I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Kembalinya nama baik


__ADS_3

Sekumpulan mahasiswa tampak berorasi di depan kantor pusat Universitas Royal. Di dalamnya sudah terdapat beberapa dosen, dekan dan ketua yayasan yang berperan diri dalam kampus tersebut. Mereka membahas masalah issue yang saat ini tengah hangat menjadi pembicaraan publik. Aksi mereka di picu lantaran salah satu mahasiswa yang berpotensi mencoreng nama baik kampus Royal di mata publik maupun Dunia.


Naiyra sendiri saat ini tengah berada satu ruangan dengan orang-orang dalam kantor pusat. Bak tengah menjalani sidang, Naiyra di interogasi dengan serentetan pertanyaan. Tak lupa, suasana di dalam kantor pun, direkam yang terhubung pada layar yang sudah terpasang di setiap sudut kampus. Hal ini guna memudahkan para mahasiswa lainnya yang ingin mengetahui duduk kebenarannya seperti apa. Tak hanya itu, rekaman itu sengaja di buat dan disiarkan dalam lingkungan kampus guna menghindari orasi anarkis dari para mahasiswa yang geram akan pemberitaan tersebut.


"Maaf sekali saudari Naiyra, banyak sekali mahasiswa yang menggugat, meminta saudari Naiyra untuk di keluarkan dari kampus Royal seiring maraknya pemberitaan yang beredar luas dalam lingkungan kampus maupun masyarakat luar." Ucap Dekan membuka suaranya.


Naiyra memandang orang yang berbicara kepadanya. Ada rasa takut yang menyelimuti tubuhnya, namun saat ini rasa itu harus ia singkirkan, toh Naiyra memang merasa tidak bersalah disini. Karena memang demikian kenyataannya.


"Issue itu bahkan melibatkan salah satu mahasiswa terbaik yang dimiliki kampus Royal kita ini" wakil Dekan menimpali.


"Silahkan Nak Naiyra memberikan penjelasan dan melakukan pembelaan" ucap salah satu dosen penengah.


Untuk sesaat Naiyra diam, ia menghirup dalam nafasnya sebelum mengeluarkan suaranya.


"Hanya tiga poin yang akan saya utarakan disini. Poin pertama, berita itu ada karena saya pernah di culik lalu di jual kesebuah rumah bordir. Dan dari sanalah mengapa ada situs itu. Poin kedua, saya bisa membuktikan jika saya bukan seperti yang mereka sangka dan pikirkan, dan poin terakhir, seseorang yang digosipkan bersama dengan saya saat ini, orang itu tidak bersalah sama sekali."


"Kapan kejadian itu terjadi"


"Tiga bulan yang lalu" jawab Naiyra.


Tok..tok..tok..


Pintu di ketuk, membuat semua yang berada dalam ruangan tersebut menjeda. Pintu di buka, dan yang muncul di luar adalah Gavin. Ia membawa serta para wartawan televisi dan itu membuat semua yang ada dalam ruangan tersebut cukup terkejut. Dengan penuh percaya diri ia berjalan masuk. Menghadap para petinggi kampus yang ada di hadapan Naiyra.


Gavin membungkuk. Memberikan salam hormatnya.


"Ijinkan saya bersaksi. Saya punya bukti yang akan membuktikan bahwa Naiyra bukan seperti yang diberitakan. Dan masih ada bukti lainnya jika apa yang saya berikan di rasa kurang akurat sebagai bukti." Gavin menyebarkan beberapa bukti terkait, kemudian ia menarik satu kursi lipat yang ada disudut ruangan kemudian duduk bersebelahan dengan Naiyra.


"Bisa tunjukan kepada kami?" Sahut dekan.


Alvin mendekat, ia membawa sebuah map coklat dam memberikannya pada Dekan dan ketua yayasan.


Mao coklat tersebut di buka, di baca, diteliti kemudian di gilir bergantian pada dekan dan para dosen yang hadir.


"Apa anda yakin bahwa bukti ini sangat akurat?" Tanya Dekan.


"Tentu saja, semua pelaku sudah di penjarakan. Dan saya adalah satu-satunya saksi yang juga menyelamatkan Naiyra waktu itu dari kasus penculikan dan penganiayaan tersebut" jelas Gavin.


Tampak ketua yayasan, dosen dan dekan berbisik satu sama lain.

__ADS_1


"Dan tujuan saya disini adalah meluruskan kesalahpahaman yang terjadi dan membebaskan Naiyra dari segala tuduhan yang ada serta membersihkan nama baiknya. Untuk itu saya sengaja membawa banyak teman media untuk mengobati rasa haus masyarakat akan kebenaran yang ada." Tegas Gavin. Naiyra terus memandangi Gavin dari arah samping dalam diam. Memperhatikan ketegasan pria disampingnya. Lagi-lagi ia yang menjadi penyelamatnya.


