I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
keluarga baru


__ADS_3

Rasanya aku ingin lebih lama berada di pelukan Tante Widya. tidak ingin ia pergi dan ingin selalu bersamanya.




🥀🥀🥀




"ekhem"...suara itu berhasil merenggangkan pelukan Tante Widya dari tubuhku. ternyata itu suara dokter Aland. Lalu Dokter Aland berjalan masuk menghampiriku dan Tante Widya.



"Hemm....ada tamu tak diundang sepertinya" sindir dokter Aland pada Tante Widya.



"siapa bilang aku ingin bertamu kepadamu?" nada suara Tante Widya terdengar ketus. "aku datang untuk menjenguk nona manis ini" sambungnya lalu mencolek daguku.



aku tersenyum melihat interaksi mereka. terlihat menggemaskan.



"alasan yang masuk akal" tutur dokter Aland.



tak lama dokter Aland bergumam dengan suara rendahnya namun masih bisa di dengar oleh ku dan Tante Widya. "kasihan sekali aku, tidak dianggap dan diabaikan"



"ish...kau ini." gayanya dengan menggenggam tangan yang sengaja hendak dilayangkan pada dokter Aland.



"eits !!!! satu pukulan satu jam hukuman" dengan percaya diri dokter Alan memajukan wajahnya mendekat pada Tante Widya.



rona wajah Tante Widya bersemu merah saat melihatku yang sudah memasang tampang bak orang kebingungan. Aku mengerutkan keningku melihat gelagat Tante Widya yang seketika menjadi salah tingkah di hadapan ku.



"hentikan atau,,,," jeda Tante Widya sembari melirik malu kearah ku.



merasa kemenangan berada di dokter Alan membuatnya semakin gencar menggoda istri tercintanya. "atau apa?? hah!!!"



"aku tidak akan memberimu jatah setelahnya selama TIGA BULAN." Tante Widya memandang kecut dokter Alan yang sudah melebarkan kedua bola matanya.



Dan benar saja. Ancaman itu nyatanya mampu membuat dokter Alan yang semula merasa memegang kendali kini menjadi tersungkur hanya dengan satu kalimat itu. Kali ini ia kalah.



Dokter Alan tahu betul, bukan Widya Estelle Stevano namanya jika tidak bisa membalikan keadaan. namun justru itu yang membuat ia begitu mencintai istrinya.



"aduh...maaf yah sayang, kami malah jadi tontonan kamu" Tante Widya beralih padaku.



"Naiyra, saya kesini ingin mengabari kamu jika besok kamu sudah di perbolehkan pulang" aku tertunduk mendengar kabar kepulangan ku.



bagaimana aku bisa pulang saat orang tuaku telah menetap disini. Saat mereka telah memiliki rumahnya di sini. Haruskah aku kembali pulang tanpa kedua orang tuaku bersamaku. Aku ingin berada dekat dengan orang tuaku.



seolah mengerti akan perasaan ku, Tante Widya mengangkat daguku hingga pandangan kami bertemu. "Naiyra sayang, jika kamu tidak ingin kembali ke rumahmu, kamu boleh kok, ikut pulang ke rumah Tante dan dokter Aland"



Bukan rasa simpati atau iba yang aku lihat dari sorot kedua mata Tante widya. Aku melihat raut ketulusan di mata Tante Widya saat mengucapkan kalimat itu. Aku tidak tahu, mengapa Tante Widya begitu baik terhadapku. Orang yang baru hari ini bertemu dengannya. bukan, bukan. Tapi orang yang baru pertama kali ditemuinya. Jika seperti ini keadaannya, rasanya aku semakin tidak sanggup menerima kebaikan dari mereka.



Aku takut.



Aku menjadi tamak dengan menginginkan mereka menjadi sosok pengganti orang tuaku.



"kenapa, sayang?? kamu tidak ingin ikut pulang ke rumah Tante" dengan kedua tangannya yang sudah berada di kedua pipiku. Diusapnya dengan lembut. Aku menggeleng cepat "bukan begitu Tante,,,"



"pulang lah bersama kami, Naiyra" kali ini dokter Alan yang meminta.



