
"ALAND STEVANO" teriak Widya sekencang kencangnya hingga memekikkan telinga Alan yang mendengarnya.
🥀🥀🥀
Widya masing betah dengan mogok bicaranya pada Aland. pasca insiden saling mengerjai yang berujung dengan hasil yang di luar ekspektasi. Bagaimana tidak. Pasalnya ia hanya ingin membuat keadaan imbang dengan balas mengerjai istrinya seperti yang dilakukannya.
Namun, hanya ada dua pasal permanen bagi istrinya itu. pasal pertama, wanita selalu benar. Pasal kedua, jika wanita salah, kembali pada pasal kedua. ohh ayolah....bukan kah itu sangat tidak etis. Tapi itu berlaku. dan Widya masih belum bicara sejak dua hari yang lalu.
"mom,,,hentikan mogok bicaranya. apa mommy tau, Mommy terlihat seperti remaja labil" Widya segera menoleh pada putrinya saat fokus pada masakanannya ketika sedang makan malam.
"Apa kau sedang membelanya?" Widya memandang sinis pada Naiyra.
"tidak,,,,"
"Bagus. Kau harus berada di pihak mommy".
"Aku tidak mau" tolak Naiyra dengan sangat tegas. "Aku tidak akan berpihak pada siapapun. Justru aku akan ikut mogok bicara pada kalian berdua" sambung nya.
"Kenapa begitu?"
Dan Alan hanya menyimak pembicaraan Istri dan anaknya. Senyuman kecil terbentuk di wajahnya. Ini merupakan pertanda, bahwa keberuntungan akan berada dipihaknya.
"kenapa begitu,,,," Naiyra mengulang pertanyaan Widya "bukankah sudah jelas jawabannya. Aku pergi dulu".
Tanpa menghiraukan celotehan Widya, Naiyra terus berjalan keluar menuju parkiran. Tidak ada jadwal kuliah untuk hari ini. Ia hanya ingin mencari angin sebentar dengan pergi ke salah satu Mall.
Satu jam sudah Naiyra berada di pusat perbelanjaan tidak ada satu pun barang yang Naiyra beli. Pergi seorang diri seperti ini baginya tidak masalah.
Di kampus, sebenarnya ia sangat popoler. wajah cantiknya yang merupakan blasteran menjadi poin plus untuk menambah kecantikannya. Namun sayang, Ia tak banyak memiliki teman. Temannya satu satunya hanyalah Errin. Errina Paris.
Naiyra terus saja mengetuk jari jarinya di atas meja sebuah restoran. Ia begitu bosan menunggu sahabatnya sudah lebih dari 30 menit. 'ke mana sih Si bodoh itu, lama sekali' rutuk Naiyra dalam hati.
"Addduuuuhhh beb,,,,sorry..sorry jalanan macet. parah gila!!!!" Errin datang dengan ke-hebringannya.
Naiyra memutar bola matanya malas. 'Alasan itu lagi yang di pakai' batinnya. Padahal Naiyra tahu betul apa yang di lakukannya dengan Fino, kekasihnya itu.
"Alasan" sergah Naiyra.
Dan yang disindir hanya merespon dengan tawa garingnya. benar-benar,,,,
Naira berlalu pergi meninggalkan Errin yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi. Dan ketika dia sudah mencapai pintu keluar restoran, bahunya bertabrakan dengan bahu seorang perempuan.
"aduh,,," ucap perempuan tersebut.
"sorry" ucap Naiyra dan perempuan itu bebarengan. sementara Errin yang baru tiba menyusul Naira, melihat arah seseorang tengah mengamati Naiyra dari kejauhan.
'sepertinya orang itu tertarik pada Naira' batin Errin bicara.
"Kamu cantik sekali, baby" ucap perempuan itu.
perempuan yang jika dilihat nampak seumuran dengan Widya, langsung saja menggandeng tangan Naiyra untuk masuk kembali kedalam restoran yang tadi hendak ia tinggalkan.
"Maaf, Tante,,,kenapa Tante manarik saya masuk lagi kedalam" tanya Naira.
dan perempuan itu pun tersenyum lebar sembari mendudukkan Naiyra di kursi yang berada di sampingnya.
Tiba-tiba Errin muncul menyela pembicaraan mereka. "heh !!! kunyuk. masuk lagi gak bilang-bilang. gue kira ngilang kemana? tapi kok gue lihat di parkiran mobil lo masih ada"
Sadar tidak hanya ada Naira, Errin tersenyum kikuk kala melihat ada seseorang di samping Naira.
"kamu temannya gadis ini?? duduk lah" kata perempuan itu.
"iya, Tante. Terima kasih" Errin duduk di hadapan Naira hingga perempuan tersebut tepat berada di antara mereka berdua.
