
#Naiyra_pof
Aku menoleh kearah samping saat aku mendengar seseorang memanggil namaku. Aku melihat Pria dengan celana bahan warna hitam dengan kemeja putih yang dilapisi blazer yang juga berwarna hitam tengah berjalan ke arahku. Aku mengurungkan niatku memasuki mobil ku usai kuliah.
"Nona Naiyra?" Ucap pria tersebut menanyakan namaku
"Iya, benar. Maaf, anda siapa?" Tanyaku sopan.
"Perkenalkan, Saya Budi. Utusan dari tuan Adijaya Narendra" ucapnya memperkenalkan dirinya pada ku dengan angat sopan, seraya membungkukkan separuh tubuhnya ala orang Jepang.
"Saya datang atas perintah dari tuan, Mohon nona Naiyra bersedia ikut dengan saya untuk menemui tuan Adijaya" sambungnya.
Walau merasa heran, Aku mengangguk dan mengikuti langkahnya yang membawaku pada sebuah mobil merk BMW keluaran terbaru yang lagi-lagi berwarna hitam. Pak Budi membukakan pintu penumpang kepadaku. Aku memasukinya. Mobil dijalankan dengan kecepatan normal.
Sepanjang perjalanan banyak sekali pertanyaan yang memenuhi kepalaku saat ini. Tentang apa, mengapa, bagaimana, dan banyak lainnya lagi tentang aku yang dijemput secara mendadak hanya untuk memenuhi undangan tanpa undangan.
Mobil yang aku naiki berhenti di sebuah gedung yang hampir seluruhnya dipenuhi oleh dinding kaca. Pria yang menjemputku tadi lantas menggiring ku memasuki sebuah lift khusus hingga lift itu terbuka dilantai 60. Lantai tertinggi. Ini seperti kantor pusat. Hingga kami sampai pada sebuah ruang kantor yang cukup luas. Properti-properti dari bahan kayu dengan warna coklat gelap memenuhi ruangan bercat putih ini. Aku duduk menunggu di Sofa berbahan sintetik dengan warna coklat muda yag menjadi pelengkap properti diruang ini. Pak Budi lantas menghubungi seorang office boy dari interkom untuk membuatkan ku minuman.
Tak lama wajah dari seorang Narendra muncul di balik pintu. Aku berdiri.
"Selamat sore, nak Naiyra" Adijaya Narendra mengulurkan tangannya. Aku membalas uluran tangannya, "sore, omm" sahutku. Pria baya yang masih terlihat gagah duduk di hadapan ku. Ia mempersilahkan aku duduk kembali.
"Langsung saja pada intinya. Saya sengaja memanggil kamu kesini ingin meminta kamu untuk menjauhi anak saya, Gavin."
Aku terkejut dibuatnya. Pernyataan tanpa basa basi itu membuatku membulatkan kedua mataku. Sedih dan sakit yang saat ini juga aku rasakan nyatanya mampu membuatku tak bisa berkata apapun.
"Sebelum Gavin menjalin hubungannya dengan kamu, saya sudah memberikannya peringatan untuk menjauh dari kamu. Tapi anak nakal itu rupanya mengabaikan peringatan saya" ucap omm Adijaya. Aku merunduk. Memejamkan mataku sejenak dan menelan salivaku.
"Kenapa, omm??" Akhirnya aku mampu mengeluarkan suaraku.
"Skandal buruk yang kamu ciptakan sebelumnya hanya akan merusak citra keluarga Narendra." Jawab Adijaya. Sungguh. Suatu jawaban yang teramat sakit aku mendengarnya.
"Saya bukan seperti orang yang anda pikirkan, om. Saya juga korban disini" ucapku. Berusaha memberikan sebuah kebenaran akan diriku. Memberi penjelasan walau aku yakin, ia sendiri tahu klarifikasi dari berita skandal yang terjadi.
"Itu tidak menutup kemungkinan akan terciptanya skandal baru dari kamu, Sejauh yang saya tahu..jadi saya harap kamu sudahi hubungan kamu dengan anak saya. Hanya itu. Setelah ini, supir saya akan mengantar kamu pulang, silahkan" omm Narendra mengarahkan satu tangannya kearah pintu. Mengusirku dengan cara yang---sangat jelas. Air mata keluar dari salah satu mataku. Tanpa banyak bicara lagi, aku bergegas keluar membawa rasa sakit hatiku. 'apa yang harus aku lakukan' keluh ku dalam hati.
