I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
sosok misterius


__ADS_3

Gavin dan Mark nampak tidak suka melihat keakraban keduanya. Hal yang sulit mereka lakukan pasca Naiyra keluar dari rumah sakit. Tapi lihatlah Justin sekarang,,,sangat mudah dekat dengan Naiyra. Seperti tidak ada hambatan. Dan itu membuat Gavin dan Mark merasa iri sekaligus tidak suka





🥀🥀🥀





Mark cukup sigap mengetahui tengah ada yang memperhatikan interaksinya dengan Naiyra. Ide jahil terlintas di benaknya untuk menciptakan bara cemburu pada kedua penguntit yang tengah mengintip mereka diambang pintu.



Ah,,,ini akan menjadi suatu hiburan tak terduga.



Mark mengambil inisiatif dengan menyelipkan untaian rambut yang hampir menutupi mata Naiyra kebelakang telinganya. Naiyra sedikit terkejut dan memundurkan tubuhnya, namun tak lama ia berusaha menormalkan sikapnya kembali.



"Maafkan saya, nona. Saya hanya tidak ingin rambut anda menghalangi pandangan anda" Naiyra tersenyum canggung. Perlakuan mendadak Justin memang membuatnya terkejut.



"Kau mengejutkan ku, kau tahu" keluh Naiyra jujur.



"Sekali lagi, maaf nona" ucap Justin lagi, Menundukkan kepalanya. Naiyra hanya menjawabnya dengan bergumam.



Gavin dan Mark terlihat geram. Nampaknya bara yang Justin ciptakan berhasil membuat kobaran api kecil dalam hati keduanya. Kilatan tidak suka yang di layangkan Gavin dan Mark padanya terlihat mendalam. Justin menyeringai saat melirik keduanya. Menggoda mereka ternyata cukup menyenangkan.



"Kurasa ia memang sengaja, bro" ucap Gavin.



Mark melengkungkan sudut bibirnya. Menciptakan senyuman sinis di sana "jika dia bisa menjadi dekat dengan Naiyra, mengapa aku tidak?"



"Heii bung. Memangnya kau saja yang bisa. Aku lebih dari sekedar bisa" ucap Gavin tak kalah sengit.



"Diam lah bocah Mentri, kau terlalu banyak membual" cecar Mark.



"Waahh...jangan membawa pangkat ayahku disini, bule." Mark nampak tidak mengerti dengan bahasa terakhir yang Gavin gunakan. Itu sebabnya ia memilih mengabaikan Gavin dan berlalu pergi dari ambang pintu dapur.



"Ada apa" Naiyra datang secara tiba-tiba dan itu berhasil membuat Gavin terperanjat. Bodohnya Gavin tidak menyadari kehadiran Naiyra didekatnya.



"Ti,,ti,,tidak...tidak ada" Gavin terbata seperti orang yang sedang tertangkap basah. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tak gatal.



Sementara Justin tersenyum penuh kemenangan. Ia cukup puas dengan ulahnya saat ini. Melihat tampang kedua tuan muda yang tak lelah mendekati nona mudanya, membuatnya ingin sedikit bermain disini.



"Kau. Apa yang kau tertawakan" Gavin menghampiri Justin yang masih duduk di tempatnya.



"Apa aku terdengar tertawa, tadi. Seingatku aku hanya diam." Justin menimpali.



Gavin terlihat menahan amarahnya "Lupakan". dan iapun berlalu pergi begitu saja dari hadapan keduanya.



'sial. Tawanya memang tidak terdengar. Tapi aku tahu ia menyeringai penuh kepuasan' batin Gavin sepanjang ia melangkah.



Naiyra menoleh melihat Justin yang masih duduk manis di tempatnya "Dia kenapa??". Justin mengangkat kedua bahunya tanda tidak tahu lalu bersandar pada punggung kursi.



Naiyra kembali ke dalam kamar orang tuanya. Mengunci pintu dari dalam rapat-rapat lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur. Bagaimanapun hanya ia satu-satunya perempuan disini. Keberadaan Justin saja bak ancaman besar bagi dirinya apalagi di tambah dua orang penghuni, dan mereka semua adalah laki-laki.



Rasa trauma itu belum sepenuhnya hilang dalam diri Naiyra. Sejauh ini ia sudah berusaha untuk tidak menghindar dari lelaki lain selain Aland. Bagaimanapun ia pasti akan bersosialisasi dengan banyak orang. Jika ia masih memiliki kecemasan berlebihan seperti ini pada lawan jenis, bagaimana ia akan menikah nanti.