"maaf ya, Tante main asal tarik tangan kamu gitu aja" katanya. "Tante suka sama wajah kamu. wajah seperti kamu yang Tante cari"
Naira memandang bingung perempuan yang belum mengenalkan namanya tersebut.
"oh !! sampai lupa. kenalin, nama saya Merlyn" perempuan yang baru saja memperkenalkan dirinya mengulurkan tangannya sebagai tanda perkenalan.
"Naira, Tante. dan ini teman saya, Errin." Naira membalas uluran tangannya dan memperkenalkan Errin.
"kami permisi, Tante." buru-buru Naira menarik tangan Errin, mengajaknya keluar. Ada perasaan mengganjal yang di rasa Naira saat berkenalan dengan perempuan bernama Merlyn itu.
"Lu kenapa sih, kan orang itu yang narik tangan Lo, kenapa lu balesnya ke gue? tutur Naira.
"Gue gak nyaman Deket si Tante itu, makanya buru buru aja Lo keluar" jelas Naira.
"terik kita mau kemana??" Errin terlihat bete.
"Jalan aja dulu" Hah. jalan. seriously,,,,capek kali....
Lagi-lagi Errin hanya mengikuti kemauan tidak jelas Naira. Berjalan tanpa tujuan pasti adalah kebiasaan Naira saat dirinya tengah bosan.
Saat mereka hendak memasuki sebuah toko buku, bahu Naira di tepuk dari arah belakang. Naira menoleh, ternyata Ferro.
Errin ikut menolehkan kepalanya. Ingatannya akan pria di luar restoran tadi pun muncul kala ia melihatnya langsung saat ini.
"Lo yang tadi mengamati Naiyra di luar restoran Jepang tadi, kan" tunjuk Naira memotong ucapan Ferro yang akan menyapanya. Ferro tersenyum dan mengangguk, membenarkan perkataan Errin.
__ADS_1
"well.....bisa kasih aku nomor kontak kamu" Ferro memberikan ponselnya pada Naira.
Naira tersenyum dan menerima ponselnya. kemudian mengetikkan nomernya sendiri untuk di simpan dalam ponsel Ferro.
"ternyata pilihanku, gak salah. terbukti, kita bertemu lagi" Naira tersenyum mendengarnya.
"oh ya, kalian mau kemana" tanya Ferro.
"Ferr, temen aku, Errin." Naira memperkenalkan Errin.
"Ferro" "Errin" mereka saling berjabat tangan.
"kita mau pulang" jawab Naiyra kemudian.
"sayang sekali,,,aku justru baru sampai" keluh Ferro
Naira dan Errin kembali berjalan menuju mobil yang Naira bawa.
Ferro melihat punggung Naira yang mulai menjauh. Ia tersenyum licik mengingat semua rencananya yang berjalan baik sejauh ini. Targetnya kali ini ada Naira. Apa lagi tadi ia sempat melihat jika Naira sudah bertemu dengan 'mami'.
"Kamu pasti bisa aku dapatkan Naira" ucapnya pada dirinya sendiri.
Ferro kembali berjalan menuju restoran Jepang yang tadi di singgahi Naira dan Errin.
Ia mengedarkan arah pandang matanya pada para pengunjung yang sudah duduk pada tempatnya.mencari seseorang. Merasa sudah menemukan orang yang dia cari, dengan percaya dirinya ia menghampiri seorang perempuan paruh baya yang tadi bertabrakan dengan Naiyra.
"kamu terlambat 20 menit" ucap Marlyn.
Ferro melipat satu tangannya dan meletakan nya di atas meja. satu tangannya yang lain ia julurkan kearah Marlyn.
"Aku ada barang bagus buat, mami" tanpa menjawab Marlyn, Ferro mencoba bernegosiasi.
Marlyn menaikkan satu alisnya lalu tersenyum meremehkan "jangan coba-coba,,,,". peringatnya.
"well,,,mami sudah lihat sendiri barangnya. Dan aku rasa, mami suka" Ferro menempelkan punggungnya pada badan kursi.
"Naiyra Atau Errin" tanggap Marlyn. dan Ferro mengeluarkan senyum smirk nya dan menyebut nama Naiyra sebagai jawabannya. Marlyn tersenyum senang mendengarnya. "segera dapatkan dia. berikan padaku, dan hutang keluargamu ku anggap lunas. tak hanya itu, kau akan aku beri bonus."
Marlyn pergi meninggalkan Ferro seorang diri dengan segala pemikirannya. Namun sebelum rencananya benar benar ia jalankan, tidak ada salahnya bukan, bermain sebentar.
