
Gavin tidak langsung menjawab. Ia mendekati Naiyra yang sedang menggerakkan jarinya, meraba segala properti yang terdapat dalam apartemen Gavin. "ehh !!" Nairha terkejut saat dua tangan melingkar erat di perutnya. Dipundaknya sudah ada kepala Gavin yang bersandar. "Naiyra. Ayo, kita menikah secepatnya"
🥀🥀🥀
#Naiyra_pof
Aku membatu beberapa saat kala mendengar perkataan Gavin. Ajakannya yang mendadak membuatku tak bisa memberikan jawaban pasti. Segala yang terjadi saat ini saja belum menemukan titik terang, lantas bagaimana bisa dia mengucapkan kalimat istimewa itu disaat kondisi ini belum bisa dikatakan lega.
Aku membalikan tubuh menghadap Gavin. Kepalaku mendongak menatap netra matanya yang jernih. Dari sorot matanya aku bisa melihat, betapa ia mengharapkan jawaban atas kalimat manisnya tadi. Ya lord....betapa aku ingin menjawabnya 'ya, aku mau', tapi aku tidak bisa mengatakan itu saat ini.
"Kita akan menikah jika sudah mengantungi restu ayahmu, Vin" Aku memeluk tubuhnya saat tahu ia akan berkomentar.
"Aku sudah mengantungi restu Daddy dan Mommy mu" ucapnya. Aku mengurai pelukan ku. Tersenyum kala menatapnya "tapi papamu belum"
"Bisakah kita melakukan segalanya tanpa campur tangan papah ku"
Aku ternganga mendengar kalimat yang ia ucapkan. Bagaimana bisa ia mengabaikan orang yang selama hidupnya hingga detik ini selalu merawatnya dengan kasih. Tidak kah ia berfikir, jika sampai hal itu terjadi hanya akan menambah kebencian keluarganya terhadapku. Aku akan dituding sebagai penyebab segala kekacauan yang ada.
Plak!!!
Karena merasa gemas, aku jadi memukul lengannya yang kekar. "aduh.." Gavin merintih. mengelus lengannya perlahan. Padahal aku tahu, pukulan ku tidak berarti apa-apa pada lengannya yang kekar.
"Harus atau tidak sama sekali" Aku memang harus memberikannya ultimatum. Ia mendesah pasrah. Membuang nafas beratnya. Bahunya bahkan sudah ia turunkan. Ia memeluk ku lemas dan berkata "Baiklah. Everything you want, my princess. As you wish" setelah itu Gavin memeluk ku dengan sangat erat. Aku hanya membalas tak kalah erat dari pelukannya. Menyalurkan rasa semangat agar ia bisa meluluhkan hati Adijaya Narendra.
"berjanjilah. Jangan lagi menghindar dan menjauh. Aku akan sangat kacau kalau kamu melakukan itu lagi" sambungnya. Aku mengangguk menjawabnya. Bisa aku rasakan Gavin tengah tersenyum.
Aku meregangkan pelukan kami "Ayo...kita urus diri kamu dulu. kamu kelihatan berantakan banget". Menggiringnya duduk di sofa sementara aku berjalan menuju kotak obat yang tertempel didinding. "kamu cari apa??" tanya Gavin.
"Aku cari alat cukur, Daddy biasanya taruh di lemari obat kalau di rumah" jawab ku. Gavin berjalan mendekat. meraih tanganku. mengajak ku berjalan ke satu ruangan yang ternyata itu adalah kamar mandi. "heeyy..heyy...aku ingin kau mencukur bulu halus di rahang mu, bukan ingin memandikan mu". Aku diserang panik mendadak. Apa-apaan dia, menarik ku begitu saja kedalam kamar mandi. Disaat hanya ada kami dalam apartemen ini.
"Tenanglah sayang...aku tidak akan memakan mu. Ini, kau mencari ini, bukan??" Gavin menunjukan alat cukurnya kepadaku. Apa yang aku pikirkan tadi, Aku berfikir terlalu jauh yang akhirnya membuat wajah ku memerah karena menahan rasa malu. Dan Gavin...Sialnya menertawakan ku. "Aku tahu apa yang ada dalam kepalamu, sayang.." Gavin mendekat. Aku mundur beberapa langkah hingga pingangku membentur wastafel. Gavin memajukan tubuhnya. Aku memundurkan tubuhku yang terpojok "mau apa kau???" Aku sudah gelagapan. Ia berhasil Mengurung tubuhku dengan kedua tangannya. Matanya menatapku dalam. Menggoda penuh dengan senyum smirknya yang sialannya sangat menawan.
