I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
Dirga


__ADS_3

Naiyra begitu telaten menemani Widya di rumah sakit. Tak sehari pun ia beranjak meninggalkan Widya lebih lama walau hanya satu jam saja.


Sore ini Widya sudah diijinkan untuk bisa di bawa pulang. Tak ada masalah serius pada kandungannya yang sudah menginjak dua bulan. Semua dalam keadaan baik-baik saja.


"Sayang, apa kau mengabaikan Gavin dan Mark?" Tanya Widya. Sejenak Naiyra menghentikan tangannya saat mengupas  kulit buah apel yang ia genggam. Matanya menatap wajah Widya.


"Tidak, mom" jawab Naiyra. Ia melanjutkan aktifitasnya tadi.


"Lalu mengapa kau seperti menjaga jarak dengan mereka. Jika Gavin, dia memang baru mom kenal. Tapi dengan Mark,,Mom ingat, bukan kah sebelumnya kau terlihat begitu dekat dengannya" Naiyra diam mendengar kata-kata Widya.


"Aku berteman mom, dengan mereka. Dan yaa,,mereka cukup baik. Sejauh yang aku tahu. Entahlah,,," nada Naiyra cukup terdengar acuh.


"Mana yang lebih kau suka" Widya memangku dagunya dengan satu tangannya. Memandang Naiyra lekat, menanti jawaban yang ingin ia dengar.


"Mom,,," Naiyra sedikit merajuk. Walau begitu ia tetap menyajikan sepiring buah yang sudah ia siapkan untuk Widya.


"Ish...kau ini, mom kan hanya bertanya"


Naiyra diam. Pikirannya melayang pada pemilik dua nama yang Widya sebut tadi. Jika dipikir-pikir,, keduanya memang terlihat sangat baik dan pengertian. Mereka juga sangat tampan. Wanita manapun tidak akan menampik akan pesona yang mereka pancarkan.


"Siapa yang sedang kau pikirkan, heum,,?"


Suara tanya Widya menyadarkan lamunannya. "Daddy,,,aku menyukai Daddy" goda Naiyra. Dan seketika itu juga "auuwwhh...ampun mom,,ampun..ahhaaa,,, aku hanya bercanda" Widya memberikan cubitan-cubitan kecil di perut Naiyra.


"Nakal sekali kau ini, dia Daddy mu" Widya mengerucutkan bibirnya.


Naiyra menghembuskan nafas lega. Ia berhasil mengalihkan pembicaraan yang hanya akan membuat pikirannya di penuhi dengan mereka.


"Ciyee...ada yang cemburu" goda Naiyra.


"Siapa yang cemburu" tanya Aland yang tiba-tiba sudah mendekat. Di susul Gavin yang mengekor di belakangnya.


Naiyra tampak diam. Ia malingkan wajahnya sejajar kearah Widya. Widya melirik Naiyra. Senyum kecil terbit si bibir mungilnya. Ide jahil langsung muncul di benaknya untuk menggoda putri nakalnya ini.


"Naiyra cemburu, hihiihii" tawa widya. Naiyra membulatkan matanya menatap Widya penuh keterkejutan. Seketika itu juga ia menoleh cepat kearah Alan lalu menggeleng keras tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Aland menaikan satu alisnya dan Gavin mengerutkan keningnya. "Naiy cemburu?? Pada siapa? Tanya Aland.


"Pada ku, pada siapa lagi??!!" Sahut Widya.


"Kenapa ia cemburu padamu, honey" Aland tak mengerti dibuatnya.


"Naiyra menyukaimu, dan kau hanya mencintaiku. Harusnya aku yang cemburu pada Naiyra karena dia di cintai oleh dua pria sekaligus." Widya mengedipkan satu matanya pada Aland, memberi kode.


Gavin sudah mengalihkan pandangannya pada segala arah. Ia terlihat salah tingkah di mata Widya. Dan--wajahnya terlihat memerah.


Alan yang mengerti akan kode yang Widya berikan, langsung merubah ekspresinya.


"Dad tidak tahu kalau kau menyukai dad"


Naiyra menggeleng cepat "mana mungkin...aku hanya suka pada pria seperti dad. Yang rasa cintanya sangat besar pada mommy" ucap Naiyra tulus.