Apa lagi Naira dimatanya adalah gadis yang sangat cantik. parasnya yang blasteran, bibir mungilnya yang ranum, hidung mancung, leher jenjang dan tubuh yang,,,,bahkan membayangkannya saja sudah membuat gairahnya muncul.
sayang sekali ia harus menumbalkan buruannya kali ini. Jika tidak. Ia akan dengan senang hati menjadikan Naiyra hanya menjadi miliknya seorang.
🥀🥀🥀
Naira mengambil ponselnya yang terletak di atas nakan tempat tidurnya. Dilihatnya ada nomor tidak di kenal telah meneleponnya. nomer baru itu kembali menghubunginya untuk yang kedua kalinya. Jika saat dering pertama tadi Naiyra abaikan, tapi tidak kali ini. Ia merasa nomer baru ini akan terus menghubunginya sampai ia mau menerima panggilan teleponnya.
"hallo" sapa Naiyra saat sudah tersambung
"hai,," sapanya dari sebrang telepon.
"siapa" tanya Naiyra
"Ini aku Ferro." Naira hanya ber 'oh' ria menjawabnya.
Dan akhirnya mereka bicara panjang lebar saat di telepon.
usaha Ferro mendekati Naiyra sejauh ini bebas hambatan. Ia merasa tak lama lagi, ia bisa meluluhkan hati Naira. itu adalah langkah wajib bukan, jika ingin mendapatkan buruan seperti Naiyra.
tak lama setelah obrolan mereka di tepelon berakhir, pintu kamar Naiyra terbuka tanpa ada yang mengetuk. Dan muncul Aland berjalan mendekat. Ia duduk bersebelahan dengan Naiyra yang juga duduk di pinggir kasurnya
"ada apa dad??" tanya Naira begitu Alan duduk
"Daddy selalu teringat nama temanmu itu, sayang" ujar Aland.
Naiyra mengerutkan keningnya lalu bertanya "siapa"
"Wardana"
"Wardana,,," Naiyra mengulang ucapan Aland seraya berfikir. "Ferro Michael Wardana , maksud Daddy" tanyanya ketika mengingat nama lengkap Ferro. Alan mengangguk.
"jika bisa, jauhi dia. Daddy punya firasat buruk tentang dia" pinta Aland pada Naiyra.
Naiyra hanya mengangguk. ia tak berani bertanya lebih yang hanya akan menambah beban pikiran Aland.
"kosongkan acara mu pada hari Minggu ini" Aland mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"ada apa dad?? apa ada acara penting?" tanya Naiyra.
"teman Daddy baru saja tiba hari ini di Indonesia, Minggu ini Dady ingin menjamunya ke rumah kita" jelas Aland.
"baiklah" jawab Naiyra.
"Istirahat lah" Aland bangkit. berjalan beberapa langkah menuju pintu.
hingga ia bertemu dengan Widya saat berada di ambang pintu. "honey" sapa Aland.
__ADS_1
"Kau sudah mengatakannya pada Naiyra" tanya Widya, Aland mengangguk.
"masuklah" titah Aland. Aland memberi akses masuk pada Widya sementara ia akan kembali keruang kerjanya.
"apa yang kau lamunkan, sayang??"
"mom,,," Naiyra menepuk tempat yang tadi di duduki Aland. mengisyaratkan agar Widya duduk disebelahnya.
"ini pertama kalinya setelah setahun lebih aku menjadi bagian dari keluarga kalian, aku takut hanya akan mempermalukan kalian dihadapan mereka, mom." kepala Naiyra disandarkan pada bahu Widya.
"mommy tahu kamu anak yang bisa diandalkan, sayang" Widya menenangkan. "well,, mommy yakin kamu akan mudah bergaul dengan keluarga mereka." Naiyra mengeratkan peganga tangannya di lengan Widya "semoga saja,mom"
Hari Minggu yang sudah di nantikan tiba.
Saat ini Naiyra tengah membantu Widya menata meja makan yang akan di gunakan untuk menjamu satu keluarga yang sedang dalam perjalanan menuju kediaman mereka.
kabarnya Daddy meminta mereka untuk tinggal bersama selama mereka berada di Indonesia. Dua kamar tamu sudah di siapkan Serapi mungkin untuk di tempati.
Ting nong...Ting nong,,,
bel pintu sudah berbunyi. Widya mencegah satu maid yang hendak membukakan pintunya. Naiyra sudah sangat penasaran sekali dengan tamu yang akan datang kali ini. Nampaknya mereka keluarga yang sangat spesial Dimata mommy dan Daddy nya, terbukti dari segala persiapan yang sudah di lakukan.
Aland membuka pintu dan menyambut tamu agungnya.
