
Dan sialannya Gavin tidak mempunyai pilihan lain selain---memakainya. Karena hanya itu satu-satunya pakaian dalam yang tersedia. tidak mungkin bukan, bila ia memakai celana dalam yang basah. Ia bisa demam nantinya. Gavin terpaksa memakainya untuk menghindari resiko itu.
🥀🥀🥀
Gavin pergi ke kamar Naira. Melihat keadaannya setelah di beri tahu Aland. Tanpa mengetuk atau memencet bel kamar, Gavin menurunkan kenop pintu dan membukanya begitu saja. Kurang ajarnya ia memasuki kamar seorang gadis tanpa mengetuk pintu hingga hal yang baru saja terjadi mampu membuatnya merutuki dirinya sendiri yang sangat ceroboh.
Begitu pintu itu terbuka, pemandangan yang tak jauh dari hadapannya sungguh mampu membuat ia susah payah menelan salivanya sendiri. Naiyra yang melepas badthrob yang menutupi tubuhnya setelah mandi membuat Gavin dengan sangat jelas melihat Kulit mulus Naiyra yang hanya memakai bikini. Dan itu tanpa Naiyra sadari. Karena posisinya membelakangi Gavin. Gavin segera menutup pintunya kembali. Berdiri bersandar pada pintu dengan keterkejutan yang luar biasa. Jantungnya berirama keras. Tubuh polos Naiyra yang hanya mengenakan bikini senada berwarna merah tak juga hilang dari bayangannya.
Kurasa Gavin sudah sudah tidak bisa di selamatkan lagi.
Ia meluruh, duduk bersandar pada pintu kamar naiyra. Menyesali kelancangan dirinya yang sudah masuk begitu saja.
Naiyra sudah rapi dengan pakaian santainya. Kaos putih polos dengan celana jeans pendek yang memperlihatkan kaki jenjangnya. Ia mendekati nakas, mengambil teko kaca yang isinya sudah kosong. Namun begitu ia membuka pintu kamarnya, sebuah punggung terjungkir di kakinya. Naiyra terkejut. Ia bahkan hendak melayangkan teko kacanya. Namun saat melihat Gavin yang ada disana, ia mengurungkan niatnya.
"Ya, ampun Gavin....sedang apa kamu??? Apa kamu menguntit? Iyah???" Naiyra memegang satu pinggangnya.
Gavin menggeleng. Gelagapan saat akan menjawab Naiyra. "Eng..enggaaak...gak gitu, Naiy. Ak..aku td cuma pusing. Iyah, pusing, makanya aku bersandar duduk di depan pintu kamar kamu" Dusta Gavin.
"Serius !!!" Naiyra mensejajarkan dirinya dengan Gavin. Telapak tangannya terulur memeriksa keningnya. Lalu turun ke lehernya. Lagi, Gavin menelan salivanya kala melihat leher putih Naiyra. Naiyra bahkan menggulung rambutnya, hingga ia memperlihatkan lehernya yang terbuka lebar. Fokusnya hilang, terisi dengan bayangan tubuh Naiyra yang nyatanya memang sangat sangat--menggoda iman. Hanya pria tidak normal saja yang menampik pesona kemolekan tubuh Naiyra.
Gavin bangkit. "Aku gak apa-apa kok"
Naiyra ikut berdiri "Mau aku ambilkan obat??? Kamu masuk aja dulu kedalam. Aku ambilkan makanan dan obat buat kamu" ucap Naiyra.
Bak seperti bocah penurut, Gavin mengangguk patuh. Ia berjalan masuk kedalam kamar Naiyra. Menunggunya di sofa. Sementara Naiyra pergi ke dapur.
Naiyra bukan anak yang selalu mengandalkan para maid hanya untuk hal kecil seperti ini. Jika pekerjaan apapun masih sanggup ia lakukan, maka ia akan mengerjakannya sendiri. Kecuali para maid yang bersikeras melakukan semuanya.
Tak lama Naiyra datang dengan membawa nampan makanan dan juga beberapa obat. Teko kacanya ia tinggal bersama para maid. Naiyra duduk disebelah Gavin.
"Makan lah. Habiskan. Setelah itu, minum obatnya" titah Naiyra.
Sekali lagi Gavin hanya mengangguk tanpa segera mengambil piring makannya. Naiyra melirik Gavin yang hanya memandangi piring makannya. "Apa kenyang kalau cuma di lihatin aja" tanya Naiyra. "Jangan bilang mau di siapin??!!" Sambungnya.
Gavin kembali menggeleng. Jauh dalam lubuk hatinya ia tidak merasa keberatan jika hal itu terjadi. "Naiy.." Gavin menepuk tempat kosong disebelah sofanya. Meminta Naiyra duduk di sampingnya. Naiyra duduk. Gavin menyendokkan makannya lalu menyuapinya pada Naiyra. "Kamu yang lagi sakit, tapi kenapa kamu yang melayani aku"
"aaaa....."