Widya dan Alan tersenyum saling pandang. "Heum,,,jadi kau menyukai pria yang mencintaimu lebih dari dirinya sendiri, seperti dad pada mommy mu, begitu"


Naiyra mengangguk. Ia tersenyum pada Aland. Dan saat itu pula matanya bertatapan dengan mata Gavin. Pandangan mereka seakan terkunci dalam kediaman mereka.


Sebuah desiran hebat dirasakan oleh Gavin. Jantungnya berpacu lebih cepat hanya karena tatapan Naiyra. Ia bahkan menahan nafasnya untuk bisa menyembunyikan kegugupannya.


"Ekhem" deheman Aland rupanya menyadarkan Naiyra dan Gavin. Mereka memutuskan tatapan matanya dan mendadak salah tingkah.


'apa kau merasakan seperti apa yang aku rasakan, naiyra' batin Gavin.


"mom sudah ada dadd yang menemani. Aku ingin pergi ke mini market dulu, mom" pamit Naiyra dari duduknya lalu mengambil tas kecilnya.


"Mau aku temani?" Tawar Gavin. Naiyra mengangguk. Gavin tersenyum senang.


Widya tersenyum senang melihat Naiyra sudah mulai memberanikan diri dekat dengan lawan jenisnya.


🥀🥀🥀


Tak ada kecanggungan antara Naiyra dan Gavin selama berbelanja di mini market. Naiyra sudah bisa mendekatkan dirinya dengan gavin.


Dan Gavin, jangan ditanya soal anak itu. Ia merasa dunianya sangat indah. Ia bahkan sudah memperlihatkan sisi posesifnya dengan menghalangi tatapan para pria yang mencuri pandang melihat pesona Naiyra.


Ah..posesif sekali dia..ia bahkan belum menjadi seorang kekasih. Bagaimana jadinya bila ia sudah resmi menyandang sebagai kekasihnya. coba saja pikirkan..


Biar saja. Lebih baik ia bergerak cepat bukan, satu saingan yang nyata didepan mata saja sudah membuatnya resah, apalagi jika ditambah dengan yang lainnya. Akan lebih sulit lagi nantinya.


Karena sibuk memperhatikan tatapan lelaki lain, Gavin sampai terpisah dari Naiyra. Bagaimana ia begitu bodoh. Harusnya ia hanya fokus pada Naiyra dan mengabaikan mereka. Gavin melangkah lebih cepat menyusuri mini market yang sialnya mendadak berubah menjadi sangat luas layaknya sebuah mall besar saat dirasa sulit menemukan naiyra.


Sementara Naiyra terus saja berbicara pada pria di sampingnya sambil fokus memilih beberapa merk makanan ringan, tanpa melihat siapa lawan bicaranya.


"Apa kau suka ini, Gav----" Naiyra menoleh sambil menunjukan satu bungkus Snack. Ucapannya terpotong saat ia melihat bahwa bukan Gavin yang sedari tadi mengikutinya.

__ADS_1


Lalu siapa pria dihadapannya ini???


Orang itu tersenyum manis pada Naiyra yang kebingungan.


"Maaf. Aku kira, temanku" ucap Naiyra. Naiyra langsung menegang kala ia mencium aroma kayu manis dan Pinus yang tercium dari tubuh pria di hadapannya ini.


"Tidak, apa." Lagi, pria ini tersenyum hangat padanya. Dan itu membuat Naiyra risih.


Naiyra berjalan pada arah berlawanan dengan pria itu. Selang beberapa langkah ia mendengar pria itu bergumam. Cukup pelan, tapi masih bisa terdengar oleh Naiyra.


"Kau sangat cantik, baby"


Lagi. Pria itu bergumam. Naiyra mempercepat langkahnya. Ia mengedarkan pandangannya mencari Gavin. Dan saat matanya menangkap sosok Gavin, ia berlari meninggalkan lori belanjaannya dan menubrukan dirinya memeluk Gavin.


Gavin terkejut Naiyra tiba-tiba memeluknya erat. Tubuhnya bergetar. Ia tidak memperdulikan beberapa pasang mata yang memperhatikan mereka. Naiyra terus memejamkan matanya dipelukan Gavin.


