I'm not a Bitch

I'm not a Bitch
rencana jahat


__ADS_3

ia mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Melihat Naiyra tertidur di alam terbuka saat ini dan melihatnya kedinginan, membuatnya tidak tega. Tapi dia masih ingin berada disini bersama gadis ini.





🥀🥀🥀





Mark menggendong Naiyra ala bridal style. Dengan berat hati ia akhirnya memindahkan Naiyra ke kamarnya. Jika saja angin malam ini tidak berhembus sangat kencang hingga udara menjadi lebih dingin, ia dengan senang hati menemani Naiyra tidur di kursi panjang yang terletak di sampingnya.



Mark berpapasan dengan Widya saat sudah memasuki bagian dalam rumah. Widya lalu mengantar Mark hingga ke kamar Naiyra dan membantunya membukakan pintu kamarnya, setelah itu Widya kembali berbaur dengan yang lainnya.



Mark membaringkan Naiyra di tepi kasur king aizenya. Pandangannya beralih pada anak rambut yang menutupi wajah sendu Naiyra yang terlelap. Kemudian Mark menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Naiyra.



cantik sekali,,,,



melihat kecantikan Naiyra yang terlihat alami tanpa riasan membuat Mike tak bosan memandang wajahnya tanpa banyak berkedip. Wajahnya bergerak mendekat ke wajah Naiyra.


semakin dekat, hingga sadar tidak sadar bibirnya sudah mendarat di bibir mungil Naiyra. Tidak ada lumatan. Mark langsung menjauhkan wajahnya saat ia menjadi pergerakan tubuhnya yang refleks.



'bagai mana aku bisa tidak sadar, tubuhku pun tanpa sadar mendekat padanya. Memang benar, bahwa gadis ini sangat cantik bahkan sejak pandangan pertama' batin Mark bermonolog.



Ahh,,,rasanya aku tidak sabar menanti hari esok.



Mark berjalan keluar meninggalkan kamar Naiyra, menutup pintunya dan kembali ke kamar tamu yang ia tempati. Bukankah ia juga harus tidur cepat jika ingin terlihat lebih baik untuk penampilannya besok.



setelah pintu tertutup, mata Naiyra perlahan terbuka. Rupanya ia sudah terbangun saat Mark menggendongnya. Karena rasa malunya, ia tak berani membuka kedua matanya dan memilih untuk terus berpura pura tidur.





🥀🥀🥀


#Naiyra




'Dan apa itu tadi. Ia menciumku Saat ia menyingkapkan anak rambut ku" Naiyra masih tidak menyangka jika Mark bisa melakukan hal itu. Ini Indonesia, bukan Amerika yang dengan bebas melakukan hal semacam itu. tidak kah ia tahu akan hal itu. dan sepertinya tidak ada rasa penyesalan pada dirinya.



Ia bengkit lalu berjalan ke arah pintu begitu saja. Seolah kejadian tadi adalah ciuman pengantar tidur ku. Bagai mana aku bertemu dengannya besok?? Akankah aku juga bersikap seolah tidak terjadi apapun. Huft!!!! Ada baiknya ia mengunci pintu. Aku tidak ingin Mark kembali masuk dan mencuri kesempatan seperti tadi.



"ya lord,,tadi itu ciuman pertamaku." sesal Naiyra. Dengan perasaan yang masih penuh sesal, Aku mematikan lampu kamar ku dan bergegas tidur.



Perlahan aku membuka mataku. Samar samar aku melihat jam di atas dinding. Waktu sudah menunjukan pukul 07.00 pagi. aku harus segera bersiap. Karena hari ini aki beserta keluargaku dan keluarga uncle Mike akan berlibur ke Bali, menemani keluarga uncle Mike.



Aku tak banyak berkutik kala aku tahu nenek Marlyn ikut bersama kami. Aku sengaja berjalan didepan bersama Mark dan keluarganya. Menghindari tatapan tidak suka dari nenek Marlyn yang sedari tadi tertuju intens padaku.



"Kalian duluan saja ke hotel, aku mau menghubungi seseorang dulu" aku mendengar nenek Marlyn bicara pada Daddy dan mommy.



"Baiklah, mom" jawab Daddy.



Aku lihat nenek Marlyn menjauh dari rombongan kami ketika ia mulai mengeluarkan ponselnya.



