
Adijaya Narendra yang sedang menerima dua Orang tamu penting mendadak terkejut dengan kedatangan para anggota KPK. Ia segera bangkit dari duduk dengan wajah panik luar biasa. Di hadapannya, tepatnya di atas meja tempat mereka berbincang masih ada surat perjanjian dan amplop coklat berisikan sejumlah uang tunai. Wajah yang penuh dengan keterkejutan silih berganti memandang orang-orang di sekitarnya. Begitu juga dengan dua tamu penting tersebut.
"selamat siang pak, saya Sony Sanjaya, Kami memiliki surat resmi untuk mengaudit kantor anda. Saya mohon kerja sama anda. Tolong tinggalkan ruangan ini dan biarkan kami melaksanakan tugas kami sebagai dewan pemberantasan korupsi" Ucap seorang pria dengan setelan hitam yang sialnya terlihat gagah di hadapan orang-orang yang berwajah panik nan pucat.
Beberapa orang kemudian masuk tanpa menunggu komando dan menghampiri Adijaya beserta rekannya. Diambilnya sebuah dokumen yang di bungkus dengan map berwarna merah tersebut dan sebuah amplop coklat dengan ketebalan isinya.
"Tunggu dulu, mengapa tidak ada surat pemberitahuan resmi terkait audit ini" Tutur Adijaya dengan suara bergetar.
Pria bernama Sony tersebut tidak menghiraukan suara Adijaya dan terus membaca dokumen pertama yang mereka temukan. Dua orang lainnya masih sibuk memeriksa dokumen-dokumen penting lainnya.
Dan setelah beberapa jam berlangsung, suasana yang semual hening di kesibukan ruangan, salah satu dari 3 petugas itu mengeluarkan suaranya.
"Anda kami tahan". Pandangan Adijaya terpusat pada suara pria bernama Sony Sanjaya.
Raut pucat pasi dan kening yang mulai di penuhi keringat menatap getar pada ketiga petugas audit.
Dengan mata melebar Adijaya memusatkan pandanganya pada Sony. "dengan ini anda di tahan untuk melakukan pemeriksaan karena telah terbukti mencoba melakukan korupsi dan penyalahgunaan wewenang atas jabatan yang anda miliki. Anda juga telah terbukti tertangkap tangan karena melakukan kegiatan Ilegal"
Dengan mata membelalak tajam, Adijaya menatap pandang pada Sony dengan penuh Geraman. Tangannya sudah di apit oleh dua orang bertubuh kekar beserta kedua tamu pentingnya. Adijaya tidak bisa berkelit saat dirinya tertangkap tangan sedang menerima suap dan di tambah dengan bukti-bukti atas kasus korupsi.
berita penangkapan tentang Adijaya seketika menjadi viral di semua media sosial maupun media cetak. Namanya bahkan menjadi trending topik nomer satu di aplikasi bernama Tweeter dan pencarian Google. Dengan cepat juga pemerintah bahkan sudah menyita semua aset berharga milik Adijaya terkecuali milik pribadi Gavin Yang di atas namakan Nama Ibunya, Camilla Louise Narendra sebagai owner atas beberapa Restro dan Hotel Luxury.
Camilla terus menghubungi nomer Gavin melalui telepon celluler-nya. Namun tetap tidak jawaban. Sambil terisak kala melihat beberapa orang membawa keluar barang mewah yang ada di dalam rumahnya.
🥀🥀🥀
Gavin menarik paksa lengan kiri Naira yang sudah mencapai pintu hotel. Tubuh Naiyra terseret hingga beberapa centimeter dari hadapan Gavin. Gavin menyeringai melihat keterkejutan di wajah Naiyra. Dengan langkah perlahan Gavine mendekati Naiyra yang juga mundur secara perlahan guna menghindari Gavin yang semakin bergerak mendekat kearahnya.
"V--Vin..." Ucap Naiyra terbata. matanya memandang mata Gavin dengan penuh tanda tanda dan ketakutan saat dilihatnya Gavin juga tersenyum menyeringai ke arahnya.
