
"maafkan aku, ayah ibu, mommy, Daddy,,,"
ucap Naiyra dalam hati saat mengingat mereka semua.
🥀🥀🥀
"Madam Merlyn...kau memang tahu betul seleraku" Merlyn kembali membawa satu hidung belang yang sudah memiliki antrian sejak jauh hari sebelumnya. Pria yang lebih mirip menjadi ayahnya tersebut melihat Naiyra dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan penuh nafsu. Matanya tak lepas dari Naiyra yang ia tahu adalah Baby.
"Baby,,ingat. Jangan membuat ulah. Atau kau akan tahu akibatnya Nanti" Merlyn memperingati Naiyra. Naiyra memalingkan wajahnya tidak peduli.
"Baaabbyyy,,,," pria paruh baya itu mengelilingi Naiyra sambil terus mengucap kata 'baby'. Sumpah demi apapun, Naiyra membenci nama itu. Jangankan menggunakannya, mendengar seseorang menyebutnya demikian membuat ia mendadak menjadi mual.
"Madam, Apa bisa kami keluar malam ini??" tanya pria paruh baya tersebut.
"Maaf, Mr. Ben. Baby harus tetap berada dalam jangkauan ku" ucap Merlyn pada pria paruh.
Mr. Ben menoleh kearah Merlyn. "Kamar ini, Aku tidak suka. Tidak ada sensasinya" Merlyn tersenyum mendengar ucapan Mr. Ben.
"Kamar seperti apa yang tuan inginkan? Saya bisa menyediakan". Sahut Merlyn. Mr. Ben tersenyum penuh makna.
Naiyra hanya menyimak percakapan dua orang di dekatnya. Otaknya berputar. Memikirkan apa yang harus ia lakukan pada pria paruh baya ini.
"Aku suka bermain kasar" nada Mr. Ben yang berada di belakang Naiyra terdengar sangat sensual di telinga Naiyra. Bahkan jarak bibirnya dari telinga Naiyra hanya sepuluh jari. Naiyra bergidik ngeri. Bulu kudungnya merinding. Efek Perpaduan antar rasa jijik dan rasa geli yang diterima telinganya.
Merlyn yang mengerti akan keinginan Mr. Ben segera menyiapkan kamar lain yang sesuai dengan keinginan kliennya saat ini.
sementara kamar lain sedang di siapkan, Mr. Ben menunggu di dalam kamar yang semula Naiyra tempati. Ia duduk di sofa sambil terus memperhatikan Naiyra penuh nafsu. Matanya terus saja memandang wajah dan kemolekan tubuh Naiyra.
Naiyra tidak peduli. Saat ini ia tengah mencari cara untuk membuat pria di hadapannya ini tak berkutik, seperti yang selama ini Ia lakukan pada setiap mereka yang datang.
"Apa yang kau pikirkan, baby?? Apa kau gugup?? suara Mr. Ben menyadarkan Naiyra.
"Ahh...tentu saja kau gugup, ini kali pertama mu, bukan begitu--baby". Naiyra hanya diam. Tak menjawab.
Naiyra memejamkan matanya. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun kali ini. Rasanya ia ingin menelan pria di hadapannya ini. berpikir tentang membunuh, Naiyra jadi teringat benda yang di berikan oleh Maya.
Ia membalikkan tubuhnya ke arah cermin lalu menyisir rambut panjangnya. matanya masih menelisik ke sekitar meja rias di hadapannya. Bodohnya ia yang telah melupakan dimana benda itu di letakan. Selesai menyisir rambutnya. Ia membuka laci meja rias tersebut.
Naiyra menemukannya...
Ia akan menggunakan itu nanti.
Merlyn kembali dengan senyum sumringahnya. Tangannya Masih mengayunkan kipasnya naik turun "keinginanmu sudah tersedia, Mr.
Mr. Ben melaju tanpa banyak bicara. Ia sudah tidak sabar memonopoli permainannya dengan Naiyra. sementara Naiyra, Merlyn harus menyeretnya susah payah.
"Jangan berbuat ulah, Atau,,,,Aku akan membunuh keluargamu" Naiyra terkejut.
keluarganya,,,,
mommy dan daddynya,,,
Ya lord...Apa Naiyra kali ini harus berakhir seperti ini. tidak,,tidak,,tidak. Lebih baik ia yang mati dari pada orang tuanya kali ini yang meninggal.
Ia sudah merasakan perihnya kehilangan orang tua. Ia tak ingin mengalami hal yang sama terulang kembali. Naiyra tidak akan sanggup.
"Orang tuaku sudah lama meninggal" ucap Naiyra. Setenang mungkin ia berusaha agar tidak terlihat gugup.
