
Merlin terus saja memantau pergerakan Aland selama berada di Batam. Selama pria paruh baya itu masih berada di pulau ini, ia masih belum bisa memberikan job pada Naiyra. Padahal daftar antrian sudah sangat membludak untuk bisa menikmati kemolekan tubuh Naiyra.
Selama Merlyn memantau pergerakan Alan, Ia hanya bisa membuka layanan secara online. Menjejaki Naiyra pada pria hidung belang yang sanggup membayarnya berkali kali lipat dari wanita komersil lainnya.
Dan selama itu pula Naiyra harus selalu berjuang mempertahankan harga dirinya. Susah payah ia menjaga kehormatannya. Satu-satunya harga diri yang ia punya untuk ia berikan hanya pada suaminya kelak.
Sejauh ini Naiyra mampu menghalau mereka yang dengan paksa ingin merenggut kesuciannya. Merlyn sampai merasa sangat jengah dibuatnya. ada saja ulah Naiyra yang membuat pelanggannya merasa geram dan sangat kecewa. Bahkan hingga menuntut ganti rugi hingga tiga kali lipat. bagai mana Merlyn tidak merasa geram?!.
Merlyn menemui Naiyra di kamar khususnya dengan langkah tergesah dan penuh emosi. Di tariknya rambut panjang Naiyra saat sudah berada di hadapannya hingga ia menengadahkan kepalanya keatas "kau membuat pelanggan ku marah dan meminta ganti rugi tiga kali lipat dari harga yang dia bayar."
Naiyra hanya diam. Nafasnya memburu menahan rasa sesak dan juga kesal. 'Hah !!. Pelanggan,,,aku bukan sebuah toko' batin Naiyra.
"Aku lebih baik mati dari pada harus melakukannya" ucap Naiyra mantap. Matanya menatap Merlyn intens, serat akan kebencian. Tak ada rasa takut ataupun ragu dari raut wajahnya.
"ohh, begitu. baik !!. Akan aku kabulkan keinginanmu. Aku akan membuatmu mati secara perlahan jika kau masih terus memberontak." Merlyn mengambil sebuah cambuk dari tangan bodyguardnya. mencambuk Naiyra hingga seluruh badannya penuh dengan tanda cambuk.
Naiyra meringis. menahan sakit. teramat sangat sakit. Tapi ini lebih baik baginya di banding ia harus menyerahkan dirinya pada setiap lelaki yang sudah membayarnya pada Merlyn.
Setelah puas mencambuki Naiyra, Merlyn membiarkan Naiyra terkapar di lantai yang dingin. Baginya ini adalah hukuman untuk Naiyra yang terus saja membuat ulah pada para pelanggannya.
Apa kalian ingin tahu apa saja yang sudah di perbuat Naiyra pada para lelaki hidung belang itu??
Okeyy,,,akan aku beri tahu.
Sering kali Naiyra memukul kepala lelaki hidung belang itu dengan vas bunga atau lampu hias, hal paling ekstrem yang di perbuat Naiyra adalah dengan menusuk salah satu lelaki hidung belang itu dengan sebuah gunting yang ia temukan dalam laci meja hias yang ada di dalam kamar tersebut. Mereka semua bahkan pingsan sebelum bisa menyentuh Naiyra lebih jauh. Naiyra membuatnya benar-benar tidak bisa berkutik dengan keterbatasan yang dimilikinya.
Naiyra nyaris saja membunuh dirinya sendiri saat ia dipaksa melayani para pelanggan tetap Merlyn. Ia lelah. Ia pun menyadari, ada kalanya keberuntungan tak akan selalu berpihak kepadanya. Kapan saja ia bisa jatuh kedalam perangkap Merlyn yang membuatnya kehilangan satu satunya hal yang paling ia jaga selama ini.
Merlyn masih saja memajang foto Naiyra di situs pribadinya. Foto yang sudah di edit sedemikian sexy itu, di ubah nama dari 'Naiyra' menjadi 'Baby'. Dan daftar yang ingin menjejaki Naiyra tak sedikitpun berkurang. Apa lagi di situs itu tertulis jika Naira adalah seorang perawan.
Foto menggoda Naiyra terpampang jelas dalam situs online yang bersifat private. Hanya para pengusaha, petinggi negara, kalangan selebritas, dan para pesohor lainnya yang menjadi member dalam situs tersebut. Merlyn tidak asal mengkonfirmasi sembarang orang untuk menjadi member pada situs resmi pribadinya. Ia akan menyelidiki latar belakang, bibit, bebet dan bobot bagi siapa saja yang ingin menjadi member tetap di situsnya.