"yaa, Honey " terdengar syahdu namun.....Naiyra sendiri tidak bisa menjelaskan bagaimana ia merasakan nada balasan dari ucapannya kala ia memanggil dengan panggilan sayangnya kepada Naiyra. Tubuhnya seketika merinding.
"Relax Honey ,, malam ini akan menjadi malam kita". Gavin menyeringai kala melihat mata Naiyra di penuhi kilatan banyaknya pertanyaan. Juga binar ketakutan dari kedua matanya kala menatap tak percaya pada Gavin.
"Enggak Vin !! Aku mau pulang,,,Tolong Vin, jangan halangi aku" Air mata ketakutan turun begitu saya dari mata Naiyra. Seolah ia dapet membaca jalan ke jadian dari binar tajam di mata Gavin.
"come on honey....Aku bisa membayar lebih dari yang papa kasih buat kamu. Sini....ikut aku" Gavin menarik Naiyra dan mendudukkannya di sofa. Nairya menggeleng. Firasatnya mengatakan hal ini bukanlah sesuatu yang baik.
Gavin membuka Almari kecil tak jauh dari ranjang king size-nya. Ia mengeluarkan sebuah koper hitam. Di bukanya...dan..banyak sekali uang di dalamnya.
"Lihatlah Honey...aku mampu memberikan lebih dari papa. Berapa yang kamu mau...
1 miliyar, 2 Miliar...berapa hah"
Naiyra membuang wajahnya. Apa yang Gavin perbuat saat ini menguatkan dugaannya tentang sesuatu yang tidak baik. Harga dirinya kembali tersakiti untuk kesekian kalinya. Hatinya terluka, amat sangat. Satu-satunya pria yang Ia harapkan sebagai sandaran, nyatanya kini sudah menganggapnya laksana seorang...Jalang.
Naiyra memejamkan matanya merasakan sakit di relung hatinya. Derap langkah Gavin yang terdengar perlahan semakin membuatnya ingin segera keluar dari sangkar emas yang ia masuki beberapa menit yang lalu.
__ADS_1
Ya lord...rasanya begitu sesak.
"Ohh...Jangan menangis, Baby" Gavin membungkukkan separuh tubuhnya, melihat air mata mulai menetes di pipi cantik Naiyra, mensejajarkan pandangannya pada wajah naiyra yang terduduk sambil merunduk. Di dorongnya tubuh Naiyra hingga ia terlentang di atas kasur. Naiyra berusaha bangkit untuk duduk. Namun Gavin terus menjatuhkannya kembali.
Gavin mengambil beberapa Gepok uang dan langsung menaburkannya di atas tubuh Naiyra. "Bagaimana, Baby..Apa ini masih kurang"
Naiyra mendorong kuat tubuh Gavin. "Tega kamu Vin" Bentak Naiyra.
"LEBIH TEGA SIAPA, HAH !! KAMU ATAU AKU !!!" Teriak Gavin.
"CUKUP, VIN"
plaaakk.
Satu tamparan mendarat di pipi Naiyra. Darah segar kembali keluar dari sudut bibirnya yang mungil. Naiyra berontak dan berusaha menghampiri pintu kamar hotel, tapi Gavin berhasil menyekap tubuhnya dan membawanya kembali keatas kasur dengan ukuran king size.
"Biarin aku pergi Vin, Ku mohon" pinta Naiyra.
"Kita bahkan belum memulai makan malam kita, Honey.. Apakah kamu tidak ingin makan sebelum acara yang sebenarnya kita mulai" Gavin menyeringai. Naiyra semakin di Landa ketakutan. Wajah Gavin saat ini, Naiyra amat sangat memahaminya.
Naiyra kembali berlari kearah pintu. Berusaha membuka pintu kamar hotel dengan sangat cepat. Dalam hati ia merutuki pintu yang sulit sekali terbuka. Sementara Gavin menyeret kursi meja makannya dan dengan senyum sinisnya, gavin tetap tenang yang saat ini menyantap hidangan di hadapannya.