"Kau yakin?? Orang ini sudah meninggal" kali ini Naiyra tak bisa menyembunyikan kegugupan dan keterkejutannya kala Merlyn memperlihatkan foto Aland dari layar smartphone yang digenggamnya.
Naiyra tersenyum sinis. ekspresi wajahnya memandang remeh ancaman Merlyn. "coba saja kalau bisa"
Merlyn terlihat menahan emosi. Ia terus menyeret Naiyra pada kamar yang baru.
'ya lord....tolong selamatkan aku lagi...aku mohon" doa Naiyra dalam hati.
🥀🥀🥀
Aland merutuki dirinya yang bekerja lamban kali ini. biasanya hal seperti ini bisa dengan mudah ia selesaikan hanya dalam hitungan jam saat ia masih menjabat sebagai ketua mafia. Namun kini,,Sudah hampir satu bulan lamanya namun tak ada sedikitpun jejak yang ia dapat tentang Naiyra.
Informasi paling penting hanya ia dapatkan dari sang ibu yang mengakui kesalahannya. padahal ia sudah berjanji tidak akan mengampuni siapapun dalang di balik semua kejadian ini. Tapi apa yang harus ia perbuat mengingat sang mommy yang melakukannya.
"tuan" pria tinggi berkulit putih dan berambut pirang menghampiri Aland. "aku telah melacak semua CCTV yang ada di jalan raya dan aku menemukan ini" Ia membuka laptopnya dan menunjukan rekaman yang memperlihatkan Naiyra di dekati seseorang.
Dari layar persegi panjang itu ia melihat Naiyra menggunakan pakaian lusuh, lalu ia di hampiri seseorang. "putar kembali secara perlahan, Jack" pinta Aland pada pria bernama Jack. Jack melakukan apa yang Aland minta.
Rupanya Aland tengah meneliti wajah pria yang menghampiri Naiyra. Beruntung wajah pria dalam rekaman itu dapat di lihat jelas oleh Aland. Aland lantas meminta gambar wajah pria itu dan mengirimkannya ke ponsel. Setelah itu, Aland mengirimnya kembali pada Gavin.
"Lacak semua situs prostitusi online yang ada di Indonesia. Bobol semua tanpa terkecuali. kirimkan datanya padaku selambatnya 2 jam dari sekarang." titah Alan. Jack mengangguk "baik, Tuan".
Tanpa membuang waktu, Jack saat itu juga dengan lincah menggerakkan jarinya di atas keyboard. Jack melakukan pekerjaannya lebih cepat dari waktu yang di beri Alan.
__ADS_1
Semua situs sudah terperinci lengkap dengan para pekerja komersilnya. Alan membuka semua data situs yang telah Jack dapatkan. sejauh ia membuka, ia belum juga menemukan wajah Naiyra di sana.
"tuan, Saya mendapatkan dara diri pria yang terakhir kali bersama nona" Alan lengsung menelepon seseorang begitu Jack memberitahunya.
"Datang ke tempatku, sekarang juga." tanpa menunggu jawaban, Alan mematikan sambungan teleponnya.
kurang dari 15 menit Gavin sudah tiba di depan pintu hotel yang di tempati Gavin.
"Gavin,," belum sempat Alan meneruskan ucapannya, Gavin sudah menyelanya.
"Errin mengenal lelaki itu, om" sambar Gavin.
"Temukan dia, hidup atau mati" ucap Aland.
"Aku sudah menyekapnya"
Lagi-lagi Aland kalah satu langkah. pemuda yang satu ini bergerak cepat melebihi ekspektasinya. Aland tersenyum puas.
"Apa yang kau dapat?" tanya Aland.
"Ia yang menculik Naiyra dari dua orang suruhan ibu om. Lalu ia mengirim Naiyra ke pulau terpencil tak berpenghuni. Hingga ia di tolong oleh seorang nelayan dan mengantar nona hingga kepelabuhan. Nona tiba di Batam 3 jam kemudian. Dan orang itu(Ferro) menghampiri nona seakan pertemuan mereka bukan suatu kebetulan." jelas Gavin.
Gavin menjeda ceritanya. Ia nampak menimbang antara melanjutkan cerita atau menghentikan informasi.
"hanya itu?" Aland menaikkan satu alisnya. Gavin ragu. Mendadak ia menjadi takut. Takut melihat sisi Aland yang lain. mengingat ia mampu memerintah sebuah kelompok mafia.
"Lanjutkan."
"Ferro menjual Naiyra pada salah satu mucikari paling di segani di Indonesia."