Kami sudah tiba di salah satu hotel bintang lima yang berada tak jauh dari pantai Kuta, Bali. Kami memesan 6 kamar luxury hotel. Satu kamar untuk masing masing untuk Daddy dan mommy, uncle Mike dan aunty Regina, aku, Mark dan satu untuk nenek Marlyn.



Setelah kami membereskan barang barang kami di kamar, kami semua langsung pergi ke restoran hotel untuk mengisi perut kami yang lapar. Aku cukup lega saat tak melihat nenek bergabung bersama kami.





🥀🥀🥀


#penulis




"Atur semuanya sesuai rencana. Aku tidak ingin melihat gadis itu lagi besok pagi. Dan ingat, jangan sampai ada orang yang tahu bahkan melihat wajahnya ".



Marlyn mematikan sambungan teleponnya. Matanya memandang lurus pada kaca bening dengan pantai yang menjadi panoramanya. Di dalam otaknya telah tersusun sebuah rencana untuk menyingkirkan anak yang menurutnya tidak berguna, pembawa sial dan tidak tahu diri. Sampai kapan pun ia tidak akan Sudi mengakuinya sebagai bagian dari keluarga, apa lagi menganggapnya seorang cucu. Tidak akan pernah.



tanpa ia sadari, seseorang tengah mencuri dengar pembicaraannya di sebrang telepon dengan seseorang. orang itu tersenyum smirk dan berlalu meninggalkan Marlyn yang juga sudah kembali menyusul keluarganya.



Waktu terus saja berjalan. Dan siang pun kini telah berganti malam. Mereka sudah memesan mereservasi sebuah restoran mewah untuk acara makan malam. Setelah itu mereka akan berkunjung ke beberapa tempat yang mengadakan pertunjukan.


__ADS_1


Bagi Marlyn ini adalah waktu yang tepat untuk menyingkirkan Naiyra dari kehidupan anak semata wayangnya. Hingga ia bisa lebih fokus lagi dalam program memiliki anak.



Maya Marlyn terus saja ia arahkan pada banyak orang. Lebih tepatnya ia mencari orang suruhannya untuk segera bertindak. Setelah ia menemukan orang itu, selanjutnya ia memberikan isyaratnya pada orang itu untuk segera beraksi.



Seolah dewa keberuntungan tengah berpihak padanya. Tanpa sadar Naiyra melangkah menjauh dari rombongan keluarga. Kedua orang suruhan Marlyn mengikuti Naiyra yang hendak ke toilet.



Setelah keluar dari toilet, Naiyra di hadang oleh dua orang yang tidak dikenalnya.


Naiyra menghindar, mencari jalan kesebelasan arah kiri, namun pria yang perawakan lebih tinggi menghadangnya. Ia berjalan kembali ke arah kanannya. Namun pria yang lebih tambun juga menghadangnya.



"Permisi, beri saya jalan" Naira memandang kedua orang itu bergantian



"Kau harus ikut bersama kami, nona" jawab pria tambun tersebut.



Naiyra mengkerut kan alisnya. "Untuk apa aku ikut dengan kalian, aku tidak mau !!!. Minggir. Beri aku jalan, jika tidak maka aku akan berteriak" ancam Naira. Ia mencoba terlihat lebih berani walau sebenarnya ia menyimpan ketakutan yang sangat besar.



Kedua pria tersebut saling menoleh dan beradu pandang. Berbicara melalui isyarat lalu secepat mungkin pria tambun itu membekap Naiyra dengan sapu tangan yang sudah diberi obat bius.



Naiyra tak bisa melawan lebih banyak karena obat bius itu begitu cepat bereaksi dan melemahkan pandangannya hingga Kurang dari satu menit kesadaran Naiyra pun hilang.



Tubuh Naiyra ambruk dalam dekapan pria tambun tersebut.



Lantas Naira dibopong menuju sebuah mobil grand max berwarna hitam.



"Madam, target sudah kami dapatkan" pria berperawakan tinggi bicara di sebrang telepon, Marlyn.



"Bagus. Singkirkan dia sejauh mungkin dari sini. Jangan sampai dia di temukan atau wajahnya di lihat orang lain" titah Marlyn.



Kedua orang tersebut pergi menuju sebuah pelabuhan. Di sana sudah disiapkan kapal pesiar yang sengaja di sewa Marlyn untuk membuang Naiyra sejauh mungkin hingga ia tak bisa di temukan oleh siapapun.



