I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
pengakuan


__ADS_3

"tolong...." Teriak Naiyra terus menerus. Berharap seseorang datang menyelamatkannya dari ketiga bandit yang kini tengah mengikis jarak diantara mereka. Sementara terus memandang Naiyra dengan kilatan memuja penuh nafsu.


dan dua diantara mereka kini sudah memegangi kedua tangan Naiyra yang kini sudah merasa kelelahan karena stamina tubuhnya yang tak sekuat ketiga pria disekelilingnya.


Dengan tawa penuh kemenangan, satu pria dihadapan Naiyra sudah merobek baju depan Naiyra. Naiyra tak mampu berontak. Ia terus menggeleng, memohon, berharap agar ketiganya bermurah hati melepaskan belenggu mereka. Namun ketiganya seakan tuli dan tidak memperdulikan.


Naiyra hanya bisa pasrah. Kini Ia menggantungkan segala hidupnya pada Tuhan.


Ditengah keputus asaannya, pintu ruangan itu terdobrak dengan sekali hentakan. Naiyra dan ketiganya beralih pandang pada arah pintu kayu yang memang sudah sangat rapuh. Disanalah muncul sosok Justin dengan kilatan amarahnya. Ia berjalan cepat kearah tiga pria yang sudah berani kurang ajar pada nona mudanya.


Bugh..bugh..bugh!!!


Justin menghajar mereka dengan sangat cepat tanpa memberikan mereka kesempatan untuk melawan. Bagi Justin, mereka bukan lah tandingannya. Disaat Justin menghajar satu pria yang hampir saja memperkosa Naiyra, seseorang memukulnya dari arah samping kanannya menggunakan sebuah balok panjang.



Akibanya, Justin memiliki luka yang cukup serius di keningnya. Darah bahkan tak berhenti mengalir dari keningnya. Justin membalas orang itu tak kalah bengis. Hingga ketiga itu kini terkapar tak berdaya.


"Sudah Justin" Halau Naiyra. Ia melihat ngeri hasil perbuatan Justin pada ketiga pria tersebut. Ini pertama kalinya Naiyra melihat Justin yang brutal. Pantas saja ia bisa menjadi seorang bodyguard kepercayaan daddynya.


Justin melepas blezer yang ia kenakan. Memberikannya pada Naiyra.


"Apa anda terluka, nona?" tanya Justin saat Naiyra sudah memakai blazer yang Justin berikan.


masih dengan isakan tangisnya, Naiyra menggeleng "tidak Justin. Dan terima kasih"


🥀🥀🥀


Aland memasuki sebuah rumah dengan gaya klasik yang kental. Seorang pelayan menghampirinya dan mempersilahkannya untuk duduk. Tak lama, seorang yang ingin ditemui Aland muncul.


"Tuan, apa yang membuat anda datang kemari? Anda bisa memanggil saya kapanpun" ucap pria itu kala ia melihat Aland.


"Tidak boleh aku mengunjungimu kesini?" Alan melipat kaki kirinya diatas kaki kanannya.


"Tidak tuan, bukan seperti itu maksud saya"

__ADS_1


"apa ada hal yang sangat penting, tuan??" tanya orang itu


Aland tersenyum puas melihat wajah orang itu "Audit Seorang menteri bernama Adijaya Narendra. Aku ingin ia digulingkan dari kedudukannya saat ini juga"


orang itu tampak terkejut mendengar nama Adijaya Narendra keluar dari mulut Aland. Namun ia tak berani mempertanyakan atau menolak perintah Aland. Saat orang itu masih dengan keterkejutannya, Aland bangkit dari duduknya lalu meninggalkan kediaman yang bisa dibilang mewah itu.


🥀🥀🥀


sudah tiga hari berlalu sejak kesalahpahaman itu terjadi, membuat Gavin tak lepas dari klub malam dan alkohol. Errina bahkan sangat mencemaskannya. berkali-kali ia menerima telepon yang mengatakan bahwa Gavin dalam keadaan mabuk berat dan ia harus membawanya pulang. Atau ia menjemput Gavin di sebuah kamar hotel karena semua barang berharganya entah kemana menghilangnya.


