I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
tak ada toleransi


__ADS_3

Naiyra terjatuh saat tubuhnya menabrak sesuatu di hadapannya. "auww" ringis Naiyra membersihkan lukanya. ia melihat sepasang sepatu di hadapannya. Matanya membulat sempurna saat ia melihat seseorang berdiri tegak di hadapannya.


🥀🥀🥀


Dua mobil sedan hitam masih mengapit mobil yang di kendarai Gavin dan Errin.


"Vin Vin Vin..sumpah. Gue masih pengen hidup" dengan terpejam Errin berceloteh.


Saat ini Gavin tengah bertempur dijalan raya utama yang sialnya di cukup di padati oleh pengendara lain. Tak jarang aksi kebut-kebutan saling kejar mereka mendapat banyak umpatan dari para pengendara lain.


Gavin terus memutar otaknya. Mencari strategi untuk bisa menyingkirkan dua mobil yang terus saja memojokkan mobilnya. Ia tak menghiraukan Errin yang terus saja melafalkan doa-doa keselamatan.


Gavin membanting stir kearah kiri saat satu mobil sedan hitam berhasil mengejarnya. Gavin menjepit mobil itu hingga mobil itu berhasil ia tumbangkan menembus pembatas jalan. Terjungkir balik. Dan remuk.


Satu mobil sudah Gavin atasi. Tinggal satu mobil lagi yang masih mengejarnya di belakang.


BRUGH!!!


Mobil Gavin di tabraknya dari belakang. Sontak Errin menjerit kencang. Dan lagi, Gavin tidak mengindahkannya. Gavin terus melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh saat ia mendengar sirene mobil polisi juga ikut mengejar mereka.


Sial. Jika polisi terlibat, ia tak hanya mencoreng wajahnya sendiri, tapi juga mencoreng nama baik ayahnya sebagai salah satu Mentri di Indonesia.


Gavin menggiring mobil yang mengikuti mereka dengan berbelok ke jalan kecil yang rutenya cukup rumit dan berkelok. Rute ini ia ambil karena Gavin mengenal jalan yang akan memudahkannya menumbangkan mobil sedan hitam sialan itu. Selain itu juga ia bisa mengelabui mobil polisi untuk tidak lagi bisa menjangkau mereka. Dan itu berhasil.


Kini Gavin memutar arah mobilnya. Menunggu mobil sedan hitam itu dengan mesin yang siap untuk bertempur. Posisinya saat ini di rasa sangat sempurna untuk menumbangkan mobil sialan itu. Berada di tengah sebuah bangunan setengah jadi yang sudah tidak beroperasi.


Kini mobil mereka saling berhadapan dalam jarak yang tidak terlalu jauh juga tidak terlalu dekat. Deru mesin keduanya sudah dalam keadaan siap untuk bertempur.


"Vin..jangan bilang lu mau nabrak itu mobil. Jangan gila, Vin" Errin sudah sangat ketakutan. Dalam fikirannya Gavin sudah tidak waras.


"No comment"


Kurang ajar memang si Gavin ini. Ia tak mengindahkan ketakutan Errin. Gadis ini sangat menyesal sekali berada dalam satu mobil dengan orang tidak waras satu ini.


Mobil Gavin melaju kencang, begitupun dengan mobil lawan yang juga bergerak maju dengan sangat cepat. Dan saat mobil keduanya di depan mata, Gavin membuang setirnya kearah kiri hingga ekor mobilnya membentur mobil itu hingga tersungkur menancap sebuah tiang besi yang melengkung rendah.


Gavin tersenyum puas. Bisa dipastikan mobil itu tak akan bisa bergerak. Secepat mungkin Ia pergi menjauh dari tempat itu. Meninggalkan mereka yang masih terjebak didalam mobiknya dan Tak memperdulikan nyawa penghuni mobil lawanya.


"Hiks,,,hiks,,"Errina sudah terisak sendu.


Ia sungguh sungguh sangat ketakutan. Keterlaluan sekali Gavin tidak memperdulikannya.


"Sorry Rin...dalam keadaan begitu gue harus fokus. Gue juga gak mau kali mati muda" ucap Gavin tangannya sudah membelai lembut rambut hitam Errin. Tangan kanannyanya meraih ponsel yang ada di saku kemeja denimnya.