Aland mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya nampak memutih. Sorot matanya penuh amarah. mendengar informasi yang Gavin dapatkan membuat darahnya mendidih.
"Jack. segera temukan anakku saat ini juga" Titah Aland.
"Dan kau, Gavin. antar aku menemui bedebah itu" Alan berlalu begitu saja. Kentara sekali Emosi tengah menyelimuti jiwanya.
Gavin mengantar Aland pada sebuah gudang tua milik keluarganya. Disana sudah Ada Ferro yang duduk di sebuah kursi kaya dengan tangan dan kaki yang terikat. mulutnya sudah di sumpali dengan kain dan direkatkan oleh lakban hitam.
Alan menjambak rambut Ferro sampai ia meringis kesakitan. "Kau berani menjual putriku pada seorang mucikari". Aland tersenyum penuh arti.
drrt...derrrttt....
Ponsel Aland bergetar saat ia belum selesai bicara pada Ferro.
"saya menemukan foto nona, tuan. tapi saya tidak yakin." kata Jack di sebrang telepon.
"apa yang membuatmu tidak yakin, Jack" tanya Aland
"namanya berbeda, tuan. Aku akan mengirimkan semua fotonya pada anda"
sambungan terputus. Dan tak lama Alan menerima pesan gambar yang memperlihatkan semua foto Naiyra.
Alan kembali menghubungi Jack.
"Ini adalah Naiyra, Jack. Segera bergerak. aku tidak ingin putriku berada di sana lebih lama lagi" titahnya pada Jack.
"om,,," sela Gavin. Ia bisa membaca jalan pikiran Aland saat ini.
"Jangan halangi aku. Aku tidak perduli dengan hukum di negara ini. Aku akan gunakan hukum ku sendiri" Gavin menelan ludahnya. Aland dimatanya saat ini nampak menakutkan.
Alan menyuruh dua anak buahnya untuk membawa Ferro.
"mau di bawa kemana dia, om?" tanya Gavin.
"Hal yang sama yang dia lakukan pada Naiyra". Gavin dan Ferro seketika melebarkan matanya. Hal yang dilakukannya pada Naiyra berarti mengirimnya ke pulau terpencil dan menjualnya...
menjualnya....
pada mucikari...
Alan rupanya sudah gila.
🥀🥀🥀
Anak buah Alan sudah mengepung di sekitar rumah bordil milik Merlyn. Tidak seperti rumah bordil lainnya. Dimana wanita komersil berkeliaran bebas mencari buruannya sendiri. disini semua para wanita komersil menempati kamarnya masing-masing. para pelanggan biasanya melihat semua wanita komersil melalui foto album yang memajang foto mereka sesuai kamar urut dan harganya masing-masing.
pantas rumah ini jauh dari kesan negatif jika dilihat dari luar. namun siapa sangka, rumah megah ini di jadikan tempat pelacuran.
Jack mulai masuk dengan menyamar sebagai pengunjung baru disana. Ia di sambut oleh seorang wanita komersil yang sangat cantik. Munafik jika Jack tidak tergoda oleh sosoknya yang molek. namun Tugas mengharuskannya untuk mengabaikan wanita yang menyambutnya kini.
"tuan..." Tangan Jack digelayuti.
__ADS_1
tak lama Merlyn datang.
"selamat datang di rumah kami, Tuan." Merlin tersenyum ramah. "bisa tunjukan tanda pengenal anda" pintanya kemudian.
Jack mengeluarkan dompetnya dan mengambil ID card-nya. Merlyn membacanya dengan sangat teliti. Setelah itu barulah ia memperbolehkan Jack masuk lebih dalam pada rumah bordil Merlyn.
"Maya, Antar Tuan ini memilih yang dia suka"
Maya mengantar Jack pada semua pekerja di kamarnya masing-masing. Jack banyak menolak setiap pintu yang Maya bukakan. Tujuannya kesini bukan untuk menikmati jasa mereka. Melainkan menyusuri dan mengamati setiap sudut rumah ini.
Jack juga memakai satu anting yang sudah di modifikasi. Dalam anting itu terdapat sebuah kamera kecil. kamera itu terhubung dengan monitor yang berada dalam Mobil Aland.
Aland terus memantau melalui layar tabletnya. Naiyra belum juga di temukan dari sekian banyak pintu yang sudah di bukakan oleh Jack. hingga akhirnya meminta Merlyn untuk membiarkan Maya menemaninya.
"Aku tidak ingin bercinta denganmu" Maya keheranan.
"lalu untuk apa kauembayarku?" tanyanya.