Pria bule yang cukup terlihat tua berdiri merentangkan kedua tangannya. Alan menghambur memeluk rentangan tangannya. hal yang sama mommy lakukan pada istri dari sahabatnya. Sementara aku, hanya berdiam diri melihat interaksi mereka yang penuh dramatisir.
"Mike, ini putri kamu, Naiyra" pria baya bernama Mike itu tersenyum senang.
"so beautiful girl. terlihat bukan seperti gadis Indonesia asli" ujarnya. aku tersenyum kikuk.
siap saja yang melihatku pasti tahu bahwa aku memiliki keturunan bule. wajah ku yang blasteran, bahkan mendominasi. tak heran jika aku tak dianggap sebagai warga Indonesia. menyebalkan, bukan.
"dan ini" uncle Mike menggiring seorang pria untuk maju kehadapan kami. "Anak ku, Mark"
"senang bertemu dengan kalian semua" sapa Mark
"ayo kita masuk. seperti biasa, anggap rumah ini seperti rumah kalian sendiri" Ajak Widya.
satu persatu ritual menjamu mereka selesai dilaksanakan. dan saat ini mereka tengah berbincang hangat menceritakan cerita mereka masing masing. Semuanya terlihat sangat menikmati kebersamaan mereka.
Naiyra menaiki lift menuju roof top. cuaca malam ini terlihat sangat cerah. Rasanya Naiyra ingin sekali melihat bintang dari alam bebas. mencari dia bintang yang pangling bersinar, dan membayangkan bahwa itu adalah bintang dari kedua orang tuanya.
Ia pernah mendengar, jika seseorang yang sudah meninggal, maka ia akan menjelma sebagai bintang. Dan Naiyra meyakini hal itu untuk mengobati kerinduannya pada orang tua kandungnya.
Tanpa Naiyra sadari, seseorang tengah berdiri di pojok sudut tepian roof top. Naiyra tidak melihatnya, ia tak bergeming dari pembaringannya sebab matanya hanya berfokus memandangi kedua bintang yang menurutnya paling bersinar.
"what are you doing here" tanya Mark yang sudah ikut merebahkan tubuhnya pada kursi panjang. Naira terkejut. menoleh ke samping kirinya.
"nothing" jawabnya.
"and, Indonesian please" pinta Naiyra.
"okeyy,,,tidak masalah" jawab mark
"aku hanya sedang menikmati malam dan bintang bintang" sahut Naiyra.
"keberatan jika aku bergabung"?
"tidak masalah"
"thanks"
Dan mereka hanya saling diam, menikmati hembusan angin malam dengan memandang hamparan bintang. sangat indah. hingga tak sadar, Naira sudah larut dalam lelapnya.
Mark merasa tidak tega membangunkan Naiyra. ia memandang Naira lekat. cantik. kata itu yang ada dalam pikiran Mark saat memandangi wajah lelap Naira. Naluri Mark terpanggil. Tubuhnya refleks mendekat kearah Naiyra. hingga wajahnya kini tepat berada di hadapan wajah Naiyra. Semakin dekat, dekat, dekat lagi,,dan..ia tersadar kala hidungnya sudah menyentuh ujung hidung Naira.
Mark menjauhkan tubuhnya. masih memandang lekat Naiyra. Ia menyelipkan rambut yang menutupi wajah Naiyra ke belang telinganya. semakin terlihat jelas kecantikan wajah Naiyra.
Deg-deg,, deg-deg,
Jantung Mark berdetang kencang. Hal pertama hali yang ia alami sejauh dia dekat dengan seorang perempuan. Tak pernah ada satupun wanita yang membuat jantungnya berdetak cepat sekalipun itu kekasihnya atau para mantan kekasihnya.
Ia baru bertemu dengan Naiyra hari ini. Tapi hanya dalam waktu beberapa jam saja gadis ini mampu membuat jantungnya seakan bermasalah. Bahkan wajah Naira mendadak bermain dalam pikirannya sekalipun Naiyra saat ini ada di hadapannya.
'Aku tidak mungkin mengalami cinta pada pandangan pertama, bukan. Karena ini sudah kesekian kalinya aku melihatnya hingga hari ini' batin Mark bermonolog.
ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat Naiyra tertidur di alam terbuka saat ini dan melihatnya kedinginan, membuatnya tidak tega. Tapi dia masih ingin berada disini bersama gadis ini.
🥀🥀🥀
bersambung,,,
-------
maaf yah kalau banyak typo.
aku males koreksi sebenernya. keburu pegel duluan niih jari dan mata.
karena aku nulis up setiap ceritanya secara langsung saat tengah malem. jadi langsung kirim dan besoknya bisa kalian nikmati ceritanya.
__ADS_1