanya, tertidur. Dalam keadaan meringkuk. Hingga pagi menjelang.



Pagi menjelang, kicauan burung dari luar jendela membangunkan Justin dari tidurnya. Ia meraih ponselnya dinakas dan Dilihat jam dari layar ponselnya. 'sudah pagi rupanya' batin Justin. Ia segera bangun, membersihkan dirinya di makar mandi, lalu pergi ke dapur setelahnya. Ia membuka kulkas yang ada di dapur, berharap menemukan bahan masakan yang bisa di gunakan untuk membuat sarapan. Namun, kulkas itu benar-benar kosong saat Justin membukanya. Hanya ada botol-botol yang terisi dengan air mineral dan menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.



Justin nampak berfikir. Ia ingin pergi keluar dan membeli sesuatu, namun ia tak mungkin meninggalkan Naiyra sendiri dirumah ini. Tugasnya adalah menjaga nona mudanya.



"Pagi Justin.."sapa Naiyra yang tiba-tiba keluar dari pintu kamar yang tak jauh dari kamar yang di tempatinya.



"Pagi nona. Kenapa nona keluar dari kamar itu" tanyanya.



"Itu kamar orang tua ku. Setelah aku pikir,,aku akan menempatinya selama disini." Naiyra menggeser kursi dan duduk didepan meja makan.



"Ayo kita keluar" ajak Naiyra. Tanya hanya bertanya, Justin mengikuti Naiyra di belakangnya. Siapa yang akan mengira jika Justin adalah seorang supir yang merangkap menjadi pengawalnya jika melihat penampilannya saat ini.



Kaos abu-abu dengan model v-nek di balut kemeja denim dan celana jeans hitam pekat membuat penampilannya sangat maskulin. Di dukung dengan wajah bulenya menambah ketampanannya menjadi sangat tampan. Sayang sekali ia hanya seorang pengawal. Jika di perhatikan, ia sangat cocok untuk menjadi seorang model. Tapi entah kenapa ia memilih untuk setia pada Aland, menjadi salah satu bodyguard pribadinya.



Justin tidak mengira jika mereka sekarang akan berada di pasar tradisional. Ya, Naiyra membawanya belanja di pasar tradisional. Justin mengira mereka akan berbelanja di supermarket terdekat. Mengingat Aland adalah seorang millionaire.



Suasana pasar mendadak riuh saat Naiyra membawa Justin. Bak melihat artis terkenal, mereka mengerumuni dan mengikuti kemana Justin melangkah. Padahal Justin sendiri hanya mengikuti kemana Naiyra melangkah. Seorang bule masuk pasar tradisional bukan kah hal yang langka, apalagi Justin sangat tampan. Membuat para wanita muda hingga paruh baya memandang takjub kearahnya.



Naiyra tersenyum geli melihat orang-orang mengikuti mereka. Anehnya Justin tidak merasa risih dengan keberadaan mereka yang mengerumuni di sekitarnya. Malah sesekali Justin membalas sapaan mereka. Membuat mereka semakin histeris mengetahui Justin fasih berbahasa Indonesia. Orang Indonesia Memang benar-benar....



"Kita bisa keluar jika kau merasa risih, Justin." Ucap Naiyra.



Justin menggeleng dalam senyum "tidak, nona. Justru saya sangat senang. Orang Indonesia terkenal ramah, dan saya senang di tugaskan disini."



Naiyra lega mendengar penuturan Justin.



Setelah dirasa cukup. Mereka kembali ke rumah dengan dua tentengan kantung besar berisi sayuran dan keperluan lain yang dibutuhkan.



Justin menaruh semua belanjaan dalam kulkas sementara Naiyra langsung memasuki kamar orang tuanya. Justin juga mengambil beberapa jenis sayuran untuk membuat sandwich. Karena hanya itu saja bisa Justin buat. Ia tidak paham dengan semua bumbu dapur yang ada disini.



Baru Lima menit Naiyra memasuki kamarnya, ia mendengar bel berbunyi.


Naiyra hendak membuka pintu namun Justin sudah lebih dahulu membukanya.



Dua sosok tak asing di mata Naiyra menampakkan batang hidungnya. Siapa lagi jika bukan Gavin dan Mark. Mereka datang bersamaan di waktu yang sama.



"Kalian?!" Ucap Naiyra. Dua pria tak diundang ini menampakkan barisan giginya, Tersenyum senang.



"Hai" "hallo" ucap keduanya secara bersamaan.



"Bisa aku tebak dari mana kalian tahu alamatku disini" keduanya mengangguk.



"Masuklah" titah Naiyra.



Mereka masuk bersamaan dan itu membuat mereka berdua tersendat di pintu. "Aku dulu yang masuk" ucap Gavin. "Aku lebih dulu sampai, jadi aku dulu yang masuk" ucap Mark tak mau mengalah.



Naiyra hanya memandangi mereka tanpa ekspresi. Tidak mengerti dengan Kedua lelaki di hadapannya. Merasa jengah dengan keduanya yang tak mau mengalah hanya untuk masuk kedalam rumah, Naiyra meninggalkan mereka, menyusul Justin ke dapur dan membuat teh untuk di hidangkan.



"Tubuhmu tidak cocok menjadi koki, kau tahu." Justin menoleh kearah Naiyra, tersenyum kecil.



"Aku biasa melakukan ini, nona" sahut Justin.



"Ku pikir kau hanya mengikuti Daddy saja"



"Ada kalanya aku libur. Dan mengerjakan ini" ucap Justin.



Gavin dan Mark nampak tidak suka melihat keakraban keduanya. Hal yang sulit mereka lakukan pasca Naiyra keluar dari rumah sakit. Tapi lihatlah Justin sekarang,,,sangat mudah dekat dengan Naiyra. Seperti tidak ada hambatan. Dan itu membuat Gavin dan Mark merasa iri sekaligus tidak suka.





🥀🥀🥀


Bersambung,,,





__ADS_1


__ADS_2