"sejujurnya aku tidak ingin berada jauh dari orang tuaku,," aku tertunduk. "tapi aku juga tidak bisa meninggalkan rumah yang penuh kenangan orang tuaku" sambung ku.



"Tinggallah bersama kami, sayang. Menjadi anak kami, Naiyra" mohon Tante Widya dengan menggenggam erat kedua tangan ku "dan rumah peninggalan orang tuamu, kau bisa ke sana jika kau merasa rindu akan sosok mereka." sambung Tante Widya.



Aku terdiam. Tidak merespon cepat ucapan Tante Widya kepadaku. Sedangkan dokter Alan sudah berdiri tepat di sebelah kiri ku. mengelus sayang kepalaku.



Aku merasakan kebahagian dan kesedihan di waktu yang bersamaan. hari di saat aku kehilangan keluarga ku, aku justru mendapatkannya kembali di hari yang sama pula. Walau keadaanya sudah berbeda kini.


__ADS_1


"pikirkanlah baik-baik, kami tahu ini terlalu mendadak bagi mu" ku pandang dokter Alan dan Tante Widya bergantian. Sungguh, mereka orang yang sangat baik. mereka seolah menyelamatkan ku dari rasa kesendirian yang sudah nyata menyelimuti seluruh relung hatiku sejak beberapa jam yang lalu.



tanpa berfikir lagi, aku segera menganggukkan kepala tanda setuju "Iyah Tante, dokter, aku mau tinggal dengan kalian". Tante Widya segera memelukku erat "panggil aku mommy mulai saat ini, honey. Mommy bahagia sekali sayang, kamu mau menjadi anak kami. Oh Tuhan..."



Senyum bahagia juga nampak di wajah dokter Aland. Ia merogoh benda pipih persegi panjang dari saku celana bahan yang pakainya dan mulai menghubungi seseorang.



"dan, panggil aku Daddy mulai saat ini. oke!!! daddy sudah menghubungi pengacara dan mengurus berkas adopsi kamu" Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawabanku.



"namamu akan menjadi Naiyra William Stevano saat ini. Apa kamu setuju" tanya dokter Alan yang saat ini sudah menjadi Papah angkat ku.



Jika ada yang bertanya mengapa aku begitu cepat menerima mereka sebagai keluargaku, jawabannya hanya satu. Aku merasa mereka sangat tulus. Sisi keibuan yang bisa aku rasa dalam diri Tante Widya, membuatku merasakan ada Ibu ku dalam dirinya.



itu yang tidak bisa membuat ku menolak mereka.



Aku turut senang melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mommy baruku saat ini. sepanjang hari ini aku hanya fokus menyimak cerita hidup mereka. Mulai dari pertemuan pertama mereka yang berujung seperti tokoh kartun Tom & Jerry, hingga saling jatuh cinta dan kemudian menikah.



Mereka sudah menjalani pernikahan selama 20 tahun, dan belum juga di karuniai seorang anak. berbagai upaya sudah mereka lakukan, mulai dari pemeriksaan medis, menjalani program bayi tabung, hingga mengambil langkah terakhir dengan mengadopsi seorang anak dari panti asuhan sudah pernah mereka jalani.



Tidak ada yang salah dengan pemeriksaan medis. Baik mommy maupun Daddy, mereka semua sehat dan tidak ada yang dinyatakan mengalami kemandulan. Karena dirasa belum juga ada tanda kehamilan, mereka mencoba melakukan program bayi tabung seperti yang disarankan dokter spesialis Kandungan, namun, usaha itu lagi-lagi selalu mengalami kegagalan. entah apa penyebabnya..



Masih belum ingin menyerah, Akhirnya langkah terakhir mereka lakukan, yaitu mengadopsi seorang bayi laki-laki dari panti asuhan dan di beri nama El Xender. Kurang dari enam bulan setelah mereka mengadopsi baby El, mommy dan Daddy mendapat kabar baik atas kehamilan pertama yang sudah mereka nantikan selama ini.



Mommy begitu bahagia dengan kehamilannya. Ia merasa sangat beruntung sejak mengadopsi Baby El. Berkat Baby El, ia mendapatkan apa yang selama ini mereka dambakan.