Bukti di terima. Gavin berhasil memenuhi janjinya pada Aland. Ia berhasil membersihkan nama baik Naiyra di mata masyarakat luas.


Usai sidang dadakan tersebut, mereka yang berorasi mulai membubarkan dirinya, banyak pula yang meminta maaf kepada Naiyra karena mereka telah salah menilai dan tidak mencari tahu kebenarannya. Naiyra dengan lapang dada menerima permintaan maaf mereka. Kemudian Gavin mengantar Naiyra pulang.


"Terima kasih, Vin. Lagi-lagi kamu yang udah nyelametin aku" ucap Naiyra begitu sampai di depan kediaman Stevano. Mata Gavin dan Naiyra beralih pada pintu yang terbuka. Aland dan Widya muncul dari balik pintu. Mereka tersenyum bahagia.


"Kau menepati janjimu, anak muda" ucap Aland mendekat. Widya memeluk Naiyra penuh haru.


"Terima kasih nak Gavin. Kau telah mengembalikan nama baik Naiyra di mata publik"


Gavin tersenyum, memejamkan matanya sejenak dan mengangguk. "Saya hanya berusaha menyampaikan kebenarannya"


"Mari masuk, kita makan siang bersama."


Setelah itu, usai makan siang bersama Naiyra mengajak Gavin naik ke atas rooftop. Ia ingin Menghirup udara bebas sebanyak-banyaknya disana. Lebih tepatnya udara kebebasanya dari sekian rasa sesak yang membelenggunya. Gavin mengikuti apa yang Naiyra lakukan. Setelah itu duduk di kursi kayu panjang.


"Apa udara itu rasanya enak sampai-sampai kau hirup sebanyak itu?" Tanya Gavin. Naiyra terkekeh.


Naiyra menghembuskan nafasnya perlahan. Menoleh kearah Gavin dan tersenyum. "Tentu saja"


"Membuat ku iri saja" ucap Gavin dengan suara sangat pelan


"Tidak,,,aku bilang, air di kolam ini sepertinya segar. Biasanya rooftop hanya ada banyak bunga tapi disini malah ada kolam renang". Ucap Gavin.


Ide jahil muncul di kepala Naiyra. Ia mendorong Gavin yang duduk di ujung kursinya. Dan,,,,


Gjebur....


Gavin tersungkur kedalam kolam. Naiyra tertawa sejadi-jadinya. Gavin menghangat melihat pemandangan dihadapannya. Itu tawa pertama Naiyra yang begitu lepas.


Gavin mengulurkan satu tangannya pada Naiyra. Meminta bantuan untuk ia naik keatas kolam, padahal tangga kolam tak jauh dari tempatnya berada. Naiyra menaikkan satu alisnya. 'dia pasti ingin menyeretku' ucap Naiyra dalam hati. Naiyra memeletkan lidahnya pada Gavin. Meledek. "Ogah". Gavin tak kehabisan ide. Ia lantas berteriak...."AWAS NAIYRA.. !!!! ADA ULAR"


Naiyra menjerit histeris. Ia berteriak sambil melompat kedalam kolam. Gavin sukses membuat Naiyra terkena karmanya sendiri. Kini giliran Gavin terbahak. Cukup lama. Membuat Naiyra cemberut karena sadar telah dikerjai Gavin. "Keterlaluan" marah Naiyra. Ia menyeka air yang membasahi wajahnya. Melihat Gavin masih menertawainya, Ia menciptakan air kolam pada Gavin. Gavin membalas. Hingga mereka saling serang sambil tertawa. Dari ambang pintu Mark memperhatikan keduanya. Nampaknya ia harus merelakan Naiyra pada pilihannya sendiri. Mark berbalik. Menutup kembali pintu penghubung dan meninggalkan keduanya.


"Sudah,,,hentikan. Aku menyerah" ucap Naiyra mengangkat kedua tangannya.


"Ayo naik. Kau bisa masuk angin nanti".

__ADS_1


Gavin berjalan perlahan dalam air menuju tangga stainless. Tapi langkahnya terhenti saat Naiyra mencekal lengannya. Gavin menoleh "ada apa, heum???"


Netra coklat Gavin di pandang lekat oleh Naiyra. Cukup lama. Sampai akhirnya Gavin bergerak mendekati naiyra karena merasa khawatir. "Heyy...katakan saja. Apakah ada hal yang serius?!"


Naiyra mengangguk "ada" . Gavin memegang kedua bahu Naiyra. Terlihat khawatir. Melihat itu, Naiyra cekikikan.