"aku hanya terkena flu" namun Naiyra membuka tetap membuka mulutnya. Menerima suapan dari Gavin.
Rona merah di wajah Naiyra kentara saat Gavin menyuapkan sesendok makanan. Dan akhirnya mereka berdua makan dalam satu piring yang sama. "Ini obat kamu, minumlah" Naiyra mengambil obat yang sudah disiapkan sebelumnya. Bersamaan dengan itu, Aland masuk menghampiri keduanya. Ia memberikan obat pada Naiyra. "Dadd...aku tidak ingin munum obat jika itu dalam bentuk kapsul" tawar Naiyra.
__ADS_1
"Loh !!! Kenapa??" Tanya Gavin. Ia baru tahu jika Naiyra Paling tidak suka dengan obat dalam bentuk kapsul.
"Kau bisa mengeluarkan isinya lalu meminumnya dengan bantuan sendok dan membuang kapsulnya." Aland memberi saran.
"Serahkan padaku om, akan aku pastikan dia meminum obat itu" Naiyra memandang seram pada Gavin. Ia menggeleng "aku gak mau"
"Baiklah. Ku serahkan anak manja ini padamu"
"Dadd...aku bukan anak manja"
"Kalau begitu minumlah."
"Ya Tuhan...." Keluh Naiyra. Ia memutar kedua bola matanya.
Gavin menyunggingkan senyumnya melihat keduanya. Mereka seperti bukan ayah dan anak angkat. Tidak akan ada yang menyangka bahwa mereka tidak memiliki pertalian darah.
Tanpa mereka sadari, Widya melihat keduanya dengan senyum bahagia. Melihat putrinya sudah bisa dekat kembali dengan lawan jenis membuat kecamasannya sirna. Bisa Widya lihat, betapa Naiyra juga mencintai Gavin. Ia hanya belum menyadari perasaannya sendiri.
"Momm.." panggil Naiyra begitu ia melihat Widya diambang pintu.
Widya menghampiri ketiganya. "Sepertinya momm akan segera memiliki menantu" goda Widya. Naiyra membulatkan matanya "bukan begitu momm..."
"Apa anda merestui, Tante" sambar Gavin penuh dengan harapan.
"Gaviinn....mommy...." Erang Naiyra. Tapi nadanya terdengar manja. Gavin mengabaikan. Posisinya kini mendekat pada Widya. Mencium telapak tangannya sambil mengucapkan "terimakasih Tante..". Naiyra tertunduk menyembunyikan wajahnya karena malu.
"Jaga putriku dengan baik. Jangan membuatnya menangis apa lagi terluka" Widya memberikan petuahnya.
"Honey...ayo kita keluar. Kau juga harus beristirahat" ajak Aland. Widya mengangguk. Bersama dengan Aland meninggalkan kamar tidur Naiyra.
Sementara Gavin, ia sudah membuka semua obat Naiyra satu persatu.
"Ini..kau juga harus minum obatmu"
"Tapi Vin...."rengek Naiyra. Gavin memberikan tatapan tajamnya. Naiyra tak bisa berkutik. Ia mengambil 3 obat berbentuk tablet dan meminumnya sekaligus. Ia tetap menyisakan satu obat berbentuk kapsul.
"Kenapa kau tidak bisa meminum ini. Ini obat yang paling mudah untuk ditelan, Naiyra" tanya Gavin.
"Aku akan memuntahkannya jika meminum itu...satu kapsul pernah menempel di tenggorokanku. Dan itu membuatku memuntahkan seluruh isi di perut ku" Naiyra menjelaskan.
"Sini mendekat" titah Gavin. Naiyra menggeleng. Bisa Naiyra bayangkan dalam benaknya, Gavin akan memaksanya meminum Kaspul itu. "Pokoknya aku tidak ingin meminum obat itu. Walaupun kapsulnya sudah dibuang. Isi kapsul itu justru lebih pahit rasanya "
__ADS_1
"Aku tahu cara paling ampuh untuk membantumu meminum ini". Naiyra tetap menolak. Hingga akhirnya Gavin berinisiatif mendekat pada Naiyra. Naiyra menggeser duduknya. Gavin merapat. Kemudian Naiyra menggeser lagi duduknya. Gavin kembali merapat. Terus berulang hingga Naiyra buntu di tepi sofa.