Pak Budi sudah berdiri di samping mobil yang semula mengantarku ketempat ini. Aku mengabaikan pak Budi yang sudah memberikan salamnya kepadaku. Aku berjalan kearah jalan raya, tak menghiraukan pak Budi yang mengejar dan memanggil nama ku.
"Nona, mari saya antar" ucapnya ketika sudah berada tepat di sampingku.
Aku menggeleng. Masih dengan mataku yang mengeluarkan cairannya. "Enggak pak, saya bisa kembali sendiri" tolak ku secara halus. Aku memberhentikan sebuah taksi dan meninggalkan pak Budi yang masih menatap kepergian ku dengan taksi.
'Ya Tuhan...apa aku tidak pantas bahagia??'.
Aku masih mengeluhkan keadaanku saat ini. Memegangi dadaku yang sedari tadi merasakan sesak. Otak ku berperang antara melepaskan atau mempertahankan perasaanku dalam keadaan saat ini. Aku menjadi dilema. Otakku menyuruh untuk menuruti apa yang dikatakan om Narendra. Tapi hatiku sangat berat untuk melepaskannya.
__ADS_1
Tak terasa taksi yang aku tumpangi sudah tiba di kampus Royal. Aku membayar argo dan berjalan menuju mobilku. Dari pantulan kaca mobil lain yang terparkir, aku melihat Justin tengah mengikuti ku. Aku berhenti dan berbalik. Justin bersembunyi. "Keluar, Justin. Aku tahu kau mengikuti ku"
Dalam hitungan detik, Justin memunculkan dirinya. "Sejak kapan kau membuntuti ku??" Tanyaku pada Justin. Dan semoga ia tidak mengikuti saat aku dijemput tadi.
"Sejak saya ditugaskan menjadi supir sekaligus bodyguard anda, nona" jawab Justin dengan wajah datarnya.
"Apa kau selalu melakukan ini. Kau seperti stalker, Justin..." Ucap ku.
"Ini tugas saya, nona. Menjaga anda". Jawab Justin. Aku bahkan bukan seorang balita yang harus selalu di jaga. Tidak kah dia tahu itu...
"Dengar. Aku tidak butuh kau jaga, Justin. Aku akan memintamu jika aku butuh"
"Ini perintah, nona. Saya tidak bisa menolak, dan saya juga tidak ingin menolak untuk menjaga nona selama ini. Walau dari kejauhan."
Tak terduga. Aku seperti mendapatkan paket lengkap sore ini. Rasa sakit, sesak dan kini rasa kesal. Semua bercampur aduk dalam hatiku. Belum lagi rasa bimbang dan dilema yang saat ini ada di hadapanku. Gavin berdiri tepat di belakang Justin. Aku tidak menyadari keberadaannya sama sekali. Ia tersenyum. Hangat dan manis. Melihat itu membuatku dengan cepat membalas senyumannya. Namun senyumku memudar kala aku mengingat apa yang sudah omm Narendra katakan sebelumnya.
Aku melemparkan kunci mobilku pada Justin "kita pergi, jus..."
Justin menangkap kunci yang aku lempar "baik, nona". Ia segera membukakan pintu mobilku. Di sana aku melihat Gavin tengah berlari kecil menyusul ku. Beruntung Justin cepat melajukan mobilnya. Gavin berhasil mengejar mobilku dan menggedor kaca mobilku.
"Naiyra...berhenti Naiy....Naiyra stop." Ucapnya. Aku tidak memperdulikannya dan terus meminta Justin melajukannya tanpa henti. Hatiku terasa berat mengabaikan keberadaannya. Semoga ia tak melihat air mataku yang menetes.
Apa ini yang terbaik???
Yang saat ini aku lakukan adalah mencoba. Mencoba untuk menjauhinya seperti harapan Om Adi. Harapan seorang ayah yang menginginkan segala yang terbaik untuk anaknya.
Aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Tak ingin membahas masalah ku dengan Gavin saat ini. Kulihat wajah Justin melalui kaca tengah, tak ada ekspresi yang berbeda dari wajahnya. Masih sama. Datar dan dingin. Tak ada balasan kata yang keluar dari mulutnya. Suasana menjadi hening. Entah ia tak ingin membahasnya atau ia sengaja memberikanku waktu untuk sendiri. Aku tidak terlalu peka akan jalan pikirannya.
