
Kabar terjalinnya hubungan Naiyra dengan Gavin rupanya diketahui oleh Adijaya Narendra. Ia merasa geram karena anak semata wayangnya itu mengabaikan peringatannya beberapa hari yang lalu. Walau kebenarannya sudah terungkap, ia tetap tidak menginginkan Gavin menjalin hubungan dengan seorang gadis yang pernah membuatnya terlibat skandal besar. Tidak menutup kemungkinan akan adanya skandal baru jika ia masih bersama dengan gadis yang menurutnya hanya akan membawa masalah.
Adijaya lalu menghubungi orang kepercayaannya. Memintanya untuk menyelidiki latar belakang keluarga Naiyra dan dari mana mereka berasal. Setelah itu ia menghubungi Gavin untuk segera menemuinya diruang kerjanya.
Tak butuh waktu lama, akhirnya Gavin datang. "Duduklah" titahnya pada Gavin.
"Ada apa pah?"
"Yakin, kamu gak tahu untuk apa papah panggil kamu kesini?"
"......" Gavin hanya diam. Ia sepenuhnya tahu. Hanya saja tidak ingin menanggapi hal yang sudah bisa dipastikan arah pembicaraannya.
"Putuskan hubungan kamu dengan wanita itu. Karena papah sudah menjodohkan kamu dengan anak kolega papah. Dia cantik, pintar, berpendidikan tinggi, anggun dan juga dari keluarga terpandang" raut datar ayahnya kentara jelas Dimata Gavin.
Gavin menarik nafasnya dalam sambil memejamkan matanya. Mendengar keputusan sepihak mengenai jalan hidupnya yang sudah diatur sempurna tanpa memandang pendapatnya apalagi perasaannya. Tidak bisa. Gavin merasa dirinya bukan robot yang segala sesuatunya bisa di sesuaikan atas kehendak sang pemilik. Ia memang milik ayahnya tapi ia makhluk berperasaan. Bukan robot apalagi boneka yang bisa diatur sesuka hatinya. Terlebih ini mengenai perasaan yang lebih lebih tidak bisa dipaksakan.
Tapi bagaimana caranya memberi pengertian pada pria baya dihadapannya ini????
"Sudahlah pah. Jangan memaksakan kehendak mu pada anak kita. Dia sudah besar" Camilla Louis Narendra, sang mamah datang di waktu yang tepat. Ia datang membawa nampan berisi minuman dan juga camilan. Meletakkannya diatas meja lalu duduk didekat Adijaya, suaminya.
Gavin tersenyum hangat kepada sang mama "thanks ma". Narendra melirik. Masih dengan wajah dinginnya. Tetap pada pemikirannya.
"Persiapkan dirimu untuk bulan depan. Awal bulan nanti, papah sudah menetapkan tanggal pertunangan mu dengan putri tunggal Carlo Avicenna, Monica Avicenna." Adijaya berlalu begitu saja tanpa menghiraukan panggilan anak dan istrinya. Sepertinya keputusannya memang sudah tidak bisa diganggu gugat lagi.
Gavin berjalan mondar mandir dalam tempat yang sama didalam kamar pribadinya. Ia tengah didera rasa pusing karena memikirkan jalan keluar agar terhindar dari keputusan ayahnya. Tak ingin berlarut dalam rasa penatnya, Gavin mengambil kunci mobil di atas nakas, dan melajukannya menuju kediaman Stevano.
"Hai...kenapa hanya menunggu di luar?" Tanya Naiyra menghampiri Gavin yang sudah berada di halaman rumah Aland.
"Hanya ingin mencari angin segar" senyum Gavin. Tangannya mengusap pipi Naiyra lembut. Naiyra meriah tangan Gavin dan menggenggamnya kemudian menuntunnya untuk duduk di salah satu kursi taman yang menghadap kolam ikan.
Gavin menyandarkan kepalanya di pundak Naiyra. Bisa Naiyra rasakan Gavin menghembuskan nafasnya seolah ia tengah menghadapi persoalan pelik. Naiyra menoleh, pipinya menempel pada kepala Gavin "ada apa, heum??"
Gavin menggenggam satu tangan Naiyra. Mencari kekuatan sekaligus ketenangan. Naiyra membalas genggaman tangan Gavin. Seolah mengerti apa yang Gavin butuhkan saat ini. Sebuah dukungan. Walaupun itu secara tidak langsung. "Bagaiman jika kita segera menikah"
Ya. Mungkin itu jalan terbaik yang terpikirkan oleh Gavin sebelum pertunangan paksa itu terlaksana. Andai saja ia bisa kabur melarikan diri. Sudah ia lakukan. Tapi tidak. Gavin mendekati Naiyra dengan cara yang baik, menjalin hubungan dengan cara yang baik maka bersatu pun harus dengan cara yang baik. Karena bagi Gavin Naiyra terlalu berharga untuk diperlakukan sekehendak hati.
"Menikah,,,???" Naiyra mengulang kata terakhir Gavin. Berharap pendengarannya salah. Namun tidak saat Gavin menganggukkan kepalanya dan berkata "ya".