Errina tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dua orang tersayangnya. Tak ada yang bisa dimintai penjelasan dari Naiyra maupun Gavin. Dan itu membuatnya merasa prustasi dibuatnya. Gavin yang menjadi pemabuk berat dan urakan. Naiyra yang sudah seperti mayat hidup dilihatnya selama tiga hari ini.


Seperti saat ini. Dihadapannya sudah ada Gavin yang tak sadarkan diri. Jam tangan, Dompet dan ponselnya entah dimana rimbanya. Hingga ia harus melunasi segala tagihan atas nama Gavin. Bukan sekali dua kali Gavin melakukan hal demikian, pemilik club' disini bahkan sudah sangat hapal dengan Errina sebagai penanggung jawab atas segala kelakuan Gavin.


Errin menyewa dua pria bertubuh besar untuk mengangkat tubuh Gavin yang tak sadarkan diri. Ia membawa Gavin kekediaman pribadinya. Lalu meminta salah satu pelayan membawakan pakaian untuk Gavin dan obat penghilang rasa mabuk.


"aaakkhhhhh...Brengsek !!!" Umpat Gavin dengan matanya yang terpejam. Bisa Errin lihat ada air mata yang mengalir keluar walau dalam keadaan terpejam dan itu embuatnya semakin ingin tahu, apa yang sebenarnya tengah terjadi.


"Vin, Sadar Vin...Gavin" Errina terus berusaha menyadarkan Gavin.


sontak saja itu membuat Gavin menjadi gelagapan.


"Stop ,Rin, stop !!!" ucap Gavin.


Errin terus melakukan apa yang ia perbuat tanpa menghiraukan ocehan Gavin, Ia bahkan menuangkan satu botol shampo dikepala gavin "Gak akan, Sampai lu janji bakal cerita ada apa sebenernya dengan kalian berdua"


"Okey, fine. Gue bakal cerita. Tapi stoop!! lu bisa bikin mata gue buta". Melihat mata Gavin yang memerah karena banyak kemasukan shampo, akhirnya Errina menghentikan perbuatannya.


"Cepet mandi dan temui gue diruang tengah"


Errina berlalu begitu saja dari kamar mandi Gavin saat ini.


sudah 30 menit Errina menunggu Gavin di ruang tengah, namun belum ada tanda kemunculannya. Merasa kesal, Errina berniat menyusul, namun di urungkan karena Gavin sudah menunjukan batang hidungnya.


"jadi..." Errina bertanya mendahului. Gavin memejamkan matanya, meredam segala ingatannya akan kejadian yang dilihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Gue..gue.."


Brak!!!


Mendengar itu Errina jadi kesal. "Gue apa, Hah !! ngomong yang jelas, Cepetan!!!"


"Gue lihat Naiyra tidur dengan papah"


Gavin tertunduk. Menyembunyikan air matanya. Ingatannya akan kejadian yang lalu sungguh meninggalkan luka yang menganga di dalam hatinya. Andai ia tak melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri, ia tak akan mudah percaya. Menyaksikan dua orang yang paling disayanginya menjadi penghianat merupakan pukulan telak bagi dirinya.


Errina yang mendengar pengakuan yang keluar dari mulut Gavin, berhasil membuatnya merasa syok. Bagaiman tidak, Ia yakin bahwa Naiyra tidak mungkin melakukan hal rendah seperti itu.


"Engga, itu gak mungkin, Vin." elak Errina yang masih tak percaya.


"Gue lihat dengan mata kepala gue sendiri, Errina Parris....Naiyra bahkan gak mengenakan baju dan,,dan dia naked" Terlihat prustasi, Gavin menjambak rambutnya sendiri dengan kedua tangannya. Wanita yang selama ini ia anggap suci, yang selama ini ia jaga kehormatannya, yang ia bela dari keluarganya sendiri, nyatanya....


Oh tuhan...rasanya sungguh menyesakan.


🥀🥀🥀


sampai disini aja dulu...


jujur, lagi kesel sama manga.


semua draft yang ada, pada kehapus.


baik untuk novel ini maupun dua novel aku yang lain. Gak tau kenapa manga jadi error' di hape aku...


😭😭😭


cerita yang susah payah aku pikir, aku tulis dan pas mau di publish, malah jadi hilang.


jangan bully aku yah reader...


aku kepaksa bikin ulang semua cerita yang gak ke'save.. dan itu lumayan banyak !!!

__ADS_1


__ADS_2