Gavin memasukan obat itu kedalam mulutnya dihadapan Naiyra. Naiyra melongo. Heran dengan kelakuan Gavin. Itukah cara paling efektif meminum obat kapsul seperti yang ia katakan tadi. Masih dalam keadaan bengong dengan mulut menganga, Gavin menarik tengkuk Naiyra. Terlambat bagi Naiyra untuk menghindar. Gavin sukses mendaratkan bibirnya pada bibir Naiyra. Memasukan obat itu kedalam mulut Naiyra melalui ciumannya. Dan benar saja cara itu sangat efektif. Obat itu lolos begitu saja melewati tenggorokannya bersamaan dengan Saliva yang Naiyra telan. Gavin tidak memikirkan reaksi apa yang nanti akan dia terima. Ia sadar, bisa saja ia akan di benci Naiyra setelah ini. Tapi ia tidak mengenyahkan pikiran itu saat ini. Yang terpenting baginya saat ini, Naiyra bisa meminum semua obatnya.
Naiyra sadar apa yang Gavin lakukan. Ia memukul dada bidang Gavin. Gavin melepaskan ciumannya. Memejamkan kedua matanya dalam, siap menerima tamparan Naiyra. Saat ia rasa tak menerima imbasnya, ia membuka satu matanya. Mengintip apa yang Naiyra hendak lakukan. Gavin terkejut. Ia malah melihat Naiyra yang sudah berderai air mata.
"Maafkan aku, Naiyra. Bukan aku ingin mengambil kesempatan...aku hanya..hanya..ingin agar kau bisa menelannya"
"Huaaa.......kau jahat" Naiyra menangis sejadinya.
"Pukul saja aku, Naiy..aku akan diam menerimanya".
"Sudah jangan menangis lagi. Aku melakukan itu demi kamu, Naiy"
Gavin merengkuh Naiyra dalam pelukannya. Menenangkan tangisnya. Berharap ia bisa meredakan Isak tangisnya. Bukan menghindar atau berontak. Naiyra justru balas memeluknya. Hal yang tidak Gavin duga sama sekali.
Tangis Naiyra mereda. Gavin melonggarkan pelukannya. Menghapus sisa air mata di pipinya "kau jelek sekali"
Naiyra terkekeh "tapi kau suka".
"Ya, sangat". Naiyra tersipu. Menolehkan wajahnya. Menyembunyikan rona merahnya dari pandangan Gavin.
Jari Gavin memegang dagu Naiyra. Menolehkan wajahnya agar matanya bertatapan dengan mata Gavin. "Aku sangat mencintai kamu Naiyra"
Gavin mendekatkan wajahnya pada wajah Naiyra. Semakin mendekat hingga tak ada jarak yang tersisa. Kembali menempelkan bibirnya pada bibir ranum Naiyra. Mencumbunya. Naiyra tidak membalas. Ia hanya diam saat bibir Gavin mencumbunya penuh kelembutan. Gavin menghentikan cumbuannya. Lalu menempelkan kening dan hidungnya pada wajah Naiyra. Naiyra memegang tangan Gavin yang masih memegang kepalanya. Perasaan Gavin semakin tersulut. Naiyra seperti memberi tanda bahwa ia merasakan hal yang Gavin rasakan.
Lagi. Gavin kembali menyatukan bibir mereka. Melumatnya dengan lembut. Kali ini Naiyra membalas ciumannya. Tangannya bahkan sudah melingkar di lehernya. Gavin tersenyum dalam ciumannya, ia berkata "be mine, Naiyra William Stevano??". Naiyra mengangguk. Mereka kembali berciuman. Kali ini lebih dalam. Gavin bahkan menggigit bibir bawah Naiyra agar ia membuka mulutnya lebih lebar. Lidah Gavin berhasil menerobos masuk kedalam mulut naiyra. memainkan lidahnya. Membuat ciuman mereka menjadi ciuman panas. Mereka Hanyut dalam perasaannya masing-masing. cukup lama.
Naiyra mendorong-dorong kedua bahu Gavin. Memintanya menghentikan kegiatan mereka karena Naiyra mulai kehabisan nafasnya. Gavin menghentikannya. Tersenyum sembari mengelap bibir Naiyra yang basah akibat penyatuan Saliva mereka.
"Kau sepertinya sudah menjadi master dalam urusan berciuman" sindir Naiyra. Ia masih menghirup oksigen dalam-dalam.
Gavin hanya tersenyum senang mendengarnya. Tidak membantah atau membenarkan perkataan Naiyra. akhirnya... perasaanya terbalaskan. Kini Naiyra adalah miliknya. Ia tak akan melepaskan Naiyra dan tidak akan membiarkan siapapun mengambil apa yang sudah menjadi miliknya. Ia akan menjaga Naiyra seperti yang Widya pinta.
"thanks, babe..I love you so much" Gavin menciumi seluruh wajah Naiyra.
Naiyra terkekeh "love you too...Gavin."
Berkat Mark. Naiyra bisa menyadari perasaannya pada Gavin. Ia akan menjalani hubungan ini sebaik-baiknya.
'thanks Mark. and sorry' ucap Naiyra dalam hati.
__ADS_1
🥀🥀🥀
Bersambung,,,