Gavin mengelap mulutnya dengan serbet kemudian berdiri dan langkahnya mendekati Naiyra yang sedari tadi berisik menggedor pintu seraya berteriak minta tolong.
Ia menyeret Naiyra. Membanting tubuhnya dengan kasar keatas kasur. Lalu ia membuka satu persatu kancing kemejanya sambil terus menatap Naiyra. "Tidak perlu repot berteriak honey, kamar ini kedap suara. simpan saja suaramu untuk kegiatan kita nanti. Kamu bisa berteriak lebih kencang nanti"
"Bukti" seringai Gavin
"Buktinya aku melihat kalian dengan mata kepalaku sendiri. Sekarang aku mau kamu--Baby" Gavin tersenyum devil.
Dengan paksa Gavin merobek satu persatu pakaian yang Naiyra kenakan. Ucapan Naiyra bahkan tidak ia dengarkan sama sekali. Gavin seolah tuli dan di butakan oleh hawa nafsu.
Dengan beringas Gavin menciumi wajah Naiyra yang terus memberontak sekuat tenaga. Saat tangan Naiyra hendak meraih sebuah guci hias yang ada di Nakas, Gavin menghadang tangannya. mengunci kedua tangan Naiyra diatas kepalanya dengan satu tangannya. Sementara satu tangannya sibuk melepas pakaian terakhir yang Gavin kenakan.
"Kenapa Naiy...Kenapa !!!" Emosi Gavin. Naiyra terus saja memberontak. Masih berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman tangan Gavin untuk meraih apapun.
Lagi, Naiyra merasakan ketakutan dan kesakitan batinnya, hatinya. Tapi kali ini lebih dalam. Bahkan lautan pun masih kalah dalamnya dengan kedalaman luka yang Naiyra rasakan dan miliki saat ini.
"Kamu dengan begitu mudahnya memberikan tubuh kamu ke papaku. Padahal aku begitu menghormati kamu, menjaga kamu dan tubuhmu, menjaga kesucian cintaku padamu dan tidak ingin merusak mu. Tapi apa balasan kamu..APA, HAH !! Tidak ada gunanya lagi aku menahan diriku sekarang, Naiyra."
Naiyra terisak..tidak bisa lepas dari cengkeraman tubuh Gavin. Harga dirinya terluka parah. Jiwanya marah. Orang yang paling dia cintai tidak lagi percaya kepada dirinya. Naiyra pasrah. Diam. Tidak lagi melakukan perlawanan saat tenaganya mulai melemah. Memberi akses leluasa pada Gavin yang mulai menanggalkan bajunya satu persatu.
Gavin tersenyum Devil. Otaknya menjadi lebih kalap kala melihat tubuh mulus Naiyra tanpa noda. Tak mempedulikan Isak tangis Naiyra yang memohon belas kasih Gavin. Yang sialnya Gavin seperti orang tuli yang sama sekali tidak bisa mendengar.
Sekali lagi, Naiyra berusaha keras untuk keluar dari cengkeraman Davin. Ia menyundul bagian mata Davin dengan keningnya. Sakit memang, tapi ia tidak mempedulikannya.
"Akkhh .." Davin melonggarkan cengkeramannya. Dengan keras Naiyra mendorong tubuh Gavin hingga ia terjungkir ke lantai. Buru-buru Naiyra mengambil hiasan guci di nakas dan memukulkannya pada punggung Gavin hingga dia pingsan.
__ADS_1
Naiyra terisak luruh. Sungguh...Naiyra sangat hancur saat ini.
Tidak lagi membuang waktu, Naiyra bergegas membenarkan penampilannya. Mencari tas dan juga sepatunya. Kemudian menggeledah pakaian yang di tanggalkan Gavin di atas lantai untuk mencari kartu pintu kamar hotel saat ini.