Gerakan tangan Gavin sangat cepat saat ia berhasil menyeret pinggangku hingga tubuh kami menempel. "Aku tidak keberatan melakukan apa yang tadi kau pikirkan, sayang...kau tahu, itu akan lebih mudah untuk kita segera menikah" Sungguh. sempat-sempatnya ia menggodaku seperti ini. Aku sungguh gemas di buatnya. Tampaknya aku harus memberinya pelajaran.
Ku balas tatapan dalamnya dengan tatapan memujaku. Aku tersenyum penuh sensual kepadanya. Aku mendorong dada bidangnya hingga aku bisa berdiri tegak. Setelah itu, aku menggerakkan jemariku yang lentik menyusuri dada bidangnya. Aku lihat ia menaikan satu alisnya. Aku menegakkan tubuhku hingga jarak antara kami amat sangat dekat. Dan saat itulah aku injak kakinya sekeras mungkin hingga ia spontan memundurkan tubuhnya beberapa langkah dari hadapan ku. Aku tersenyum jahat melihatnya berjinjit menahan sakit. "Kau curang.. Akan ku balas kau". Gerutunya.
Tadi itu nyaris saja...
Aku memeletkan lidahku. meledeknya sambil berlalu meninggalkan kamar mandi. Tak lama ia mengejar ku. Aku berlari mengelilingi apartemen Gavin. Menghindarinya yang akan balas dendam kepadaku.
🥀🥀🥀
"sayang, Apa yang sedang kau pikirkan, heum..?" Tanya Aland. Saat ini sudah ada Mike dan Regina di ruang tamu kediaman Stevano.
"Naiyra".
Regina menaruh cangkir teh diatas meja. "Dia sudah semakin dewasa, Widya. Biarkan dia menyelesaikan masalahnya kali ini"
"Tapi kali ini ada Adijaya Narendra" Widya tampak memperlihatkan kecemasannya.
Aland dan Mike saling pandang. "aku akui, Narendra itu memang keras kepala. Aku jadi ingin mengujinya dengan batu kali. lebih kuat mana??"
Widya tertawa mendengar lelucon Mike, begitupun dengan Regina.
"sepertinya kita memang harus mencobanya" timpal Aland.
"By the way...aku akan ke Argentina untuk beberapa Minggu. Aku mengantar Regina berpamitan pada mu" ucap Mike. Widya memandang sendu Regina.
"mendadak sekali..." wajah Widya sudah berubah memelas. Menampakan raut sedihnya.
"Ada hal apa hingga kalian harus pergi kesana?? Tidak bisakah di selesaikan disini" keluh Widya. Mike sudah melirik pada Aland. Indonesia bukan kapasitas Mike untuk menetap. Ia harus memantau semua pergerakan anak buahnya di berbagai negara.
__ADS_1
"Kami akan berada Disana selama dua Minggu lalu kembali kesini lagi selama dua Minggu hingga kami kembali ke Amerika" ucap Regina.
🥀🥀🥀
#Naiyra_pof
"nona..." ucap Justin. Gavin mengantar ku sampai lobi karena aku menolak untuk diantarkan pulang olehnya. Tapi sebelum Justin beralih pada kemudi, aku melihat Gavin menarik Justin beberapa meter dari mobilku. Entah apa yang Gavin bicarakan pada Justin. Justin nampak waspada dibuatnya.
"apa yang kalian bicarakan jus.." tanyaku saat Justin sudah duduk dikemudinya.
"hanya masalah pria, nona" aku melihat Justin yang melirik ku dari kaca tengah. Aku tahu Justin menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku juga tak mungkin memaksanya memberitahu jika ia sendiri tak berniat memberitahu.
"Bagaimana dengan Errina? Apa kau mengantarnya pulang?" Aku hampir saja lupa pada sahabat somplak ku yang satu itu.
"Maaf nona, saya tidak menemukannya"
Aku merogoh ponselku dalam tas. Mendial nomer Errin dan menghubunginya via video. Satu panggilan ku tak dijawabnya. Aku tahu dia tengah merajuk kepadaku saat ini. Aku kembali mencoba menghubunginya.
"Rin...Hallo..."