"Obati lukanya. Jangan sampai bekas cambukan ku berbekas di tubuh mulusnya. Karena semua tubuhnya merupakan aset berhargaku." Titah Merlyn pada salah satu pelayannya.
"Baik, madam" dua orang pelayan itupun membungkukkan badannya dan memasuki kamar khusus yang di tempati Naiyra.
🥀🥀🥀
"Errin. Gimana? Ada kabar mengenai Naiyra" tanya Gavin pada Errin. Suasana kampus menjadi heboh karena hilangnya Naiyra. Banyak rumor menyebutkan, jika Naiyra orang yang tidak tahu diri, pasalnya desas desus hilangnya Naiyra lantaran ia kabur dari rumah orang tua angkatnya yang begitu menyayanginya.
Gavin Narendra. Anak konglomerat sekaligus pejabat pemerintah yang diam-diam menyukai Naiyra. Ia selalu menanyakan apapun mengenai Naiyra pada sepupunya, Errin. Gavin tidak pernah sekalipun menanggapi rumor tersebut karena ia yakin bahwa Naiyra adalah gadis yang baik. Terlihat dari segala perilaku dan sifat Naiyra yang selama ini tak lepas dari perhatiannya.
Sama seperti Aland, ia juga mengerahkan seluruh anak buahnya untuk menyebar mencari Naiyra di seluruh Batam. Ia juga mengerahkan banyak sekali anak buahnya untuk berjaga di beberapa dermaga, pelabuhan dan juga bandara.
Alan mengetahui perihal Gavin. Ia membiarkan Gavin melakukan apapun selama itu untuk membantu mencari keberadaan Naiyra.
Gavin menemui Aland yang di ketahui berada di salah satu hotel bintang lima. Jangan di tanya bagaimana Gavin bisa tahu. Karena Aland berada di hotel yang di kelola oleh Gavin sendiri.
Ting tong....!!
Bel pintu di tekan oleh Gavin. Tak lama Aland membukakan pintunya. Tak terlihat terkejut dengan kedatangan Gavin yang mengunjunginya.
"Masuklah" Aland berjalan mendahului Gavin. Mempersilahkannya duduk sementara Aland langsung menuju kulkas mengeluarkan dua buah kaleng soda dan menyajikannya pada Gavin.
"Sepertinya om tahu siapa saya" ucap Gavin memulai pembicaraan.
"Ya, aku cukup tahu siapa dirimu" sahut Aland. "Dan, bagaimana?" Tanya Aland kemudian.
Alan mengambil minuman kaleng tersebut, membukanya "Apa om sudah mencari ke seluruh Bar atau,,," Alan menjeda kalimatnya, meneguk minuman kalengnya.
"Atau,,??" Ulang Aland
__ADS_1
"Situs prostitusi" Alan menaikkan alisnya. Ia sama sekali tidak memikirkan kemungkinan itu.
Sial.
Anak mudah di hadapannya ini rupanya lebih cerdik satu langkah darinya. Mengingat Indonesia adalah penganut budaya timur, membuatnya lengah bahwa bisa saja hal itu menjadi mungkin.
"Karena ini Indonesia, aku tidak berfikir hingga ke sana. Aku hanya berfikir jika Naiyra di culik dan mereka meminta tebusan dalam jumlah yang sangat banyak" jelas Aland " lain halnya dengan Italia atau Mexico".
"Kalau begitu, kerahkan anak buah om. Lacak semua bar dan hack situs prostutitusi online yang ada di Indonesia. Aku yakin om punya anak buah yang handal soal itu. Apa lagi ia seorang Amerika" kata Gavin. Alan tersenyum smirk.
Anak muda di hadapannya ini lagi-lagi membuatnya tak terduga. Dan lebih tak terduganya lagi, ia terlalu bodoh dalam hal asmara.
"Lalu kau??? Apa yang kau lakukan anak muda" tanya Aland.
"Aku akan menyelidiki apakah ada aparat hukum yang melindungi. Beberapa orang yang tamak menjadikan Hukum Indonesia terkadang bisa di jual belikan." Alan mengangguk. Menerima saran Gavin.
Gavin pamit undur diri dari kamar hotel yang di tempatinya. Sementara Aland mengambil benda pipihnya dan mulai menghubungi seseorang.
"Halo, mom. Bagaimana keadaan istriku hari ini??" Tanya Aland pada sambungan teleponnya bersama sang ibu.
"Aland....pulanglah. Ada yang ingin mommy sampaikan" dengan kegugupan yang penuh tekad, Marlyn menintanya kembali.
