
Napoli, Italia
"dare loro una sorpresa inaspettata" (berikan mereka kejutan tak terduga). seorang pria bertubuh besar dan gagah tengah menghirup sebuah rokok dengan merk ternama. Ia tengah berbicara pada anak buahnya yang memberikan laporan keberadaan Mark di Indonesia. Sudah dua tahun terakhir ia terus melacak keberadaan Mark.
"guarda tutti i loro movimenti in Indonesia" (awasi semua pergerakan mereka di Indonesia). Pria itu kembali memberikan perintahnya.
Carlos Ernesto merupakan ketua mafia yang terkenal di Napoli, ia merupakan musuh terbesar dari klan yang di pimpin oleh Mark dan Aland. Sejauh ini yang di ketahui Carlos, Mark adalah ketua mafia yang Aland pimpin. Ia tidak mengetahui jika Aland adalah ketua dari kelompok mafia yang paling di segani.
Orlando Stevano adalah nama Italia dari Aland Stevano. Sejak menikah dan pindah ke Indonesia Orlando Stevano mengubah namanya menjadi Aland Stevano. Ia membawa serta ibunya, Marlyn Stevano.
Sebelum menikah dengan Widya, di Italia Aland bergerak di balik layar yang dilakukan Mark. Tidak ada yang menyangka jika Mark hanyalah tangan kanannya. Dalam dunia mafia, Aland di kenal dengan sebutan God Father. Namun tak ada satupun dari mereka yang mengetahui identitas asli dari seorang yang mereka sebut God Father. Kecuali Mike dan Mark.
Beberapa anggota dari klan yang di pimpin Carlos di tempatkan di beberapa titik yang menjadi pergerakan bisnis dari kerajaan Aland. Mulai dari Jakarta, Bogor, Bandung, Batam yang menjadi pulau perhubungan ekspor/impor melalui kendaraan laut dan terakhir mereka menempatkan anak buahnya di Bali.
Tujuan utamanya saat ini adalah menghancurkan kerajaan bisnis dari kelompok Cosa Lucca yang di pimpin Aland. Ambisinya yang ingin menguasai pasar gelap membuatnya harus menyingkirkan semua kland yang menjadi musuhnya. Diawali dengan kerajaan bisnis lagalnya. Dan yang terberat di tanganinya adalah klan yang Aland kuasai.
Carlos pergi bersama anak buahnya menuju pelabuhan. Ia akan melakukan transaksi jual beli senjata ilegal dan penjualan manusia. Di barengi dengan transaksi jual beli obat-obatan terlarang. Kelompok Carlos bergerak di semua bidang. Tanpa terkecuali.
Ia memantau segala transaksi jual beli yang terjadi. Setelah semuanya dirasa sudah berada dalam kesepakatan, ia mengangkut semua senjata dan juga obat-obatan ke sebuah markas besar yang berada tak jauh dari mansionnya.
Mansion berlantai dua yang sangat luas menjadi hunian Carlos di Napoli. Segala barang mewah tampak menguasai seisi Mension memberi kesan mewah dan elegan. Dipadukan dengan warna klasik yang kontras namun berpadu apik dengan segala keindahan yang memanjakan mata bagi siapa saja yang memasukinya.
🥀🥀🥀
Jakarta, Indonesia.
Mike tiba di salah satu anak perusahaan WIDa's Corp. Perusahaan yang bergerak dalam sektor pariwisata, Traveling dan Wedding organizer. beberapa karyawan tampak berbaris menyambut kedatangannya di sisi kanan dan kiri. Dengan sedikit membungkukkan badan, mereka memberi hormat. "Selamat datang tuan" ucap semua karyawan yang menyambutnya. Mike terus melaju langkahnya. Ada beberapa kendala yang tengah Mike periksa. Bocornya beberapa konsep design dan rancangan perencanaan menjadi hal yang sedikit serius disini. Pasalnya segala konsep dan rancangan yang akan mereka gunakan sudah lebih dulu di pakai oleh pesaing mereka. Mau tak mau Mike harus memberikan ultimatumnya sebelum ia menyelidiki siapa musuh di balik selimut.
Ia mengumpulkan semua karyawan yang bertanggung jawab dan mengadakan rapat saat ini juga.