Sesampainya kedua pria tersebut di pelabuhan, ia kembali menggendong Naiyra menuju sebuah kapal.



Namun saat mereka hedang menaiki kapal, mereka di hadang oleh tiga orang berjas hitam dengan earphone yang terpasang di telinga kanan mereka.



"Siapa kalian. Kami tidak punya urusan dengan kalian" kata pria berbadan tambun yang menggendong Naiyra.




"Tapi aku punya".



Tanpa banyak bicara lagi, ia segera memerintahkan ketiga anak buahnya untuk menghadang dua orang suruhan Marlyn. Dan perkelahian pun terjadi.



"Siapa kau" tanya pria kurus yang masih menggendong Naiyra pada pria yang kini sudah berhadapan dengannya seorang diri.



"Itu tidak penting. Aku menginginkan gadis yang kau gendong. Cepat berikan padaku atau nyawamu melayang" ucap pria tersebut.



Ia meletakan Naiyra pada bagian kapal lalu secara membabi buta menyerang pria di hadapannya. Namun sayang, kemampuannya tidak ada apa-apanya di bandingkan pria yang ia hadapi. Al hasil, Ia tumbang, tersungkur dan pingsan begitu saja. Lalu pria berkemeja putih tersebut melempar kedua orang suruhan Marlyn ke laut.



Kapal yang semula di gunakan dua orang tersebut, kini dikuasai oleh mereka untuk membawa Naiyra. Sementara pria tersebut pergi dengan menggunakan mobilnya menuju sebuah landasan terbang.



Naiyra tersadar di tengah perjalanan. Matanya yang belum sepenuhnya bisa melihat dengan jelas, membuatnya tak sadar akan keberadaannya saat ini.



Matanya terbelalak saat ia mengingat kejadian terakhit yang dialaminya.



"Kau sudah sadar, nona." Ucap salah satu pria berjas hitam.



"Dimana aku??" Naiyra merengkuh dalam duduknya. Meringkuk takut dengan badan yang terlihat sudah bergetar, ketakutan.



"Tenang lah. Kita sedang berada di tengah laut" orang kedua menyahut.



"Siapa kalian. Mengapa kalian membawaku. Aku ingin pulang" teriak Naiyra. Suaranya mampu memekikkan telinga ketiga pria tersebut.



"Pulang,,!! Perjalanan kita masih jauh nona. Ini...makanlah" satu pria memberikan nasi kotak pada Naiyra. sedang kedua pria lainnya tengah membersihkan lubang telinga pendengarannya dengan jari mereka.



Naiyra tidak memakannya dan hanya membiarkannya tergeletak begitu saja di sana. Jika saja saat ini bukan sedang berada di tengah laut, ia sudah mencari cara untuk bisa kabur dari sini.



'ya lord....kemana mereka akan membawaku...mommy,,,Daddy...Naiyra takut' rintih Naiyra dalam hati. Air mata sudah mengalir deras di kedua pipinya.



Kapal pesiar yang mereka naiki telah menepi di sebuah dermaga.

__ADS_1



Suasana di tempat ini sangat sepi. Tak banyak kapal laut lain yang ada disini. Jika di lihat dari keadaan sekitar, nampaknya ini adalah sebuah pulau yang tak berpenghuni. Tak banyak penduduk lokal yang berkeliaran. Hanya terlihat beberapa nelayan yang sedang menebar jaring ikan.



Naiyra di tuntun pada sebuah vila yang tak jauh dari bibir pantai. Setelah ketiga orang tersebut mengantar Naiyra, mereka kembali menaiki kapal pesiar dan pergi tanpa menghiraukan ocehan Naira yang meminta di pulangkan.



Naiyra terus menangis, ketakutan. Ia keluar dari vila dan mengelilingi pulau ini yang entah ada dimana. Harapannya saat ini adalah menemukan orang lain dan meminta pertolongan. Namun sejauh kakinya melangkah kesetiap sudut  pulau ini, ia tak menemukan seorang pun disini.



Pulau ini benar-benar tak berpenghuni.



Tak ada orang lain yang terlihat di pulau ini. Bahkan nelayan tadi yang sedang menangkap ikan pun sudah tidak terlihat batang hidungnya.



Ia benar benar seorang diri saat ini.