"V-vin..kita masih kuliah, kita juga baru satu hari menjalin hubungan, kita--"
"Apa kau tidak yakin terhadapku, Naiy??" Sela Gavin saat Naiyra belum menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
"Bukan...bukan begitu. Hanya saja ini terlalu mendadak Vin." Sahut Naiyra.
"Apa yang harus aku lakukan??" Gumamnya. Sangat pelan, sampai Naiyra tidak jelas mendengarnya dan tidak berani bertanya.
🥀🥀🥀
Errin menangis tersedu. Berjalan menyusuri jalan yang cukup ramai orang berlalu lalang. Tak menghiraukan pasang mata yang memperhatikannya tengah menangis sambil berjalan seorang diri. Sakit hatinya terasa amat menusuk relung jiwanya. Menyaksikan sang pujaan hati tengah bergelut panas diatas ranjang king size dengan teman satu kampusnya. Sungguh siaran langsung yang membuat hatinya hancur berkeping-keping. Entah sejak kapan cintanya terkhianati. Semua nyaris sempurna tertutupi tanpa celah hingga akhirnya kenyataan itu sungguh nyata di depan mata kepalanya sendiri. Ia berlari keluar dari apartemen mewah yang selama satu tahun sudah menjadi rumah keduanya. Apartemen sang kekasih. Ralat--Mantan kekasihnya.
Sepanjang perjalanan pikirannya dipenuhi oleh bayangan seorang wanita yang tengah duduk mengangkang di atas tubuh kekasihnyanya. Naked, tanpa sehelai benangpun menempel ditubuhnya. Sekotak pizza yang Errin bawa jatuh begitu saja. Keduanya menoleh. Mata Fino membulat sempurna kala ia tak menyadari kehadiran Errina di apartemennya. Fino beranjak, mengabaikan teman bercintanya, mengejar Erina sambil terus meneriaki namanya. Errin terus berlari menuju lift, memencet tombol lift dengan terus menerus agar pintu lift segera tertutup. Sebelum pintu lift benar-benar tertutup Errin sempat melihat Fino muncul yang sudah mengenakan celana boxer. Berlari meraih pintu lift yang sebentar lagi akan tertutup. Fino melihat Errina yang sudah berderai penuh air mata sambil sesenggukan.
"Errina..." Teriak Fino. Namun terlambat. Pintu lift sudah tertutup. Errina duduk Lemas di pojokan lift. Ia memeluk kedua lututnya. Masih menangis sesenggukan. Ia bahkan beberapa kali membenturkan kepalanya pada badan besi. Perasaannya sungguh hancur, menyesakan.
Errina benar-benar tidak menyangka.
Taring !!!
Errina sudah tiba di lantai dasar. Langsung berlari begitu kakinya melangkah keluar dari dalan lift. Berlari sekuat tenaga. Menumpahkan segala rasa yang begitu membelenggunya. Fokusnya hilang. Ia berlari tanpa melihat arah jalan. Hingga sedan berwarna hitam nyaris saja menabrak tubuhnya.
"Aaaaaaaakk....." Errin berteriak. Kedua tangannya menutupi wajahnya yang silau terkena sorot lampu mobil. Ia selamat. Mobil itu berhenti tepat di samping tubuhnya yang sudah tengah berdiri gemetaran.
"Heii, Nona. Perhatikan jalan mu" seorang pria dengan postur tinggi dan gagah keluar dari dalam mobilnya. Tubuh Errin masih bergetar hebat. Sambil terbata ia berkata "ma--ma-maaf". Errina bahkan masih menyembunyikan wajahnya. Tak ingin orang lain melihatnya dalam keadaan yang sudah sangat terlihat berantakan.
Errin merunduk kan wajahnya "Titt tidak perlu. A,aku baik--baik saja. Errina terbata akibat suaranya yang sedari tadi sesunggukan dan rasa takut akibat nyaris tertabrak.
"Nona Errina Paris...". Errina mendongak kala namanya di sebut. "Ternyata benar" sambungnya.
"Keadaan mu sangat kacau, apa yang terjadi??" Namun bukannya menjawab, Errin malah semakin menangis kencang saat ia tahu orang yang akan menabraknya ini adalah Justin.
Tangis Errina yang sangat nyaring membuatnya menjadi tontonan orang yang berlalu lalang. Merasa diperhatikan oleh banyak orang, Justin lalu merangkul Errin untuk naik kedalam mobil yang ia kendarai. Ia memberikan sekotak tissue kepada Errina. Errina menerimanya. Justin segera melajukan mobilnya. Mencari tempat yang tidak terlalu ramai lalu menepi.
"Apa yang terjadi??" Tanya Justin kembali.
Suara tangis Errin sudah mereda, namun air matanya tak juga berhenti mengalir. Justin melihat Pandangan matanya kosong. Ia bahkan tak menjawab pertanyaan dari dirinya. Setelah dirasa lelah karena terlalu banyak menangis, Errina tertidur didalam mobil yang Justin kendarai.