Gavin memicingkan matanya. Yang dikhawatirkan justru kini menertawainya.


"Bukan apa-apa. . Oh. Astaga...wajahmu lucu sekali" Naiyra tertawa. Ia berjalan melewati Gavin. Saat Naiyra berada dua langkah di belakang Gavin, kini giliran Gavin mencekal lengan Naiyra. "Heum...kau ingin melakukan hal yang sama, Gavin."


Hal yang tidak Naiyra duga. Gavin justru memeluk tubuh Naiyra dari belakang. "Gavin...". Gavin semakin mengeratkan pelukannya saat Naiyra berusaha meregangkannya. "Biarkan seperti ini. Sebentar saja, Naiyra"


Naiyra membatu. Antara ingin terlepas dan berbalik memeluknya, namun Gavin menahannya. Entah berapa lama. Yang pasti jantung Naiyra seakan bermaraton ria. "Vin..." Gavin tidak bergeming. Ia seolah ingin menunjukan betapa ia sangat mencintai Naiyra dari pelukannya. Betapa ia ingin Naiyra bisa merasakan segala ketulusannya.


Setelah lima belas menit, Gavin meregangkan pelukannya "ayo naik. Ganti pakaian mu" Naiyra mengangguk. "Tapi,,bagaimana dengan mu? Bajumu juga basah". Gavin tersenyum hangat "apa kau menghawatirkan aku?"


"Tentu saja aku menghawatirkan mu. Jika sesuatu terjadi dengan mu, bagaimana dengan ku. Upps!!" Naira kebablasan. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Apa kau bilang, coba ulangi??" Pinta Gavin. Naiyra merutuki dirinya sendiri. Terutama mulutnya. Bisa-bisanya ia tidak bisa mengontrol ucapannya sendiri. Bagaimana bisa rasa khawatirnya malah membeberkan hal yang tida ingin ia ungkapkan. Namun Naiyra tidak menggubris Gavin, ia terus melangkah. Menghindar. Meninggalkan Gavin sendiri dengan segala prasangka bahagianya.


Akibat terlalu lama bermain air, sepanjang perjalanan kembali kedalam kamarnya, Naiyra tak berhenti bersin. Ia bahkan tidak menyadari jika ia baru saja melewati Aland dan Mark yang tengah berbincang di ruang tamu. "Sayang,,,kau kena Flu" ucap Aland.


Naiyra menoleh pada sumber suara "Oh..maafkan aku, aku tidak melihat Daddy dan Mark." Jawab Naiyra.


"Mandilah dengan air hangat. Dadd akan mengambilkan mu obat" Naiyra mengangguk. Aland pergi mengambilkan obat untuk Naiyra. Tak lama Aland berpapasan dengan Gavin dengan bajunya yang juga basah kuyup.


"Om.."


"Rupanya kau yang membuat putriku terkena flu" mimik wajah Gavin berubah khawatir. Pasalnya Belum ada tiga puluh menit sejak Naiyra naik kepermukaan, ia sudah terserang flu. Gavin menjadi bersalah. Jika ia tidak lama menahan Naiyra, tentu semua itu tidak akan terjadi.


Aland merogoh ponsel di saku celananya. "Dalam waktu 10enit, Bawakan satu stel pakaian dengan ukuran sama seperti Mark termasuk dengan pakaian dalamnya.". Telepon di tutup. "Mandilah. Baju gantimu akan kau dapatkan 10 menit lagi. Kau bisa menggunakan kamar tamu itu" tunjuk Aland pada pintu berwarna putih tulang.


"Terima kasih, om. Aku akan menemui Naiyra setelah aku berbenah diri"


dan benar saja. begitu Gavin selesai membersihkan dirinya, ia melihat satu stel pakaian terlipat rapi di atas tempat tidur. celana panjang dengan warna navy dipadukan dengan kemeja denim bercorak papan catur, bisa dibayangkan itu akan membuat penampilannya terlihat sangat..keren. Namun ada yang janggal. Saat ia melihat ada lipatan kain warna kuning di samping di atas lipatan pakaian tersebut. Gavin mengambilnya. Matanya membulat sempurna saat ia tahu bahwa itu adalah celana dalam. berwarna kuning dengan gambar tokoh kartun Spongebob. Gavin tidak percaya ini.


yang benar saja...


apa ia harus memakai itu???


Dan sialannya Gavin tidak mempunyai pilihan lain selain---memakainya. Karena hanya itu satu-satunya pakaian dalam yang tersedia. tidak mungkin bukan, bila ia memakai celana dalam yang basah. Ia bisa demam nantinya. Gavin terpaksa memakainya untuk menghindari resiko itu.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Bersambung,,,


__ADS_2