Namun sayang, tak sampai satu tahun baby El harus pergi meninggalkan mommy dan Daddy dikarenakan lemahnya sistem imun tubuh baby El hingga sering terkena penyakit dan menyebabkan ia meninggal.



Mommy sangat terpukul dengan kematian baby El hingga menyebabkan ia stress karena terlalu memikirkan baby El. kondisi mommy sempat melemah saat itu, hingga mengharuskan ia di mendapatkan perawatan intensif.



Tak hanya sampai disitu, mommy kembali harus kehilangan calon bayinya saat terjatuh di kamar mandi hingga menyebabkannya mengalami pendarahan hebat yang mengharuskan janin yang di kandungnya harus segera di kuret.



Janin yang sudah pecah akibat benturan hebat bisa membahayakan sang ibu bila tidak segera di tindak lanjuti. Dengan perasaan penuh haru dan berat hati, Daddy di damping temannya yang seorang spesialis kandungan, melakukan operasi untuk mengkuret kandungan mommy.




Sungguh, cerita yang menyayat hati. aku bahkan menangis mendengar kisah pilu mereka. mulutku pun tak mampu berkata-kata.




🥀🥀🥀



Hari ini aku sudah di perbolehkan pulang oleh pihak rumah sakit. Mommy sudah membawakan ku baju ganti yang akan aku kenakan untuk pulang ke rumah. Rumah Mommy dan Daddy. Tak ada barang apapun yang aku bawa dari rumah sakit selain barang-barang milik kedua orang tuaku yang di berikan polisi waktu itu. karena semua barang ku masih tersimpan di rumah peninggalan ayah dan ibu.



"sudah siap??" tanya Daddy. aku dan mommy mengangguk "sudah"



Kami semua pergi meninggalkan rumah sakit yang menjadi bagian dari sejarah ceritaku ini. Dan mengenai surat adopsi ku, semua sudah selesai di urus. hari ini, saat aku keluar dari rumah sakit ini. aku resmi menyandang nama Stevano dibelakang nama ayahku. Aku menggunakan nama Naiyra William ketika masuk rumah sakit, dan sudah berganti menjadi Naiyra William Stevano begitu keluar dari rumah sakit.



Satu jam perjalanan akhirnya kami tiba di kediaman rumah Stevano. "waaahhh....."



"apa kau ingin berkeliling, sayang? atau kau ingin melihat kamarmu lebih dulu?" tanya mommy.



"aku ingin berkeliling, mom. Rumah kalian sungguh besar sekali" aku masih memandang takjub akan rumah ini.



"ya sudah. Mommy ke dapur dulu selama kamu berkeliling. Tapi sebelum itu,,,," mommy menjeda ucapannya dan bertepuk tangan. Seketika semua maid langsung berkumpul dan berbaris rapi di barisannya masing-masing.



"hari ini kita kedatangan anggota baru di rumah ini, perkenalkan !! Anak kami, Naiyra William Stevano, mulai saat ini ia adalah anak kami, perlakukan anak ku dengan sangat baik" titah mommy pada semua para maid.



"ia akan mengelilingi mansion ini. dan kamu, Lisa" tunjuk mommy pada maid yang paling ujung "antar Naiyra ke kamarnya jika ia sudah berkeliling Mension ini dan kalian boleh kembali bekerja" para maid pun kembali pada tugasnya masing-masing.



aku mulai berkeliling dari lantai yang paling dasar. ini seperti mirip ruang bawah tanah. karena lantainya memang terletak di bawah lantai dua saat aku pertama kali memasuki rumah ini, lebih tepatnya Mension ini.



aku sungguh takjub melihat rumah megah ini. Rumah dengan 3 lantai yang sangat luas dan benar-benar berkelas. Semu properti yang ada dalam rumah ini, semuanya merupakan barang mahal. Tampak elegan dan mewah.


__ADS_1


Lantai dasar yang merupakan ruang serbaguna biasanya di gunakan untuk acara pesta. Bayangkan saja, terdapat taman di tengah-tengah ruangan yang sengaja di buat khusus untuk pesta BBQ. tak hanya itu, lantai dasar dijadikan transparan dengan pemandangan akuarium besar dibawahnya.



beralih kelantai dua dimana awal aku masuk rumah ini. Ada 3 kamar tamu di lantai ini. dan semua kamarnya sangat besar dan mewah. Terlihat sangat nyaman bisa di tempati. Lantai dua ini di khususkan bagi para tamu. Bisa di bilang ini adalah ruang tamu pribadi.