"Hallo, selamat sore, Apa anda keluarga dari pasien pemilik ponsel ini" Aku melihat seorang wanita berbaju putih yang menerima panggilanku.
"anda siapa?? saya temannya"
"Kami dari rumah sakit Sari Insani, Nona ini mengalami kecelakaan dan saat ini masih terbaring karena mengalami cidera di kepalanya" Aku terkejut mendengar kabar yang baru saja aku terima. Tanpa banyak bicara Justin memutar arah menuju rumah sakit yang di maksud tadi.
"Kami akan segera kesana".
Sungguh, aku tak menyangka akan menjadi seperti ini keadaanya. jika aku tahu akan begini jadinya, aku tidak akan meninggalkannya.
"Apa yang kamu lakukan Justin..aku memintamu untuk menemaninya. Tapi apa yang kau lakukan, Hah??? Jika sesuatu terjadi kepadanya, aku tidak akan memaafkan mu Justin". Aku sungguh panik. Pikiran ku tertutup oleh rasa cemas berlebih. Membayangkan Errina terkapar tak berdaya dan belum sadarkan diri.
"percepat lajunya Justin..kenapa kau lelet sekali" Aku kesal. Tapi aku juga bisa melihat tangan Justin bergetar saat memegangi kemudi. Ya Tuhan..Aku kini aku tahu Justin pun memiliki kecemasan yang sama sepertiku dan aku malah menyalahkannya.
Ponselku berbunyi. Nama Gavin tertera di layar ponselku. Buru-buru aku menerima panggilan dari Gavin.
"Vin.." Tangisku sudah tak terbendung. Gavin terdengar panik kala mengetahui aku menangis.
"Naiy... kamu kenapa??" tanya Gavin diseberang telepon.
"Errina Vin...Errina."
"Kita sudah sampai nona" Justin membukakan pintu mobil untuk ku. Aku segera keruang informasi untuk mengetahui keberadaan Errina di rumah sakit ini. Aku bahkan mengabaikan panggilan dari Gavin yang saat ini masih tersambung. Setelah aku mengetahui di kamar mana Errina di rawat, aku segera menuju kesana dengan Justin yang juga mengikuti langkahku.
"Rin..." Aku mengelus pucuk kepalanya yang di berban. Aku lihat Errin menggeliat. Lalu perlahan membuka matanya hingga ia benar-benar tersadar. Aku memencet tombol biru yang ada di samping ranjang tidurnya. Dan tak lama dokter dan dua perawat sudah berada disini. Aku membiarkan dokter memeriksa Errina dengan teliti.
"Apa anda keluarganya??" tanya sang donter kepadaku.
"Saya temannya dok."
"tidak ada yang perlu di khawatirkan dari pasien. Ia hanya mengalami cidera di keningnya karena posisi jatuhnya yang membentur benda keras hingga mengalami kebocoran. Dan ia harus menerima 8 jahitan."
"Tapi kenapa ia bisa pingsan, dok"
"pasien hanya tidak tahan melihat darah."
Sungguh...aku baru tahu tentang yang satu ini. Antara ingin tertawa mendengarnya dan juga miris. Seorang Errina yang memiliki perangai unik, takut akan darah. bukan kah itu sungguh menggelikan.
"Ia sudah bisa pulang besok pagi"
"terima kasih dokter."
__ADS_1
Aku duduk di kursi dan Justin berdiri di belakang ku.
"kenapa bisa begini sih, Rin.." keluh ku pada Errina yang masih memegangi keningnya yang di perban.
"permisi..."
Aku, Justin dan Errina menoleh pada sumber suara. Seorang wanita muda yang cantik datang masuki kamar inap Errin. Wanita itu terlihat sangat berkelas dengan semua merek ternama yang di kenakannya. Ku lihat tatapannya terpaku pada Justin yang berada tak jauh dari ku. 'apa orang ini mengenal Justin'.
Langkahnya yang begitu anggun mulai mengikis jarak diantara kami. "Maaf kan saya...Saya yang membuat kamu terbaring disini". Aku langsung saja berdiri dari duduk ku. Saat aku akan memaki gadis di hadapan ku ini, tangan Errina meraih pergelangan lengan ku. Memberikan isyarat agar aku tak melakukan umpatan ku. Sesekali gadis ini selalu saja melirik ke arah Justin yang membuat dugaan ku semakin kuat bahwa mereka saling mengenal satu sama lain.