Tak ingin melebarkan kecemasan yang ada, Naiyra memasang earphone di kedua telinganya dan mendengarkan musik dengan volume cukup kencang. Berusaha menghalau rasa halu yang bersarang dalam benaknya. Memejamkan matanya berusaha menghilangkan segala kecemasan yang tidak berguna.



Ia sendiri lelah. Ingin semua kembali normal. Namun bayang-bayang kejadian kelam itu masih saja menghantui.



Kreeekkk...



Naiyra tidak menyadari jika ada seseorang yang berusaha membuka kaca jendela kamar yang ia tempati. Suara musik yang cukup kencang dari earphone serta mata yang ia pejamkan membuatnya tidak menyadari akan keadaan sekitar.



Seseorang berhasil menerobos masuk kedalam kamar yang ia tempati. Orang itu mendekat kearah Naiyra yang masih terpejam. Semakin mendekat..mendekat hingga kini ia tepat berada di samping Naiyra yang terbaring.



Naiyra merasakan jika ada seseorang disampingnya. Ia juga mencium aroma maskulin yang kental. Aroma kayu manis dan Pinus tercuim sangat jelas di hidungnya.



'tidak salah lagi. ada seseorang di dekatku' ucap Naiyra dalah hati. Jantungnya mulai berpacu cepat. Alunan musik yang terdengar di telinganya seolah tinggal ocehan tidak berguna. Naiyra panik dalam diam.


__ADS_1


'Siapapun. Tolong aku' doa Naiyra dalam hati. Tubuhnya mulai bergetar kala ia merasa jaraknya dengan orang itu hanya tinggal satu langkah. sedang ia sendiri tidak berani membuka matanya karena rasa takut yang begitu kuat.



Naiyra terperanjat. Seketika membelalakkan matanya kala satu tangan orang itu sudah mengelus wajah mulusnya. "Jus" Naiyra hendak berteriak. Namun tangan orang itu lebih dulu membekap mulutnya. "tutup matamu". Naiyra terpejam saat itu juga mengikuti perintah orang itu.



"Tenanglah, baby. Aku tidak akan memakan mu." Ucap orang itu penuh sensual di telinga Naiyra. Orang itu mendekatkan wajahnya. Menghirup aroma shampo dari rambut Naiyra. Dan itu berhasil membuat tubuh Naiyra menegang dalam ketakutannya.



'siapa orang ini' batin Naiyra. Hatinya terus saja berdoa. Berharap Justin, Mike, Gavin atau siapapun segera menolongnya.


"Jangan buka matamu. Tetaplah terpejam. Aku akan memberi tahu rahasiaku. Aku mencintaimu, baby. Sangat mencintaimu. Rasanya tidak enak hidup hanya dengan foto-foto mu saja. Mereka tidak hidup. Itu tidak seru" ucap orang itu seakan tahu apa isi kepala Naiyra. Naiyra sudah menangis di buatnya. Air mata yang keluar dari matanya yang tertutup terus saja meremas keluar. Tak terbendung.



"Tenanglah sayang, kita masih akan sering bertemu. Dan aku harap kau mengenaliku nanti dengan matamu yang terbuka. Rasakan dengan hatimu. Karena jika tidak, maka aku akan menghukum mu."



Orang itu memberikan kecupan singkat di kening Naiyra sebelum menjauh dan keluar dari arah dimana ia masuk tadi. Dengan secepat kilat Naiyra bangkit dari tidurnya dan menggedor pintu kamarnya dari dalam. Berteriak memanggil Justin dengan tangisan yang belum berhenti. "Justin....Justin..."



Justin segera menghampiri pintu kamar Naiyra kala ia Meneriakkan namanya dengan penuh kecemasan. Gavin yang mendengat teriakan Naiyra pun ikut menyusul Justin menghampiri kamar Naiyra.



"Nona, buka pintunya, saya mohon" pinta Justin yang juga ikut menggedor pintu kamar orang tua Naiyra.



"Naiy, buka pintunya" ucap Gavin. Tangannya ikut menggedor pintu kamar Naiyra saat ini.



Mark menyusul dengan rona kekhawatiran yang sama. "Ada apa? apa yang terjadi" tanya Mark. Justin tak mengindahkan pertanyaan Mark. Perioritas utamanya saat ini adalah Naiyra.



"Justin,,aku takut. Huuuuuhhuuu...hiks.. aku takut..hiks.." Naiyra kalut, meronta, menangis. Ia sendiri bahkan lupa jika ia yang mengunci pintu kamarnya dari dalam. Ia tak menyadari bahwa kunci tersebut masih menggantung di pintunya. Kekalutan Naiyra membutakan akal sehatnya.