"Heyy...ada apa, heum??" Gavin balas meluk Naiyra. Tangannya beralih mengusap rambut panjang Naiyra.


"Orang itu,Vin...aku--aku melihat orang itu. Ta,,tadi di,,dia,,di dekatku." Ucap Naiyra terbata, ia masih membenamkan wajahnya di dada bidang Gavin.


Sial. Baru sebentar saja mereka terpisah, orang itu berani mendekati Naiyra.


"Tenanglah, orang itu tidak akan berani muncul bila ada orang lain di dekatmu" Gavin mencium pucuk kepala Naiyra.


Ada rasa tenang saat Naiyra dipelukan Gavin. Ditambah aroma Gavin yang maskulin membuat, Naiyra menyukainya. Ia juga merasa aman dan nyaman.


"Sudah, tenang lah. Bukan kah kau sudah bertekad melawan rasa takutmu." Gavin meregangkan pelukannya pada Naiyra. Ia menangkup wajah naiyra dengan kedua tangannya. Dipandangnya iris hijau Naiyra "Aku pasti akan melindungi dan menjagamu"


Seakan terhipnotis, Naiyra langsung menganggukkan kepalanya.


"Kita selesaikan ini dan pulang" ucap Gavin. Naiyra mengangguk.


Sesampainya Naiyra di rumah, ia menarik satu lengan Gavin sebelum melangkah masuk kedalam.


Gavin melihat tangan Naiyra yang mencekalnya dan matanya beralih menatapnya "Ada apa" tanya Gavin.


"Jangan beri tahu mom" pinta Gavin.


Gavin tahu apa yang di maksud Naiyra. "Aku akan diam"


🥀🥀🥀


Sepulang Gavin dari kediaman Stevano, ia kembali pada mini market dimana ia dan Naiyra berbelanja. Ia meminta pemilik toko untuk menunjukan rekaman CCTV. Beruntungnya, sang pemilik toko sangat baik dan ramah. Ia membiarkan Gavin memeriksa rekaman CCTV tokonya.


Ia terus menatap pada layar monitor yang menunjukan keadaan toko yang cukup ramai pembeli.


Beruntung kali ini ia dengan jelas melihat sosok yang mengikuti Naiyra menggantikan dirinya. Lebih syoknya lagi, bahwa dia adalah teman satu kampusnya. Sahabatnya sendiri. Bagai mana ia bisa,,,,


"Dirga". Gavin mengumumkan satu nama.


Ia tak menyangka, bahwa sahabatnya sendiri, tempatnya menceritakan segala hal tentang Naiyra, sosok yang apapun tidak ada yang ditutupinya. Selama ini ia rupanya memiliki hasrat terpendam terhadap Naiyra.


Gavin masih tidak mempercayai ini.


Gavin membuat salinan atas rekaman yang ia dapat kedalam ponselnya. Tak membuang waktu lagi ia segera keluar dari dalam ruang keamanan dan melajukan mobilnya secepat mungkin menuju kediaman Pratama.


Tiiinnn.....tiiinnn.....


Gavin membunyikan klaksonnya dengan tidak sabar. Membuat penjaga rumah tersebut dengan terburu-buru menghampirinya.


"Den, Gavin." Sapa seorang security.


"Pak, Giman. Apa Dirga ada di dalam"


"Ada, den. Baru saja sampai" pak Giman, security itu melebarkan pintu gerbang yang sudah ia buka.


Alvin melajukan mobilnya lebih dalam di kediaman Pratama. Ia masuk begitu saja melewati para pembantu yang sedang menjalankan tugasnya. Rumah Dirga sudah seperti rumah kedua bagi Gavin. Jadi tidak heran bila ia bisa leluasa dengan bebas hilir mudik di kediaman Pratama.


Brak!!!


Gavin membuka paksa kamar yang di tempati Dirga. Namun sayangnya ia tak menemukannya di dalam. Gavin terus mencari Dirga kesemua ruangan, namun ia masih tak menemukannya. Hingga satu pikirannya melayang pada satu ruangan yang tidak pernah ia sambangi.


"Bi, Inah." Panggil Gavin pada salah satu pembantu di rumah Dirga.


"Ya, den" sahut bi Inah.