"Ada apa mom,??" Alan langsung berdiri dari duduknya. Pikirannya terarah pada kondisi Widya, ia takut terjadi hal yang tidak-tidak
"I-i-ini,,ten,,Ten,,tang Naiyra." Jawabnya terbata-bata.
Mendengar nama Naiyra di sebut, Alan mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia menghubungi anak buahnya untuk menyiapkan pesawat jet pribadinya. Saat ini juga ia harus kembali.
Lelah perjalanan yang ia rasa tidak ia hiraukan. Kakinya terus melangkah cepat memasuki Mension yang selalu ia sebut sebagai rumahnya itu.
Marlyn terlihat mondar mandir dalam satu arah. Ia tengah menyusun kata apa yang harus ia ucapkan sebagai permintaan maaf pada keluarga putranya.
"Mom, ada apa?? Mommy nampak begitu gelisah?? dan ada kabar apa mengenai Naiyra??" Alan datang dengan segerombol pertanyaannya.
"Mom,,,mommy menangis?? Widya..." Aland beralih dengan langkah cepat menuju kamar inap Widya. ia mengira terjadi sesuatu pada istrinya itu. belum sampai ia berada dekat dengan Widya, Di raihnya tangan Aland ketika posisi mereka sejajar.
"Mom,,," Aland menoleh pada sang ini. Tatapannya Penuh heran dan menuntut jawaban atas perlakuan Marlyn.
"Aland...mommy...mommy,,hiks,,," rasanya Marlyn tidak sanggup mengungkap apa yang sudah ia perbuat.
"Ada apa mom,,katakan saja. Aku disini" Aland menggenggam kedua tangan ibunya yang sudah berkeriput.
"Maafkan mommy, nak....maafkan mommy...karena mommy yang sudah membuang Naira." Sambil terisak Marlyn bicara sambil menundukkan kepalanya. Tak berani menatap manik biru Aland. Pegangan tangan Aland di kedua tangan sang ibu, terjatuh begitu saja.
Deg !!!
Alan mematung dalam keterdiamannya mendengar perkataan sang ibu. Yakinkan ia bahwa pendengarannya tidak bermasalah. Yakinkan dia bahwa akar dari kejadian ini adalah ibunya. Dan yakinkan dia bahwa ini semua hanya halu karena ia sedang kalut.
Namun Isak tangis sang ibu menyadarkannya bahwa semua yang ia dengar adalah kebenaran.
BRUGH!!!
Marlyn dan Aland menoleh pada sumber suara. Mata mereka terbelalak kala melihat Widya sudah jatuh tersungkur di bawah ranjang inapnya.
Segera Aland dan widya menghampirinya.
Saat kedua tangan Aland dan widya hendak merangkul pundak dan lengannya, Widya dengan kasar menepis kedua pasang tangan tersebut.
"Apa itu benar??" Widya bicara dalam duduknya. Selang infus di tangannya terlihat mengeluarkan darah karena bergeser dari posisinya.
"APA ITU BENAR???" Teriak Widya mengulang pertanyaannya.
Marlyn terisak "maafkan mommy, nak"
"Mengapa mommy begitu membenci Naiyra?? Apa karena Naiyra bukan anak kandung ku??? Kenapa mommy juga tidak membuang ku yang tidak bisa memberikan mommy keturunan" Widya menatap intens mertuanya yang merunduk. Menangis. Merasa bersalah dan menyesal.
__ADS_1
"Mommy..mommy,,,"
"Honey,,," Alan mengusap punggung Widya lembut.
"Ceraikan aku dan tinggalkan aku. Pergi dan cari wanita yang bisa memberikan kalian keturunan. Aku akan mencari putriku. SEN.DI.RI." Widya menekan kalimat terakhirnya.
"WIDYA STEVANO" bentak Aland.
"APA??" Widya membulatkan matanya menatap Aland, seolah menantang. Alan mengusap kasar rambutnya dengan kedua tangannya. Ia merasa sedikit frustasi saat ini. Mengetahui ibunya adalah akar dari permasalahan, Naiyra yang belum di temukan dan sekarang mendengar Widya yang meminta untuk menceraikannya.
Ya lord ...
Setelah membentak Widya, Aland pergi meninggalkan dua wanita yang paling di cintanya. Ia akan membiarkan Widya menenangkan dirinya sendiri. Ia juga akan membiarkan ibunya terus berada dalam penyesalan tanpa maaf. Setidaknya sampai Naiyra berhasil di temukan.