"Lu bener-bener gila, Vin" hanya kata itu yang mampu Errin lontarkan. Tapi ia bersyukur, kehandalan Gavin dalam mengemudi memang tidak bisa di ragukan lagi. Terbukti dengan mereka selamat dari aksi yang seperti kejar tayang tersebut.


Gavin terus menghubungi nomer ponsel Mike atau Mark. Pikirannya berkelana pada dua orang dari dunia mafia itu. Pasangan ayah dan anak yang tidak mengenal kata toleransi.


"Sial...kenapa susah banget sih di hubunginnya" maki Gavin memandang ponselnya.


"Siapa" tanya Errin yang sudah bisa menenangkan dirinya.


"Uncle Mike".


Gavin terus memikirkan nasib sahabatnya yang belum ia ketahui. Membayangkan Dirga ditangani oleh orang-orang berdarah dingin, tetap membuatnya merasa khawatir. Biar bagaimana pun, Dirga masih seorang sahabat baginya.


🥀🥀🥀


"Heyy,,tenanglah. Kau aman sekarang" ucap Mark yang kini sudah mensejajarkan dirinya dengan Naiyra yang jatuh terduduk setelah menabraknya. Tangis Naiyra tumpah. Ia berhambur memeluk Mark dengan erat. Mark mengusap-usap punggung Naiyra dengan lembut, menenangkannya.


"Apa yang bajingan itu lakukan padamu, heum?? Katakan padaku.. Bagian-bagian tubuhnya akan membayar atas apa yang diperbuatnya padamu, Naiyra"


"Did--dia..hiks...i.i..hiks..ingin..mem..hiks..memper--kosa..ku" Isak pilu Naiyra begitu dalam terdengar di telinga Mark. Hatinya teriris pilu mendengar setiap rintihan kesedihan dari mulut Naiyra. Ia memeluk Naiyra erat. Tak ada penolakan dari Naiyra. Sebab Naiyra sendiri merasa aman bertemu dengan Mark dan mike saat ini.


"Mark, bawa Naiyra keluar dari sini. Biar Daddy yang urus anak itu" Mark mengangguk patuh. Ia membawa Naiyra kembali ke kediaman Stevano.


Mike melihat Kilatan amarah sudah membara di mata Mark saat ini. Tak ada yang bisa meredakan amarah Mark jika sudah begini. Satu satunya cara untuk mengalihkan amarah Mark saat ini adalah kondisi Naiyra. Beruntung ia tak membantah Mike kali ini. Kini tinggal Mike dan beberapa anak buahnya yang sudah siaga menyambut Dirga saat ini.


Ulahnya membawa Naiyra kedalam hutan perbatasan dirasa menguntungkan bagi Mike untuk memberi pelajaran pada bocah ingusan itu. Ia tak harus khawatir perbuatannya akan terendus hukum Indonesia atau di ketahui oleh orang lain. sajauh pantauannya saat ini, tak ada satupun orang lain selain mereka yang berada dalam hutan perbatasan ini.


"Baby,,," teriakan Dirga menyusuri pepohonan kecil. Tangannya mengibas pada semak-semak yang mungkin bisa dijadikan tempat persembunyian Naiyra.


"Hai boy...??" Mike sudah berdiri tegak di tempatnya. Beberapa anak buahnya dengan sigap mengrung Dirga dalam sebuah lingkaran yang mereka buat. Dirga terancam. Ia tak menduga bila ada orang lain selain keluarga Stevano dan Gavin.

__ADS_1


'apa mereka orang-orang Gavin?? Tapi tidak. Mereka bukan orang Indonesia. Sial. Sial. Sial. Aku tidak memperkirakan hal ini akan terjadi' ucapnya dalam hati.


"Nyalimu sangat besar, anak muda" ucap Mike dalam bahasa Indonesia. Dirga terpaku mendengarnya berbicara dalam bahasa Indonesia.


"Siapa kalian??. Mengapa menghalangi jalanku??" Ucap Dirga. Matanya mengedar pada wajah datar dari orang-orang yang saat ini mengelilinginya.


Well...pertanyaan bagus yang tidak berguna. Untuk apa bertanya seperti itu saat nyawanya sendiri berada diujung tanduk. ah..nampaknya Dirga tidak memikirkan keselamatannya kali ini.