"Antar aku ketempat uncle Mike, Justin".
"Baik, nona"
Rasanya aku ingin bertemu dengan aunti Regina. Aku ingin menceritakan segalanya kepadanya. Sebelumnya aku tidak terlalu dekat dengan aunti Regi..namun entah mengapa, hatiku ingin sekali berbagi cerita dengannya. Biasanya aku selalu menceritakan segalanya pada momm, namun kali ini aku tidak ingin membebaninya dengan masalahku saat ini.
🥀🥀🥀
#penulis
Mike mulai menyebarkan anak buahnya di segala titik yang menjadi pijakan dari klan Napoli. Banyak anak buahnya yang berada di Amerika dan Italia yang sengaja didatangkan ke Indonesia sebagai tim pembersih. Mark bertugas menyusun strategi agar kegiatan mereka dalam memberantas musuh tidak menimbulkan kekacauan yang mengundang perhatian aparat dan warga Indonesia. Ia juga terjun langsung kelapangan memimpin anak buah ayahnya. Tak ada satupun polisi lokal yang di libatkan disini. Berbekal informasi dari tawanannya, Regina dan Mike bergerak cepat dan tidak membuang waktu barang sedikitpun. Tampaknya ia akan menunjukan kepada lawannya bahwa mereka berurusan dengan kelompok yang salah.
Semua anak buah Mike bergerak sangat cepat. Terbukti dari semua laporan yang masuk bahwa sebagian dari mereka berhasil menghabisi musuh tanpa kesulitan. Hanya di Jakarta dan Bogor saja yang belum terdengar kabar beritanya. Mark duduk dalam ruangannya sambil menenggak segelas anggur di gelasnya. Matanya melihat pada layar Laptop yang menampakan rekaman CCTV seluruh sudut rumah yang ditempatinya saat ini. Dalam layar itu ia melihat ada empat orang penyusup yang mengendap. Mike tersenyum. Rupanya tanpa dia harus bersusah payah mencari mereka, mereka dengan sendirinya telah menggali kuburannya sendiri.
Mike meletakkan gelas anggurnya. Membuka laci meja kerjanya dan mengambil sebuah kacamata canggih dan pistol kesayangannya.
Ia meninggalkan ruang kerjanya dan menghampiri Regina di kamar pribadi mereka.
__ADS_1
"Sweety..."panggil Mike pada Regina yang tengah membaca novel kesayangannya.
Regina menoleh, ia melihat sebuah pistol yang terselip di balik jas yang dipakainya. Lalu membuang nafasnya. "Apa mereka sudah datang??" Tanya Regina. Mike tersenyum dan mengangguk. Ia meraih kedua tangan istrinya lalu mencium kedua punggung tangannya yang begitu putih dan halus. Regina segera turun dari ranjangnya. Kemudian berjongkok mengeluarkan sebuah kotak yang ada dibawah ranjang tidurnya. Kotak itu berisi semua senjata canggih berbagai bentuk dan type.
Mike tersenyum kepada istrinya. Ia merunduk dan mencium kepala sang istri. Ini yang membuatnya berbeda dengan wanita lain. Regina tampak lembut dan terlihat ramah, namun siapa sangka, dibalik kelembutan dan sikap ramahnya ia merupakan wanita yang---tak kalah bengisnya.
"Ayo, kita sambut mereka" senyum Regina.
Posisinya kini sudah berdiri sejajar dengan suaminya, Mike. Mike menarik pinggang Regina hingga tubuhnya menempel pada tubuh Mike lalu mencium bibirnya.
"Tunggu" salah satu dari keempat penyusup nampak mencurigai sesuatu.
Mike melepas pugatan mereka kala mendengar suara dari salah satu keempat penyusup di rumahnya.
Rupanya tak hanya ada CCTV, rumah ini dibekali oleh alat pendeteksi suara sehingga mampu menangkap segala pembicaraan orang yang berada di rumah ini.
"Rumah ini tampak sepi. Tak ada satupun orang yang terlihat. Bahkan kita tidak menemukan satupun penjaga disini" ucapnya lagi.
"Kau benar. Kita harus waspada. Berpencar !!!"