🥀🥀🥀
Sudah 3 hari pasca Naiyra di cambuk. Selama itu pula tak ada satupun lelaki hidung belang yang datang mengaku sebagai pembeli jasanya. Ia merasa beruntung juga miris secara bersamaan mendapati luka bekas cambukan ini. Beruntung karena luka ini mampu membuat keadaannya aman dalam beberapa hari terakhir. Jika seperti ini keadaannya ia rela mendapatkannya setiap hari.
ceklek !!!
Pintu terbuka. Merlyn masuk membawa satu wanita sexy dengan satu gaun di tangannya kanannya. Tangan kirinya terlihat menenteng satu kotak besi berwarna silver. Di lihat dari bentuknya sudah bisa di pastikan bahwa isi dari benda itu berupa perlengkapan make up.
"vermak dia secantik mungkin" titah Merlyn pada wanita yang dibawanya tadi.
Merlyn keluar dari kamar itu meninggalkan dua wanita pekerjanya.
"Aku mohon, biarkan aku sendiri, kak" Naiyra tidak tahu siapa wanita yang sedang menghampirinya ini.
"berapa usiamu"? tanya wanita itu "Aku Maya" tanpa menyodorkan tangannya, wanita bernama Maya memperkenalkan dirinya.
"21 tahun" jawab Naiyra.
"kau seumuran dengan adik ku." Ia meletakan gaun yang di bawanya di atas tempat tidur. Niayra yakin sekali, Gaun berwarna biru tua itu tampak sexy dan glamor jika sudah melekat di tubuhnya. Dan itu membuatnya merasa,,, jijik.
"Aku mohon kak, bantu aku keluar dari sini. Aku gak mau melakukan hal kotor" pinta Naiyra memelas.
"Jika bisa memilih dan memiliki kesempatan, aku pun enggan berada disini dan melakukan pekerjaan kotor ini. Tapi aku terpaksa" sahut Maya. Ia Menunggu Naiyra mengganti bajunya sendiri. Karena ia yakin, Naiyra tidak ingin ia menggantikan bajunya. Ia sudah besar.
"Aku cukup salut kepadamu, kau bisa membuat mereka,,K.O" Maya terkekeh. Kabar mengenai Naiyra yang membuat ulah sudah bukan jadi rahasia umum di tempat ini. Hanya ia yang masih sulit di taklukkan oleh Merlyn.
"Aku lebih baik mati dari pada harus menjadi pemuas nafsu mereka" Naira membuang wajahnya kecut.
Maya meraih satu tangan Naiyra. Memberinya satu alat stainless, sebuah gunting kuku. Yang jika di ubah bentuknya, bisa menjadi sebuah pisau, obeng dan bisa juga berfungsi sebagai flashdisk.
"Gunakan itu jika kau tidak memiliki senjata lain. itu multi fungsi. dan pisau kecil itu bisa kau gunakan untuk mengiris nadi mu." goda Maya. Naiyra tersenyum "terima kasih, kak"
Dengan berat hati Naiyra mengganti bajunya dengan baju yang di bawa oleh Maya. setelah itu, Maya mendandaninya secantik mungkin dengan sempurna. tak ada bekas cambukan terlihat, semua bisa di samarkan oleh make up yang di poleskannya.
Maya keluar setelah tugasnya selesai. Dan saat itu juga Merlyn masuk kedalam kamar yang di tempati naiyra.
Suara hentakan alas kaki terdengar nyaring memenuhi kamar berdinding toska tersebut. Tanpa menoleh, Naiyra tahu siapa yang menciptakannya, Merlyn.
Merlyn tampak tersenyum puas kala melihat hasil karya Maya. Ia menelisik penampilan Naiyra dari ujung kepala hingga ujung kaki. Semua terlihat cantik dan sempurna.
"kali ini jangan berbuat ulah. Aku tidak akan mengampunimu jika kau sampai berani mengacaukan segalanya" Naiyra tidak peduli.
ia sama sekali tidak mengindahkan peringatan yang Merlyn berikan. Hidupnya sudah ia anggap Mati semenjak ia berada di tempat ini. Jikapun ia saat ini masih hidup dan bernafas, itu karena ia teringat akan kedua orang tua kandung serta mommy dan daddynya.
hukuman apapun akan ia terima. Bahkan jika harus mati sekalipun. Ia tidak perduli. Justru itu yang ia harapkan dari pada ia berakhir menjadi jalang yang di gilir demi kepuasan nafsu bejat para hidung belang.
"maafkan aku, ayah ibu, mommy, Daddy,,,"
__ADS_1
ucap Naiyra dalam hati saat mengingat mereka semua.