"Pikirkan saja dirimu saat ini, anak muda." Sindir Mike. Ia berjalan kecil melingkari tubuh Dirga.


"aku tidak takut pada kalian" seru Dirga. "cepat katakan siapa kalian"


"heum..baiklah..baiklah..akan aku beri tahu agar jiwamu tenang menghadap tuhan sebentar lagi. Aku adalah Mike Jhonson. Kaki tangan seorang ketua mafia yang merangkap menjadi spesialis bedah dan juga pengusaha, Aland Stevano. Ada lagi yang ingin kau ketahui. Kita masih punya banyak waktu sebelum...." Jeda Mike.


Mike puas melihat ketakutan dalam raut wajah Dirga saat mendengar ucapannya. Ia juga melirik keleher Dirga yang menelan salivanya. Dilihatnya keringat dingin yang sudah bercucuran di pelipis wajahnya.


"Sebelum mengkulitimu, tentunya" sambung Mike. Dan kata-kata itu cukup mampu membuat Dirga merinding disco.


'sialan' batin Dirga bicara pada dirinya sendiri.


"Aku tidak memiliki urusan dengan kalian. Jadi jangan menghalangi jalanku"


Si Dirga ini...sudah tidak berkutik tapi masih saja bertingkah angkuh. Tidak mungkin jika dia tidak menyadari dirinya hanya seorang diri saat ini.


"Tapi aku punya urusan denganmu" sahut Mike. "Kau telah menculik nona mudaku. Salahmu sendiri mencari masalah dengan keluarga Stevano saat ini"


Mata Dirga membulat lebar. Pasalnya ia tak mengetahui ada sosok Mike dalam pengintaiannya selama ini. Bahkan saat Naiyra menghilang selama satu bulan pun ia tak pernah melihat sosok Mike ikut andil dalam pencariannya. Tapi saat ini...


Mike memberi kode pada anak buahnya untuk menangkap Dirga. Sadar akan kode keras yang dilayangkan Mike membuat Dirga membentuk benteng pertahanan dirinya yang tentu saja tidak berguna.


Hanya dalam hitungan detik saja satu anak buah mike sudah berhasil meringkus Dirga. Dirga tak berkutik di buatnya. Bahkan untuk memberontak saja ia tidak sanggup. Semua pergerakannya terkunci oleh orang yang meringkusnya.


"Aku tidak akan sungkan kali ini..." Mike menyuruh beberapa anak buatnya untuk memegangi Dirga lebih erat lagi. Di telusuri dan dielusnya tangan Dirga hingga ke jari-jari tangannya.


"Mau apa kau??" Dirga mencoba melepaskan dirinya. Tapi sulit.


"Aku mau kau, saat ini." Mike memberikan senyum devilnya. Salah Satu anak buahnya memberikan sebuah pisau besar pada Mike. "Tangan ini....tangan yang sudah kau gunakan untuk menggerayangi Naiyra.."


"Aaaakkhhh...." Dirga teriak sangat kencang saat Mike memutuskan jari-jari tangannya. Ia meringis dalam ketidak berdayaannya. Mike mengumpulkan ranting-ranting kayu saat mendengar Dirga melengkungkan suaranya, lalu menyumpal mulut Dirga dengan ranting-ranting kayu yang ia kumpulkan tersebut.


pemandangan dihadapan mereka saat ini seakan menjadi hal lumrah bagi mereka.


"Kaki ini...kaki yang sudah berani membawa nona ku pergi." Dirga menggeleng. Mulutnya terus bergumam tidak jelas. Bisa Mike simpulkan jika Dirga berkata 'jangan' dalam gumamannya. Ditambah raut wajah yang sudah memucat serat akan ketakutan.


Krek !!. Mata Dirga melotot sempurna saat satu kakinya sudah terputus. Jika bisa menjerit, sudah ia lakukan saat ini juga. namun sumoalan dalam mulutnya hanya bisa membuatnya menggeram menahan rasa yang Luar biasa sakit sekali.