"Tidak apa, saya juga sudah naikkan. Dan besok pagi sudah bisa pulang. Terima kasih karena sudah membawa saya kesini"
"sekali kali saya benar-benar minta maaf. Saya mengemudi dalam keadaan mengantuk dan tidak sengaja menabrak anda" ucap gadis cantik ini.
Aku sudah tak tahan ingin menggerutu. Kelalaiannya saat berkemudi jelas membahayakan nyawa seseorang. "Heii nona, harusnya kau lebih berhati-hati. Kau nyaris saja menghilangkan nyawa seseorang karena kelalaian mu itu".
Ditengah perdebatan kami, Notifikasi datri ponsel Justin memecah suasana diantara kami. Justin menghindar untuk menerima panggilan dari seseorang. Aku melirik Handphone ku saat tersadar aku mengabaikan Gavin yang menghubungiku tadi. Rupanya ponselku sudah tidak tersambung dengan Gavin. Mendengar Errina tak sadarkan diri membuatku melupakan dirinya.
"Nona...Tuan Gavin akan segera sampai disini" Justin bicara saat memasuki ruang inap kembali. Aku mengangguk paham.
Lagi, aku dapat melihat tatapan gadis cantik ini terarah pada Justin.
"Maaf, saya lupa memperkenalkan diri saya, Saya Errika. Errika Simphony." Gadis bernama Errika itu memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan. Senyumnya bahkan terlihat lebih mempercantik wajah cantiknya.
"Aku Errina Paris, panggil saja Errin atau Errina. Dan ini, sahabatku, Naiyra. Dan dia Justin." Errin memperkenalkan kami satu persatu.
"hmm...boleh aku bicara sebentar dengan Justin" Benar saja. Mereka saling mengenal. Aku dan Errina saling melempar pandang. Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, aku dan Errina mengangguk, mengiakan.
Aku memperhatikan raut Errina yang masih menatap kepergian keduanya dari dalam kamar inap ini. Ia bahkan tidak menyadari perhatian ku yang masih memandangnya lekat. "kenapa??" . Errin tampak terkejut dengan pertanyaannya.
"apa??" tanyanya balik.
"Errin...." Gavin masuk dengan langkahnya yang cepat. Ia bahkan sudah memeriksa keadaan Errina dengan tangannya yang kekar. Tubuh Errina Seperi di bolak balik oleh Gavin yang memeriksanya. "STOOOOOP!!!!"
"Apa-apaan sih lu....bisa gak sih niih tangan diem. Geratakin badan gue Mulu. Luau nambahin perban di tubuh gue, Iyah!!" Errina kesal. Bibirnya sudah ia kerucutkan.
"Ya gue khawatirlah sama sepupu gue semata wayang ini. Bentar lagi orang tua ku bakal Dateng. Tadi gue udah hubungin keduannya" Errina terlihat murung saat Gavin membicarakan kedua orang tuannya.
Entah apa yang salah. Aku juga baru menyadari Bahwa selama bersahabat dengan Errin ia tak pernah memperkenalkan aku pada sosok kedua orang tuanya. Bahkan membicarakan pun tidak.
"Mereka gak akan Dateng, Vin..." Erin tersenyum. Tapi dapat aku rasakan jika itu adalah senyum kepedihan.
Apakah hubungannya dengan orang tuanya tidak baik???
ingin sekali aku mempertanyakan itu. Tapi dirasa dari situasi saat ini, aku tahu Errina tidak ingin membicarakan perihal orang tuanya.
Suasana menjadi hening bahkan saat Justin kembali memasuki kamar inap ini.
"nona, maaf menyela. Nona di haruskan pulang sesegera mungkin" Justin menginterupsi kesunyian kini.
aku lantas bertanya "ada apa Justin??"
"Anda sudah ditunggu tuan Mike dan nyonya Regina."
Tidak biasanya dua sejoli itu menunggu ku di rumah. Pasti akan ada hal penting yang akan di sampaikan kepadaku. Sebaiknya memang aku harus segera pulang. Tapi bagaimana dengan Errina. Dia membutuhkan ku saat ini.
"Pergilah Naiy...Ada Gavin disini." Ucap Errina seolah mengerti kecemasan ku saat ini. Aku tersenyum dan mengangguk "Okey...besok pagi gue Dateng lagi."
🥀🥀🥀
Bersambung...
__ADS_1