Ke empat penyusup itupun berpencar. Mike dan regina memakai kacamata pemantau tembus pandang yang mereka punya. Sebelum berpisah, Mike kembali mencium bibir Regina. "Sudahlah..kita masih harus menyambut mereka" Regina mendorong dada bidang suaminya. Lalu berjalan keluar kamar mendahului Mike. "cih,,mereka sungguh menganggu"
Mike mengumpat. Memaki dirinya sendiri saat ini. Dalam keadaan seperti ini, gairahnya justru memuncak. Mike menyusul regina yang sudah duduk santai diruang keluarga. menunggu salah satu dari keempat penyusup yang sudah mendekat kearahnya. Regina mengangkat pistolnya kearah pintu. Pistol dengan kelebihan yang mampu meredam suara dan mampu membunuh tanpa harus mengeluarkan darah.
cuusss..!!!
suara yang begitu halus dari kekuatan pistol itu sudah berhasil membunuh satu orang begitu pintu dibuka. penyusup itu tergeletak tak bernyawa di lantai marmer ruang tamu. Mike begitu takjub dengan kemampuan menembak istrinya dibalik kacamata canggihnya. Ia sangat mengakui kemampuan menembak istrinya yang jauh lebih jitu dari dirinya. Sungguh, dimatanya Regina adalah seorang sniper tercanggih di dunia. Itulah awalnya yang membuatnya jatuh cinta.
Mike berjalan menuju beranda yang Disana terdapat satu orang tengah mengendap masuk melalui jendela yang sengaja tidak dikunci. Kemudian ia merapatkan dirinya pada tembok disamping gorden panjang yang menjuntai. Begitu satu penyusup itu memperlihatkan kepalanya, Mike segera menodongkan pistolnya tepat di tengah kening orang itu dan,,,
Dorr!!!!!
Mike menembaknya. Dan saat itu juga nyawanya melayang. darah yang mengotori jasnya tidak ia pedulikan. Sebaliknya, ia segera mengelap darah yang mengotori pistolnya dengan cara mengelapnya pada baju sang penyusup.
setelah itu, Mike bergabung bersama dengan Regina di ruang keluarga. sengaja menunggu kedua penyusup lainnya yang masih saja berputar di area taman dan pintu dapur. Sungguh. Mike meremehkan lambannya mereka dalam bertindak.
Mike dan Regina berdiri dari tempat duduknya kala ia melihat mobil Naiyra tampak memasuki pekarangan rumahnya. Sementara dapat Mike dan Regina lihat dari kaca mata pengintainya bahwa satu penyusup yang berada di taman mendekati Naiyra dan Justin. Jarak mereka sangat dekat. Bahkan kini penyusup itu sudah berada tepat di belakang Naiyra dengan Justin yang ada di depan keduannya.
"Sweety..." ucap Mike pada Regina. mereka terlihat panik. Saling berpandangan. Dan langsung bertindak. Regina berlari kearah pintu dapur. menghadapi satu penyusup. Regina melepaskan pelurunya kala penyusup itu berhasil menerobos masuk kedalam dapur mereka. penyusup itu berhasil mengelak dan membalas serangan Regina "Shit !!!". Umpat Regina Saat tembakkannya bisa dihindari. Regina bersembunyi dibalik tembok penghubung. Mengintip, dan kembali menembakan beberapa peluru saat ia melihat kepala yang menoleh. Ia tak bisa menganggap remeh musuhnya kali ini, ia sadar, lawannya kali ini bukan orang sembarangan. Melainkan orang yang sangat terlatih dalam kemiliteran. Penyusup itu kembali menembakan beberapa peluru saat akan masuk lebih dalam. Mengikis jaraknya dengan Regina.
Sementara, Mike telah sampai di batas pintu, ia melihat Justin di hadapannya, kemudian melihat Naiyra yang tertinggal jauh di belakang Justin.
Dooorrrr...Doorrr...Dor!!!
Naiyra langsung saja berjongkok dengan memegangi kedua telinganya, berteriak saat Mike menembakan sebagian pelurunya. Justin yang terkejut dengan sambutan Mike segera menyadari situasi yang telah terjadi. Ia berbalik dan langsung mengeluarkan senjatanya. Berlari kearah dimana Naiyra berada. Namun sayang, penyusup itu berhasil menyandera Naiyra.
__ADS_1
🥀🥀🥀
Bersambung,,,