Dirga kembali bergumam. Terdengar meminta pengampunannya. "Baiklah. Aku akan mengampunimu" ucap Mike mengerti. Baru sebentar saja Dirga merasa lega, ia kembali dibuat was-was saat Mike kembali berucap "Tapi setelah ini. Kau akan terbebas dari segalanya". Mike menyeringai melihat wajah Dirga.


Dirga terus bergumam. matanya membulat sempurna. keringat sudah bercucuran di sekujur tubuhnya. wajahnya sudah sangat pucat pasi.


Mike merobek celana yang dikenakan Dirga dengan pisau besar yang di pegangnya. Tubuh Dirga meliuk-liuk. masih mencoba memberontak, mencoba melepaskan Kungkungan dari kekangan anak buah mike.


Mike tanpa ampun melakukan aksi kejinya. Kali ini ia memotong junior milik Dirga. "Itu ganjaran karena kau mencoba memperkosa Naiyra"


Dirga sudah tak sadarkan diri. Apa yang sudah dilakukan Mike membuatnya Ia banyak sekali mengeluarkan darah.


Semua Mike lakukan tanpa ada rasa belas kasih. Ia tak seperti Alan yang masih memiliki toleransi. Tak ada toleransi bagi Mike jika dia sudah bertindak. Dan Gavin tidak tahu itu.


sudah sangat bisa di pastikan jika Gavin tahu sisi Mike dan Mark yang sebenarnya, ia tidak akan membiarkan mereka menangani Dirga.


"Urus dia. Bereskan. Jangan sampai meninggalkan jejak sedikitpun. Hingga anjing pelacak pun tak dapat menemukan tubuhnya" titah Mike pada anak buahnya. "baik tuan" Mike berlaku meninggalkan mereka.


Seperti itulah dunia mafia.tidak ada rasa belas kasih dalam menghukum siapa saja yang berani mengusik apapun yang menjadi milik mereka. Terlebih lagi keluarga. Mereka tak segan-segan menyiksa tawanannya lebih dari yang bisa mereka kira. Dengan keji, tanpa ampun, tanpa ada keraguan, dan bengis.


🥀🥀🥀


Naiyra berlari kedalam pelukan Aland setibanya ia dan Mark di kediaman Stevano. Matanya sudah membengkak sembab akibat terlalu banyak menangis.


Tangisnya semakin menjadi saat ia dalam pelukan Aland.


"Sudah, sayang. Jangan menangis lagi. Kamu sudah aman disini, nak" ucap Marlyn mengelus bahu Naiyra dalam pelukan Aland.


Naiyra berpindah memeluk Marlyn. "Omaa..."

__ADS_1


"Sudah,,,sudah,,,kamu sudah aman disini" lagi..Marlyn mencoba menenangkan Naiyra "kita masuk". Ucap Marlyn.


"Mommy..." Kata Naiyra pada Marlyn.


"Daddy tidak memberi tahu mommy mu tentang kejadian hari ini." Kata Aland. Marlyn mengangguk.


"Aku mengerti dadd, Oma" Marlyn membawa Naiyra untuk beristirahat di kamarnya. Meninggalkan Aland dan Mark yang masih berdiri di depan pintu masuk.


Tak lama Aland masuk menuju ruang kerjanya, Mike mengikutinya dari belakang.


"Bagaimana dengan anak itu"? Tanya Aland.


"Dadd yang membereskannya, uncle" jawab Mike


"Bagaimana dengan Gavin?"


"Entahlah. Jika dia tangguh, dia akan tiba disini sebentar lagi. Dari laporan yang aku dapatkan, dia sedang kejar tayang"


"Rupanya Jack masih memantaunya dari CCTV jalan raya. Well,,kerja bagus. Aku puas dengan hasil kerja kalian" Mark tersenyum senang.


Setelah permbicaraan mereka tadi, Aland dan Mark menjenguk Naiyra di kamarnya. Ia melihat Naiyra yang sudah tertidur di pangkuan Marlyn.


Ada banyak rasa prihatin dimata Aland saat melihat wajah sendu Naiyra. Itu mengingatkannya pada kondisi Naiyra saat pertama kali mereka bertemu.


Sungguh. Gadis muda yang tangguh. Kehidupan selalu saja mengujinya dengan sangat berat. Entah apa jadinya jika Widya tak memintanya untuk mengadopsi Naiyra. Bahkan hingga detik ini pun, tuhan masih saja memberikannya cobaan yang berat.