"untuk informasi" Ucap Jack. "aku tetap akan membayar mu, cantik. Aku bahkan akan memberimu sebanyak mungkin jika kau mau memberikan informasi yang aku butuhkan" Maya nampak menimbang. Mendengar pria dihadapannya ini mampu membayar berapapun membuatnya mengangguk tanpa bicara.
"Dimana Naiyra" Maya nampak terkejut.
"Baby" ucap Maya sangat kecil
"ya baby" ulang Jack.
"Dia berada di sebuah rumah sakit"
DEGH !!!!
Aland terkejut mendengarnya dalam mobil. Ia masih setia dengan tenang mendengarkan percakapan Jack dan Maya.
"Apa yang terjadi" Jack tak kalah kagetnya.
"Ia kembali melukai Pelanggan barunya. dan kali ini sampai masuk ruang operasi" jelas Maya.
"melukai bagaimana" tanya Jack kembali.
"informasi ku sangat mahal, tuan." Maya menunda ceritanya.
"Aku sudah memberikan penawaran, nona. Bukankah kau sudah tertarik" kata Jack.
"Bukan uang yang aku inginkan" Jack menatap Maya yang juga menatap mata hijaunya.
"apa yang kau inginkan"
"kebebasan".
🥀🥀🥀
Mendengar langsung cerita Maya melalui earphone yang terhubung dengan alat penyadap milik Jack membuat Aland bertindak tanpa menunda waktu lagi. Aland membakar habis rumah bordil milik Merlyn. semua bisnis yang Merlyn dirikan seketika itu juga dihancurkan tanpa sisa oleh Alan. Ia benar-benar murka saat ini. Merlyn sendiri sekarang sudah berada di rumah kosongnya.
rumah kosong itu adalah rumah khusus untuk mengeksekusi tawanannya. Sisi gelap dalam diri Alan keluar kala ia mengingat putrinya yang dipaksa melayani nafsu bejat para bajingan.
Ia mencambuk Merlyn dengan tangannya sendiri saat ini. Seperti yang ia lakukan pada Naiyra. sebelumnya Aland juga memberi Merlyn obat perangsang dan membiarkan anak buahnya bergiliran memperkosanya tanpa henti sepanjang hari hingga membuatnya pingsan.
Aland meninggalkan Merlyn dan menemui Ferro yang berada di ruangan berbeda.
dan untuk Ferro. Alan menyerahkannya pada sekelompok gay yang dengan senang hati mendapatkan mainan baru yang tampan dan gagah seperti Ferro.
"Jangan biarkan mereka membawaku, tuan. ku mohon. maafkan aku. aku berjanji tidak akan mengulangi perbuatan ku lain kali. ampuni aku, tuan Aland" ucap Ferro memelas sebelum di ia di bawa.
"Wardana. aku sudah merasa janggal dengan namamu sejak pertama kali aku mendengar namamu dari putriku." Alan memanjang rendah Ferro yang tengah berlutut di kakinya.
"Kau ingin balas dendam rupanya" Ferro menengadah melihat Aland. Lalu menggeleng keras.
"kau mengira aku membunuh ibumu, bukan." tanya Aland. Ferro hanya diam. menutup mata kala ia mengingat kematian ibunya.
"Faktanya ibumu meninggal bunuh diri, bukan aku yang membunuh ibumu." jelas Aland.
Ferro bangkit. tertawa kencang. "bunuh diri katamu...."
"aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. kamu menusuk ibuku" teriak Ferro penuh emosi. "Ibuku tergila-gila padamu. Dia bahkan mencampakkan ayahku hanya demi dirimu. Kau menolaknya hingga ia merasa hampir gila.saat dia rasa lebih baik kau mati, kau malah menusuknya" sambungnya.
"dan dia bodoh telah menusuk dirinya sendiri, meninggalkan pria yang benar-benar tulus mencintainya" kata Alan.
"Dan kau yang membuatnya bodoh, brengsek!!".
Alan mengibaskan satu tangannya, memberi isyarat pada anak buahnya untuk segera membawa Ferro pada bandit-bandit yang sudah berdandan cantik.
"jaaaangaaaaannn" teriak Ferro. Alan tidak mengindahkan jeritan Ferro. Ia hanya melakukan apa yang telah Ferro lakukan pada Naiyra.
Bagi Alan, darah harus di bayar dengan darah. Nyawa harus di bayar dengan nyawa. Semua harus ada timbal balik yang seimbang.
__ADS_1
Setelah Alan membereskan semuanya, ia segera pergi ke rumah sakit dimana Naira di rawat. Aland juga tak akan meloloskan pria paruh baya yang sudah membuat Naiyra menjadi babak belur penuh luka seperti saat ini.