"Dimana gudang rumah ini" tanya Gavin. Hanya satu ruangan ini saja yang tidak pernah Gavin tahu.


"Di belakang kamar saya, den"


Gavin sedikit berlari menuju arah yang di maksud bi Inah. Sesampainya ia Disana, ia memegang handel pintu berwarna coklat tersebut.


Di kunci. Pintunya di kunci. Tak terdengar suara apapun di dalamnya saat Gavin menempelkan telinganya dipintu. Gavin menjadi ragu. Maka ia berbalik badan, hendak meninggalkan tempat itu. Namun, baru tiga langkah kakinya, ia mendengar  suara seseorang. Tepatnya suara Dirga.

__ADS_1


"Baby,,," sontak Gavin kembali berbalik arah dan mendekat. Itu suara Dirga. Ia mengetuk pintu gudang itu. Dan tak lama pintu pun terbuka. Dirga kaget bukan main. Ia mengira jika pembantunya yang mengetuk.


Gavin menerobos masuk kedalam gudang saat Dirga membuka pintunya. Alangkah kagetnya ia mendapati banyak sekali foto Naiyra yang terdapat di berbagai tempat. Ruangan yang semula dianggap gudang, nyatanya sudah berubah layaknya sebuah studio foto. Dan itu berisi semua foto Naiyra dalam berbagai kesempatan. Gavin sungguh tidak percaya.


"Vin" Dirga menghampiri Gavin. Berdiri di belakangnya.


"Apa maksud semua ini, Ga???" Gavin berbalik. Menatap lekat mata Dirga.


Dirga tersenyum. Matanya terus saja memandang salah semua foto Naiyra yang ada di hadapannya. "Baby emang cantik banget yah, Vin. Sejak awal emang gue udah tergila-gila sama dia." Dirga meraih satu foto Naiyra saat pertama kali ia mendaftar kuliah. Ia mencium foto itu di depan Gavin.


Gavin mencengkram kerah baju Dirga dan itu berhasil mendorongnya hingga membentur tembok "dan lu udah berani menyelinap masuk dalam kamar Naiyra"


Dirga menebas kedua tangan Gavin yang mencengkram bajunya, setelah itu ia mendorong dada Gavin hingga ia mundur beberapa langkah kebelakang. Dirga mendekat. Hanya ada raut keseriusan di wajahnya dan itu terkesan menantang di mata Gavin.


"IYA. ITU GUE!!! KENAPA, HAH??!" Dirga mulai tersulut emosi.


Tanpa aba-aba, Gavin melayangkan satu tonjokan di wajah Dirga, darah segar keluar dari sudut bibirnya.


"Lu udah bikin dia menderita" kata Gavin.


Dirga membersihkan darah di sudut bibirnya dengan ibu jari, kemudian membuang ludah berisi darahnya dan detik itu juga ia balik melayangkan tinjunya pada perut Gavin.


Gavin meringis membungkuk, tak lama ia mampu berdiri tegak.


"Hah...denger Vin, lu itu sahabat gue. Baby itu cinta mati gue. Gue berniat membeli dia seutuhnya. Tapi lu udah ngehancurin rumah bordil itu dan membawa Baby. Lu gak tau, selama satu tahun ini gue udah cari dia kemanapun pasca dia kehilangan orang tuanya. Sampai akhirnya, gue liat dia di kampus untuk pertama kalinya selama dalam setahun. Di tambah lu, Vin. Lu bercerita tentang Naiyra..selama ini gue diem karena gue Mandang lu sebagai sahabat gue. Tapi rasa cinta gue buat Naiyra gak bisa lagi gue bendung. Rasanya gue hampir Gila." ucap Dirga panjang lebar.


"Itu bukan cinta Dirga. Lu hanya terobsesi sama Naiyra." Ucap Gavin.


"TAU APA LU, HAH" Nada suara Dirga naik satu oktav. Dirga tidak terima cintanya dianggap hanya sebuah obsesi.


"Dari dulu mata gue hanya tertuju pada dia, Vin. Gue berusaha Deket dengan dia, gue bahkan selalu ada di Deket dia, Vin. Tapi dia gak pernah anggep gue ada. Sekalipun gue di hadapannya." Sambungnya.