Dan sekarang aku menaiki tangga menuju lantas teratas di rumah ini. Sebenarnya mansion ini juga di lengkapi dengan lift, namun karena ingin melihat-lihat, akhirnya aku memilih untuk menggunakan tangga saja.



Salah satu maid berkata kepadaku, bahwa lantai ini adalah lantai utama khusu diperuntukan bagi tuan rumah. Dan benar saja. Di lantai ini juga hanya ada 3 kamar. Bayangkan seluas apa jika satu lantai di bagi 3 bagian untuk di jadikan kamar pribadi sang pemilik.



"Mari Nona, saya antar ke kamar nona" salah satu maid menghampiriku, aku menoleh kepadanya dan mengangguk. Ia berjalan lebih dulu di depan ku. Mengiring ku hingga ke depan pintu berwarna putih gading kemudian membukanya lebar-lebar.



"silahkan, nona. Nama saya Sati, juka ada yang nona butuhkan, nona bisa memanggil saya" ujar bi Sati.



"terima kasih, Bi.."



"saya permisi, non"



"Iyah, bi,,"



Aku melangkah masuk kedalam kamar yang akan aku tempati. Lagi-lagi aku di buat takjub dengan penampilan kamarku. terlihat sangat Girly. Bagian yang paling aku sukai dari kamar ini adalah Ranjang ukuran king size dengan tirai kelambu bak ranjang seorang putri raja.



"suka kamar mu, honey" Suara daddy memasuki kamar ku.



"sangat, daddy. sangat." Daddy tersenyum melihat rona bahagiaku "syukurlah jika kau suka. Kau harus tahu, kamar ini sudah lama mommy mu buat karena ia ingin anak perempuan, dan sekarang ia sudah memilikinya"



"Aland....." suara mommy menginterupsi.



"upst...." Daddy menutup rapat mulutnya. jarinya ia gerakan seolah telah menutup resleting yang menempel di mulutnya.



"makan dulu camilan yang sudah mommy bawakan." nampan berisi teh dan camilan mommy letakan di atas sofa.



Aku dan Daddy mendekat. menikmati hidangan yang baru saja mommy bawakan. setelah itu kami turun kelantai dasar menuju meja makan. Karena makanan sudah selesai di hidangkan.



Aneka masakan yang menggugah selera sudah tersedia di atas meja makan persegi panjang ini. mommy menyendokkan nasi di atas piring Daddy kemudian mengambil piring ku dan mengisinya pula dengan nasi. saat mommy ingin menuangkan cumi saus tiram di atas piring ku, aku segera mengambil alih piring tersebut dari mommy.



Rasanya tidak pantas bila aku yang nota bane nya adalah anggota baru di rumah ini di layani oleh mommy yang menjadi mamah ku. itu sangat tidak sopan menurutku.



"ambillah semua yang kamu suka, sayang. mommy tidak tahu kamu suka masakan apa, jadi mommy minta maid untuk membuatkan semua ini" kata mommy.



"ini sangat banyak ,mom. dan aku suka semuanya." aku tersenyum kearah mommy dan Daddy.



"kalau begitu kau harus menghabiskan semua ini".



Hah !!!!



"Daddy...yang benar saja aku harus menghabiskan semua ini" sahut ku



seketika tawa Daddy pun pecah. Huft !!! aku baru saja dikerjai oleh Daddy. mana sanggup aku menghabiskan semua makanan yang ada di meja makan ini.



"lucu banget sih kamu, honey. Lihat mom, wajahnya yang di tekuk, sangat lucu dan menggemaskan." Dady masih saja meledekku.



mommy menghentikan tawanya. lalu mengambil segelas air bening di sebelah kanannya dan meminumnya. "hati-hati sayang, sepertinya daddy mu punya hobi baru sekarang"



"hobi mengerjai ku, benar kan"



dan tawa kembali pecah. "tepat sekali"




🥀🥀🥀


bersambung,,,


__ADS_1


__ADS_2