"Aku tidak akan berbasa basi disini. Langsung pada intinya saja. Aku memberikan kesempatan bebas pada siapa saja yang secara jujur mengakui kesalahannya dalam membocorkan segala konsep dan design yang ada. Tidak akan ada hukuman disini. Tapi...." Mike menjeda kalimatnya. Pandangannya tertuju pada wajah-wajah bawahannya yang sedang serius mendengarkan celotehannya.
"Jika sampai aku yang menemukannya, maka tak ada kata ampun yang akan aku berikan. Jadi,, mengaku saja saat ini. Karena aku tahu, diantara kalian ada seorang penghianat." Lanjut Mike. Penuh ketegasan. Semua kayrawan terkait menundukkan kepalanya. Tak ada satu kata pun keluar dari mulut mereka.
"Tidak ada yang mengaku. Baik lah...kalian boleh pergi. Masalah ini akan aku selidiki seorang diri. Dan jangan harap aku akan mengampuni siapa saja yang bersalah disini. Kalian boleh kembali bekerja." Titah Mike. Semua membubarkan dirinya.
"Selidiki" titah Mike pada tangan kanannya yang berdiri di belakangnya.
"Baik tuan. Saya pastikan dalam waktu satu jam anda akan mendapatkan laporannya" sahut tangan kanannya. "bagus".
Mike berdiri. Merapihkan kerah jasnya dan berjalan meninggalkan gedung WIDa's Corp.
Siapa sangka di tengah perjalanannya kembali menuju kediaman Stevano, Mike melihat Justin dan Errin bersama memasuki sebuah pusat perbelanjaan. Mike melihat Errin tengah menjinjing beberapa barang belanjaannya saat memasuki sebuah toko yang terletak tak tauh dari pintu masuk. Yang ada dalam pikiran Mike adalah 'bagaimana mereka bisa bersama??'
🥀🥀🥀
"Nona, kau sudah membeli banyak barang" Justin memperingati Errina.
__ADS_1
"Kau ini cerewet sekali. Seperti ibuku saja."
"Kau menguras jatah liburku, nona. Perlu kau tahu, aku tidak bisa pergi menemui teman kencan ku karena menemanimu" celoteh Justin. Namun masih mengikuti kemana kaki Errina melangkah. Bak seorang pelayan yang mengikuti majikannya.
"Ohh..jadi kau tidak ikhlas menemaniku" Errina berbalik. Tangannya ia lipat didepan dada.
"Kau tahu sendiri, Indonesia bukan negara bebas seperti Amerika. Tidak semua wanita disini bisa diajak,,," Justin menjeda kalimatnya. Errina menaikkan satu alisnya mendengar Justin menjeda kalimatnya.
"ONS maksudmu??" Tanya Errina. Justin mengangguk membenarkan. Bibirnya sudah menyunggingkan senyum termanisnya.
Errina mengambil paksa beberapa barang yang semula dibawakan oleh Justin dan dengan ketus ia berkata "sana !!! Pergi. Temui teman ONS mu itu"
"Aku bahkan sudah melewatkannya" jawab Justin.
Sungguh. Entah dirinya yang tidak mau mengerti atau justru pria dihadapannya ini yang tidak peka bahwa ada seorang wanita di hadapannya yang sedang butuh untuk di hibur.
"Bagaimana jika kita pergi ke Night club'??" Tawar Errina.
Justin tampak berfikir. Kemudian menyetujui ajakan sahabat nona mudanya ini. Namun sebelum mereka berangkat, Errina mengganti pakaiannya di dalam mobil yang Justin kendarai.
"Masuklah, aku sudah selesai berganti pakaian, Justin." Titah Errin dalam mobil.
Justin masuk. Duduk dalam kursi kemudi. Ia menoleh. Sesaat terpesona pada penampilan menggoda dari seorang Errina Paris. Gaun ketat berwarna metalik di padukan high heels berwarna hitam tampak membentuk lekukan tubuhnya. Justin memandangi buah dada Errina yang tampak begitu sintal dan padat. Ia bahkan sudah menelan salivanya sendiri. Ia pria normal disini, wajar saja jika ia sedikit tidak bisa menahan godaan disampingnya. juniornya bahkan sudah menegang hanya dengan melihatnya saja.