Naiyra kembali kedalam vila saat hari sudah mulai gelap. Rasanya percuma saja ia mencari orang lain saat ini. Ia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri saat ini. Ia bahkan merutuki dirinya sendiri yang tidak membawa ponselnya ketika terakhir kali ia pergi ke toilet saat berada di Bali.



Ia masih tidak mengerti dengan nasibnya saat ini. Banyak sekali pertanyaan muncul dalam benaknya. Mengapa ia di culik dan di buang ke pulau ini? Dan siapa yang telah melakukan semua ini padanya. Sebab ia merasa tidak pernah sekalipun ia berbuat jahat kepada orang lain.



''mommy,,,,Daddy,,,,kalian dimana??? Apa kalian mencari ku. Aku takut disini..hiks,,hiks,,," keluh Naiyra dalam tangisnya.



Sepanjang malam Naira hanya menangis dan terus menyebut kedua orang tua angkatnya hingga ia menjadi lelah. Tak lama Naiyra pun terlelap dengan mata yang sudah membengkak akibat terlalu lama menangis.



Kicauan burung terdengar kecil dari kejauhan. Membuat Naiyra terbangun dari tidurnya. Naiyra mencoba membuka matanya secara maksimal walau itu dirasa sulit. Tubuhnya yang masih tergeletak di atas lantai kayu membuatnya sadar akan kejadian yang ia alami.



Ia segera bangkit. Sejak ia di tinggalkan di vila ini, ia sama sekali belum melihat keseluruhan vila ini. Kemarin ia terlalu sibuk berkeliling pulau dan menangis.



Kriioukkk kraouk...



Perut Naira terdengar jelas sekali. Ia mengelus perutnya yang terasa sangat lapar. Ia lalu pergi mencari letak dapur, berharap menemukan sesuatu yang bisa ia makan untuk mengganjal perutnya yang lapar.




🥀🥀🥀




"Tenanglah, honey!!! Kita pasti bisa menemukan Naiyra" Aland mencoba menenangkan Widya dalam kamar hotel mereka. Widya sejak semalam terus saja menangisi Naiyra. Ia bahkan tidak tidur barang satu menit saja.



Keluarga Stevano sudah mengerahkan banyak orang untuk mencari keberadaan Naiyra. Namu hingga pagi hari ini, tak ada satupun informasi yang mereka dapatkan dari anak buah mereka.



"Bagaiman aku bisa tenang. Aku tidak tahu Dimana Naiyra berada, Bagaimana keadaanya, bersama siapa dia. Atau bisa saja dia di culik Aland." Widya histeris.



Aland juga sama khawatirnya dengan Widya. Namun saat ini ia lebih mengkhawatirkan kondisi Widya. Ia takut Widya kembali depresi dan melukai dirinya sendiri.



"Cepat cari dan temukan dia. Aku tidak ingin terjadi hal yang buruk kepadanya" Widya meronta, menggenggam erat kemeja Alan, dan seketika jatuh, tak sadarkan diri.



Melihat sang istri yang sudah tidak sadarkan diri, Aland dengan sigap menangkap tubuh lemah istrinya. Menggendongnya keluar kamar.



"Brother, apa yang terjadi dengan istri mu" tanya Mike saat melihat Aland di lobi.



"Mike, tolong siapkan mobil. Kita bawa Widya ke rumah sakit secepatnya"



"O,,oke. Tunggu sebentar" Aland mengangguk.



Tak lama Mike menghentikan mobil tepat di hadapan Aland. Dan mereka segera membawa Widya menuju ke rumah sakit. Sementara Mike menelepon sang istri guna memberi kabar pada yang lain untuk menyusul mereka ke rumah sakit.



Widya mendapatkan perawatan khusus selama berada di rumah sakit. Stress berat yang dialami Widya membuat tubuhnya lemah dan tekanan darahnya menjadi rendah.



Alan memandang sendu wajah istrinya.



"Aku berjanji, apapun akan aku lakukan untuk menemukan putri kita. Karena sejak Naiyra hadir, kau sembuh dari depresi mu. Jika saat ini Naiyra juga yang bisa membuatmu lebih tenang, aku kan mencarinya walau hingga ke ujung dunia sekalipun. Semu akan aku lakukan demi dirimu, honey. Bertahanlah" ucap Alan sangat tulus.



Mike menepuk satu pundak Aland, memberi semangat agar Aland kuat menghadapi masalah yang sedang menimpanya saat ini.





🥀🥀🥀


Bersambung,,,



__ADS_1


__ADS_2