Naiyra benar-benar hancur. Fisik dan hatinya. Ia bergegas keluar. Namun, ketika ia hendak membuka pintu, ia kembali menoleh. Menghampiri Gavin. Dan dengan terisak ia berkata "Kamu sudah benar-benar menghancurkan kepercayaanku padamu, Vin. Kamu bahkan menghancurkan harga diriku. Aku meninggalkan bukti ini agar kamu bisa membuka mata dan pikiran kamu atas kebenarannya. Selamat Tinggal, Gavin. Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita"
🥀🥀🥀
Henry Jayer Cros Parantoux sudah di tuangkan Erika kedalam gelas. Salah satu Wine termahal di dunia itu sengaja di persiapkan khusus oleh Erika. Justin yang sudah malang melintang di dunia mafia sangat tahu betul dengan Wine yang di produksi oleh Vosne Romanee Cros Parantoux, Wine ini juga merupakan wine salah satu yang paling terkenal di wilayah Asia.
Justin menerima gelas berisi Wine mahal yang di berikan Erika. Tanpa memperlambat waktu, Justin meminum semua wine tersebut dengan sekali tenggak.
"santai saja sayang..jangan terburu-buru" ucap Erika.
Tanpa menjawab, Justin berdiri dari duduknya. Merapikan jasnya dan mulai berjalan meninggalkan Erika. Sesuai dengan perjanjian awal. Hanya satu gelas dan pergi.
Erika segera mencekal lengan Justin. Mengulur waktu hingga obat perangsang yang ia campurkan kedalam wine bereaksi.
Justin berjalan menuju pintu dengan Erika mengikutinya dari belakang. Dengan sorot mata kemenangan dan senyum smirk yang ia tampilkan.
Justin melonggarkan ikat dasinya. Suhu tubuhnya mulai mengeluarkan hawa panas dan berkeringat. Ia menyadari efek yang ia rasakan pada tubuhnya. Memutar tubuhnya pada Erika dan dengan sigap tangannya mencengkram rahang Erika.
"Untuk siapa ?" Tanya Justin.
Erika mengerang sakit "Akh..apa maksud kamu Justin"
Justin mulai tidak bisa mengontrol dirinya. Pengaruh obat semakin lama membuat hasratnya semakin besar. Ia sadar membuang waktu dengan Erika saat ini hanya akan membuat ia semakin blingsatan.
"aaakkkhhhh !!!!" erang Justin. "Tunggu saja, aku akan buat perhitungan dengan kamu setelah ini" Justin berjalan sambil merogoh ponsel dari dalam sakunya dan menghubungi Alan.
Justin segera berlari ke arah dapur hotel. Mengabaikan para chef dan pegawai lainnya. Tangannya mulai menjatuhkan segala perabot saat Ia menuju lemari pendingin yang di lihatnya. Seorang chef bahkan menghampirinya dan melarangnya yang tiba-tiba datang mengacaukan keadaan dapur.
"Tuan. Apa yang anda lakukan. Tolong segera keluar dari sini. Ini bukan tempat anda" ucap chef tersebut. Justin mencengkeram baju chef tersebut "Cepat keluarkan semua es batu yang kalian miliki dan tuang semua kedalam bathub"
chef tersebut ketakutan kala Justin menodongkan pistolnya padanya. Dengan penuh ketakutan, chef dan beberapa pekerja yang melihat segera menuruti apa yang Justin perintahkan.
Setelah semuanya telah di persiapkan. Justin mengunci diri di dalam ruang mandi dan segera merendam dirinya dalam bathtub penuh dengan es dan mengisinya dengan air.
Di dalam dapur, seorang chef tadi segera membuat laporan pada manager hotel.
Justin terus merutuki kelalaian dirinya. Hatinya penuh di selimuti rasa sesal karena membiarkan Erika membawa dirinya. Bahkan di sisa kesadarannya dia masih memikirkan bagaimana keadaan Naiyra. Ia juga mengingat pesan Erina dan lagi-lagi merasa bersalah.
Dinginnya air es dalam bathtub perlahan membuat kesadaran Justin benar-benar menghilang. suhu tubuhnya mulai membeku. Justin mengalami hipotermia.
🥀🥀🥀
Bersambung...
__ADS_1