"Ekhem" Justin bedehem. Buru-buru memalingkan wajahnya menatap lurus kedepan sebelum Errin menyadari tindakannya yang memperhatikan dirinya.
"Kau benar. Kita kembali saja ke tempatmu" pinta Errina.
"Sebaiknya aku mengantarmu pulang, nona." Tolak Justin.
"Tidak mahu. Fino pasti ada di rumah ku. Aku tidak ingin menemuinya lagi"
"Aku akan mengantarmu ke Hotel. Kau bisa tinggal Disana"
"Tidak bisa kau kau biarkan aku berada dipartemen mu saja. Ayah dan paman ku pasti menemukan ku Disana" Errina memelas. Kemudian Menundukkan wajahnya. Justin membuang nafasnya. Tidak ada pilihan lain. Mau tak mau ia kembali membawa Errina ke apartemennya.
Errina menjatuhkan dirinya begitu saja di atas sofa panjang. Kakinya ia naikkan pada sandaran tangan, itu membuat gaun pendeknya sedikit terangkat. Memperlihatkan kaki jenjang dan pahanya yang begitu mulus.
lagi...
Justin tergoda dan menelan salivanya. Entah yang keberapa kalinya. Dan Errina tidak menyadari itu. Justin berpaling, mengalihkan dirinya berjalan menuju dapur untuk membuat minuman namun saat ia selesai dan menyajikannya ia melihat Errin sudah terlelap tidur di atas sofa.
Justin memindahkannya kedalam kamar. menyelimuti tubuh Errina yang sungguh menggoda imannya saat ini.
Sungguh, Errina membuatnya pusing saat ini. Menahan hasrat sungguh membuatnya merasakan sakit. ah...andai saja ia bisa melampiaskannya saat ini juga. namun ia tidak bisa meninggalkan Errina seorang diri saat ini.
---
__ADS_1
Justin dan Errina memasuki night club. Mereka Di sambut dengan dentuman musik yang sangat keras. Di atas podium sudah berdiri sexy seorang DJ wanita sedang memainkan piringan hitamnya.
Justin menggandeng tangan Errina, menuntunnya pada sebuah tempat yang sudah mereka pesan sebelumnya.
Club sebenarnya bukan gaya Errina. Entah setan mana yang merasukinya hingga ingin pergi ketempat seperti ini. Yang ada dalam pikirannya adalah bagaimana ia bisa secepatnya menghapus bayangan menjijikan yang terus bersarang di kepalanya. Mungkin cara ini bisa sangat ampuh. Pikirnya.
Errina berdiri. Hendak melangkah menuju kerumunan orang yang sudah menari mengikuti irama musik di bawah arahan seorang DJ, namun tangannya di cekal oleh tangan kekar seorang pria. Errin menoleh "ayolah Justin..aku hanya ingin menari Disana"
Justin menggeleng "Disana terlalu berbahaya, nona. Banyak pria hidung belang yang akan menatapmu lapar. Duduk dan lihat saja dari sini. Aku akan menemanimu"
Errina menghempaskan tangan Justin "Aku bisa menjaga diriku"
Justin kembali menarik tangan Errin "nona...". Tubuh Errina jatuh di pangkuan Justin. Diam sejenak saling menatap. Sorakan pengunjung yang sedang antusias menyadarkan keduanya. Errina bangkit. Tetap melajukan langkahnya hingga ketengah lantai. Berjoget mengikuti alunan irama. Diatasnya lampu berkedip dengan berbagai warna menyilaukan. Justin pasrah. Ia hanya memperhatikan Errina dari tempat duduknya. sesekali menenggak minumannya, dan Membiarkan Errin melakukan apa yang ia inginkan. Ia akan memperhatikannya dari kejauhan. Menolak beberapa wanita yang sengaja menggodanya hanya karena fokusnya pada Errina saat ini. Sekarang Justin mereka menjadi seorang pengasuh.