Dan Mark. Secara garis besar anak itu sudah mendengar cerita tentang Naiyra dari Aland. Sejak itu pula, ia merasa ingin selalu melindungi Naiyra dari apapun. Tak perduli pada dia yang selalu menjaga jarak darinya.


"Aku akan menemui istriku dulu. Jika kau masih ingin disini, aku mengijinkanmu" ucap Aland. Mark mengangguk. Ia mendekatkan diri pada Marlyn dan juga Naiyra.


"Honey,," sapa Aland saat sudah berada didalam kamarnya.


"Sayang, aku merasa bosan dalam kamar, aku juga merindukan Naiyra saat ini. Sejak pagi aku tidak melihatnya. Dan dia...apa-apaan anak itu. Seharian ini dia sama sekali tidak mengunjungiku di kamar."


Tanpa permisi, Alan memagut gemas bibir mungil Widya yang mengkerut dengan bibirnya. Ia yang Memang sudah sangat rindu ingin menyentuh Widya, semakin tak bisa menahan hasratnya saat melihat Widya yang saat ini terlihat sangat menggemaskan.


Widya menerima serangan mendadak Aland. Ia mengerti akan penderitaan suaminya. Ia tida keberatan melayani Aland bila kondisinya saat ini tidak lemah.


pugatan mereka tak berlangsung lama.


Buru-buru ia menjauhkan Aland dan berlari masuk kedalam toilet.


"Hoek...Hoek..." Widya terus memuntahkan cairan bening yang keluar dari dalam mulutnya.


Malang sekali nasibnya selama beberapa bulan ini. Jangankan menyentuh, mendekatkan dirinya saja sudah membuat istri tercintanya ini muntah-muntah. Aland harus selalu menjaga jaraknya jauh-jauh.


Bukankah itu sangat menyebalkan.


Tapi rasa sebalnya tak sebanding dengan rasa bahagianya akan kehamilan Widya saat ini. Pasalnya sudah sangat lama mereka mendambakan hadirnya seorang buah hati. dan semua terpenuhi saat ini. Apapun akan Aland lakukan untuk menjaga kehamilan Widya saat ini.


Hal yang sama juga dilakukan Widya. ia tak berani mengambil resiko jika menjangkit tentang kesehatan janinnya. apapun akan ia lakukan untuk menjaga buah hatinya agar bisa menghirup udara dunia.


Alan menerima satu notifikasi pesan dari Gavin. Anak itu rupanya selamat dan masih hidup. Dan Alan merasa bersyukur atas itu.


"Honey, aku akan meminta salah satu maid membawakan mu air hangat" ucap Aland saat Widya sudah kembali berbaring di tempat tidurnya. Widya mengangguk lemah.


Aland keluar menemui Gavin dan Errin yang sudah berada di ruang tamu keluarga Stevano. Raut kecemasan kentara sekali di wajah mereka, khusunya Errin. Gadis manis ini bahkan tidak bisa menenangkan rasa gelisahnya atas kabar Naiyra.


"Om.." sapa keduanya begitu Aland sudah bergabung bersama mereka.


"Bagaimana Naiyra, om...apa Errin boleh kekamarnya??" ucap Errin penuh kecemasan.


"Dia sedang tidur, ada mom dan Mark Disana yang menemani. jika kau ingin melihatnya, pergilah kekamarnya.


"Om,,," ucap Gavin. "aku sungguh tidak tahu bila Dirga....." jeda Gavin. "aku.....Naiyra...." Gavin tampak kebingungan memikirkan segala kemungkinan yang tidak diharapkan setelah kejadian ini.


Aland membuang nafasnya. Ia mengerti apa yang Gavin khawatirkan saat ini mengenai Naiyra. Bukan salahnya juga jika orang terdekatnya justru yang menjadi dalang kejadian hari ini.


"Beri Naiyra waktu, anak muda" ucap Aland.


benar. Yang dibutuhkan Naiyra saat ini adalah waktu. Waktu untuk bisa melupakan segala kejadian yang selalu menyeretnya pada kejadian tidak menyenangkan.


🥀🥀🥀

__ADS_1


Bersambung,,,


__ADS_2