"Naiyra tenanglah, kami disini"



"Naiy, buka pintunya"



"Nona, menjauh dari balik pintu. Aku akan mendobraknya"



Banyak sekali suara-suara yang justru malah membuatnya pusing. Naiyra memegangi kepalanya yang terasa berputar. Tubuhnya mulai lunglai, dan saat itu juga Naiyra ambruk ke lantai, tak sadarkan diri.



Merasa tak mendengar rontaan dari dalam kamar, Justin, Gavin dan Mark terpaksa harus mendobrak pintu kamarnya.



Satu kali dobrakan. Pintu tidak terbuka.



Gavin dengan sigap langsung menghubungi dokter pribadi keluarganya untuk segera datang mengecek kondisi Naiyra.



Mark juga tak kalah sigap. Ia pun menghubungi Aland untuk memberi kabar tentang keadaan Naiyra.



"Apa yang sebenarnya terjadi, jas.." tanya Mark.



"Aku tidak tahu. Nona tiba-tiba menggedor pintunya dari dalam sambil berteriak ketakutan" jelas Justin.



Ketiganya masih setia menemani Naiyra yang belum sadarkan diri. Dokter pribadi keluarga Gavin belum juga sampai saat ini juga. Itu membuat Justin geram dan hendak membawa Naiyra ke rumah sakit terdekat



"Kenapa lama sekali. Aku tidak bisa menunggu lagi. Aku akan membawa nona ke rumah sakit saat ini juga." Ucap Justin.



"Bersabarlah, bung. Dokter sedang dalam perjalanan" ucap Mark. Justin kembali duduk di samping Naiyra.



Drrrtt...drrrtt,,,ponsel Justin bergetar. Layarnya memperlihatkan nama Aland memanggil.



"Ya tuan." Justin menjawab panggilan masuk dari Aland.



"Kau lengah Justin." Sahut Aland di sebrang telepon.



"Maafkan saya tuan" sesal Justin. Ia memang lalai, dan mengakui hal itu.



"Pasang kamera CCTV di semua bagian rumah. Aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Aku akan sampai dalam 30 menit" Aland memutiskan sambungan telepon begitu saja.



Justin membuang nafasnya kasar. Jika sudah seperti ini ia tidak akan selamat dari amukan Aland. Gavin menepuk pundak Justin. Memberinya dorongan semangat. "Tenang saja. Aku akan bantu menjelaskan pada Om Aland" Justin menganggukkan kepalanya. Mempercayai ucapan Gavin.



Bel pintu berbunyi kencang di seisi rumah. Gavin pergi untuk membukakan pintunya. Karena ia yakin, dokter pribadinya sudah tiba di kediaman William.



"tuan Gavin" sapa sang dokter.



"Syukurlah dokter Alfa sudah datang. Cepat masuk, temanku masih belum sadarkan diri."

__ADS_1



"Apa gadis ini pernah mengalami trauma berat?" Tanya dokter Alfa usai memeriksa Naiyra.



"Ya, dokter. Ia baru saja melewati masa kritis sebulan yang lalu. Ia memang memiliki trauma karena suatu kejadian" jawab Gavin.



"Saya sarankan, lebih baik ia menghubungi seorang psikiater untuk membantunya pulih dari rasa trauma. Saya khawatir, rasa trauma yang ia alami akan mempengaruhi kondisi jiwanya bila dibiarkan begitu saja. Semoga saja ia belum sampai pada tahan dimana ia sampai melukai dirinya sendiri. Tidak hanya itu, bisa saja ia mengalami Delusi bila terus berlanjut seperti ini" Terang dokter Alfa.



"Akan kami ingat, dokter"



Aland tiba saat dokter Alfa sudah berada diambang pintu. "Dokter Aland" sapa dokter Alfa begitu mereka bertemu.



"Ah, rupanya kau Alfa. Kau yang memeriksa putriku?!" Tanya Aland.



"Rupanya dia putrimu, aku sarankan kau membawa putrimu konsultasi pada seorang psikiater, Aland." Ucap dokter Alfa.



Untuk sesaat Aland termenung. Pikiran untuk membawa Naiyra pada seorang psikiater memang sudah ada dalam benaknya. Namun urung ia lakukan mengingat kondisi Widya yang tidak memungkinkan dalam kehamilannya yang juga membutuhkan perhatian ekstra.



"Aku pergi dulu" Dokter Alfa menyadarkan lamunan Alan saat telapak tangannya menepuk bahu tegapnya.



Alan melangkah kerah kamar yang di tempati Naiyra. Di susul Gavin dan juga Mark. Semetara Justin berkeliling rumah memastikan jika ada hal yang mencurigakan. Sebab tidak mungkin Naiyra menjadi histeris jika tidak di sebabkan oleh sesuatu. Dan itu yang sedang Justin lakukan.