Mendadak bingung. Justin tidak tahu kemana ia harus mengantar sahabat dari nona mudanya ini. Ia menghubungi Gavin melalui seluler, namun tidak ada jawaban. Ia juga menghubungi Naiyra, namun tidak aktif. Justin bingung harus menghubungi siapa lagi. Akhirnya mau tidak mau ia membawa Errina ke apartemen pribadinya.
Justin membaringkannya di kamar pribadinya. Karena hanya ada satu kamar di apartemen ini. Dalam satu Minggu Justin memang memiliki jatah libur satu hari secara rolling. Ia memandang prihatin keadaan Errin saat ini. Mata yang memerah dan bengkak akibat banyak menangis, wajah kucel, penampilan yang acak-acakan. Sungguh telah jauh dari kata elegan yang biasanya melekat erat dalam setiap penampilannya. Entah masalah apa yang tengah dihadapinya hingga berhasil membuatnya terlihat seperti ini.
"Dasar brengsek,,!!!" Maki Errin dalam tidurnya. Mendengat itu Justin berbalik. Rupanya ia tengah mengigau. Justin menghampirinya kembali. Duduk ditepian tempat tidur. Tangannya terulur mengelus puncak kepala Errin. Menenangkannya.
Nampaknya ia harus menunda kencan butanya malam ini. Tidak mungkin meninggalkan Errin sendiri dalam keadaanya yang seperti itu. Errina Paris adalah sahabat dari nona mudanya. Siapapun sahabat Naiyra, akan menjadi sahabatnya juga. Errina mengerang, ia terlihat gelisah dalam tidurnya.
__ADS_1
Derrrttt....derrrttt...
Ponsel Justin bergetar. Ia mengangkat sebuah panggilan masuk "halo"
"Aku sudah di dalam hotel" ucap lawan bicaranya diseberang telepon.
"Maaf. Aku membatalkan rencana kita. Kau bisa pergi dari sana. Aku tidak akan datang" seperti itulah Justin menjawab teman one night stand nya. Buru-buru ia mematikan teleponnya saat diliriknya Errin semakin gelisah. "Nona...nona Errin...bangunlah". Justin menepuk pipi Errin. Errina bangun dengan sangat terkejut. Tubuhnya yang semula tertidur begitu saja berubah menjadi duduk membentuk sudut sembilan puluh derajat. Napasnya tersengal menghirup banyak oksigen. Keringat sudah bercucuran di pelipis wajahnya. Errina bermimpi buruk.
"Apa kau butuh sesuatu??"
"Air,,,"sahut Errin. Justin menuangkan air yang ada di atas nakas kedalam gelas dan memberikannya pada Errin.
"Ini, minumlah". Kata Justin
Tunggu dulu !!.
Itu suara seorang pria. Melihat segala barang yang ada saat ini bukan miliknya, ia menoleh pada sumber suara. Dan rasa lega tercipta kala ia melihat supir sekaligus bodyguard dari sahabatnya. Ia mengingat kejadian terakhir saat ia akan ditabrak oleh sebuah mobil. Rupanya itu adalah Justin.
"Mengapa kau membawaku kemari, Justin" tanya Errin.
"Karena aku tidak tahu dimana rumahmu, dan aku tidak bisa menghubungi nona maupun sepupumu itu, Gavin. Aku tidak mungkin meninggalkan mu di hotel, maka dari itu aku membawa mu ke apartemen ku" ucap Justin menjelaskan. Ia melihat Errin yang menenggak langsung minumannya "Boleh aku bertanya?" Sambungnya. Errin mengangguk
"Apa yang terjadi hingga membuatmu seperti ini". Errin memejamkan matanya sejenak mengingat penghianatan yang sudah dilakukan Fino dengan teman satu kampusnya.
"Aku melihat Fino bercinta dengan teman satu kampusku"
"Fino...??" Ulang Justin.
"Kekasihku" sahut Errin. Justin mengangguk mengerti.
"Memang sakit jika bermain perasaan" ucap Justin.
"Apa maksudmu. Jelas saja begitu sakit karena aku sangat mencintainya" intonasi Errina meninggi satu oktaf.
"Tapi berselingkuh". Errina mengambil bantal di belakangnya lalu memukul Justin dengan bantal itu "kau menyebalkan justin". Pukul Naiyra, merasa kesal pada Justin yang bukannya menenangkan justru malah menambah rasa sakit hatinya. Errina terus memukuli Justin. Aksinya berhasil di hentikan kala Justin menangkap kedua tangannya yang melayang memegang bantal. Pandangan mereka terkunci satu sama lain beberapa detik sebelum akhirnya Errin berdehem mencairkan suasana. "Ekhem.."
"Aku perlu mandi" kata Errin.
"Kamar mandi ada di sebelah sana" Justin berdiri. Berjalan menuju lemari dan mengambil satu kaos kecil yang di rasa muat ditubuh Errin.
Errin berdiri di balik pintu, bersandar. Tatapannya saat bertemu dengan tatapan mata Justin sejenak mampu membuatnya melupakan kejadian menyakitkan beberapa waktu lalu.
__ADS_1