"Lucu.." Gavin mengukir senyum di sudut bibirnya. "Cinta lu bilang. Tapi lu mau membeli dia. LU ANGGEP DIA APA, HAH?? BARANG??"


"Naiyra bukan barang yang bisa lu beli Dirga."


Dirga tersenyum sinis. Ia mendekat pada Gavin hingga jarak mereka hanya tinggal dua langkah saja. "Well...dia emang pantes di sebut 'Baby'."


Lagi. Gavin memberikan pukulannya pada Dirga hingga ia benar-benar babak belur. Ia tak membiarkan Dirga memiliki kesempatan untuk balas melawannya. Gavin terus memukuli Dirga hingga dia kehilangan kesadarannya.


Gavin melepas semua foto Naiyra yang terpasang didinding. Mengumpulkannya menjadi satu bersama fotonya yang terbingkai. Gavin lalu melepas kemeja yang dipakainya dan itu ia gunakan sebagai pembungkus untuk membawa semua foto-foto Naiyra.


Setelah dirasa tak ada yang tersisa, selanjutnya ia merogoh handphone Dirga dalam saku. Mengambil memory card lalu secepatnya ia pergi dari kediaman Pratama. Meninggalkan Dirga yang masih tergeletak dalam kondisi babak belur.


Gavin melajukan mobilnya dalam kecepatan penuh. ia menumpahkan rasa kesalnya. kesal pada dirinya sendiri dan kesal pada sahabatnya.


setibanya Gavin di rumah, ia melihat ada dua orang yang sudah ia kenal sedang duduk di ruang tamunya, tampak sedang menunggu. Gavin mendekat dan melihat Mark dan ayahnya, Mike. Gavin datang dengan membawa kemejanya yang membungkus semu foto Naiyra.


"Hai, son" sapa Mike.


"kalian,,," Gavin menggantungkan kalimatnya.


"Langsung saja pada intinya, dadd" ucap Mark. Gavin menaikkan satu alisnya melihat Mark.


"Aku rasa kau sudah tahu siapa pelakunya" Mike melirik pada kemeja Gavin.


Gavin mencengkram erat kemejanya dalam kediamannya. matanya lekat memandang mata Mike yang juga menatapnya intens. mereka seolah tengah berbicara melalui tatapan mata.


"apa yang akan paman lakukan" tanya Gavin.


"sesuatu yang tidak akan bisa kau bayangkan, jika kau tidak keberatan" kata Mike.


"ah,,rupanya paman tahu siapa dia." Mike tersenyum menanggapi mengangguk, mengiyakan.


"biar aku saja yang mengatasinya, paman" pinta Gavin pada Mark. Ada rasa tidak tenang yang di rasa Gavin bila membiarkan Mark mengambil alih sepenuhnya dalam menangani Dirga. beruntung Mike menghampirinya saat ini sebelum ia mengambil inisiatif membereskan Dirga lebih dulu.Ia tak tahu seperti apa sepak terjang Mike dalam bertindak.


"seperti yang ku duga." Mike mengalihkan tatapannya dari Gavin. Gavin duduk di hadapan Mike dan Mark. mendengar lebih jelas apa yang akan di sampaikan Mike padanya.


"Baiklah. Aku akan membiarkan dan memberimu kesempatan. tapi---jika kau lambat dalam bertindak. Maka aku tidak akan Mandang mu dan bekerja sesuai dengan caraku."


glek!!! Gavin menelan ludahnya susah payah. ketegasan Mike seakan peringatan telak untuknya. bukan, ketegasan Mike serat akan ancaman.


Gavin mengangguk sebagai jawaban. Ia tak bisa mengeluarkan suaranya begitu mendengar ucapan Mike.


"aku tidak akan bicara apapun pada Aland sampai kau selesai menangani sahabat gilamu itu." sambung Mike.


Mike melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya. "kami akan pergi. dan lakukan secepatnya"


Mark menekan pundak Gavin "semoga kau tidak tertular, bro" ledek Mark.


'Bule sialan.' batin Gavin.


Mike dan Mark membesarkan langkahnya meninggalkan kediaman Gavin.

__ADS_1


🥀🥀🥀


Bersambung,,,


__ADS_2