Aland duduk di tepi ranjang. Tangannya menggenggam erat tangan Naiyra yang masih tak sadarkan diri. Tak ada satupun dari ketiganya yang bicara. Mereka semua menjaga Naiyra dalam diam. Hingga Naiyra tersadar.



Alan melihat Naiyra menggerakkan kepalanya. Perlahan matanya mulai terbuka. Hal pertama yang Naiyra lihat adalah Wajah Aland yang berada dekat dengannya. "Kau sudah sadar, sayang" Aland mengelus sayang pucuk kepala Naiyra.



Ingatan Naira akan sosok misterius itu berputar cepat dalam ingatannya. Ia memeluk tubuh Aland erat "Daddy,,,aku takut...orang itu..orang itu..." Naiyra tak dapat berkata-kata lagi.



"Katakan, sayang. Siapa orang itu" tanya Aland. Naiyra menggeleng. Ia sendiri tidak tahu siapa orang yang datang menemuinya. Satu hal yang ia tahu, orang itu memanggilnya dengan sebutan 'Baby'.



"Dia memanggilku 'Baby'. Mereka akan membawa ku, dad. Aku takut. Aku tidak ingin kembali ke sana. Jangan biarkan mereka membawaku " Naiyra masih memeluk erat tubuh Aland.



Gavin mengepalkan kedua tangannya erat. Ia tidak menyangka jika masih ada yang lolos dari penangkapan waktu itu. Padahal ia yakin betul jika Merlyn dan semua antek-anteknya sudah di tangani oleh pihak berwajib dan mereka semua sudah mendekam di balik jeruji besi. Ternyata dugaannya salah.



Lantas siapa sosok misterius yang menemui Naiyra???



Merasa tidak ada yang dapat dilakukan Mark dan Gavin keluar dari kamar Naiyra. Memberikan ruang bagi Aland menenangkan Naiyra. Jika dalan keadaan seperti ini Naiyra hanya akan melihat Aland. Ia akan lebih tenang bila ada Aland disisinya.



"Apa kau mencintai Naiyra" Mark melayangkan pertanyaan begitu mereka berada di luar kamar yang Naiyra tempati.



Gavin menoleh kearah Mark, menatapnya mantap "tentu saja".



"Apa kau rela jika melihatnya bersama orang lain?"



'apa maksud ini bule' batin Gavin bicara. Gavin tak menjawab pertanyaan Mark. Ia hanya membuang nafasnya. Pikirannya berkelana membayangkan apa yang Mark ucapkan. Sebelumnya, ia selalu melihat banyak sekali pria yang mencoba mendekati Naiyra, bahkan ada yang secara terang-terangan memintanya untuk menjadi kekasih mereka. Dan melihat itu, Gavin tidak suka. Bagaimana jadinya bila ia melihat Naiyra menjalin hubungan dengan orang lain.



"Lupakan. Aku sudah mendapat jawaban atas kediaman mu" Mark berlalu mendahului Gavin.



"Dan kau sendiri" tanya Gavin. Mark menghentikan langkahnya tanpa membalikkan tubuhnya.



"Jika Naiyra mencintaiku, aku akan melakukan apapun untuk segera menjadikannya milikku" kali ini Mark melangkah kembali menuju ruang tamu.



Jawaban menohok dari Mark membangkitkan sesuatu dalan jiwa Gavin. Ia tak rela bila akhirnya harus melihat Naiyra bersama pria lain. Selama ini dia yang selalu memperhatikan Naiyra dari kejauhan. Tidak ada satu orangpun yang lebih tahu mengenai Naiyra lebih dari dirinya. Bahkan Gavin merasa ia lebih mengenal Naiyra lebih dari Naiyra mengenal dirinya sendiri. Kekurangannya hanya satu. Ia tak pernah menampakan segalanya pada Naiyra. Dirinya, perhatiannya, cintanya, dan segalanya yang dapat ia lakukan untuk Naiyra.



Dan Gavin menyesali itu.



Menyesal karena ia terlambat menunjukan itu semua pada Naiyra. Ia terlalu pengecut untuk menunjukannya pada Naiyra. Rasa takut akan penolakan Naiyra menjadi penyebab utama.



Tapi lihatlah saat ini. Bahkan ia merasa sudah ditolak sebelum ia bisa membuat Naiyra menyadari segalanya.



Bibir Gavin membentuk satu lengkungan kecil. Tersenyum sinis kepada dirinya sendiri. Merutuki kebodohannya sendiri.



'mengapa penyesalan selalu saja datang terlambat' batinnya bermonolog.




🥀🥀🥀


Bersambung,,,

__ADS_1



__ADS_2