Justin segera bangkit dari duduknya saat ia melihat beberapa pria mengelilingi Errina yang sedang menari seorang diri. Tak hanya itu, ia juga melihat salah satu dari mereka menyodorkan satu gelas berisi alkohol pada Errin. Sialnya Errina menerima gelas itu tanpa tahu apa isi di dalamnya. lalu menenggak habis isi dari gelas yang di berikan. Sungguh gadis yang sangat ceroboh. Ia tak memikirkan bahaya apa saja yang bisa mereka berikan pada minuman itu. Bisa saja minuman itu dicampuri sesuatu, bukan..
Errina yang tak tahu apa isi dari gelas tersebut langsung merasakan mabuk. Pandangannya berkunang. Pusing melanda kepalanya. Ia merasakan panas disekujur tubuhnya. Beberapa pria itupun tampak tertawa puas mendapatkan gadis polos yang sudah mabuk hanya di beri satu gelas berisi wine saja.
"Jangan sentuh dia" Justin menepuk bahu pria yang akan merangkul Errin.
"Hei bung...dia milik kami"
BRUGH!!!
Tanpa aba-aba Justin meninju pria tersebut. Pria tersebut jatuh tersungkur memegangi sudut bibirnya yang berdarah. "brengsek"
"Apa yang kalian lihat. Hajar dia" titah pria itu pada beberapa temannya.
Satu orang maju menyerang Justin. Justin berhasil mengelak. Ia kembali di serang oleh yang lainnya. Namun Justin berhasil menyerang balik sebelum ia terkena pukulan. Justin meninju perut pria yang lainnya tersebut. Orang itu tersungkur. Kali ini Justin kembali mendapat serangan dari dua orang sekaligus. Salah satu bahkan sudah memecahkan botol kosong dan berusaha menyerangnya. Justin kembali menghindar, berhasil menghajar salah satunya. Beruntung ilmu bela diri Justin tak kalah hebat dari mereka. Hingga dalam waktu sekejap Justin berhasil menumbangkan ke lima orang tersebut. Ia menghampiri Errina yang sudah sangat mabuk. menepuk pipinya. Lalu berdiri memanggil salah satu winters dan memberikan satu kartu kreditnya untuk membayar ganti rugi atas kekacauan yang baru saja terjadi.
"nona..." namun Errina hanya mengerang "panass..." racaunya.
'sial'. maki Justin dalam hati. Benar saja dugaannya. minuman itu telah di campur dengan obat perangsang.
tanpa pikir panjang, Justin menyewa private room dan meminta pelayan untuk menyediakan batu es satu bethub penuh.
"panas Justin....tolong aku" rintih Errina. Ia sudah membuka gaunnya dan hanya menyisakan bra dan under ware dengan dengan warna senada.
pintu di ketuk. Justin membungkus tubuh Errina menggunakan spray yang membungkus kasur. beberapa pelayan datang dengan membawa banyak batu es yang di pesan Justin dan mengisinya kedalam bathub kamar mandi yang berada di dalam private room tersebut. setelah itu semua pelayan tersebut mengundurkan dirinya. Justin kembali menghampiri Errin yang sudah dalam keadaan gelisah. Sprey yang semula membungkus tubuhnya sudah tergeletak dilantai.
tubuh Errina yang hanya mengenakan bikini sungguh sungguh membuat Justin tidak tahan di buatnya. Namun ia tak ingin menerkam Errina seperti ia menerkam seorang jalang. Errina adalah gadis baik-baik.
Namun tidak Justin pungkiri. Errina merupakan godaan terberatnya saat ini. Ia akui tubuh Errina benar-benar sangat menggoda. Melihatnya meliuk-liuk di atas tempat tidur membuatnya susah payah menahan birahinya. Bagaimana setelah ini jika kulit mereka saling bersentuhan. Tidak mungkin bukan jika Justin menyeretnya ke kamar mandi untuk mengatasi masalah yang di dera Errina saat ini.
Tidak ada cara lain selain Justin harus menggendong Errina untuk dibawa kedalam kamar mandi. Justin merendam tubuh Errin dalam air dingin yang sudah tersedia didalam bathub. Ia mengguyur kepalanya berulang kali, Errina bahkan sampai merasa gelagapan. Justin menghentikan kegiatannya saat dirasa tubuh Errina sudah sangat menggigil. ia membantu Errin berdiri, lalu segera membungkus tubuhnya menggunakan badthrob panjang.
🥀🥀🥀
__ADS_1
Bersambung,,,